Begitu cepu itu menyentuh tanah, cupu itu langsung terbuka dan isinya berhamburan keluar. Isi cepu itu adalah ular - ular dengan ukuran yang besar dan kecil.
"Hiiii, ular jadi - jadian..? Banyak sekali ularnya..??" seru Zahra seraya bergidik ngeri.
Gadis itu melompat - lompat ke sana kemari untuk menghindari ular - ular yang kini semakin banyak mendatanginya.
"Zahra, menyingkirlah dari sana. Ular - ular itu sangat berbahaya...!" seru Pangeran Khalied pada Zahra yang sedang kelimpungan sendiri karena ada beberapa ekor ular yang mendekati dirinya. Pangeran muda itu masih sibuk melayani serangan Nyi Blorong yang semakin gencar.
"Khalied, ular - ular ini semakin banyak. Aku takut...! " Zahra berteriak ngeri ketika ular - ular itu kini semakin dekat. Dia mengambil sebilah ranting yang tergeletak di tanah yang dia gunakan untuk mengusir ular - ular itu agar pergi.
"Zahra, gunakan ini untuk mengusir ular - ular itu." kata Pangeran Khalied seraya menyerahkan sebilah tongkat kayu panjang kepada Gadis itu.
"Begini cara menggunakannya... " kata Pangeran Khalied Seraya menekan ujung kepala tongkat. Tongkat itu seketika berubah menjadi tombak yang ujungnya runcing sehingga sangat cocok digunakan untuk senjata.
Pangeran Khalied kembali berhadapan dengan Nyi Blorong yang kini sudah bersiap menyerang.
"Aku harus mengalahkan Nyi Blorong dahulu agar bisa melenyapkan ular - ular itu... " kata Pangeran Khalied dalam hati.
"Khalied, aku takuuut. Ular - ular ini semakin dekat dan semakin banyak..!" jerit Zahra.
"Kamu harus berani. Jika tidak ular - ular itu akan terus menyerangmu..!" kata Pangeran Khalied.
Gadis itu mundur beberapa langkah untuk menghindari serbuan ular - ular tersebut. Semakin lama, ular - ular yang mendekatinya semakin banyak hingga akhirnya Zahra terpaksa harus menyingkir ke tempat yang lebih tinggi. Zahra mencoba mengayunkan tongkat pemberian Pangeran Khalied untuk mengusir ular - ular itu. Tongkat itu berputar - putar dengan sendirinya kemudian membabat habis ular - ular yang mencoba mendekati Zahra.
"Bagus, itu baru gadisku.. " bisik Pangeran Khalied sambil tersenyum saat melihat Zahra akhirnya bisa juga menggunakan tongkat pemberiannya.
"Pangeran, pukulanmu tidak fokus dan menjadi lemah...! " seru Nyi Blorong seraya kembali melancarkan serangan balik pada Pangeran Khalied.
*Maafkan, Ananda ibu Ratu, karena fokus ananda sempat terbagi. Kali ini ananda berjanji, akan lebih berkonsentrasi terhadap serangan - serangan Ibu Ratu. "
"Baik, kalau begitu hadapi ini...! " seru Nyi Blorong. Lagi, perempuan cantik jelmaan siluman ular ini segera kembali mengeluarkan jurus andalannya yaitu ilmu pukulan Wisa Geni. Dari mulut wanita itu menyembur keluar api yang membara yang meluncur ke arah pangeran. Jika sedikit saja pangeran Khalied lengah, sudah dapat di pastikan tubuh Pangeran Khalied akan menghitam karena terkena semburan api bercampur bisa yang sangat panas.
Tubuh Pangeran Khalied berkelebatan menghindari serangan pukulan Wisa Geni milik Nyi Blorong yang hampir saja mengenai tubuhnya. Tubuh Pangeran Khalied melenting dan berputar di udara kemudian secara tiba-tiba menukik lurus ke arah Nyi Blorong.
Nyi Blorong yang tak menduga sama sekali akan mendapatkan serangan seperti tersebut fokusnya terpecah hingga menyebabkan perempuan siluman ular itu sedikit lengah. Kesempatan itu di gunakan oleh Sang pangeran untuk melancarkan pukulan Halilintar yang tepat mengenai tubuh Sang Ratu siluman ular Nyi Blorong. Nyi Blorong terpental ke belakang dan jatuh tersungkur ke bumi.
Ratu cantik itu akhirnya dapat juga di kalahkan oleh pangeran Khalied dengan pukulan Halilintar, warisan dari Ayahnya Pangeran Hasyeem.
"Hebat, aku mengakui kehebatan ilmu tenaga dalammu dan ilmu pukulan Halilintar yang kamu keluarkan tadi. Aku mengaku kalah, anak muda. Sekarang, kamu boleh melanjutkan perjalananmu, Pangeran Khalied. Berjalanlah lurus ke arah Barat. Di sana kamu akan menemukan sebuah danau. Ingatlah selalu pesanku ini. Yang tiada itu ada, Yang mati itu hidup, maka berpikir bijaklah dalam mencari lawan cahayamu... "
Selesai berkata demikian, perlahan - lahan tubuh perempuan cantik itu lenyap dari pandangan mata Pangeran Khalied.
Pangeran Khalied menarik napas lega. Bersyukur atas apa yang sudah mereka lalui sampai kini masih di bawah lindungan Sang Khaliq.
Memikirkan semua itu, tiba-tiba, pangeran Khalied teringat Zahra. Astaga... bagaimana mungkin dia sampai melupakan gadis itu.
Mata Pangeran Khalied menyapu seluruh area tersebut untuk mencari keberadaan sosok Zahra. Terakhir kali, gadis itu terlihat sedang sibuk dengan ular - ular jelmaan yang mengejarnya.
"Zahra....! Zahra.....! " Pangeran Khalied berteriak memanggil nama Zahra. Namun tak ada sahutan. Hanya sepi dan kegelapan saja yang ada di sekeliling tempat itu. Zahra tak berada di mana pun.
Pangeran Khalied menjadi gusar. Dia tidak bisa menemukan tanda - tanda keberadaan Zahra di tempat itu. Sadarlah Pangeran Khalied, bahwa Zahra raib bersamaan dengan raibnya Ratu siluman ular itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 167 Episodes
Comments
Mr.VANO
kasihan zahra
2023-06-14
0
Feisya Caca
Zahra dibawak ular nyo Blorong😵😵
2023-05-08
0
Berdo'a saja
ya NYI Blorong membawa Zahra
2023-02-02
2