Team

Kotaro dan teman-teman yang sudah berada di depan gerbang utama kota, dengan segera masuk kedalam untuk memulai pertarungan dengan ras Dragoon, namun perkiraan tak sesuai harapan mereka, pemandangan di kota tampak sepi seperti tidak ada kehidupan sama sekali, hanya suara hembusan angin dan suara puing-puing bangunan yang berjatuhan akibat serangan ras Dragoon waktu itu dan juga terdapat mayat dari beberapa ras yang tidak dapat melarikan diri.

“Kejam, sungguh kejam, aku tak tahan melihatnya” kata Ainz

“Biasakanlah, mulai dari sekarang inilah pemandangan kita setiap hari dan bisa saja kita yang menjadi seperti itu” balas Sataru

“Hey bisakah kau berbicara lebih lembut?” balas Einz

Belum lama mereka berbincang, terlihat dari kejauhan muncul sesosok mahluk buntal bermata sipit dengan pelapis baja disekujur tubuhnya, terlihat seperti memakai baju zirah dan menggunakan pentungan sebagai senjatanya yang turun dari langit dan menghadang mereka untuk masuk ke kota lebih jauh, mahluk tersebut adalah Belphegor, penjaga bawah tanah pulau Vermillion selama beratus-ratus tahun lamanya, Ia diutus raja Prometheus untuk menjaga barisan depan kota.

Raungan mahluk tersebut membuat mereka tercengang, namun Kotaro dan teman-temannya tidak gentar, mereka sudah mempersiapkan diri untuk bertarung dan menerima resiko yang ada.

“Wooooooo, belum apa-apa kita sudah diserang”

“Bersiaplah teman-teman kita akan mulai bertarung” kata Kotaro

“Ainz, berlindung dibelakangku” kata Einz sang kakak melindungi adiknya

Serangan dimulai dari Kotaro yang melesat maju bersama Aoyanagi untuk meluncurkan serangan cepat sebelum monster itu bereaksi, dengan Ice Saber milik Kotaro, Ia langsung menebas kebagian badan monster itu, namun serangan tersebut tak melukainya.

“Seranganmu tidak membekas Kotaro”

“Sudah diam saja, kau kira ini mudah”

Disambut dengan sigap oleh Sataru dengan menggunakan Gladius miliknya, Ia menerjang kehadapan monster tersebut, namun gerakannya terbaca dan dengan seketika monster tersebut melayangkan pentungannya kearah Sataru

“Oi Sataru awas dibelakangmuuuu…!

Dengan seketika Meta meluncur menebas pentungan tersebut dengan pedangnya dan menghempaskan serangan tersebut kearah yang lain. Sataru pun berhasil terhindar dari serangan tersebut namun mendapat ocehan dari Meta untuk tidak gegabah dalam bertindak.

Dari kejauhan terdengar suara Dantes yang menyuruh semuanya untuk menjauh, dikarenakan monster tersebut melancarkan serangan dengan mengeluarkan cairan asam dari dalam mulutnya yang menyebabkan benda apapun yang terkena serangan tersebut meleleh.

“Yang benar saja, air liurnya saja bisa melelehkan besi itu, kalau sampai terkena itu kita akan mati”

“Baiklah kalau begitu kalian akan kulindungi” kata Julianz

Dengan seketika Julianz pun mengeluarkan jurus perisainya yang diberi nama Gardna, perisai besar yang terbuat dari baja berfungsi untuk melindungi teman-temannya dan mengeluarkan baju jirah serta pedang untuk melancarkan serangan, mode tersebut disebut Armed Mode.

“Yuhuuu, semua sedang menunjukan kekuatannya ya, aku juga bisa” kata Delila

Delila pun mengeluarkan jurusnya dengan membaca mantra dari buku yang selalu dibawa kemana pun dan muncullah sebuah gerbang dari dimensi lain dan terlihat sosok tengkorak yang membawa Death Schyte serta peti mati dan sebuah salip dipunggungnya muncul dari pintu tersebut.

“Muncullah, GRIM REAPER!!”

Bersamaan dengan itu, monster itu pun melancarkan serangan bertubi-tubi, mulai dari menyerang dengan pentungannya sampai mengeluarkan cairan asam tersebut, namun semuanya telah terbiasa dan berhasil mengindarinya. Sebaliknya, serangan bertubi-tubi juga diluncurkan oleh Kotaro dan kawan-kawan, namun hanya berhasil memberi goresan-goresan tanpa menghasilkan luka yang fatal pada monster tersebut.

“Hey Kotaro, apa kau yakin ikut bertarung juga disini?” Tanya Aoyanagi

“Memangnya kenapa?”

“Aku ingin kita menguji hasil latihan mereka saat di Sandoria waktu itu”

“Ah iya kau benar juga, aku akan berpura-pura melemah”

Seiring waktu berjalan, Julianz pun ingin segera mengakhiri pertarungan yang terlalu banyak memakan waktu ini.

“Ini terlalu lama, bisa-bisa kita terlambat mengalahkan ras Dragoon yang lain, apa boleh buat” kata Julianz

“Hey Dantes, lakukan hal yang sama padaku saat kau membantu Sataru melawan naga kemarin”

“Hey hey apa apaan lagi ini, kenapa semuanya selalu memerintahku”

“Sudah ikuti saja”

Dantes pun menyemburkan apinya ke langit kota namun terjadi kesalahpahaman diantara keduanya.

“Oiii kenapa menyemburnya kesana? Langsung saja kearahku” teriak Julianz kepada Dantes

“Kau bilang melakukan hal yang sama seperti Sataru”

“Sudah semburkan ke arahku sekarang”

“Baiklah, dasar banyak maunya”

Sekali lagi api disemburkan, api yang berkobar dengan ganas itu pun perlahan-lahan terhisap oleh baju jirah milik Julianz, sepertinya Ia berhasil menaikan level Armed Mode miliknya, perlahan-lahan wujud dari baju jirah dan pedang miliknya berubah menjadi sesuatu yang menakjubkan dan diberi nama Armed Mode: Sun God Apollo.

Julianz pun melepas perisai dan pedang miliknya untuk mengeluarkan jurusnya dengan mengangkat kedua tangannya ke langit, dengan mengumpulkan energy dari baju jirahnya dan terbentuklah sebuah bola api besar yang diberi nama Sunshine Spark.

“Akhirnya aku bisa menguasai jurus ini dan menunjukkannya pada kalian”

“Huuuu dasar tukang pamer”

“Berisiiiik kau, Delila perintahkan tengkorak milikmu itu untuk menebas bola api yang aku lempar ini”

“Lagi-lagi dia memerintah” Dantes bergumam

“Aku tak tahu apa yang akan kau lakukan tapi baiklah”

“Baiklah monster bulat, terimalah serangan gabungan dari kamiiii, rasakan iniii!”

Bola api yang telah dilempar tersebut ditebas dengan Death Scyte miliknya tersebut hingga berkeping-keping. Pecahan bola api tersebut langsung meluncur dengan sangat cepat dan mengenai monster tersebut tanpa mampu menghindar dan dengan seketika Sataru dan Dantes melakukan kombinasi mereka untuk membentuk pedang api Flamberge dan melancarkan serangan terakhir bersama Meta agar dapat melumpuhkan monster tersebut dan akhirnya monster itu pun tumbang. Kemenangan pun diraih oleh Kotaro dan teman-temannya, namun tidak sampai disini, perjalanan masih berlanjut, masih banyak musuh yang harus dikalahkan didepan mereka.

Setelah berhasil mengalahkan Belphegor dan melewati gerbang utama, semua anak itu beserta Zephyr tersebut beristirahat untuk memulihkan energy mereka yang telah banyak terkuras pada saat pertarungan sebelumnya. Ainz dan Kammi pun saling bahu-membahu menyembuhkan luka teman-temannya dengan menggunakan Healing Spell milik mereka. Namun belum lama mereka beristirahat, terdengar suara seseorang yang berteriak minta tolong dari kejauhan, mereka pun lalu bergegas dan berpencar untuk mencari sumber suara tersebut.

“Heeey dimana kaau?”teriak semuanya untuk mencari sumber suara tersebut.

“Kita berpencar saja agar lebih mudah menemukannya”

“Benar juga, ayooo!”

Setelah berkeliling cukup lama akhirnya Einz dan Ainz menemukan orang tersebut, anak perempuan dari ras Elf yang berteriak-teriak minta tolong sambil memukul-mukul sebuah patung naga.

“Hey semuanyaaa, aku menemukannya disini” teriak Einz

Ketika melihat Kotaro dan yang lainnya, anak itu lalu memohon kepada mereka untuk mengembalikan keluarganya sambil meneteskan air mata, mereka yang tidak tahu menahu penyebabnya meminta anak tersebut untuk menceritakan semuanya, namun sesosok mahluk dari ras Noir yang sudah tua pun muncul dari balik reruntuhan dan menceritakan semuanya.

Awal penyerangan tersebut bermula dari Prometheus yang haus akan kekuasaan ingin menguasai Otherworld dan memusnahkan seluruh ras agar hanya ras Dragoon lah yang tersisa, dengan cara membangkitkan naga legendaris, Salamander.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!