Setelah hari libur itu Leila langsung memulai pelatihan karna hari pelatihan melawan monster semakin dekat.
Diruang lapangan gedung lelatihan sekolah, Leila dan beberapa anggota klub sedang berlatih sehabis sekolah selesai.
"Ok Leila, kamu sudah pelatihan dasar, berikutnya kamu harus lawan pengguna air adalah api dan listrik yang merupakan titik lawan elemenmu, kalau begitu coba lawan pengguna api dulu. Radit dan Raka kemarilah lawan Leila." ujar Adinata.
Radit dan Raka yang sedang latihan beradu pedang langsung berhenti dan mendekati Leila dan Adinata.
"Radit, kau lawan Leila dengan elemenmu saja. Jangan kasih kendor, bila Leila terbakat aku yang akan tanggung jawab." ujar Adinata dengan tegas.
"Bukankah bapak terlalu tegas? Kurasa itu berlebihan." ujar Radit merasa pelatihan Leila akhir - akhir terlalu di percepat.
"Tidak masalah, ini juga demi dirinya juga dan waktu pelatihan melawan monster sudah cukup dekat." ujar Adinata.
Radit tak ingin bangak bertanya kemudian mengambil jarak dan bersiap bertarung.
"Ok, Leila siap - siap jangan sampai lengah." ujar Radit.
"Ya aku siap." ujar Leila.
Kemudian Radit menyerang Leila dengan tembakan bola api bertubi - tubi. Leila pun masih dapat menangkisnya dengan tembok airnya.
Kemudian Radit meningkatkan suhu api dan menembakan satu bola dan tembok airnya langsung tertembus dan kenai Leila.
"Berhenti. Jadi apa yang kamu pelajari dari ini Leila?" ujar Adinata.
"Selalu menahan serangan elemen api adalah tindakan buruk." ujar Leila.
"Ya benar tapi kenapa lebih baik di hindari?" ujar Adinata namu Leila tidak tau.
"jadi begini kujelaskan. Raka buat tembok air dan Radit tembak api suhu normalmu dan suhu tinggimu." ujar Adinata.
Radit dan Raka kemudian mempraktikannya. Radit menembakan bolo api suhu rendah namun tembok air itu tidak tembus namun tembakan kedua dengan suhu tinggi tembok air tembus.
"Kenapa bisa tembus? Itu jawabannya adalah suhu apinya. Tembok air beda dengan Es. Tembok air tipis dan jika terkena akan mengguat apalagi di jika terkena semburan. Kalau es itu tebal dan suhunya lebih dingin dari air. Memang ada beberapa kasus ada yang mampu menahan suhu tinggi dengan air namun itu tidak efisien, kenapa? karna dia mengeluar kekuatan air terus menerus untuk menutup air yang menjadi uap. Namun itu adalah tindakan fatal jangan lakukan bila memang tidak ada pilihan karna jika kamu lakukan maka staminamu akan cepat habis." ujar Adinata.
"Jadi begitu aku paham sekarang." ujar Leila.
"Bagus kalau begitu sekarang dengan Raka yang menggunakan elemen petir. Bertarunglah." ujar Adinata.
Pertarungan Raka dan Leila dimulai. Tidak akan ulangi kesalahan yang sama Leila lebih sering menghindar.
Leila gunakan serangan elemen air terus menerus namun tidak dengan Raka yang lebih sering menghindar.
Leila yang tak sadar kalau Raka menggunakan taktik umum pengguna elemen listrik lawan elemen air.
Setelah tempat posisi Leila sudah basah berair, Raka mundur ke posisi yang kering kemudian lancaran serangan elemen listrik namun bukan ke Leila secara langsung namun Raka memberikan aliran listrik ke tanah yang basah.
Listrik itu kemudian menyambar ke Leila yang basah karna elemennya sendiri. Setelah tersetrum Raka kemudian langsung lari cepat mendekati Leila dan memegang kerah Leila.
Leila yang habis saja tersetrum langsung kaget ketika kerah bajunya di pegang oleh Raka.
"Berhenti." ujar Adinata menyudahi pertandingan tersebut.
"Jadi Leila apa yang kamu pelajari setelah kalah telak oleh Raka?" ujar Adinata.
"Ya aku sadar, elemen airku membuat pengguna elemen air lebih unggul. Bahkan melawannya pengguna lemen listrik lebih susah lawan elemen api dipikir - pikir." ujar Leila.
"Gadis pintar. Itu benar jika kamu pengguna elemen air lawan terburukmu adalah elemen listrik tapi aku tidak bilang kalau elemen api bukan lawan yang buruk juga." ujar Adinata.
"Karna suhunya?" ujar Leila.
"Benar, suhunya. Kamu melawan Radit pengguna api tahap awal, kalau kamu melawan elemen api tingkat lanjut maka pengguna elemen air bisa - bisa tidak berkutik." ujar Adinata.
"Terus bagaimana pengguna elemen air melawan elemen kelemahannya bahkan untuk elemen lainnya." ujar Leila.
"Gunakan cara lain, seperti bela diri dan senjata. Itulah kita juga belajar ilmu lainnya." ujar Adinata.
"Jadi tanding langsung lawan elemen kelemahan akan mustahil?" ujar Leila.
"Tentu tidak, semua masih tergantung kercerdikan penggunanya selama dia bisa mengelola kekuatannya dengan baik dan taktik juga maka melawan lawan elemennya bukan hal mustahil." ujar Adinata.
"Oh begitu masuk akal." ujar Leila.
"Ok, selanjutnya Radit - Raka ajari Leila bela diri dasar lagi dan pengetahuan tentang elemen. Aku akan dalam gedung pelatihan, nanti Leila kau akan belajar gunakan senjata lagi." ujar Adinata.
Radit dan Raka mengajarkan Leila gerakan bela diri dan tentang elemen maupun kekuatan super.
Adinata kemudian pergi kedalam gedung pelatihan dan dia bertemu dengan wakil kepala sekolah Naela Ferdin.
"Bagaimana rasanya mengasuh anak perempuan pak Adinata?" ujar Naela.
"Yah lumayan, pengalaman baru." ujar Adinata.
"Butuh saran? Nanti kuberitahu lagi di kencan berikutnya." ujar Naela.
"Tidak butuh, dia anak yang penurut jadi gak banyak tingkah kaya anak baru gede seumurannya." ujar Adinata.
"Dasar gak asik amat, pantas jomblo." ujar Naela.
"Ya maaf kalo aku masih jomblo, nanti cari yang dekat aja." ujar Adinata kemudian pergi.
"Siapa itu?" ujar Naela penasaran.
"Rahasia." ujar Adinata.
.
.
.
.
Setelah persiapakan macam - macam senjata, kemudian Adinata memanggil Leila dan Steven melalaui pengumuman pengeras suara.
Tak lama Leila datang bersama dengan Steven diruang menembak.
"Ok, kalian sudah tiba sekarang latihan menembak." ujar Adinata.
"Pak kenapa aku dipanggil juga, aku-kan yang paling ahli soal senjata di klub ini." ujar Steven.
"Justru karna kau maniak, makanya kupanggil untuk bantu Leila." ujar Adinata.
"Oh begitu toh, kamu memang belum pernah pegang senjaga Leila?" ujar Steven.
"Udah beberapa hari lalu namun masih belum terbiasa." ujar Leila.
Adinata kemudian mengambil 2 buah pistol dan diberikan kepada Leila dan Steven.
"Steven beri Leila demonstrasi menembak gunakan pistol." ujar Adinata.
Mendengar itu Steven langsung mulai menembak. Semua tembakan Steven hampir semuanya sempurna dari 25 tembakan 2 diantara kurang tepat sasaran dan 1-nya meleset.
"Ah sial lewat lagi, sudah kuduga bagian itu memang susah." ujar Steven.
"Woah bang Steven hebat, semuanya hampir tepat sasaran." ujar Leila sangat memuji Steven karna bidikannya yang hebat.
"Ah gak kok, ini masih biasa saja." ujar Steven yang menjadi malu karna di puji Leila.
"Jadi Leila kalau kamu mau dianjarin menembak kamu bisa minta sama Steven kalau aku lagi tidak bisa." ujar Adinta.
"Ya, baik om." ujar Leila.
Kemudian Leila berlatih menggunakan senjata dari 6 jenis senjata yang di sediakan. Setelah 1 jam lewat Leila melakukan latihan lainnya yaitu bela diri.
Bersamaan dengan anggota klub penolong di dalam gedung pelatihan di ruang bela diri. Leila dianjarkan untuk bisa bela diri lebih baik lagi.
"Dengar Leila, pelatihan elemenmu berjalan baik, dan pelatihan menembakmu juga cukup bagus namun bela dirimu sangatlah buruk. Kamu terlalu lemah dalam segala hal fisik, bahkan gunakan pedang saja sangat payah. Hebat dalam pengendalian elemen dan menembak memang bagus, tapi kalo tak punya ilmu bela diri semha jadi percuma jika kamu di serang dadakan." ujar Adinata.
Mendengar itu Leila sedikit menunduk karna itu adalah kemyataannya.
"Jadi aku sarankan untuk berlatih dengan Leonardo. Dia petarung beladiri tangan kosong terkuat di sekolah ini jadi jangan ragu minta diajarkan dia." ujar Adinata.
"Bang Leo, mohon bantuannya ya ajarkan Leila sampai bisa." ujar Leila.
"Bisa? Tidak....tapi harus bisa dikuasai dan dikembangkan. Sanggup Leila?" ujar Leonardo.
"Ya sanggup! Aku akan jadi kuat seperti kalian!." ujar Leila sambi teriak.
"Bagus itu baru namanya semangat. Lalu untuk latihan gunakan senjata tajam kamu bisa berlatih dengan Radit atau Raka. Mereka berada di perguruaan yang sama. Kemampuan mereka sudah terbukti di acara sekolah kemarin." ujar Adinata.
"Ya aku lihat, bang Radit dan Raka bertarung sangat keren sekali." ujar Leila.
"Ah gak kok biasa aja." ujar Raka yang malu mendengar dia di puji.
"Hebat apanya? Dia kalah kemarin." ujar Leonardo meledek Raka.
"Hah mau mau bukti?" ujar Raka.
"Ayok! Sapa takut." ujar Leonardo.
Lalu mereka berdua adu pukul untuk menentukan siapa yang lebih kuat dari mereka.
"Hah...biarkan kedua orang idiot itu, tapi mereka dapat di percaya kok." ujar Adinata.
"Ya! Aku percaya sama kakak - kakak kelasku." ujar Leila.
"Kalau ada sesuatu yang bingung dan semua lagi sibuk, bang Radit bisa bantu kok." ujar Radit.
"Benarkah?" ujar Leila.
"Ya Leila, walau di sering diam dan menyendiri di pojokan kayak orang gak punya masa depan, tapi Radit ini multitalenta kok." ujar Adinata.
"Pak guru ini muji aku atau meledek yah?" ujar Radit merasa tersindir.
"Woh hebat, kalau gitu aku percaya. Bang Radit orangnya aneh ya?" ujar Leila.
Radit mendengar itu cukup terkejut dengan pernyataan polosnya.
"Aneh? Aneh seperti apa?" ujar Radit.
"Bang Radit walau pendiam, tapi murah senyum, baik kesemua orang dan jarang keliatan marah." ujar Leila.
"Hahaha....ya begitulah aku. Bagiku semua orang apalagi yang terdekat bagiku aku anggap keluargaku." ujar Radit dengam senyum.
"Kalau begitu apa Leila termasuk keuarga Radit juga?" ujar Leila.
"Oh ya tentu, Leila udah aku anggap serperti adikku malah." ujar Radit dengan senyum hangat.
Leila kemudian memeluk Radit tiba - tiba dan itu membuat Radit kaget namun kemudian Radit mengelus kepalanya. Leilapun sangat senang dengan elusannya seperti dia sedang dielus oleh kedua abangnya.
Adinata menatap sinis ke Radit.
"Hum....ada apa pak? Kok terihah marah ke aku?" ujar Radit merasakan hal tak enak.
"Kalau Leila tiba - tiba bilang kalau bunganya telah rusak olehmu, Aku akan gantung kamu di lampu merah." ujar Adinta.
"Eh! Woi mana berani aku sekarang!" ujar Radit yang kaget dengan ucapan Adinata.
"Oh jadi nanti berani ya?" ujar Adinata, agak kesal.
"Bukan itu maksudku!" ujar Radit.
"Radit lawan tanding denganku sekarang!" ujar Adinata.
"EH!" ujar Radit yang malah jadi bingung karna disalahkan.
Disisi lain Hana, Amelia dan Aprilia sedang duduk melihat Radit, Leila dan Adinata.
"Lihat Hana kau punya saingan loh, dia terlihat imut yang rasanya pengen kamu lindungi terus." ujar Amelia menggoda Hana.
Hana yang kesal langsung semprotkan elemen airnya kemuka Amelia dan itu juga mengenai Aprilia.
"Aduh, kok aku juga kena sih." ujar Aprilia.
"Hana kalau cemburu, emang suka buat aneh - aneh." ujar Amrlia.
"Mana ada cemburu, kamu aja yang bikin aku kesal." ujar Hana yang cemberut kesal.
Mendengar itu dan ekspresi Hana membuat Amelia ketawa.
Hari - hari pelatihan singkat terlewati dan tiba waktunya hari pelatihan khusus yaitu melawan monster nyata.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments