U...u...ularrr..!!!" Zahra berseru seraya telunjuknya mengarah ke belakang Pangeran Khalied.
Pangeran Khalied serta merta membalikkan tubuh untuk melihat apa yang dilihat Zahra.
Seekor ular yang sangat besar sudah berdiri tegak di hadapan Pangeran Khalied dan juga Zahra. Zahra langsung melipir ke arah Pangeran Khalied karena merasa takut saat melihat ular dengan ukuran sebesar itu. Seumur - umur, baru kali ini dia melihat ular sebesar itu. Hampir seukuran pohon kelapa.
Ular itu mendesis saat menyadari adanya pergerakan dari dua makhluk dari dunia yang berbeda, di depannya.
Mata Zahra membelalak ngeri menatap makhluk melata raksasa yang kini sedang bergerak merayap mendekati mereka.
Gadis cantik itu serta merta langsung memeluk Pangeran Khalied dan berlindung di balik tubuh kekar Sang Pangeran.
"Khalied, aku takut...!!" bisiknya. Dia memeluk Pangeran Khalied dengan tubuh yang gemetar. Dapat di rasakan oleh sang Pangeran degup jantung Zahra yang berpacu kencang oleh rasa takut.
"Tenanglah, Zahra. Dia hanya seekor ular. Hanya saja ukurannya sedikit lebih besar dari biasanya." kata Pangeran Khalied.
Ular itu kini sudah berada persis di depan Pangeran Khalied. Kemudian ular itu mendekatkan wajahnya ke wajah Sang Pangeran. Pangeran Khalied dapat melihat sebuah mahkota di kepala ular tersebut.
"Ssssssssshhh.., Pangeran Khalied. Putra Penguasa Bukit Malaikat. Aku adalah Nyi Blorong. Beruntung sekali aku bisa berjumpa dirimu di tempat ini. Selamat datang, Pangeran. Maafkan diriku yang tak bisa menyambut kedatanganmu dengan sepantasnya, ssshhhht.. " Kata Sang Ular yang rupanya bisa berbicara.
Tentu saja hal itu agak mengejutkan Pangeran Khalied. Ternyata ular itu bukanlah ular sembarangan. Ular itu adalah ular jelmaan dari Ratu Ular Nyi Blorong.
"Oh, rupanya dirimu adalah Bunda Ratu Nyi Blorong, ratu siluman ular yang terkenal itu. Ternyata akulah yang beruntung, dapat bertemu langsung denganmu di tempat ini. Maafkan, jika kami lancang tanpa izin memasuki wilayahmu. Kami terlempar oleh portal dimensi ke empat hingga sampai di tempat ini, Bunda Ratu.." jawab Pangeran Khalied.
"Tentu saja, Pangeran. Aku tahu dengan baik tujuan kamu datang ke tempat ini. Karena itulah aku senang mendapatkan kesempatan pertama untuk menjajal kemampuanmu." kata Nyi Blorong. Perlahan - lahan kemudian wujud ular Nyi Blorong berubah menjadi wujud wanita yang sangat cantik.
Mulut Zahra menganga tak percaya dengan apa yang tampak di depan matanya. Ular yang ada di hadapan mereka itu ternyata bisa berbicara dan mengaku sebagai Nyi Blorong. Kini ular jelmaan Nyi Blorong itu telah berubah wujud menjadi wanita yang sangat cantik. Dan dia menyebut Khalied, lelaki yang bersamanya sejak tadi dengan sebutan Pangeran??
Hah, apa dia tak salah dengar. Khalied seorang pangeran..? Khalied adalah seorang Pangeran dan putra dari Siapa tadi... , tanya Zahra dalam hati.... Penguasa Bukit Malaikat. Siapa lagi itu...? Lalu di manakah letak Bukit Malaikat. Zahra baru mendengar nama tempat itu. Apakah ada lagi kerajaan di zaman ini. Dan di Indonesia, di daerah manakah itu. Atau Pangeran Khalied adalah Pangeran dari Arab.
Otak Zahra terus saja berpikir untuk mendapatkan jawaban tentang siapa sebenarnya lelaki yang kini sedang bersamanya.
"Jangan kamu pikirkan perkataannya. Itu hanya untuk mengalihkan perhatian kita berdua saja. Setelah itu, dia akan menelan kita berdua hidup - hidup jika saja kita lengah." kata Pangeran Khalied.
Zahra tersentak dan tersadar dari lamunannya.
"Bunda Ratu Nyi Blorong, sungguh suatu kehormatan jika Bunda Ratu dapat memberikan ananda sedikit pelajaran. Sudilah kiranya Bunda Ratu membagi ilmu kanuragan yang bunda miliki barang sejurus dua jurus." kata Pangeran Khalied sambil kemudian menyarungkam kembali pedangnya ke dalam sarungnya.
"Pangeran Khalied...! Seranglah aku, jangan ragu - ragu..!! " seru Nyi Blorong kepada Pangeran Khalied.
"Baik, Bunda Ratu.... " jawab Pangeran Khalied. Dia lalu meminta kepada Zahra agar segera menyingkir mencari tempat yang aman.
"Zahra, menyingkirlah sedikit ke tepi. Jangan lengah dan tetap waspada. Aku tidak tahu, apa yang ada di sekeliling kita."
Selesai berkata demikian, Pangeran Khalied maju ke hadapan Nyi Blorong. Pemuda santun itu kemudian mulai membuka serangan dengan tangan kosong. Dia tidak menggunakan pedangnya karena tentu saja hal itu amatlah tidak sopan.
Pangeran Khalied mengeluarkan kemampuan ilmu kanuragan yang dia miliki untuk menghadapi Nyi Blorong. Murid didikan Ki Anom itu memang tampaknya tidak mengecewakan nama Sang guru. Dia bertarung dengan sangat baik dan hampir saja dapat mengalahkan Nyi Blorong andai Ratu cantik jelmaan siluman ular itu tak segera menghentikan pertarungan.
"Cukup, Pangeran Khalied. Sekarang aku ingin melihat ilmu pedangmu...!" serunya.
Ratu cantik itu mencabut sebilah pedang dari sebuah batu besar yang mengeluarkan cahaya terang berwarna putih. Rupanya cahaya semburat yang di lihat oleh pangeran Khalied dan Zahra berasal dari batu tersebut.
Batu itu mengeluarkan cahaya putih dan melayang - layang tidak menyentuh tanah.
Melihat hal itu, segera saja Pangeran Khalied mencabut pedangnya kembali.
"Hemm, aku mencium aroma darah di dalam tubuh pedangmu, Pangeran. Tampaknya pedangmu telah mendapatkan kekuatannya yang baru." kata Nyi Blorong saat melihat pedang Pangeran Khalied yang tampak berkilauan.
Pangeran Khalied tersenyum ketika mendengar ucapan Ratu siluman ular itu. Tentu saja, karena pedangnya itu sudah merasakan tetesan darah, yaitu darah dari Zahra yang secara langsung akan menambah kekuatan dari pedangnya.
Pedangnya berayun menyambar - nyambar tubuh Nyi Blorong yang dengan lincah berkelit menghindari setiap serangan yang di lancarkan oleh pangeran muda itu. Hingga pada satu ketika, Nyi Blorong berhasil menyarangkan satu pukulan ke dada Pangeran Khalied.
Pangeran kita itu terjajar beberapa langkah ke belakang sambil memegangi dadanya.
"Ugh... huk...!! " Darah segar keluar dari mulut sang Pangeran. Rupanya dia terkena pukulan tenaga dalam Nyi Blorong yang diam - diam melancarkan ilmu pukulan Braja Geni ke tubuh Pangeran Khalied.
"Khalied....!! " seru Zahra. Dia mencemaskan nasib putra pangeran Hasyeem itu yang kini sedang bertarung adu kesaktian dan kedigdayaan melawan Nyi Blorong, Jelmaan siluman ular yang menguasai wilayah itu. Zahra berlari mendekati Pangeran Khalied yang terduduk bertopang pedangnya. Pemuda itu. sedang memulihkan kembali tenaga dalamnya dan mengobati luka tenaga dalamnya karena pukulan Nyi Blorong tadi.
"Aku tak apa - apa, Zahra. Terima kasih karena mencemaskan diriku. Kini, menyingkirlah ke tepi. Tampaknya siluman ular itu akan kembali lagi."
"Hati - hati, Khalied.." kata Zahra sambil beringsut ke pinggir untuk memberikan ruang bagi keduanya untuk melanjutkan pertarungan.
"Apakah kamu sudah siap, Pangeran..?" tanya Nyi Blorong yang kini sudah muncul kembali di hadapan Pangeran Khalied.
"Siap, Bunda Ratu.. " jawabnya.
Pertarungan kembali berlanjut. Masing-masing berusaha untuk mengeluarkan kemampuan terbaiknya untuk menunjukkan siapa yang terkuat dan terhebat. Ratu cantik yang terkenal sakti mandraguna dan menjadi Ratu dari semua siluman ular itu kemudian mengeluarkan sebuah cepu dari balik kemben dan melemparkan ke cepu itu ke tanah.
Begitu cepu itu menyentuh tanah, cupu itu langsung terbuka dan isinya berhamburan keluar. Isi cepu itu adalah ular - ular dengan ukuran yang besar dan kecil.
"Hiiii, ular jadi - jadian..? Banyak sekali ularnya..??" seru Zahra seraya bergidik ngeri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 167 Episodes
Comments
Mr.VANO
nyi blorongkan emakny ular,,,jd tak kaget klo swnjatany manyak mengandung ular
2023-06-14
0
Feisya Caca
geli banget bacanya bayangin jumlah ular yang banyak🤮🤮🤮
2023-05-08
0
Berdo'a saja
di uji Dulu
2023-02-02
1