"Apa kau tidak penasaran dengan keadaan orang yang sudah menyelamatkanmu?" Tanya Moa.
"Ah... Profesor! Bagaimana keadaannya!" Teriak Aurora dan berdiri mendekati Moa dengan gelisah.
Moa tersenyum.
"Aku akan mengantarkanmu untuk bertemu dengan profesor."
Kemudian setelah perjalanan yang cukup panjang mereka berada di sebuah ruangan.
Aurora melihat profesor Dave sedang duduk di atas tempat tidur dan beberapa perawat sedang memeriksa kondisinya.
Air mata Aurora tiba-tiba saja mengalir.
"Saya harap anda tidak menggunakan kekuatan untuk beberapa hari ke depan, karena itu bisa membuat tubuh anda semakin lemah." Kata sang perawat kemudian mereka pergi meninggalkan ruangan.
Setelah kepergian para perawat, Aurora menghamburkan dirinya dan memeluk Profesor. Moa melihat itu, dan ia tahu saatnya untuk pergi meninggalkan mereka berdua.
Dan tentu saja perilaku Aurora itu membuat Profesor Dave kwalahan, meski ia adalah mutan yang paling bisa menahan hasratnya saat berada di dekat gen Heroin tapi ia juga seorang pria yang bisa saja khilaf.
"Oke... Tidak apa-apa." Kata Dave memeluk tubuh Aurora dan menepuk-nepuk pelan pundak Aurora.
"Mulai hari ini saya tidak akan membuat anda dalam masalah profesor, saya akan menuruti semua kata-kata anda profesor." Kata Aurora memangis sesenggukan.
"Baiklah-baiklah." Kata profesor dengan sabar.
Kemudian Aurora melepaskan pelukannya. Aurora paham betul bagaimana ia telah lancang yang berani langsung memeluk profesor.
"Maa.. Maafkan saya profesor karena tiba-tiba memeluk anda. Apakah anda..." Kata Aurora kemudian mundur.
"Tenang saja, aku bisa mengendalikan diriku, tapi jangan terlalu sering menggodaku." Kata Profesor dengan tersenyum.
Aurora melihat senyuman Profesor yang semakin membuat debaran jantungnya tidak karuan, profesor adalah pria baik dan sangat pengertian, dimana lagi ada pria tampan yang begitu sabar. Semakin di pikirkan Aurora semakin tertarik dengan profesor Dave.
Kemudian Profesor Dave turun dari ranjang dan berjalan pelan.
Aurora ingin membantu namun, profesor Dave menginstruksikan dengan tangan jika ia bisa dan akan baik-baik saja.
Kemudian mereka berdua berjalan santai melewati lorong sepi. Aurora melihat bagaimana bangunan itu beberapa langkah lebih maju di bandingkan yang pernah ia lihat di dunianya, bahkan bangunan universitas yang begitu membuatnya takjub saja belum sebanding.
"Bangunan ini di buat sangat kokoh, semua itu dilakukan agar tidak hancur hanya dengan sekali tinju oleh para mutan, kau pasti sudah tahu, jika kami bangsa mutan terbelah menjadi 2." Kata Dave.
Kemudian mereka berhenti di suatu balkon dengan pemandangan yang begitu indah. Pepohonan rindang dan teknologi canggih saling memadu sangat serasi di kota itu.
"Ini luar biasa, bagaimana bisa di belahan lain di dunia ini ada kota se unik macam ini." Kata Aurora.
Angin meniup tubuh Aurora membuat wanginya semerbak.
Dave pun hanya menanggapi dengan seulas senyuman, dan memegangi dadanya dengan telapak tangan kirinya, sedang tangan kirinya meremas teralis besi.
"Katanya kau ingin pulang?" Tanya Dave.
Aurora melihat pada Dave dan itu cukup lama, kemudian akhirnya mengangguk pelan.
"Bagaimana jika aku membantumu, aku akan mengajakmu pulang untuk berjalan-jalan sebentar, tapi dengan syarat kita akan kembali ke sini, aku akan membawamu ketempat kau ingin pergi."
"Apa itu bisa profesor, meski di tempat yang sangat jauh?" Tanya Aurora.
"Serahkan semuanya padaku." Kata Profesor tersenyum.
Aurora mengembangkan senyumannya selebar mungkin dan menghamburkan dirinya ke tubuh Profesor seraya memeluk dengan girang, hingga membuat profesor terkejut dan tidak siap, mereka berdua pun jatuh di atas lantai.
Tubuh Aurora menimpa tubuh Profesor. Wajah mereka saling memandang, tubuh mereka saling menghimpit.
"Bangun Aurora." Pinta Dave dengan tenang, seraya menenangkan pula gejolak dirinya.
Aurora masih diam terpana dengan ketampanan profesor Dave.
"Aurora, aku bilang bangun dari tubuhku."
" Tapi Profesor.... Sepertinya saya... Jatuh cinta."
Profesor yang siap mendorong Aurora terkejut dengan pernyataan tiba-tiba Aurora, dan memandang kedua mata Aurora yang sangat berani dan yakin melihat pada Profesor.
"Aku memang bisa menahan atau mengendalikan diriku, tapi jka kau terus begini aku benar-benar tidak bisa mengendalikan diriku Aurora."
Seperti tidak menggubris kalimat peringatan Profesor Dave yang di tujukan padanya, Aurora justru semakin mendekatkan bibirnya pada bibir Profesor dave.
Aurora terkesima, pada wajah profesor Dave yang begitu tampan dan baik padanya.
"Saya juga sudah bilang pada anda profesor, jika sepertinya saya jatuh cinta pada anda."
"Aurora..."
"Profesor, aku tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya!" Teriak Aurora menegaskan dan meletakkan dahi kepala di dada Profesor, Aurora merasa putus asa, ia memendam perasaannya sendirian.
"Aurora sadarlah!"
"Profesor.. Aku benar-benar sudah jatuh cinta padamu."
Profesor Dave menekan kepalanya pada lantai, ia merasa seluruh tubuhnya sudah memberontak, apalagi wangi Aurora semakin mengontrol pikiran dan hasratnya.
"Kurasa, sekarang pikiran ku sudah kacau, kau yang menginginkannya Aurora." Kata Profesor Dave.
Kemudian Profesor memutar tubuhnya dan menindih Aurora, dengan sangat agresif Profesor mencium bibir Aurora, melahapnya dengan gairah yang tak terbendung.
Begitupun Aurora yang menyerah dan pasrah, ia meyakini bahwa Profesor Dave adalah pria yang selama ini ia impikan, Aurora percaya jika ia sudah jatuh cinta pada pria yang tepat.
Pria yang selalu menolongnya dan melindunginya.
Profesor Dave mencium dan melumaat bibir Aurora, kemudian dengan agresif Profesor mengecup leher Aurora.
Suara Aurora indah dan ia mencengkram rambut Profesor.
Namun kemudian secara tiba-tiba dan mengejutkan tubuh Profesor Dave melayang dengan cepat hingga terpental jauh membentur dinding. Profesor menggunakan kekuatannya untuk menjaga jarak dari Aurora.
Profesor memukul kepalanya hingga telinganya mengeluarkan darah.
"Profesor!!" Aurora bangun dan kebingungan.
"Profesor ada apa dengan mu?" Tanya Aurora.
"Jangan mendekat Aurora, ku mohon."
"Profesor ada apa?"
Kemudian Tangan profesor terulur maju dan menyetuh pipi Aurora.
"Maafkan aku telah menciummu Aurora, aku benar-benar minta maaf."
"Tidak Profesor! Aku lah yang telah menggodamu jangan menyiksa dirimu sendiri, berhenti melukai dirimu sendiri profesor, ku mohon!" Aurora memangis dan memeluk profesor dengan erat.
"Aku tidak akan tahan jika terus berada di sini, saat ini tubuhku tidak mau mendengarkanku. Pergi lah Aurora." Kata Profesor.
"Profesor, aku mencintaimu!" Teriak Aurora.
"Pergi Aurora sebelum semuanya terlambat."
"Aku tidak akan pergi."
Kemudian profesor memeluk Aurora dan mencium kepala Aurora.
"Profesor apakah anda tidak menyukai saya?" Tanya Aurora menangis dan memeluk profesor.
"Mana mungkin aku tidak menyukaimu Aurora."
Mendengar kalimat itu, Kemudian Aurora tersenyum meski masih menangis.
"Terimakasih profesor." Kata Aurora memeluk erat tubuh profesor.
"Apa kalian sudah selesai?" Suara seseorang menyela dari balik pintu yang terbuka. Pria itu menunggu dengan bersandar di balik dinding.
Profesor yang tidak asing dengan suara itupun kemudian melepaskan pelukannya.
"Maafkan aku Aurora, tapi kau harus pergi lebih dulu. Aku akan panggil Moa." Kemudian Profesor melakukan telepati dan memanggil Moa.
Tak lama kemudian Moa yang melakukan teleportasi sudah berada di depan Profesor dan Aurora.
"Bawa Aurora ke kamar dan jaga dia." Kata Profesor.
"Baik Profesor." Kata Moa.
Setelah Moa menggandeng Aurora, Moa pun melakukan teleportasi dan mereka menghilang.
"Masuklah Victor." Kata Profesor.
Kemudian El Victor masuk.
"Anda tidak seharusnya memperdaya dia bukan?" Kata Victor dengan tegas namun suaranya masih dengan intonasi rendah.
"Apakah ini sebuah peringatan? Atau kau juga menginginkannya?" Tanya profesor.
"Anda tahu maksud saya profesor, saya hanya takut anda akan berbalik arah dan memgkhianati Tuan Klan ini." Kata Victor.
Dave dan El Victor saling menatap tajam.
bersambung~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments
yondai
hm semga pria baij
2022-12-02
0
SENJA
ck ck ck aurora, kayaknya pubertas
2022-12-01
0
Rayat emin
hmmm
2022-12-01
0