Dimasukannya ke saku celana Darrel dua tiket bulan madu itu sementara Qian langsung melayangkan protes.
"Liu aku tidak mau bulan madu bersama dia! Bagaimana kalau ditengah jalan dia mencelakai aku?"
"Astaga Qian, Darrel tidak mungkin melakukan itu padamu!"
"Apanya yang tidak mungkin, buktinya saja semenjak laki-laki ini hadir di mansion kita, banyak kejanggalan identitasnya saja tidak jelas!"
"Der maafkan atas perkataan Qian, dia tidak bermaksud menyinggung mu!"
"Tidak apa Liu, kalau begitu kami istirahat dulu!" ditariknya tangan Qian oleh Darrel agar ikut bersama dengannya.
"Ih lepas, dasar gila!" Qian sangat kesal karena Darrel ini tipe laki-laki pemaksa.
Kini hanya tinggal Austin dan Liu di ruangan keluarga itu.
"Nyonya apa perlu kita sediakan pengawal untuk perjalanan bulan madu mereka? Terus terang aku belum bisa sepenuhnya percaya dengan kemampuan Darrel?"
"Tidak perlu, aku yakin Darrel bisa menjaga dan melindungi Qian lagipula mereka pergi untuk bulan madu, tidak baik kita jika mengirimkan pengawal secara diam-diam itu akan membuat Darrel dan Qian merasa dimata-matai!"
"Baiklah kalau begitu, aku permisi dulu!"
Setelah tiba di dalam kamar, Darrel pun melepaskan genggaman erat tangannya yang sejak tadi berusaha dilepas oleh Qian. Dikeluarkannya tiket bulan madu itu oleh Darrel untuk dilihat kemana dia dan Qian akan berbulan madu.
Rupanya tiket pesawat tujuan Italia lengkap dengan hotel mewah yang sudah dibooking atas nama Darrel.
"Buang saja itu semua, karena sampai matipun aku tidak mau pergi bulan madu denganmu!"
"Kau mau memancing orang dibalik meninggalnya ayahmu bukan?"
"Apa? Maksudmu bagaimana?"
"Ikutlah bersamaku, karena aku yakin kau atau Liu adalah target berikutnya!"
"Da-darimana kau tau?"
"Gunakan otakmu untuk berpikir, harta ayahmu lumayan banyak bukan? Dia pemilik casino terbesar di Beijing, apalagi tujuan orang itu menyingkirkan ayahmu selain untuk harta dan pengambil alihan bisnis yang cukup menjanjikan milik ayahmu itu!"
"Jadi pembunuh itu akan menemui aku saat aku hanya pergi berdua dengan mu ke Itali?"
"Pintar!"
"Dengan kata lain, kau menjadikan aku umpan?"
"Tepat sekali!"
"Breng sek, dasar laki-laki tidak waras jangan-jangan kau sudah bersekongkol kan dengan pembunuh itu?"
"Kau penasaran kan? Karena itu tidak usah protes dan berkemas lah, karena besok kita berangkat pagi sekali!"
Sebenarnya rasa penasaran dalam diri Qian untuk bisa segera mengungkap siapa dalang dibalik kematian ayahnya, mendorong hati Qian untuk menerima ajakan Darrel pergi berbulan madu dengannya, tapi Qian juga takut jika sebenarnya Darrel adalah orang dibalik kematian ayahnya itu.
Secara Qian tidak mengetahui identitas Darrel sama sekali, latar belakang keluarganya ataupun orangtuanya sekalipun Qian tak mengetahuinya.
"Baiklah aku akan ikut denganmu!" dalam hati Qian mungkin nanti ketika tiba di Itali, dia akan membekali dirinya dengan senjata tajam untuk berjaga-jaga jika Darrel melakukan kejahatan terhadap dirinya.
"Aku akan berkemas dulu!" Qian menuju lemari pakaiannya untuk memasukkan pakaian dan barang-barang yang akan dia bawa ke Itali.
"Tunggu!"
"Apa lagi?"
"Sekalian pakaian ku, kau yang harus menyiapkannya!
"Excusme Tuan Darrel yang terhormat? Apa kau mabuk? Baru saja kau menyuruhku mengemas pakaian mu? Kau buka kedua gendang telingaku itu lebar-lebar dan dengar ini! Aku tidak mau"
"Kalau begitu, kita tidak usah jadi pergi,"
"Eught, kau adala laki-laki paling gila," umpat Qian, yang tak habis pikir Darre selalu memiliki cara untuk memaksanya melakukan apapun yang dia mau.
Keesokan harinya, Austin membantu Darrel memasukkan koper milik Qian dan Darrel kedalam bagasi, sementara Liu dan Qian sudah lebih dulu masuk kedalam mobil.
Sepanjang perjalanan Qian duduk dibangku belakang mobil bersama dengan Liu, sementara Austin mengemudikan mobil dan Darrel duduk disamping Austin.
"Kau bersenang-senang lah selama bulan madu bersama Darrel, nikmati keindahan disana karena begitu kau dan Darrel kembali tentu saja kalian akan mulai membantu Austi dan aku untuk mengelola bisnis ayahmu!" ujar Liu.
"Beres bos, kau juga jangan lupa selama aku pergi kau harus jaga kesehatan dan jau Austin jangan lupa ingatkan selalu Liu untuk tidak telat makan, jangan biarkan dia melamun terus!" ujar Qian.
Sebenarnya Qian adalah sosok yang baik dan perhatian, tetapi hanya pada orang-orang yang memang sudah memiliki tempat dihatinya, seperti Liu dan mendiang ayahny. Qian sangat perhatian dan tidak mau Liu sedi berlarut-larut setelah ditinggal ayahnya, apalagi Liu sering terlihat melamun sendirian.
"Baik nona, jadi apakah gajiku akan menjadi double karena tugasku bertambah?" ledek Austin.
Ckckckck...
"Kau matre sekali Austin, selama ini kau tidak pernah berani meminta kenaikan gaji pada ayah ku, kenapa padaku kau berani sekali?" tanya Qian.
Ckckckck...
Sementara Austin, Liu dan Qian asyik dengan obrolan dan candaan mereka, Darrel sama sekali tidak berkata sepatah katapun dia lebih memilih menyimak pembicaraan mereka semua, hingga akhirnya mobil mereka tiba di bandara.
Setelah saling berpamitan, Qian an Darrel pun melakukan perjalanan udara untuk menuju Italy. Tepatnya di kota Florence (Firenze) Italian.
Setelah melakukan perjalanan udara yang cukup lama, Qian dan Darrel tiba di bandara Itali dan keduanya memesan taxi untuk menuju hotel yang sudah dibooking.
San Firenze Suites and spa menjadi hotel tujuan mereka karena selama berbulan madu di Italia keduanya akan menginap di hotel tersebut.
Sementara itu disebuah panggilan telepon seseorang berbicara dengan orang suruhannya.
"Mereka sudah berangkat tadi pagi! Pastikan Qian mati terserah mau kau apakan dia, pekerjaan mu bagus lakukan tanpa jejak seperti yang kau lakukan pada ayahnya Qian!"
"Baik, aku jamin kau akan selalu puas dengan pekerjaan ku! Dan jangan lupa upahku naik dua kali lipat,"
"Tidak usah khawatirkan masalah pembayaran, aku tidak mungkin ingkar,"
Pembicaraan ditelepon itu usai setelah membicarakan tentang upaya untuk menyingkirkan Qian dari dunia ini. Dengan diakhiri senyuman licik dibibir orang tersebut, dia menyalakan alunan musik dari piringan hitam yang selalu bisa menyenangkan hatinya.
Firenze Italian, hotel San Firenze Suites and spa!
Tiba dimeja resepsionis, keduanya disambut dengan sangat ramah kemudian salah seorang petugas hotel membawakan koper keduanya sambil mengantar Darrel dan Qian menuju kamar dengan tipe Suite Prudential yang telah dibooking terlebih dahulu.
Bulan madu ini adalah keinginan mendiang ayahnya Qian sehingga pengacara keluarga mereka memberikan hotel terbaik dan tempat yang sangat indah untuk keduanya berbulan madu.
Pintu kamar hotel dibuka, dan pelayan membantu memasukkan koper kedalam kamar kemudian berpamitan.
"Silahkan Tuan dan Nona jika butuh sesuatu silahkan hubungi kami melalui telepon kamar yang sudah kami sediakan!"
"Baik terimakasih," ucap Darrel.
Qian Darrel ngapain di hotel berduaan??? Jangan-jangan mau nganu😁
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
Dewi Ansyari
Jadi penasaran deh siapa sih penjahat yg membunuh Ayah Qian
2024-05-27
0
Dewi Anggya
pasti orang yg paham dgn Kel.qian
2023-12-31
0
Kenni Rohyani
hemh🤔 apakah c Austin pelakunya??
2023-06-13
0