Setelah hari pemakaman abang Leila masih tinggal di rumahnya, karna Adinata harus mengerus banyak hal tentang Leila seperti kepindahan sekolahnya. Namun sikap Leila mulai aneh sejak sepulang dari pemakaman tersebut.
Mental Leila sangat terguncang setelah mendengar kabar kematian kedua abang. Leila menjadi alami depresi berat akibat hal itu.
Dia sering mengobrol sendiri dengan halusinasi abangnya dan orangtuanya, namun dia juga mengalungkan Dogtag kedua abang, liontin dari ibunya dan selalu membawa pisau milik ayahnya.
Semakin depresinya dia menjadi tidak bisa membedalan kenyataan dan delusinya.
Adi, Mira dan Fika sangat khawatir dengan gangguan mental yang dialami Leila ysng setiap harinya semakin memburuk.
Melihat Leila setiap waktu melakukan itu membuat hati mereka tak kuat.
Leila selalu berbicara sendiri dengan abang yang sudah tak ada. Saat makan bersama pun Leila selalu marah kepada Fika dan Mira karna hanya membuat makanan untuk 4 porsi, karna itu Fika dan Mira selalu membuat porsi lebih 2 orang yang sudah tidak ada.
Adi sesekali memberitahu kalau abangnya sudah meninggal namun Leila sangat marah karna mendengar itu dan bahkan menunjukan arah secara acak kalau disana masih ada abangnya dan mendengar percakapan mereka.
Adi kemudian menelpon Adinata untuk mengabari tentang kesehatan mental Leila yang semakin memburuk dan mulai mengganggu aktifitas keseharian dan disaat sekolah juga sama, bahkan dia sampai bertengkar dengan sahabatnya karna tak sengaja mengcapkan belasungkawa terhadap kematian kedua abangnya.
Namun berkat penjelasan Fika kepada sahabat dan teman lainnya Leila hubungan mereka tidak rusak.
Mendengar itu Adinata kemudian mempercepat kenpengurasan dokumennya.
Lalu di selesai mengurus semuanya, Adinata kemudian pergi kerumah Leila dan menginap di sana selama 3 hari untuk melihat perkembangan mental Leila.
Namun baru saja satu hari Adinata menginap, dia melihat kalau kesehatan mental Leila sudah terlalu buruk.
Kemudian Leila dibawa kerumah sakit untuk dilakukan pemulihan, selama 1 minggu di rumah sakit dia alami depresi luar biasa karna dipaksa menerima kenyataan. Bahkan para ahli dokter dibidangnya harus tangani Leila dengan hati - hati karna salah sedikit dapat membuatnya gila.
Setelah seminggu, Leila berhasil lewati semua kenyataan itu namun tidak sepenuhnya. Namun menyuruhnya pulang, karna dia sudah lebih baik dari sebelumnya.
Adinata kemudian membawa Leila pulang sebelum kerumahnya untuk berpisah dengan Adi, Fika dan Mira. Awalnya Leila ingin dia tidur dirumah sehari sebelum pergi, namun Adinata tak mengizinkannya karna takut kenangan pahit di rumah ini membuat Leila depresi lagi.
Leila kemudian ngucapkan terima kasih dan juga minta maaf kepada Adi, Fika dan Mira.
"Bang Adi, Kak Fika dan Kak Mira, maafin aku ya selalu nyusahin kakak selama ini." ujar Leila.
"Gak kok, kamu sudah kami anggap seperti adik kesayangan kami." ujar Mira.
"Ya benar, sesekali kalau kamu ingin pulang kami akan selalu ada disini. Ingat kami terus ya." ujar Fika.
"Aku bakal ingat terus kok gak akan lupa." ujar Leila.
Adinata memandang Adi yang diam saja. "Hei kau diam aja, Nahan tangis?" ujar Adinata.
"Enak saja gak kok." ujar Adi yang sebenarnya menahan tangis.
Leila tersenyum melihat mereka bertiga, lalj kemudian minta dipeluk oleh mereka bertiga.
Mendengar permintaan itu Adi, Fika dan Mira memeluk Leila dengan erat.
"Inget ya jangan lupa makan." ujar Mira.
"Jangan sering melamun ya, cari teman baru disekolah barumu nanti." ujar Fika.
"Kalau Leila ada masalah telepon aja abang ya, abang bakal langsung cepat datang." ujar Adi.
Leila sangat senang dengan pelukan itu dan merasa bahagia. Kerinduan dia sedikit terobati berkat itu.
Kemudian Adinata ikut berpamitan dengan mereka bertiga dan mereka berdua kemudian pergi meninggalkan rumah yang penuh kenangan itu.
.
.
.
.
.
Satu minggu berlalu, Leila kemudian masuk ke Sekolah Menengah Atas Kekuatan Supranatural Akademi Nasional Pertama (First National Academy of Supernatural Power High School) yang dimana tempat sekolah Radit dan teman - temannya.
Untuk pelatihan Leila, Adinata merekomendasikan Leila masuk ke dalam klub penolong milik Radit. Dikarenakan dia sendiri mengawasi dan melatih klub itu. Hari - hari baru Leila baru dimulai saat itu.
.
.
.
.
.
.
Di hari minggu semua anggota klub penolong pergi berlibur ke suatu mal yang sangat besar di kota. Mereka mengajak Leila untuk pergi ke tempat ramai karna dia jarang pergi ke tempat ramai karna malu dan hanya tempat seperti taman bermain bila ditemani abangnya saja.
Pagi hari di apartement Adinata, Leila dikamarnya dia langsung berdandan semanarik mungkin karna jarang sekali dia pergi ke tempat ramai selain dengan abangnya.
Leila tak lupa mengalungkan kedua dogtag abangnya, liontin ibunya dan membawa pisau pemberian ayahnya.
"Ok sip sudah rapih, semoga penampilan ku tidak aneh." ujar Leila sendirian sambil mengaca.
"Baik bang Dani dan Bang Fadil aku pergi dulu." ujar Leila sendirian ke arah kasur kemudian meninggalkak kamarnya.
Diruang makan Adinata sedang menyiapkan sarapan pagi dan Leila duduk di meja makan.
"Leila kau rapih sekali, mau kemana?" ujar Adinata penasaran sambil memasak omlet.
"Teman - teman klub ajak pergi main ke mal hari ini." ujar Leila sangat senang.
"Oh begitu baguslah." ujar Adinata yang telah selesai siapkan makan pagi dan kemudian meletakan di meja makan.
Leila kemudian menyantapnya. Disela sedang menikmati makanan Adinata mengirimkan sejumlah huwit ke Leila.
"Ini kukirim uang sejumlah 500.000 Huwit. Seterah mau kau habiskan atau tidak." ujar Adinata.
Uang tersebut masuk ke saldo Leila dan tiba - tiba pesan notifikasi masuk saldo muncul di jam tangan pintarnya.
"Eh kok!? Ini kebanyakan om." ujar Leila sangat kaget yang tiba-tiba menerima sejunlah uang cukup besar.
"Eh benarkah? Malah kurasa kurang untuk anak perempuan. Kutambah lagi 500.000 Huwit lagi." ujar Adinata.
Lalu pesan notifikasi saldo muncul lagi dan membuat Leila bingung.
"Om sengaja ya? Leila marah loh." ujar Leila.
"Hahaha....udah ambil aja, anggap aja ini hadiah. Lagi pula aku-kan belum menikah jadi aku tidak tau bagaimana mengurus anak perempuan. Tapi, gunakan uang itu dengan bijak jangan beli yang aneh - aneh." ujar Adinata.
Leila sangat senang mendengar itu. "Ya udah, makasih. Tapi om, kapan nikahnya? Om-kan ganteng kok gak punya pacar?" ujar Leila.
"Mungkin om terlalu sibuk kerja jadi gak pernah kepikiran untuk pacaran." ujar Adinata.
"EH Serius!? Tapi om punya orang yang bikin om tertarik?" ujar Leila penasaran.
"Ya, tentu dong. Eh udahlah jangan nanya mulu. Cepat habiskan nanti anggota klub nunggu kelamaan." ujar Adinata.
Lalu leila kemudian menyelesaikan makanannya. Leila jalani hari itu dengan damai dan menyenangkan bersama anggota klub.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments