Angin sepoi-sepoi menerpa kedua insan manusia yang sudah berada di atas menara pencakar langit kota yang begitu mewah dan canggih, ada bulir-bulir air berjatuhan meski tidak begitu banyak intensitasnya menandakan bahwa sebentar lagi akan turun hujan.
Profesor Dave membenarkan mantel milik Aurora, dan menutupi kepala Aurora dengan tudungnya, menjaga agar wangi tubuh Aurora si pemilik gen heroin tidak mudah menyebar begitu saja.
"Kau siap?" Tanya Profesor yang sudah menggendong Aurora.
Aurora mengangguk.
"BLAAMM!!!" Dengan sekejap mereka berdua menghilang menggunakan teleportasi, dan hanya tersisa sengatan-sengatan listrik yang cerah seperti petir dimana mereka berada sebelumnya.
Seorang pria telah mengamati mereka sebelumnya, dan pria itu adalah El Victor.
Dengan datar, Victor juga melakukan teleportasi.
"SYUUUTTT!!!" Dalam sekejab Profesor Dave menapakkan kakinya di atas bangunan yang cukup kuno, terlihat pemandangan rumah-rumah kuno pula di sekitar.
Meski itu adalah pemukiman kuno, namun tempatnya cukup indah dan asri, jalanan setapak di tata dengan bata sedemikian rapi, dan banyak rumput-rumput yang di pangkas rapi, serta banyak bunga-bunga di tanam dengan bagus di halaman-halaman rumah.
"Ini yang kau minta, tempat tinggal lamamu."
Aurora tersenyum sedih, ia melihat rumah peninggalan orang tuanya yang sudah dijualnya. Rumah itu sudah berubah menjadi lebih mewah, karena pemilik yang baru telah merenovasinya.
"Aku ingin kembali ke rumah persewaan." Pinta Aurora.
Kemudian Profesor mengangguk dan menggondong Aurora.
Sampailah teleportasi mereka tepat di depan rumah sewa Aurora, yang bersebelahan dengan kastil megah.
Profesor mendongak melihat kastil.
"Masuklah, aku akan berjaga di sini." Kata Profesor.
Aurora mengangguk dan masuk ke dalam rumah.
Aurora melihat sekeliling tidak ada yang berubah sama sekali, ia pun membuka almari dan menemukan mesin ketik peninggalan sang ibu, dan membelainya.
"Padahal aku baru akan memakainya ketika aku berhasil mewawancarai Tuan Benz Logan."
Aurora kemudian hendak mengambil mesin ketiknya, itu adalah barang berharga yang paling ia sayangi, satu-satunya peninggalan ibunya.
"BOOOMMM!!!"
"DUAARR!!"
Tiba-tiba suara menggelegar dan seolah rumah akan runtuh beberapa butir debu dan beberapa tembok pun retak, serpihan-serpihan bangunan berjatuhan.
Aurora memeluk mesin ketiknya.
"BLAAMM!!"
Dengan cepat tiba-tiba Profesor sudah menarik Aurora berada dalam dekapannya, dan melakukan teleportasi lagi.
"BLAMM!!"
Kini mereka pun sudah berada di luar.
Seorang pria kekar sudah berada di atas rumah sewa milik Aurora.
"Profesor... Kepala mu mengeluarkan darah." Kata Aurora menegang darah itu menggunakan telunjuknya.
"Tetap di belakangku, sebentar lagi Moa akan tiba, El Victor tidak berada di kastil, sehingga mereka berani datang mengikuti kita." Kata Profesor sembari melindungi Aurora di belakang tubuhnya yang tinggi.
"My darling... Dave..."
Dave kemudian melihat ke arah lain, ada seorang wanita duduk di atas dahan pohon menggunakan pecut merahnya.
"Jade... Kau... Bagaimana bisa..." Kata Profesor terbata dan tak percaya.
"My Lord, membangunkan ku dengan kekuatannya. Hi... Hi.. Hi..." Tawa Jade ringan tapi mengerikan.
"Tapi aku masih menyesuaikan dengan tubuh inang ini, pencangkokan kepala ke tubuh mutan ini memang berhasil. Sang Lord mengambil kepalaku lalu di satukan kembali dengan tubuh mutan, ekspreimennya adalah menghidupkan kembali orang mati, dan satu-satunya agar kami tetap hidup kekal adalah darah sang gen heroin, apalagi sang Lord membutuhkan penerus."
"Dia... Berhasil dengan eksperimen nya?" Kata Profesor terbata.
"Apa kau tidak berniat untuk bergabung, itu kan yang kau mau... Membangunkan seseorang yang sudah mati..." Kata Jade tersenyum sinis.
"Sekarang serahkan gadis itu...." Kata Mike kemudian.
"Bermimpilah!" Kata Profesor.
"SIIUWW...!!!" Pecut Jade maju dan berubah menjadi rantai berwarna merah dengan sinar yang tajam.
Pecut itu merantai leher Profesor dengan sangat kuat dan kemudian menariknya.
Profesor terbang ke atas.
"Profesor!!!" Teriak Aurora.
"Kau pemilik Level Omega, tapi kenapa kekuatanmu sangat lemah, berada di golongan sampah membuatmu tidak berkembang Dave." Kata Jade.
Kemudian Mike mengeluarkan kekuatannya, dan menghantarkan listrik pada rantai milik Jade.
Membuat Dave menerima sengatan listrik yang begitu besar.
"Aaarg!!!" Teriak Dave.
Darah sudah semakin mengucur di kepala Dave, tubuhnya juga terluka.
Kemudian Dave dengan sekuat tenaga menarik rantai itu dan melemparkan Jade, membuat Jade terpental lalu Dave mengambil teleportasi dan menghadap langsung pada Mike, serangan pukulan di lesatkan dengan cepat.
"BUG BUG BUG!!!" Pukulan bertubi-tubi untuk Mike.
Kemudian Dave terbang ke atas lalu berdiri tegak, melihat Mike yang berada di level Sigma.
"ZINGGG!!!" Dave mengikat kekuatan Mike dan membuatnya menghilang, lalu mengambil kekuatan Mike menjadi kekuatannya.
"Aku juga bisa mengambil kekuatan milik mutan lain di bawah levelku, ini adalah kekuatan baru yang ku miliki Jade." Kata Dave.
"Apa!!!" Jade melotot.
Mike tersungkur, mutan yang tidak lagi memiliki kekuatan ia akan menjadi manusia biasa, dan hanya dalam hitungan hari, ia akan mati.
Dave kemudian turun di atas tanah, tak berapa lama Moa datang, dan kemudian Jade pergi membawa Mike bersamanya.
"Aku terlambat, akan ku kejar." Kata Moa.
"Tidak perlu mengejarnya." Perintah Dave.
"Tapi..."
"Cukup bantu aku menghilangkan bau Aurora di sini agar tidak ada mutan lain yang melacaknya dan bereskan kekacauan di sini agar tidak ada manusia yang curiga." Kata Profesor.
"Baik Profesor."
"Tapi Profesor lukamu..." Aurora melotot dan terkejut.
Sedikit demi sedikit luka yang ada di tubuh Profesor menyembuhkan sendiri.
"Aku akan sembuh sendiri, tubuh setiap mutan yang memiliki level Omega dan Beta akan melakukan penyembuhan sendiri, meski tidak secepat level Alpha."
"Syukurlah." Kata Aurora, meski ia masih sangat khawatir.
Moa melihat wajah Aurora ia tahu ada sesuatu antara Aurora dan Profesor, apalagi kedekatan mereka kali ini berbeda dengan sebelumnya.
Profesor kemudian melihat Aurora masih mendekap mesin ketiknya, lalu mengambilnya.
"Biarkan Moa yang membawa nya ke asrama, kau ikut denganku dulu." Kata Profesor menyerahkan pada Moa mesin ketik tua itu.
Kemudian Profesor mengajak Aurora pergi dengan menggunakan teleportasi.
"BLAAMM!!"
Sampai lah mereka di rumah yang cukup mungil namun begitu indah di penuhi arsitektur kaca.
Rumah itu berada di atas bukit, tepatnya di samping sebuah danau yang kecil, itu adalah danau buatan.
"Ini rumah siapa?"
"Rumah ku, aku butuh sesuatu, kau harus membantu ku." Kata profesor.
"Apa itu profesor."
Tak berselang lama Profesor yang diikuti oleh Aurora masuk ke dalam kamar milik profesor, kemudian Profesor tersungkur duduk di atas tempat tidur sembari memegangi dadanya.
"UHUKK!! UHUUKK!!!" Darah pun keluar dari mulutnya.
"Profesor!!!" teriak Aurora.
"Aku minta bantuanmu untuk menjaga alat ini tetap menyala selama terapi." Kata Profesor.
"Alat ini..."
"Ya, kau pernah melihatnya di kantorku, asap ini akan membantuku, ia akan membuat paru-paru ku kuat kembali."
"Profesor ada apa sebenarnya?" Aurora terhenyak raut wajahnya menjadi sedih.
"Buka ampulnyanya, lalu tuang dulu cairan berwarna ungu ke dalam alatnya, lalu tekan, selama aku tidur, terus lakukan itu hingga beberapa botol kecil yang tersedia di nampan itu habis."
"Tapi apakah ini karena serangan yang di lakukan Jade?"
Profesor mulai berbaring, dan asap sudah mulai mengepul, sedikit demi sedikit ruangan akan di penuhi asap.
"Sehebat apapun mutan, jika ia terkena racun dan belum ada penawarnya, fisik dan raganya tetap tidak akan kuat menahannya, dan obat penawar itu hanya di miliki oleh sang Lord." Kata Profesor.
"Jadi apakah Sang Lord telah meracuni anda?"
Namun, pertanyaan Aurora tidak dapat Dave jawab, karena pria itu sudah menutup matanya.
Bersambung~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments
bos sadam
walah memang nyusahin Aurora
2022-12-02
0
ab78
keren
2022-12-01
0
lalisafajr
keren
2022-12-01
0