Seperti biasa setiap malam Aurora selalu duduk di balkon belakang rumahnya untuk membaca buku tentang sains dan teknologi tak lupa ia juga selalu menikmati teh hangat dengan mug kesayangannya.
Sesekali Aurora melihat pada arah kastil yang menjulang tinggi dan megah. Aurora cukup di buat penasaran, siapa pemilik kastil tersebut.
Dan rasa penasaran Aurora pun terjawab ketika pagi telah tiba, ia berangkat ke sekolah untuk pertama kalinya.
Kali ini Aurora memakai seragamnya. Sore kemarin seragam itu datang melalui pengiriman.
"Astaga, apa mereka kekurangan bahan? Rok ini sangat pendek." Kata Aurora.
Sesampainya di Kampus, Aurora menjadi pusat perhatian, karena Profesor Dave telah menjemputnya secara pribadi di gerbang depan kampus, Dave mengajak Aurora tour kampus dan ia menjadi sangat terkejut ketika melihat sebuah bangunan yang bersinar.
"Auora... Aurora... Aurora..." Kata Dave yang berdiri di samping Aurora. Memanggil Aurora berulang kali.
"Ah... Ya Profesor maaf."
Saat itu Aurora terkesima dengan bangunan mewah yang ada di belakang kampus, bangunan itu seperti taj mahal, namun lebih besar.
"Kita akan lanjut mengelilingi kampus." Kata Profesor Dave.
Melihat Aurora terperangah melihat bangunan itu, Dave tersenyum
"Bangunan itu di bangun oleh Tuan Benz Logan, Tuan Benz Logan adalah pemilik dari University Of Imperial A."
"Benz Logan?" Tanya Aurora.
"Ya, pria itu yang memiliki kastil di dekat rumah mu, bukankan rumah yang kau sewa juga miliknya? Kau menyewanya dari dia kan." Kata Dave sembari membungkukkan tubuhnya menatap tepat di depan Aurora.
Aurora mendadak mundur dengan tatapan itu, wajah Dave memang sangat mempesona.
Jantung Aurora berdebar tak wajar, seketika Aurora meremas kemejanya.
"Benz Logan? Orang itu pemilik rumah yang ku sewa?" Aurora mengingat bagaimana tatapan dingin pria yang ada di dermaga.
"Bagaimana jika tugas pertamamu adalah mewawancarai nya? Semua murid di sini sudah mengumpulkan tugas mereka? Kau menyewa rumahnya pasti kau tidak akan kesulitan kan." Kata Profesor Dave.
Aurora tidak memiliki pilihan lain kecuali menerima tugas pertamanya di sekolah, mewawancarai tokoh besar seperti Benz Logan pasti tidak mudah, tapi Universitas itu sangat terkenal mustahil jika setiap tugas sekolah adalah tugas yang biasa.
Lagi pula hanya mewawancarainya kan? Apa susahnya. Aurora meyakinkan dirinya sendiri dan menenangkan dirinya sendiri.
*****
Sore itu, di dalam kamarnya yang mungil dan di penuhi pernak-pernik hiasan dinding, Aurora di landa dengan kegugupan dan kegelisahan yang tidak terbantahkan. Aurora melihat laman-laman Internet yang mengulas tentang Benz Logan.
Hampir seluruhnya tidak ada foto Logan, bahkan beberapa yang lain hanya mengatakan bahwa Logan adalah pria yang lahir dari tangan dewa, lahir kaya dan juga selalu membagikan harta nya.
Lalu koran, media massa, dan tabloid serta majalah yang lainnya hanya memberikan foto Logan yang selalu memakai topeng, mereka menyebutkan bahwa topeng-topeng tersebut sesuai dan mewakili dengan apa yang sedang Logan rasakan saat itu.
Yang paling unik adalah, Benz Logan selalu menggelar pesta setiap akhir pekan, dan pesta ini sudah berjalan 5 bulan sejak Benz Logan tinggal di kastil tersebut. Apalagi yang paling membuat Aurora bingung adalah, semua orang boleh datang dan semua orang boleh ikut berpesta. Tanpa terkecuali.
Lalu ada yang menyebutkan jika Benz Logan adalah pria kejam, mampu membunuh orang, dan dia adalah monster.
"Mungkin datang ke pesta adalah kesempatan untuk bisa mewawancarai tuan Benz Logan." Kata Aurora lirih.
Namun sebelum datang ke pesta tersebut Aurora akan mencoba untuk bertamu lebih dulu. Kemudian Aurora berfikir bagaimana cara nya mendekati Kastil itu.
******
Paginya Aurora mencoba dengan berjogging. Aurora melihat lihat kawasan sekitar kastil lebih dulu.
Rumah Aurora hanya bersebelahan dengan Kastil, membuatnya juga bisa leluasa mengitari kawasan tersebut.
Aurora berjogging sembari melihat-lihat hingga tanpa sengaja ia menabrak seseorang.
"Oh maafkan saya, saya tidak melihat ada orang di depan." Kata Aurora.
"Kau berjogging tapi matamu ke arah lain." Sahut pria itu.
Aurora menelan ludahnya, pria tampan yang sangat menggoda, seksi, dan juga bertubuh tinggi, dengan suara yang memiliki intonasi rendah.
"Astaga, kenapa di sini banyak sekali pria tampan."
"Apa kau sudah puas memandangi tubuh dan wajahku?" Tanya pria itu.
"Oh maafkan saya." Kata Aurora yang tertegun dan pasti sangat terlihat bodoh.
"Hapus air liur mu." Sahut Pria tersebut.
"Apa? Hey, itu tidak sopan..." Teriak Aurora.
"Kau berbicara tentang kesopanan tapi kau sendiri memandangiku seolah ingin bercinta denganku." Kata pria itu menyeringaikan bibirnya.
"Astaga, apa yang dia pikirkan." Bisik Aurora pada dirinya sendiri. Wajahnya malu dan bersemu merah.
Pria itu kemudian hendak masuk ke dalam kastil melalui pagar yang hanya setinggi pinggulnya.
Kemudian Aurora mengejar dan pria itu menutup pagar, mereka saling berhadapan dengan pagar sebatas pinggul membatasi tubuh mereka.
"Tunggu tuan, apa anda yang punya kastil ini? Apa anda yang menyewakan rumah itu pada saya?".
Aurora bertanya dengan mendongakkan kepala, pria di hadapannya sungguh sangat tinggi.
"Kau yang menyewa rumah kecil di sebelah kastil?" Tanya pria itu.
"Ya, saya."
Kemudian, pria itu menggelengkan kepala.
"Aku bukan pemilik kastil ini, aku hanya seorang pelayan."
"Pelayan?"
"Ya." Jawab pria itu dingin dan tanpa ekspresi.
"Apa pemiliknya bernama Tuan Benz Logan?" Bisik Aurora.
Pria itu melengkungkan bibir dan mengangguk pelan.
"Apa saya bisa bertemu dengan tuan Benz Logan untuk mengucapkan terimakasih karena telah menyewakan rumahnya untuk saya tempati?"
"Anda bisa mengiriminya surat dan masukkan ke dalam kotak surat di depan pagar kastil."
"Tidak... Tidak... Itu tidak sopan untuk seorang pria seperti dia."
"Seperti dia?" Tanya Pria itu.
"Yah, saya membaca beberapa artikel yang menyebutkan tuan Benz Logan adalah pria yang sangat kaya dan berwibawa, itu tidak akan sopan bukan jika saya hanya mengiriminya surat?"
"Lalu?"
"Lalu saya ingin bertamu dan berterimakasih secara formal membawakan sedikit bingkisan." Kata Aurora.
"Baiklah, aku akan mencoba menyampaikannya." Kata pria itu dan hendak pergi.
"Tunggu dulu, siapa nama anda?" Tanya Aurora.
"Victor...?" Kata Pria itu.
"Victor?" Ulang Aurora.
"Ya, El Victor." Sahut pria itu lagi.
"Baik tuan El Victor, saya sangat bergantung pada anda untuk membantu saya, saya sangat meminta tolong, dan nama saya adalah Aurora Eulalia, anda bisa berkunjung ke rumah saya atau saya bisa mengunjungi anda tentang kabar selanjutnya?" Tanya Aurora.
"Cukup panggil Victor." Tegas pria itu.
"Dan aku yang akan mengunjungimu." Sahut Victor lagi.
"Terimakasih." Kata Aurora tersenyum dan mengigit bibir bawahnya.
"Hm.." Victor menjawab datar dan pergi meninggalkan tempat itu.
Aurora pulang dengan keringat yang bercucuran cukup banyak, ia memang gadis sehat yang menjaga dengan baik tubuhnya.
"Aku tinggal menunggu kabar darinya bukan?" Kata Aurora meminum air nya.
"Ku rasa malam itu, pria yang berdiri di dermaga salah satunya adalah dia. El Victor." Kata Aurora lagi.
Beberapa hari berlalu...
Hingga satu hari pun terlewati, dua hari dan 3 hari terlewati. Aurora kesal menunggu dan menunggu namun tidak ada yang bertamu. Apalagi tugas sekolahnya ini sangat penting, ia frustasi.
Akhirnya ia membuka pintu dan berniat akan menemui pria itu lagi. Namun saat Aurora beranjak dari halaman rumahnya, El Victor datang.
Pria itu berjalan santai menuju rumahnya. Entah mengapa, jantung dan dadanya berdegup kencang.
"Astaga kenapa dia begitu tampan, bahkan lebih tampan dari Profesor, astaga aku bisa gila jika hidup di kota ini, begitu banyak pria tampan, apa mereka semua bukan manusia!" Sahut Aurora.
El Victor berdiri di depan Aurora.
"Hey." Kata Aurora.
"Aku sudah menyampaikan pesanmu pada Tuan Benz Logan, katanya kau bisa menemuinya saat pesta besok."
"Pesta?"
"Ya, kau pasti tahu setiap akhir pekan Tuan Benz Logan mengadakan pesta meriah."
"Apa tidak bisa bertemu secara pribadi, bukan di pesta, masalahnya saya tidak pernah datang ke pesta dan tidak memiliki gaun pesta." Kata Aurota.
"Aku akan mengutus orang untuk membawakan gaun untuk mu." Kata El Victor.
Sejujurnya Aurora tidak suka dengan pesta dan suara musik yang keras, maka itu ia mencoba untuk bertemu secara pribadi.
"Baiklah kalau begitu." Kata Aurora lemah.
"Kenapa, ada masalah lain?"
"Sejujurnya saya tidak terlalu menyukai pesta, suara musik yang keras sangat membuat bising, dan dada saya bergetar tidak nyaman. Lalu suara wanita dan pria saling berteriak, pakaian mereka yang seksi dan saling menekan tubuh satu sama lain." Kata Aurora sembari tertawa kaku.
"Pesta itu ada di ruangan depan, setelah kau datang aku akan membawamu masuk dan bertemu tuan Benz Logan, di dalam tidak akan terdengar suara musik, atau suara-suara lainnya." Kata Victor.
"Baiklah, saya akan datang." Kata Aurora.
Victor kemudian pergi untuk kembali ke dalam kastil, sedangkan Aurora yang membayangkan pesta megah itu sudah membuatnya gugup setengah mati.
Bersambung~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments
Doggies haha 😹
masih nyimak
2022-12-02
0
Arista
ya banyak pria tampan kamu terlalu lama di desaaa... wkwkwk
2022-12-01
0
Rini
keren viktor
2022-12-01
0