Di waktu yang sama di rumah Bryan. Dokter tampan itu sudah bngun dan sekarang keluar dari kamarnya. Tidak sengaja ia berpapasan dengan sang Ibu.
"Ibu, habis dari mana?" tanya Bryan.
"Tadi ke dapur, habis ambil air," jawab Ibunya menunjuk botol air di tangannya.
"Ibu, bagaimana kalau hari ini ke rumah sakit bareng Bryan? Biar keluhan Ibu itu bisa Bryan sembuhkan di sana," Bryan membujuk Ibunya yang tidak begitu semangat. Bryan sudah memberi obat tapi Ibunya tidak mau meminumnya. Walau dipaksa pun, wanita setengah tua itu tetap saja menolak.
"Kenapi sih Ibu tolak terus? Ibu takut ya masuk rumah sakit?" Bryan jalan di sebelah Ibunya. Wanita yang sangat disayangnya itupun berhenti dan tersenyum paksa.
"Ibu mau pergi kalau kau bawa perempuan di rumah ini dulu," ucap Ibunya nunjuk ke bawah lantai.
"Kenapa harus bawa perempuan, Bu?" tanya Bryan heran.
"Bryan, Ibu itu malu ke sana sendirian. Setiap keluar, teman - teman Ibu semuanya bertanya kenapa kau belum menikah?!"
"Itulah sebabnya Ibu tidak mau keluar lagi. Ibu muak sama mereka yang sering bilang kalau kau itu punya kepribadian aneh. Apalagi kalau kau kumpul sama teman - teman cowokmu yang nakal itu, mereka pikir kau itu sudah menyimpang."
Bryan menyentuh dagunya. Memikirkan tebakan Keylin memang benar. Ibunya butuh teman alias menantu agar rumor - rumor tentangnya bisa dibantahkan. Tapi kalau dicerna lagi, dirinya seperti tidak berguna untuk masalah ini.
"Ibu! Jangan naik dulu!" sergah Bryan sebelum Ibunya menaiki anak tangga.
"Apa lagi?" tanya Ibunya ketus.
"Hhehe, itu... aku mau kenalin seseorang sama Ibu," ucap Bryan agak malu - malu jujur.
"Siapa? Perempuan? Atau laki - laki lagi?" tanya Ibunya dengan tatapan malas.
"Perempuan dong, Bu. Namanya itu Keylin. Anak pasienku dulu yang sekarang sudah jadi teman Bryan." Bryan memperlihatkan foto Keylin dari dompetnya. Ibunya itupun diam sesaat kemudian lebih dekat mengamati foto Keylin itu.
'Hmm, cantik juga nih anak,' batinnya memuji.
"Gimana, Bu? Manis 'kan?"
"Lumayan kok," ucap Ibunya datar. Bryan memanyunkan bibirnya, sedikit kecewa.
"Kapan kau kenalkan dia sama Ibu?" lanjutnya pun tertarik pada Keylin.
"Kalau tidak sibuk hari ini, aku mau ajak Ibu keluar nanti bertemu dia, Ibu mau, nggak?"
Wanita itupun mengangguk, setelah itu naik ke atas. Bryan berseru ria. Mudah sekali membujuk Ibunya bertemu Keylin tanpa introgasi - introgasi dan cuma sat set sat set saja. Itulah sifat Ibunya, dia tidak pandang harta tapi pandang fisik. Jadi gampang menerima siapa saja yang cocok kriterianya.
Beda lagi sama Regina, wanita baya satu ini lebih memandangi keunikan seseorang. Hal unik yang dia lihat, pasti dikoleksinya. Mantan Dokter itu sekarang sedang bersiap - siap memasukkan sesuatu ke dalam kopernya. Sedangkan di rumah Edgar, satu wanita tengah dipenuhi kekesalan. Bianca yang di dapur tampak tidak tahan menunggu di sana. Wanita itu kesal karena sudah jam enam tapi belum ada yang keluar dari kamar Edgar. Pikiran - pikiran kotornya memenuhi isi kepalanya.
"Ck, apa sih dilakukan kebo betina itu! Ini sudah pagi tapi belum juga memperlihatkan batang hidungnya." Regina mengoceh sendirian dan memasak sarapan khusus untuk Edgar saja. Kalau Keylin, tidak ada sarapan untuknya. Bianca muak dan tidak terima Keylin mengambil posisi impiannya itu.
Memang di kamar itu belum ada yang keluar, sebab Keylin terperangkap di pelukan suaminya sendiri. Tangan Edgar lumayan berat untuk disingkirkan. Tapi Keylin tidak mau menyerah, dia terus mengangkat tangan kokoh itu. Alih - alih, Edgar berbalik badan lagi. Akhirnya, Keylin terlepas dan bernafas dengan bebas. Rasanya lega sekali tidak dipeluk ketua mafia itu.
"Haa, hampir saja aku mati kehabisan nafas." Keylin mengatur nafasnya kemudian melirik Edgar yang nikmat sekali tidur di sana. Merasa sudah tenang, Keylin pun melepaskan pucuknya dari mulut Samuel. Gadis itu duduk lalu turun. Dengan hati - hati memindahkan Samuel pada tempat tidurnya sendiri. Bayi itu kembali terlelap dengan bibir yang tersenyum. Keimutannya itu menambah rasa sayangnya Keylin.
Setelah itu, Keylin jalan ke ranjang. Memperbaiki selimut kasurnya dan menyelimuti Edgar dengan hati - hati. Ia pun berhenti di sisi Edgar. Memandangi sejenak wajah tampan pria itu lima detik. Keylin merasa Bryan dan Edgar itu punya pesona yang sama dan hanya paras mereka yang membedakan. Meski begitu, Keylin mencoba menahan hatinya tidak dijerat oleh Edgar. Gadis itu masih berharap bisa menyimpan perasaannya pada Bryan.
Mendadak, Keylin mundur ketika Edgar bergerak dan tidur terlentang. Dua bola matanya itupun menangkap sesuatu yang berdiri di balik selimut.
"Apaan tuh?"
Karena penasaran, Keylin menyentuh benda di bawah perut Edgar itu. Dikiranya pistol tapi sepertinya bukan, sebab rasanya imut tapi keras. Ujungnya pun membuat Keylin merasa geli dengan pipi yang juga memerah. Keylin sadar itu alat pamungkas laki - laki yang berbahaya.
Keylin pun menarik tangannya. Sontak terkejut dijarinya tidak ada cincin. "Eh, cincinku kemana?" Keylin pun sadar cincinnya terlepas. Gadis itupun mencari di lantai tapi tidak ada. Membuatnya pun naik ke ranjang. Selimut yang tadi dirapikannya itu diberantakan lagi. Dari bawah bantal sampai mengangkat bahu Edgar. Tetap saja tidak ada.
"Aduh, kemana sih cincin itu?"
Keylin pun memandangi piyama Edgar. Langsung saja Keylin menyingkap baju tidur suaminya. Ia mengecek ke dada Edgar. Siapa tahu jatuh dan tertindih di sana. Tapi hasilnya kosong. Keylin tidak putus asa. Gadis itu mencari di kepala Edgar sampai mengacak rambut suaminya itu. Ia mengira cincinya bisa saja terbang atau dicuri oleh seekor kutu. Namun kalau dipikir secara logika, Keylin salah besar. Mana ada kutu bisa nyuri benda seperti itu. Kalau tuyul, mungkin bisa jadi.
"Ahh, mana sih benda itu?" desis Keylin gelisah. Tatapannya pun mengarah pada baby Samuel. Dengan panik, Keylin mencari di sana. Tidak lama dicari, cincin itu terlihat berkilau juga. Senyum Keylin membentuk indah melihat benda itu ada di dekat Samuel.
Ia pun secepatnya memakai cincin itu lalu mengelus dada. Rasa gelisahnya yang tadi hilang seketika. Akan tetapi, sontak Keylin memekik pelan ketika merasa lehernya dijilat sesuatu. Keylin spontan memutar diri dan diam membisu tak ada orang di belakangnya.
Matanya pun membola di atas tempat tidur tidak ada suaminya. "Lho, kemana Tuan Edgar?" gumamnya bingung.
"Akhh!" jeritnya terkejut setelah bahunya dicolek seseorang. Keylin menoleh ke samping lalu menunjuk Edgar yang sudah berdiri di sana. Keylin menahan tawa. Pasalnya rambut Edgar berantakan seperti habis dikeroyok satu kampung. Piyamanya juga acak - acakkan. Keylin merasa bersalah tidak memperbaiki tampilan Edgar tadi.
"Pagi, Tuan." Ucap Keylin namun sontak jari telunjuknya itu dicomot oleh Edgar. Gadis itu menganga terkejut pada Edgar, terutama jarinya terasa menyentuh lidahnya. Edgar menghentikan kelakuannya, pria itu maju dan perlahan merangkul pinggang Keylin. Menarik istrinya itu mendekat. Dua matanya pun saling pandang dan tambah dekat.
Glug
Ludah Keylin diteguk susah payah. Gadis itu diserang rasa panik sekarang tatkala bibirnya bersentuhan dengan bibir Edgar. Keylin diam saja dan hanya membiarkan Edgar menciumnya. Namun rona merah dipipinya itu kelihatan jelas sedang menahan teriakan. Edgar mempereratkan rangkulannya dan memejamkan mata. Menikmati sesuatu yang lembut dalam lidahnya. Jantung Keylin tak hentinya berbedar - debar melihat Edgar tampak lebih menyukai sarapan dari ciumannya. Sarapan pagi yang rasanya tidak ada duanya. Mengalahkan rasa sarapan yang dibuat Bianca. Untung tadi Keylin sudah sikat gigi jadi tidak cemas dengan bau mulutnya.
Selepas melakukan itu, Keylin menunduk di depan Edgar. Tangan kanannya meraih ujung piyama Edgar.
"Tuan... kenapa kau menciumku?" tanya Keylin agak kesal tapi ia tidak bisa pungkiri tindakan Edgar itu sangat manis pagi ini. Edgar menarik dagu Keylin dan menatap dua netra hitam istrinya.
"Kau sangat imut," ucap Edgar membuat Keylin tersenyum dapat pujian. Perasaannya pada Bryan pun kembali dilupakan.
"Imut dan polos seperti Tania."
Deg. Senyum indah Keylin perlahan pudar mendengar satu nama itu keluar dengan lancar dari mulut suaminya. Entah kenapa, hatinya sedikit sakit disamakan dengan wanita lain. Keylin cemberut dan membenarkan kata Mona kalau Edgar punya rasa spesial pada wanita itu. Namun Keylin tersenyum meski sedikit kecewa. Ia seperti boneka pengganti untuk Edgar. Lebih tepatnya, jadi Tania kedua.
"Terima kasih, Tuan." Edgar sedikit tersenyum mendengarnya, ia pun kemudian berjalan ke kamar mandi. Keylin memegang dadanya dan menepuknya sedikit lalu memegang bibirnya. Keylin merasa ciuman itu pernah dia rasakan sebelumnya.
"Baiklah, Keylin. Kau lupakan saja Bryan. Tugasmu sekarang lebih baik jaga Samuel dan fokus pada keinginan nyonya Regina. Kau harus buat Tuan Edgar melupakan wanita itu." Keylin berharap bisa membuat Edgar menatapnya sebagai istri bukan boneka pengganti Tania. Ia pun menyiapkan baju Edgar sebelum Bianca datang berulah di kamarnya itu.
.
Like dan komen, supaya bisa update dobel terus🤭
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments
sihat dan kaya
benda mcm tu pun kau nk malu... entah apa2 je...
2025-03-11
0
Keser Galby
key Nana ada kutu nyuri cingcin
ada² aja 😂😂
2022-12-22
0
Keser Galby
itu jamur beracun key..klo kena bisa nya bisa bengkak 9 bln baru sembuh bengkak nya
2022-12-22
1