Ras Dragoon yang sudah mulai merasakan aura yang berbahaya dari Kotaro itu pun langsung bergegas untuk kabur kembali ke pulaunya. Namun Kotaro yang sudah mulai menarik pedangnya dan menggeserkannya ditanah pun langsung merubah hamparan rumput luas menjadi kilauan es batu yang cantik.
Dengan sigap Ia meluncur diatas pijakan es buatannya dan langsung menebas bagian punggung musuhnya, tak cukup sampai disitu tebasan kedua sampai ketujuh pun mengenai tubuh musuhnya. Hingga membentuk lambang salju yang membuat musuhnya membeku kemudian meledak menjadi berkeping-keping tak bersisa.
Pertarungan selesai, dan Kotaro pun langsung menuju kearah ras Elf yang sedang terluka, namun Ia tak menemukannya dimana sejauh mata memandang. Sesaat setelah merasakan keanehan itu terjadi, terdengar didalam telinga Kotaro bahwa seseorang memanggilnya. Suara yang sangat jauh namun terasa dekat itu menyuruh Kotaro untuk pulang karena desanya sedang dalam bahaya. Tak perlu pikir panjang mengenai darimana suara itu berasal, Ia meminta Aoyanagi untuk mengantarnya pulang.
Aoyanagi pun setuju dengan itu dikarenakan janji diantara mereka sudah terpenuhi yaitu membuat Kotaro untuk menjadi kuat dari sebelumnya.
Suasana mencekam di desa Brahm dikarenakan pertempuran yang terjadi antara penduduk desa dengan para bandit-bandit yang berniat merebut desa Brahm untuk dijadikan markas barunya ternyata berujung menyedihkan, kekalahan yang diterima penduduk desa serta akan terjadi pembunuhan terhadap tujuh orang yang telah menentang mereka.
Namun saat para bandit menghunuskan pedangnya hendak membunuh, hawa dingin dari arah hutan seolah menepis serangan tersebut. Dibalik angin putih yang berhembus, terlihat sosok seseorang berbadan tegap, berambut biru, menggunakan jaket yang tak asing lagi bagi para penduduk desa Brahm, dia adalah Kotaro, anak dari pasangan Mako dan Kiriyama yang telah lama hilang karena memasuki hutan terlarang, kembali dan menyelamatkan sahabat-sahabatnya.
“Kotaro??”
“Apakah itu Kotaro????”
“Hey itu Kotaro, bagaimana bisa dia berada disini??”
“Iya seharusnya dia sudah mati sejak lama”
Bermacam-macam kata terlontar kepadanya dari para warga desa, seolah tak percaya apa yang mereka lihat, teman-temannya pun hanya terdiam dan melihat Kotaro menghabisi dan mengusir para bandit tersebut, yang tersisa hanyalah pimpinan mereka, selebihnya telah kabur dari desa, pimpinan tersebut yang marah karena telah dipermalukan oleh seorang pemuda saja, mulai mengeluarkan senjata api dari kantongnya
“Kurang ajar kau anak muda, kau telah mempermalukanku” kata ketua bandit itu.
“Pergi kau dari desa ini, jangan pernah mengacau lagi disini” balas Kotaro
“Jangan macam-macam denganku, aku adalah bandit terkuat di wilayah ini anak muda, jangan sombong karena sudah mengalahkan anak buahku”
Berniat mengancam Kotaro agar menyerah, namun Kotaro membalasnya dengan sedikit senyuman, melihat ekspresi dari Kotaro, Ia sudah tak tahan lagi dan menembakkan peluru kearah Kotaro. Disaat peluru itu berjalan menuju Kotaro, Kotaro hendak menghindar dengan kecepatan supernya namun tidak jadi mengingat sahabat-sahabat yang ada dibelakangnya, merasa tidak ada pilihan lagi, Kotaro pun menunjukkan jarinya kearah peluru tersebut dan mengeluarkan salah satu dari puluhan Ice Spell yang ia miliki, yaitu Ice Time, seketika itu peluru yang mengarah pada dirinya pun berubah menjadi es dan terjatuh.
Melihat kejadian tersebut, seluruh orang yang ada disana tak terkecuali sahabat-sahabatnya dan pemimpin bandit tersebut kaget, hal seperti itu bisa terjadi didunia ini, melihat kesempatan yang terbuka, dengan kekuatannya Kotaro pun segera menghabisi bandit tersebut dengan pukulannya dan pimpinan bandit itu pun melarikan diri. Berkat bantuan dari Kotaro, kemenangan penduduk desa sudah jelas, namun hal itu tak sesuai harapan Kotaro yang berharap penduduk desa senang menerima bantuannya, tidak ada sorakan kemenangan yang ia dengar, melainkan mata kebencian yang tertanam selama tiga tahun menerima siksaan dari para bandit akibat kesalahan Kotaro itu pun sehentak mengagetkannya.
Teriakan amarah dilontarkan penduduk desa, seolah bertujuan untuk mengusir Kotaro dari desanya, Kotaro yang tak bisa berkata apa-apa pun hanya bisa menunduk dan terdiam, didalam pikirannya, Kotaro mengakui kalau itu emang kesalahannya akan tetapi tidak berfikir akan sejauh ini dampak dari perbuatannya.
“Keluar kau dasar manusia pembawa bencana”
“Iya mati saja kau, untuk apa datang kesini lagi”
“Apa kau tak tahu perbuatanmu? Lihat inilah akibat dari perbuatanmu yang tak berguna itu”
“Jangan berlagak jadi pahlawan disini, ini semua akibat perbuatanmu”
Seolah menyambut teriakan dari penduduk desa, dari belakangnya terdengar suara yang sangat besar, salah satu dari sahabatnya berteriak sekuat tenaga seolah menyuruh Kotaro untuk menjelaskan semuanya.
“KOTAROO…..!!!! Kemari kau!!” teriak Dantes
“Kenapa diam saja? Kenapa? Kenapaaaaaa? Malu atas perbuatanmu? Atau kau malah bangga menjadi pahlawan desa ini? Haaaaa?!!”
“JAWAB KOTAROO..!! jangan diam saja, kami disini butuh jawabanmu sekarang juga!!”
“Maaf! Maafkan aku”
“Haaaaaah! Apa kau bilang???”
“Maaf, semuanya aku minta maaf”
“Maaf katamu? Apakah kau mengerti perasaan kami semua disini hei Kotarooo?”
Dantes, yang darahnya sudah mendidih semenjak diusir dan diabaikan oleh rajanya sendiri akibat perbuatannya itu memaksa Kotaro untuk menjawab semua pertanyaannya, namun setiap pertanyaan yang dilontarkan padanya, yang keluar dari mulut Kotaro hanya kata permohonan maaf, geram akan jawaban itu, Dantes pun tak segan-segan memukul wajah Kotaro berkali-kali.
“Oi Dantes, sudah hentikan, Kotaro sudah menyesali perbuatannya”
“Ia dia juga sudah minta maaf”
“Oi lepaskan aku, amarahku belum reda jika tidak mendapatkan penjelasan darinya, lepaskan aku!” teriak Dantes.
Julianz dan Einz telah menahan Dantes agar tidak berbuat yang lebih jauh lagi, Dantes yang terus berontak agar segera dilepaskan untuk balas dendam terhadap Kotaro pun akhirnya terdiam setelah mendengar teriakan dari Ainz yang menyuruh semuanya untuk diam.
“Aaaa!!!!!
“Kalian semuaaa diaaaaaam!!! teriak Ainz dari belakang
“Sudah cukup, Dante, cukup, jangan ada yang melakukan apa-apa lagi”
Ainz yang tak kuat melihat sahabat-sahabatnya bertengkar terus lagi-lagi meneteskan air matanya, Ainz mengatakan pada Dantes kalau itu bukan kesalahan dari Kotaro semata, semua yang tidak menyadari kesedihan yang dialami Kotaro tiga yang tahun lalu, mengakibatkan Kotaro diusir dan memasuki hutan terlarang tersebut.
Setelah mendengar penjelasan dari Ainz, akhirnya semua pun sadar, untuk tidak egois dan hanya bisa menyalahkan orang lain saja, akan tetapi penduduk desa belum sepenuhnya memaafkan Kotaro dan tidak bisa membiarkan Kotaro untuk tinggal di desanya untuk sementara waktu, sampai mereka benar-benar bisa meghilangkan rasa pedih yang dialaminya sejak Kotaro melanggar peraturan desa.
Berniat menebus semua kesalahanya, Kotaro menerima apapun yang diminta penduduk desa, Kotaro akhirnya meninggalkan desa dan mulai hidup dipadang rumput yang terletak tidak jauh di sebelah utara desa. Hari demi hari yang lewati Kotaro seorang diri, tanpa ada komunikasi dari penduduk desa maupun sahabatnya, membuat Kotaro semakin merasakan kesepian yang mendalam, namun saat Kotaro termenung melihat sekeliling padang rumput, terlihat dari belakang sebuah mahluk kecil yang mendekatinya dan langsung melompat ke pundak Kotaro, kaget dengan hal itu, Kotaro pun menoleh dan melihat partnernya lagi, Aoyanagi.
“Hey, Kotaro, ayo kembali ke Otherworld, disini sudah tidak nyaman lagi.”
“Hey, Kotaro, jawab aku, mereka sudah mengusirmu, tidak menerima kau lagi di desa ini, sudahlah ayo kembali”
“Disana lebih aman dan tenang dari tempatmu ini.”
“Apa kau akan terus termenung seperti ini?”
“Memang benar disini adalah rumahmu, tempatmu dilahirkan dan dibesarkan, namun semuanya telah berubah, ayo Kotaro kita kembali”
Aoyanagi yang kembali dari rumahnya di Otherworld itupun menemui Kotaro untuk mengajaknya tinggal di Otherworld lagi, namun Kotaro hanya terdiam saja seolah tidak mendengar apa-apa, maksud dari Aoyanagi mengajaknya kembali agar Kotaro tidak terus menerus terjerumus dalam kesedihannya, melihat reaksi dari Kotaro yang hanya diam saja, Aoyanagi pun terus menerus membujuknya dan sesekali berusaha membangkitkan semangatnya, diwaktu yang bersamaan terdengar dari kejauhan suara dari kumpulan orang memanggil namanya, mereka adalah ketujuh sahabatnya yang mencari Kotaro untuk mengajaknya kembali ke desa dikarenakan suasana di desa sudah mulai membaik, penduduk desa juga sudah mulai memaafkan Kotaro. Tak sempat bersembunyi, Aoyanagi pun terlihat oleh ketujuh sahabatnya, semua kaget melihat mahluk aneh yang berada di pundak Kotaro.
“Kotaro? Itu apa?” Tanya Freyla si perempuan berkacamata, berambut hijau yang paling dewasa diantara semuanya.
“Iya itu apa Kotaro?” Sambut Einz menmyambung pertanyaan Freyla.
“Ah ini Aoyanagi, dia adalah ras Zephyr dari dunia yang lain, dunia yang berbeda dari kita”
“Dunia yang berbeda dari kita? apa maksudmu?”
“Memangnya ada dunia selain dunia ini?”
Lalu Kotaro pun memperkenalkan Aoyanagi kepada mereka dan menjelaskan semua yang terjadi, apa itu Zephyr, Otherworld dan kekuatan yang ia miliki.
Semua mulai paham posisi Kotaro saat itu dan mereka semua pun meminta maaf kepada Kotaro tak terkecuali Dantes yang merasa bersalah telah memukulnya. Keadaan mulai membaik dan canda tawa pun mulai terjadi lagi, suasana sudah seperti dulu lagi seolah tidak pernah terjadi masalah apapun diantara mereka, Aoyanagi hanya bisa tersenyum melihat semuanya.
Sataru yang terdiam dari awal akhirnya angkat bicara, Ia bertanya kepada Aoyanagi apakah dirinya bisa mendapatkan kekuatan seperti yang dimiliki Kotaro dan Aoyanagi menyambut positif pertanyaan tersebut.
“Hey, bagaimana aku bisa mendapatkan kekuatan seperti yang dimiliki Kotaro saat ini? Tanya pria berambut kuning ini kepada Aoyanagi.
“Eh?”
“Kau menginginkan kekuatan juga Sataru?” Tanya Kotaro kepadanya.
“Tentu saja”
“Kami juga! Serentak semuanya ingin kekuatan yang dimiliki sahabatnya itu.
“Bagaimana Aoyanagi?” Tanya Kotaro kepada partnernya itu
“Yah apa boleh buat, sudah tidak bisa disembunyikan lagi, ini juga tidak apa-apa selama mereka bisa menjaga semua rahasia dari penduduk desa” jawab Aoyanagi.
Kotaro dan Aoyanagi mengajak mereka masuk ke Lilian Forest, namun sebelum memasuki Gate of Sirians, Aoyanagi menjelaskan kepada semuanya bahwa kekuatan yang akan mereka dapat tidak bisa dipilih, melainkan kekuatan dari hati dan imajinasi mereka, bukan kekuatan yang asal-asalan saja. Aoyanagi menyuruh mereka masuk kedalam gua yang terletak di sebelah barat Gate of Sirians, untuk menguji kekuatan hati yang terdapat di dalam tubuh mereka, dengan cara mengimajinasikan sesuatu didalam gua tersebut, mereka akan mendapatkan apa yang mereka pikirkan untuk melewati ujian yang dibuat Aoyanagi didalam gua tersebut.
“Ini mudah, hanya begini saja ternyata”
“Oi Sataru, jangan gegabah, kita tak tahu apa yang ada di dalam gua itu” kata Einz yang terkenal pesimis diantara yang lainnya.
“Badanmu saja yang tinggi dan besar, ternyata nyalimu kecil juga”
“Apa kau bilang??”
“Sudah sudah, jangan bertengkar lagi ah, kalian ini seperti anak kecil saja” sambut perempuan yang selalu memakai bandonya kemanapun Ia pergi itu, dia adalah Delila.
Sataru yang tidak perlu pikir panjang pun langsung memasuki gua tersebut tanpa ragu, namun tak sampai satu jam berlalu Sataru akhirnya menyelesaikan ujian yang dibuat Aoyanagi dan keluar dengan membawa sebuah pedang, kaget dengan kekuatan hati yang dimiliki Sataru dan pedang yang dibawanya, Aoyanagi menjelaskan kepadanya bahwa yang di bawanya itu adalah salah satu dari 7 pedang terkuat, yaitu Gladius, The Swiftest Sword.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments