Selama kejadian malapetaka Fadil berhasil ke bunker karna tempat kerjanya sangat dekat dengan bunker.
Namun dia sangat khawatir dengan ibunya dan Leila. Apakah mereka selamat? Mereka terluka? Apa mereka sampai bunker?
Hanya itu saja yang dia pikirkan selama didalam bunker. Ketika keadaan diluar sudah dinyatakan aman, dia langsung berlari keluar.
Keadaan masih gelap dia melihat jam kalau itu masih jam 4 pagi. Dia melihat banyak bangunan yang hancur dimana - dimana dan juga kebakaran.
Dia menelpon ibunya dan Leila namun tidak diangkatnya.
Karna sudah berkali - kali tidak diangkap dia langsung membuka peta dan memeriksa bunker terdekat dari rumah mereka. Lalu dia langsung pergi kesana dengan berlari berjarak sekitar 30 KM.
***
Dia melihat beberapa polisi dan langsung meminta kepada polisi itu untuk mengatarkannya ke bunker yang kemungkinan ibunya dan Leila berada.
Awalnya tidak mau karna mereka sedang dalam tugas untuk menenangkan keadaan kota yang semakin rusuh. Namun karna permohonannya sangat sungguh - sungguh bahkan sampai bersujud salah satu polisi bernama Adi menyetujuinya.
"Kau sepertinya sangat khawatir dengan keluargamu. Biar aku antar." ujar polisi Adi.
"Hei! Nanti kamu akan dihukum." ujar salah satu teman polisinya.
"Aku jadi polisi untuk membantu masyarakat, kalau hanya mengantar saja tidak bisa aku merasa malu jadi polisi." ujar Polisi Adi.
"Ya sudah, ayo kawan naik ke motor ini." ujar Polisi Adi, mendengar itu Fadil sangat senang dan berterikasih padanya.
Lalu polisi Adi langsung menancap gasnya dan pergi ke lokasi yang dituju.
***
Selama menuju lokasi mereka harus berputar - putar karna banyak yang runtuh, kemacetan, dan juga tertutup oleh gedung yang runtuh.
Selama perjalanan dia melihat banyak orang yang bingung, sedih, terluka dan termenung dan bahkan ada banyak mayat bergeletakan sepanjang jalan.
Melihat keadaan yang begitu ambur radul, dia bingung kenapa polisi bernama Adi ini mau mengatarnya.
"Hei terima kasih ya sudah mau mengantarmu." ujar Fadil.
"Ah tidak masalah kok, ini juga tugasku." ujar Adi.
"Kenapa kamu mau antar aku?" ujar Fadil.
"Kau tau, aku ini yatim piatu aku tidak pernah rasakan yang namanya kehangatan keluarga. Jadi melihat dirimu yang sampai bersujud untuk mengecek keadaan keluarganya membuat hati tergerak menolongmu." ujar Adi.
"Maafkan aku." ujar Fadil merasa bersalah karna bertanya.
"Kenapa minta maaf? Apa karna aku yatim piatu? Hahaha....tidak masalah aku sudah terbiasa hidup sendiri dan aku tidak merasa iri juga. Aku hanya kagum padamu." ujar Adi.
Mendengar itu Fadil merasa senang kalau dia tidak kesal dengannya.
"Hei namamu siapa?" ujar Adi.
"Namaku Fadil. kamu?" ujar Fadil.
"Aku Adi. Senang bertemu denganmu sepertinya kita akan akrab, hahaha...." ujar Adi.
Matahari mulai terbit dan menerangi dunia yang baru saja dilanda malapetaka besar yang tidak akan bisa dilupakan.
***
Mereka telah tiba di bunker yang dituju. Fadil langsung berlari dan memeriksa bunker dan bertanya ke petugas tentang keberadaan Ibunya dan Leila.
Sedangkan memarkirkan motor dan melihat keadaan sekitar yang sangat berantakan dan banyak mayat tergeletak. Adi membantu petugas medis memindahkan mayat ke sauatu tempat.
Sekitar 15 menit mencari, Fadil tidak temukan keberadaannya. Fadik berfikir positif kalau mereka telah pergi keluar dari bunker.
Fadil berlari kesana kemari dan berteriak nama Leila, namun dia tidak pernah mendengar balasan.
Adi yang melihat Fadil seperti oranh yang sangat panik kemudian menghampirinya.
"Hei - hei Fadil kenapa?" ujar Adi.
"Adi - Adi! Aku tidak temukan ibuku dan adikku." ujar Fadil yang sangat panik.
"Tenanglah. Mungkin mereka sudah keluar dari bunker atau bukan berada di bunker ini." ujar Adi berusaha tenangkan Fadil.
"Aku sudah meneriaki mereka disekitar sini namun tidak ada balasan. Di bunker lain juga tidak mungkin, karna yang terdekat adalah ini." ujar Fadil.
"Tenang. Mungkin mereka sudah berjalan agak jauh atau mungkin kembali kerumah." ujar Adi.
Mendengar itu Fadil sedikit tenang karna kemungkinan yang dibilang Adi ada benarnya.
Seketika tiba seseorang medis meminta bantuan ke Adi.
"Pak polisi bantu aku, ada orang yang tertimbun bangunan dan masih hidup." ujar petugas medis.
Adi kemudian langsung menuju lokasi yang dituju petugas medis itu, begitu juga dengan Fadil yang juga ikut untuk membantu dan kemungkinan itu keluarganya.
***
Mereka tiba di bangunan yang runtuh terdengat suara tangisan bayi. Adi, Fadil dan tugas medis itu membongkar runtuhan bangunan itu dengan sangat hati - hati.
Setelah beberapa menit seorang bayi berhasil divakuasi namun tidak dengan ibunya yang telah meninggal demi melindungi bayinya.
Fadil sedikit bersyukur karna itu bukan ibunya dan Leila. Ketika berbalik badan dia seketika melihat tubuh seorang wanita yang sedang meringkuk seperti sedang memeluk sesuatu dan punggung wanita itu hangus terbakar dan beberapa darah juga keluar dari punggungnya.
Fadil yang merasakan firasat aneh kalau itu adalah ibunya kemudian langsung berlari ke sana.
Adi yang melihat Fadil tiba - tiba langsung berlari juga mengikutinya.
***
Ketika sudah disana Jantung Fadil berdegup sangat kencang. Kemudian dia perlahan melihat wajah wanita itu dan seseorang yang dia peluk.
Ternyata firasat dia benar. Itu adalah ibu dan juga Leila.
"Ibu! Leila!" ujar Fadil dengan spontan.
Fadil kemudian langsung memeriksa keadaan ibunya yang sangat parah. Dia memegang urag nadinya sudah tidak ada dan tubuhnya juga dingin.
Fadil mulai berlinang air mata. Adi memeriksa kondisi Leila yang memiliki beberapa luka kecil dan Leila setelah di periksa masih hidup.
Fadil kemudian mulai menangis sejadi - jadinya dan meneriaki 'Ibu - Ibu dan ibu' terus menerus.
Adi kemudian langsung memanggil petugas medis untuk memeriksa kesehatan Leila.
Adi tersentuh hatinya dan juga hampir menangis melihat ibunya Fadil yang telah tiada untuk melindungi anaknya.
Beberapa jam terlewati. Leila telah sadar dan kemudian dia mengetahui fakta kalau ibunya meninggal karna melindunginya.
Dia kemudian sangat sedih dan terpukul mentalnya karna tau akan hal itu dan juga merasa bersalah.
***
Saudara pertamanya yaitu Dani, telah mendangar kabar itu. Lalu dia diizin untuk melihat kondisi keluarganya.
Dani pergi ke pengungsian tempat Fadil dan Leila berada. Sesampai disana Leila langsung menangis di pelukan Dani. Kemudian Dani mengunjungi kuburan ibunya. Dani menangis karna tidak bisa melindunginya walau di sudah menjadi anggota militer dan prospek karirnya yang sangat bagus.
Begitu juga dengan Fadil yang tidak ada disana saat kejadian. Leila juga menangis sejadi - jadinya sambil memeluk pisau warisan ayah dan liontin pemberian ibunya.
Setelah itu mereka bertiga pergi ke rumah mereka yang sudah hancur. Mereka mengingat masa - masa mereka bersama ibu dan ayahnya.
***
Hari berlalu sangat cepat. Fadil gunakan semua uang untuk membangun rumahnya kembali dan Dani gunakan semua koneksinya agar rumahnya cepat selesai dibangun.
Kurang lebih 1 bulan, rumah yang semula hancur kini telah berdiri tegak kembali walau tidak sama tapi kenangan di tempat itu masih ada.
Fadil dan Leila menempati rumah baru mereka sedangkan Dani kembali bertugas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments