Seorang wanita bertubuh putih, dan berparas cantik memakai pakaian mewah serta syal berbulunya sedang berdiri memandangi semua orang yang menikmati pesta.
Victor kemudian mendatangi wanita itu dan menyapa dengan segala hormat tidak ingin membuat wanita tersebut tersinggung.
"Dengan Nona Lucy?"
Wanita cantik itu berbalik dan menatap Victor. Pria yang cukup tampan dan tinggi memakai setelan jas serba hitam yang rapi.
"Ya, dari mana kau tahu namaku?" Tanya Lucy.
"Ada seseorang yang ingin menemui anda." Kata Victor.
Lucy mengernyitkan alisnya. Rambut pirangnya yang sepanjang bahu terkibas terkena angin malam.
"Siapa?" Tanya Lucy.
"Tuan Benz Logan." Kata Victor.
"Tuan Benz Logan? Pemilik kastil ini?" Kata Lucy terkejut.
Pria yang rumornya susah di temui dan sekarang ingin menemuinya, itu sangat mengejutkan.
Victor mengangguk pelan, dan menunjukkan jalannya.
"Oh, aku sangat menghargai itu, semua orang ingin bertemu dengannya, tapi tuan Benz Logan justru mengundangku secara pribadi untuk menemuinya. Aku sangat terkesan dan tersanjung." Kata Lucy berjalan dengan anggun sembari menyentuh dadanya dengan tangan yang masih terbuntal sarung tangan mewah berbahan kulit.
Lucy memiliki tubuh ramping yang kecil, dengan rambut pirang dan kulit putih, hidung mancung serta Lucy adalah anak dari keluarga kaya raya.
Victor membuka pintu besar dan mempersilahkan Lucy untuk masuk.
"Silahkan Nona, saya akan menunggu di luar." Kata Victor.
Setelah Lucy memasuki ruangan, ia melihat sosok pria berdiri menghadap jendela. Pria bertubuh kuat, pria bertubuh kekar, dan pria yang memiliki tubuh tinggi, bahkan bahu nya lebar, punggungnya terlihat begitu kuat dan sempurna.
Pria itu memakai Walking Stick untuk menambah kesan berkelasnya.
"Tuan Benz Logan, anda ingin bertemu dengan saya?" Tanya Lucy, dengan suara mendayu.
Suara yang lembut dan nyaring bahkan selembut sutra dan sangat merdu menusuk hati Logan.
Pria itu kemudian melepaskan topengnya dan memutar tubuhnya.
Lucy tidak dapat melihat wajah dari Tuan Benz Logan. Cahaya di luar terlalu terang dan membuatnya silau, sedangkan di dalam ruangan hanya memiliki cahaya remang-remang.
"Lucyana Ramsey..." Panggil Logan dengan suara datar.
Suara yang sangat ia kenal di dalam lubuk hatinya, suara yang tidak asing baginya.
"Siapa... Kau..." Kata Lucy lirih dengan segala penasaran yang ada dalam hati dan pikirannya.
"Kau tidak mengenali suaraku?" Tanya Logan.
"Aku..." Lucy mendekat sedikit demi sedikit karena penasaran dengan wajah yang masih tidak terlihat.
"Kau benar-benar tidak mengingat suaraku?" Logan mengucapkan dengan santai dan pelan.
"Aku... Tidak yakin..." Kata Lucy.
Perlahan Logan mendekati Lucy yang tidak berani melanjutkan langkah kakinya.
"Aku menggelar pesta setiap akhir pekan agar kau bisa datang ke kastil ku... Lucy..." Sahut Logan perlahan semakin mendekati Lucy.
"Siapa kau sebenarnya, dan kenapa kau harus menggelar pesta ini, lalu kenapa kau mengharapkan aku untuk datang ke pesta mu dan kastilmu?" Tanya Lucy.
"Suara mu masih sama, sangat lembut dan sangat halus untuk di dengar Lucy." Kata Logan.
Pria itu semakin berhadapan dengan Lucy, sebuah sinar cukup terang dari lampu menyinari wajah Logan, membuat Lucy terperangah dengan wajah tampan di hadapannya.
"Benedict Logan..." Desahh Lucy, dengan suara yang hampir tenggelam. Lucy spontan memundurkan kakinya beberapa langkah.
"Yah... Aku adalah Benedict."
"Bagaimana... Bisa..." Sahut Lucy.
"Aku menunggu mu di sini Lucy, berharap kau datang ke pesta ku, setelah sekian lama dan sekarang kau datang." Kata Logan.
"A... Aku hanya penasaran karena teman-temanku mengajakku kemari. A... Aku harus pergi, teman-temanku akan mencari."
Lucy berbalik dan siap untuk pergi, namun Logan menahan lengan Lucy dan menariknya hingga bersentuhan dengan tubuh besar Logan. Perlahan pria itu membuka syal berbulu milik Lucy dan membuangnya di atas ranjang.
Logan kemudian menunduk dan berbisik di telinga Lucy.
"Kenapa kau terburu-bur? Apa kau tidak senang bertemu denganku?" Tanya Logan.
Nafas Logan begitu panas, dan membungkus daun telinga Lucy, membuat Lucy merasa meremang. Apalagi hembusan nafas Logan kini berada di leher jenjangnya.
"Akkuuu..."
Nafas Lucy kian berat dan cukup tidak terkontrol ketika Logan nemeluk Lucy dari belakang.
"Apa kau tidak ingat dengan janji kita berdua?" Tanya Logan lagi.
Pria itu mulai berani mengecup lembut bahu Lucy yang putih.
Lucy menutup mata, menggenggam kedua tangannya dan meremas kuku-kukunya sendiri.
"Aku ingat, kau berjanji setia kepadaku Lucy." Sahut Logan kembali dan menelusi leher jenjang Lucy
"A... Akkuu harus pergi Logan..."
"Aku tahu kau tidak ingin pergi, kau juga menginginkannya Lucy. Apa tidak ada penjelasan untuk di sampaikan padaku?"
Kedua tangan Logan sudah berada di perut kecil Lucy, tanpa Lucy sadari kini ia sudah menyandarkan tubuh kecilnya pada tubuh berotot Logan. Lucy menengadah dan menyandarkan kepalanya pada dada Logan ketika Logan menyesap leher mulus Lucy.
"Oh... Logan... Kemana saja kau selama ini?" Tanya Lucy serak, nafasnya terengah dan panas.
"Aku di sini dan menunggumu, begitu lama." Kata Logan serak di telinga Lucy.
"Kau menyiksaku dengan kepergianmu." Kata Lucy masih menutup mata, dadanya naik dan turun karena nafas cepatnya.
"Kau bohong Lucy..." Kata Logan datar dan mencium pipi Lucy dari belakang.
Perlahan tangan kanan yang kuat milik Logan naik dan menyentuh rahang kecil Lucy, meremas dengan pelan. Pria itu mendaratkan ciumannya di bibir kecil Lucy. Menyesap selembut mungkin dengan tangan kiri masih mengunci tubuh Lucy di perut kecil Lucy.
Dessahan dan kerinduan Lucy semakin menggila.
"Akuu... Tidak bisa Logan... Hentikan..." Suara Lucy kecil dan lembut.
"Kenapa kau menyerah Lucy, kenapa kau menyerah untuk menungguku."
Tangan kekar Logan kini mulai turun, menyentuh pelan, dan membelai perut serta pinggang Lucy.
"Aku menahan sakit hati ini, aku menahan segala kerinduan ini sendirian Lucy. Di sini, dengan semua kemewahan yang sepi." Kata Logan.
Perlahan tangan Logan mulai terus meluncur turun, membelai paha mulus Lucy naik dan turun.
"Logaaann..." Suara Lucy begitu halus layaknya kain sutra kwalitas nomor satu.
"Aku sudah menikah Logan, hentikan ini..." Kata Lucy, namun tubuhnya sungguh menikmati itu.
"Aku tahu..." Sahut Logan serak dan parau.
Pria itu masih menciumi Lucy, mendesak tubuh besarnya, menekan tubuhnya pada tubuh kecil Lucy, kemudian tangan-tangan kekar itu masih menarik sedikit demi sedikit gaun tipis itu hingga naik keatas.
"Aku merindukanmu, kenapa kau menyerah, kenapa kau tidak percaya bahwa aku akan kembali dengan setumpuk uang dan berlian Lucy."
Logan memberikan kalimat-kalimay pertanyaan yang membutuhkan penjelasan dari Lucy, namun Lucy tidak dapat berfikir dengan segala perasaan dan tubuh panasnya.
Lucy menaikkan kedua tangannya, mencari pegangan pada leher tengkuk Logan, ia mendongak dan menutup mata. Kepalanya bersandar di dada Logan, sedangkan dagu dan rahang kecil Lucy terlihat indah.
"Akuu... Tidak bisa berbohong, aku merindukanmu Logan." Sahut Lucy dengan nafas terengah.
Malam di pesta akhir pekan setelah 6 bulan, akhirnya Lucy datang, Logan percaya Lucy akan datang, akhirnya semua harapan itu tercapai, pria itu bertanya dan terus bertanya, ia ingin melepaskan kerinduannya yang bertahun-tahun telah terpisah dengan Lucyana Ramsey.
Kekasih masa lalunya yang sangat ia cintai. Kekasih yang membuatnya tergila-gila.
Namun, hubungan itu di tentang keras oleh keluarga Ramsey, Logan kala itu hanyalah pria miskin dari desa dan hanya anak dari seorang petani yang bekerja di ladang milik keluarga Ramsey.
Hubungan itu di ketahui oleh Ramsey, ayah Lucy. Dan tentu saja membuat Ramsey menjadi murka.
Bersambung~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments
nameyuni
wow
2022-12-02
0
mellyhidayat
Lucy dh nikah
2022-12-02
0
nurhasanah
masih cinta?
2022-12-02
0