The Genius Who Has Been Born

Disaat Kotaro memasuki Gate of Sirians untuk menuju ke Otherworld, terlihat sebuah mahluk sedang mengawasi mereka dari belakang. Tiga tahun kemudian di desa Brahm, setelah Kotaro memasuki Otherworld bersama Aoyanagi, suasana di desa ternyata tak seperti dahulu, situasi desa yang mencekam dikarenakan sudah tidak lagi dalam kawasan perlindungan Raja Zurk, pemimpin kota Einsville, mengakibatkan banyaknya para bandit dan penjahat-penjahat yang menyerang desa, merampok harta dan kekayaan penduduk desa bahkan banyaknya korban yang berjatuhan, ini akibat dari kelalaian dari ketua suku yang membiarkan seorang penduduk dari desanya yang melanggar aturan memasuki hutan terlarang tersebut.

Setiap tujuh hari sekali, ketua suku desa Brahm harus mengumpulkan harta kekayaan mereka untuk diberikan kepada bandit-bandit tersebut, jika tidak atau kurang dari jumlah yang telah ditentukan untuk di kirim, para bandit tersebut akan menghilangkan satu nyawa dari penduduk desa Brahm sebagai tumbal. Julianz, Einz, Ainz, Dantes, Sataru, Freyla dan Delila yang tak tahan melihat kejadian ini terus-menerus menimpa desanya, mereka bertujuh pergi menemui Raja Zurk untuk meminta prajurit Einzville melindungi desa mereka dari serangan para bandit, namun saat berada di pintu gerbang istana, mereka tidak diberi masuk oleh penjaga pintu dikarenakan tidak memiliki izin untuk bertemu raja.

“Ijinkan kami masuk, kami ingin menemui sang raja..!” ucap Dantes dengan lantangnya kepada prajurit penjang gerbang.

“Tidak bisa, kalian tidak boleh masuk karena tidak memiliki izin untuk bertemu Raja” balas prajurit tersebut.

“Tolong kami, ada sesuatu yang harus kami diskusikan kepada raja” sambut Delila dan Freyla dengan bersama-sama.

“Iya, ini kejadian yang sangat genting” balas Julianz.

Tak ada reaksi apapun dari prajurit itu, walaupun begitu mereka tetap memohon dan mendesak untuk bertemu sang raja karena ada hal yang ingin disampaikan namun tetap berujung sia-sia. Meskipun begitu mereka menunggu didepan istana sampai sang raja keluar dan mau mendengarkan cerita mereka, hari demi hari mereka lewati di depan istana raja, tak satupun prajurit yang bergetar hatinya untuk membiarkan mereka masuk, sang raja yang tak tahan istananya dikotori oleh penduduk desa, akhirnya menerima mereka masuk untuk bertemu dengannya.

“Silahkan masuk, ini perintah raja, kalian sudah diperbolehkan masuk atas izin raja” ucap prajurit tersebut seolah mengagetkan Julianz dan yang lainnya.

Mereka akhirnya masuk ke dalam istana dan menuju ruangan sang raja, namun saat mereka hendak berbicara untuk menjelaskan situasi desanya yang diserang bandit, raja sudah menolak segala permintaan apapun tekait dengan desa Brahm, mereka yang tercengang melihat raut wajah sang raja yang penuh amarah karena kelalaian penduduk desa yang melanggar aturan yang sudah disepakati sejak dulu, tidak mau membantu dalam bentuk apapun.

“Apa kalian tidak tahu perjanjiannya? Kata sang raja mengawali pembicaraan mereka.

“YA, KAMI TAHU” serentak jawaban dari anak-anak itu dengan lantang.

“Lalu, untuk apa kalian datang kemari? Kalian seharusnya sudah tahu jawabannya” balas sang raja.

“Tapi kan, ini situasinya berbeda, kejadiannya bukan disengaja atau berniat melanggar” sambut Freyla membela kesalahan sahabatnya tersebut

“Tidak, peraturan tetap peraturan, tidak ada toleransi terhadap pelanggaran perjanjian yang sudah terjadi berpuluh tahun lamanya” jawab raja sambil menyuruh prajuritnya untuk menyeret anak-anak itu keluar

Wajah putus asa tergambar dari raut wajah mereka, tak mampu berkata apa-apa lagi, Dantes yang kesal akan perilaku rajanya itu akhirnya mulai geram dan mengancam akan balas dendam terhadap para bandit dan sang raja, Dantes adalah salah seorang dari ketujuh sahabat Kotaro, pria yang berambut merah ini adalah yang paling cepat terbawa emosi, sifatnya urak-urakan, sembrono namun sebenarnya memiliki hati yang baik.

Melihat Dantes yang seperti itu, Ainz pun tak mampu menahan air matanya lagi, frustasi akan masa depan desanya, keluarganya dan sahabat-sahabatnya, Ainz yang sekarang berusia 18 tahun ini merupakan anggota yang paling muda dari yang lainnya, Julianz yang kesal pun menyuruh Dantes untuk tenang agar situasi tidak semakin rumit, namun Dantes yang sudah terbawa amarah pun malah melawan semua perkataan yang dilontarkan Julianz kepadanya, perbedatan pun tak bisa dihindari lagi, saling salah-menyalahkan, melempar tanggung jawab pun dimulai.

“Dantes, diam! Jangan memperkeruh suasana dengan ucapanmu” teriak Julianz kepadanya.

“Apa? Sekarang bagaimana? Pasrah dengan kejadian ini? Kembali pulang dengan tangan kosong? balas Dantes.

“Tentu saja tidak, kita cari jalan lain” kata Julianz

“Jalan lain? Apa kau gila? Raja sudah tidak mau membantu desa kita lagi”

“Ini semua gara-gara Kotaro, seenaknya memasuki wilayah terlarang itu, padahal Ia sudah tahu akibatnya bila memasuki wilayah itu” kata Dantes dengan geram.

Dantes yang mulai menyebut nama Kotaro sebagai akar dari kejadian ini pun seketika membuat Delila dan Freyla menampar mereka berdua untuk menghentikan perlakuan bodoh tersebut, kejadian ini membuat Ainz semakin tak bisa menahan air matanya yang berjatuhan, Einz sang kakak, merangkul adiknya untuk tidak sedih lagi.

“Sudah Ainz, jangan menangis terus, kita bisa menyelesaikan masalah ini” ucap Einz pada adiknya yang sedang sedih.

Sataru yang terlihat diam seolah tak mau berkomentar akan kejadian ini tiba-tiba mengajak mereka untuk pulang untuk istirahat.

Sementara itu Kotaro yang berada di Otherworld sedang berlatih sangat giat untuk memperdalam kekuatan yang dimilikinya. Dimulai dari latihan menembakkan es hingga mengeluarkan es berbentuk perisai sebagai bentuk pertahanan.

"Sudah cukup lama kita berlatih, namun masih ada yang kurang" kata Aoyanagi

"Apa ini semua belum cukup bagimu??"

Sesaat setelah itu terdengar suara teriakan minta tolong dari kejauhan. Terlihat sesosok dari ras yang berbeda dari mereka berdua sedang dalam bahaya. Kedua mahluk tersebut sedang bertarung namun salah satu pihak sedang terpojok dan hendak kalah.

"Nah itu dia, hey Kotaro ayo kita tolong dia"

Aoyanagi dan Kotaro yang bergegas menuju tempat tersebut berhasil menggagal serangan mematikan dari salah satu pihak.

"Hmm? Dragoon menyerang Elf? Kalian sedang latihan ya?"

"Bukan, dia sedang berencana membunuhku" jawab Elf tersebut

"Ha? apa maksudmu??"

"Ceritanya nanti saja, cepat kalahkan dia"

Pertarungan antara Kotaro dan salah satu dari ras Dragoon pun dimulai. Serangan demi serangan terus dilancarkan oleh pihak Dragoon yang dimana Kotaro masih belum mengerti duduk permasalahannya dimana jadinya hanya bisa bertahan. Belum tahu yang mana yang benar dan harus dibela, Kotaro terus menghindar sambil menganalisis situasi disekitar. Seperti hutan yang terbakar, pohon yang tumbang serta luka tebasan dari senjata yang dipakai Dragoon tersebut telah meninggalkan luka pada lengan si Elf.

"Ok sekarang aku mengerti, hey naga sialan, bersiap untuk menerima kekalahanmu"

Disisi yang lain. pada hari ketujuh, hari dimana waktunya mengumpulkan barang-barang mereka untuk diberikan kepada bandit malam nanti, mereka bertujuh yang berniat untuk mengakhiri semua ini akhirnya menyusun rencana untuk membuat bandit-bandit tersebut berhenti menyerang desa dengan cara mengalahkan mereka.

Pada siang hari, Julianz dan teman-temannya berkeliling desa untuk mengumpulkan semua penduduk di alun-alun desa karena ada yang mau mereka sampaikan terkait penyerangan para bandit, setelah semuanya berkumpul, Julianz menjelaskan kepada semua halayak bagaimana cara untuk menghentikan kejadian yang menghantui desanya ini.

“Kepada semuanya, kami mempunyai rencana untuk menghentikan mimpi buruk yang selama ini kita alami” teriak Julianz

“Ya, kami berencana untuk melawan penindasan yang telah dilakukan oleh bandit-bandit tersebut terhadap desa kita” sambut Freyla

“Kita harus bekerja sama untuk mengalahkan para bandit itu agar tidak memasuki desa kita lagi” sambung Julianz kepada warga desa.

“Kami butuh kekompakkan kalian untuk menangani masalah ini agar tidak terus berlarut”

Penduduk yang kaget akan penjelasan dari Julianz dan Freyla pun tertawa, karena tidak mungkin orang selemah mereka bisa melawan para bandit yang menggunakan senjata tajam, semakin banyak penduduk yang tertawa, semakin geram pula Dantes yang tidak menyangka desanya ternyata kumpulan dari pengecut, Ia pun langsung berteriak dan menghina penduduk desa.

“Hey kalian para pengecut, inikah jawaban kalian sebagai penduduk desa Brahm?

“Hanya ini kah andil kalian dalam melindungi desa?”

“Tidak bisakah kalian memperjuangkan desa kalian?”

“Apakah desa kita selemah ini?”

“Jika benar, kalian semua pengecut tidak mau memperjuangkan desa tempat kalian dilahirkan”

Tak terima dengan perkataan Dantes, para penduduk pun marah dan terbawa emosi untuk bertarung, melihat ini Julianz dan teman-temannya pun tersenyum, seolah perkataan Dantes tadi mendorong dan membangkitkan semangat penduduk desa.

Sementara itu pertarungan sengit antara Kotaro dan ras Dragoon terjadi, saling balas membalas serangan yang membuat Aoyanagi kagum pada bakat seorang anak yang ditemukannya tiga tahun lalu. Tak mau menyianyakan pertarungan ini, Ia pun sekaligus menganggap bahwa ini adalah latihan yang sesungguhnya. Karena dari awal Ia hanya dilatih oleh Aoyanagi berhadapan dengan benda mati.

Jurus demi jurus yang telah didapat dari Aoyanagi pun satu persatu Ia luncurkan, dari mulai mengeluarkan Ice Saber sebagai senjata jarak dekat, hingga Rain of Dawn jurus tingkat tinggi yang digunakan sebagai serangan jarak jauhpun dengan mudah Ia kuasai. Dragoon yang baru pertama kali melihat serangan seperti itu pun dibuat kewalahan oleh Kotaro. Sabetan pedang es milik Kotaro berkali-kali mendarat di kulit keras milik sang naga yang akhirnya mengeluarkan cipratan darah yang cukup banyak.

Melihat musuhnya yang sudah kewalahan dan mulai kehabisan tenaga untuk bertarung, dengan senyum tipisnya Kotaro berencana menghabisi musuhnya dengan serangan pamungkas terakhir yaitu Dash & Slash.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!