Take Over

Disaat teman-temannya sedang berlatih, Kotaro dan yang lain telah memasuki Alexandria Castle, namun keadaan tak sesuai dengan harapan, situasi di kota terasa sepi, seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan, warga yang lalu lalang, aktifitas perdagangan maupun sorak sorai suara penduduk kota seakan kota telah menutup diri dari dunia luar.

Mustamil yang terlihat heran melihat keadaan kota asalnya berbeda saat dia berada di tempat tersebut pun tak bisa berkata apa apa, dan dengan segera Ia memberikan saran kepada yang lainnya untuk mencoba melihat ke istana tempat kenalannya tersebut tinggal, yaitu Fuji-sama.

Disaat sedang menuju ke istana dengan berlari, tiba-tiba Mustamil yang berada di depan menjadi penunjuk jalan berhenti mendadak, ternyata di sekitar alun-alun istana dan isi dalamnya, terdapat banyak dari ras Minotaur sedang berjaga-jaga disekeliling area tersebut, entah apa yang terjadi, tak terlihat satupun penduduk dari ras Zephyr, Elf dan Noir.

“Apa-apaan ini? Mereka menyerang wilayah ini juga” geram Mustamil

Ternyata selain pulau Guntond yang di serang oleh ras Dragoon, Minotaur juga ingin memperluas wilayahnya dengan menyerang penduduk Alexandria Castle untuk dijadikan tumbal. Ketika Mustamil hendak maju untuk melawan.

Freyla menyuruhnya untuk diam, terlihat dari kejauhan Koga dan Schmidt sedang menunggangi Celestial Dragon dan mendarat tepat di sana, seolah seperti memberikan instruksi, para minotaur tersebut masuk kedalam istana bersama Koga dan hanya menyisakan Schmidt yang berjaga diluar sampai semuanya telah benar-benar didalam ruangan dan dengan lantang.

Ia memanggil Kotaro untuk keluar dari persembunyiannya. Semuanya pun kaget, ternyata mereka sudah diketahui sejak lama berada di balik pilar sambil melihat dari kejauhan dan akhirnya tak ada pilihan lain, mereka pun keluar. Kotaro, Mustamil, Freyla, Dantes, Delila, Gufron, Badrian, Arifin, Kashim dan para Zephyr pun menampakkan dirinya dihadapan Schmidt.

Namun ketika semuanya hendak maju untuk melawan, mereka telah dipersilahkan masuk ke istana untuk menyelamatkan penduduk Alexandria Castle kecuali Kotaro yang tetap berada diluar, Schmidt yang memendam benci kepada Kotaro akibat aksinya menghancurkan patung naga di Town of Beginning untuk menghisap energy.

Freyla dan yang lain hendak ingin menolong Kotaro pun dihalangi oleh Celestial Dragon yang sedang berjaga disana,

“Sudah kubilang, ini pertarunganku dengan Kotaro, jangan menggangguku, cepat pergi kalian dari hadapanku”

Sekali lagi, Kotaro dan Aoyanagi berhadapan dengan Schmidt, mengingat kejadian sebelumnya Kotaro yang kewalahan melawan Schmidt dikarenakan terburu-buru untuk menorobos masuk, namun sekarang Kotaro sudah bisa memfokuskan dirinya untuk melawan Schmidt dan mempercayakan penduduk kota kepada teman-temannya.

Sebelum menerobos masuk lantai pertama, Freyla memberikan instruksinya kepada yang lain agar selalu berhati-hati dan berpikir yang matang sebelum bertindak, setelah itu mereka membagi tugas masing-masing.

“Badrian, Kashim, kalian bisa bertarung kan?” Tanya Freyla

“Tentu saja, kami dijuluki empat ksatria tangguh bersaudara” jawab mereka bersamaan

“Bagus, kalau begitu ikuti instruksiku ini agar berjalan lancar”

Mustamil dan Dantes berada di formasi depan bertugas sebagai ujung tombak untuk menghancurkan musuh yang ada di depan, Freyla dan Delila berada di bagian tengah sebagai support dengan menggunakan sihir jarak jauhnya, Badrian dan Kashim bertugas dibagian belakang untuk pertahanan musuh yang muncul dari belakang.

Lalu yang terakhir Gufron dan Arifin mendapat tugas paling berat yaitu menyelamatkan penduduk yang sedang disandra di bagian paling atas istana, mengingat Geo, Zephyr milik Arifin telah menjelaskan kekuatannya saat dalam perjalananan menuju Alexandria Castle bahwa Ia dapat membuat duplikat dirinya dari benda apapun yang berbahan dasar batu dan dengan kekuatan tersebut akan lebih mudah menyelamatkan penduduk yang jumlahnya sangat banyak.

Setelah mendapat instruksi tersebut, semua bergegas berangkat dengan posisi masing-masing, dimulai dengan menerobos pintu awal, terlihat sekumpulan minotaur yang sedang berkumpul disana dan langsung dihajar dengan serangan pembuka oleh Dantes yang sedang bersemangat telah menjadi kuat.

Dengan api yang membara muncul di kedua tangannya, ia pun langsung menerjang kehadapan musuh sambil dibarengi dengan Rockstar yang menyemburkan api miliknya, tak mau kalah dengan Dantes yang sedang bersenang-senang sendirian, Mustamil pun mengeluarkan tombak miliknya dan menghabisi musuh yang menghalanginya, dengan teknik bertarung yang Ia miliki.

Musuh demi musuh dapat dengan mudah dikalahkan dan sampai pada akhirnya mereka mencapai lantai empat dari delapan lantai yang ada di istana, dan dihadapan mereka terlihat sesosok dari ras Minotaur yang agak berbeda dari yang lainnya, badannya 3x lipat lebih besar dari yang lain, bola matanya berwarna merah, membawa kapak besar di tangan kanannya, dan memakai baju jirah yang terbuat dari tulang melingkari bagian atas tubuhnya, dia adalah Goltas, salah satu dari 4 Guardian ras Minotaur yang dikirimkan Bordock ke Alexandria Castle.

Kotaro dan Schmidt yang sedari tadi masih saling berhadapan pun akhirnya memulai pertarungan mereka, dimulai dengan Schmidt yang mengeluarkan Darkness Wave miliknya namun dapat dihindari oleh Kotaro dengan lihai, disambut dengan Icy Breath dari Aoyanagi yang disemburkan dari atas namun Ia bisa menghindarinya juga.

“Schimdt, aku ingin bertanya kepadamu” kata Kotaro

“Apa?”

“Mengapa kau membela ras Dragoon? Kau kan sama dengan kami, manusia”

“Jika aku manusia memangnya kenapa? Ada yang salah?”

“Tentu saja, merka ingin menghancurkan dunia ini, seharusnya kita menghentikannya”

“Menghentikannya? Apa kau bisa? Apa kau tahu kekuatan raja Prometheus? Itulah yang aku incar selama ini, apa kau tidak pernah mendengar pepatah ini ‘’There is no creation without Destruction‘’ by Nobunaga Oda”

“Apa maksudmu?”

“Aku sedang memanfaatkan kekuatan ras ini, ketika mereka sudah menang, aku akan mengalahkan Prometheus dan menjadi penguasa dunia ini, Hahahahaha”

“Jadi itu tujuanmu”

“Kekuasaan adalah tanda kekuatan, cobalah hentikan aku kalau bisaaaa!”

Serangan demi serangan di lontarkan, saling menghindari serangan masing-masing membuat Schmidt pun harus mengeluarkan salah satu jurus andalan miliknya.

“Kau jadi semakin tangguh ya semenjak kita bertemu pertama kali”

“Fyuuh, waktu itu aku sedang terburu-buru, jadi tidak focus pada pertarungan”

“Benarkah itu?”

“Iya, tentu saja, sekarang kau bisa merasakan bertarung denganku” jawab Kotaro dengan enteng

“Percaya diri sekali”

Sambil mengeluarkan cincin miliknya lalu dipasangkan di telunjuk tangan kanannya, dengan seketika hawa pembunuh mengelilingi tubuh Schmidt, asap-asap yang berwarna ungu tersebut mulai berkumpul dan membentuk menjadi lima kepala ular yang sangat besar. Break Up: Hydra Mode adalah salah satu jurus andalan dari Schmidt yang digunakan untuk menghabisi musuhnya.

Dengan membentuk lima kepala ular dari aura pembunuhnya yang keluar dari cincin yang dipasang di jari kanannya tersebut, Ia bisa memerintah kelima ular sekaligus untuk menyerang mangsanya, dengan begini musuh yang harus dihadapi Kotaro dan Aoyanagi menjadi bertambah banyak.

Wooaaa, belum apa-apa sudah mengeluakan jurus andalanmu ya? Apa kau takut kepadaku?”

“Takut? Jangan bercanda, aku hanya ingin menyelesaikan misi ini dengan cepat, karena kau telah membuang waktuku dengan omong kosongmu”

Merasa tak ada pilihan lain, Kotaro pun akhirnya serius, dengan menghembuskan nafasnya berkali-kali dari mulutnya, Ia mengeluarkan hawa dingin yang terkumpul dari tubuhnya, Schmidt yang tak tahu apa yang dilakukan Kotaro pun hanya bisa diam, dan setelah beberapa saat akhirnya Ia pun sadar, seluruh area tempat mereka bertarung telah membeku, pijakan tempat mereka berdiri telah menjadi es batu yang licin dan keras.

Kotaro pun dengan segera mengeluarkan Butterfly Sword miliknya yang dibuat oleh Aoyanagi ketika Kotaro membekukan area bertarung, dengan wajah yang riang dengan sedikit senyum Ia pun memulai serangannya dengan cara berkeliling ke seluruh sudut area dengan cara berselancar, Schmidt yang berada di tengah pun hanya bisa mengamati Kotaro yang terus berputar sambil berselancar mengelilinginya.

Schmidt yang tak tahu menahu akan jurus Kotaro tersebut hanya menunggu kapan Kotaro akan bergerak menuju dirinya, namun dengan hanya menggerakan telunjuk jari miliknya, es yang berada di pijakan Schmidt pun menyerangnya dari bawah dan dengan sigap Schmidt pun berhasil menghindarinya akan tetapi dari belakang Kotaro menebas Schmidt yang tak mampu menghindar saat berada di udara, serangan tersebut Ia berinama Dash & Slash.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!