"Pangeran, ini dimensi ke empat. Berarti asap hitam tadi adalah portal menuju ke dimensi ke empat."
" Pangeran? Pangeran..!!? " Zamura kaget setengah mati karena Pangeran Khalied, Tuannya yang diajak bicara dan Zahra, tak ada di belakangnya.
Zamura menatap ke sekelilingnya. Sepi.. tak ada orang. Sadarlah dia bahwa sejak tadi tuannya dan juga gadis itu tidak bersamanya.
Kemana Pangeran Khalied dan gadis itu. Zamura mencari - cari di sekeliling tempat itu namun dia tak menemukan tanda - tanda keberadaan tuannya itu. Zamura kehilangan jejak dari Tuannya dan juga gadis yang bersama dengan tuannya itu.
"Kemana tuanku Pangeran Khalied dan gadis itu berada, Ya...? " tanya Zamura dalam hati. Pikirannya sibuk bertanya - tanya tentang keberadaan tuannya.
Sepertinya, saat berada di portal tadi, mereka berada di jalur yang berbeda. Hingga akhirnya Pangeran Khalied dan Zahra terpisah dengan Zamura, sang pengawal.
Zamura memutuskan untuk melanjutkan perjalanan sambil terus berusaha untuk mencari tuannya. Dirinya harus menemukan tuannya, karena tugasnya memang untuk melindungi dan membawa kembali tuannya ke istana Bukit Malaikat apapun yang terjadi.
...----------------...
Sementara itu, Pangeran Khalied dan Zahra yang terpisah dengan Zamura, ternyata mereka berdua sedang berada di suatu tempat. Tempat yang sangat asing bagi mereka.
Mereka tidak mengenal tempat itu. Tempat itu tidak seperti alam dunia. Karena suasananya yang jauh berbeda. Tidak juga di alam tempat Pangeran Khalied di lahirkan, karena Pangeran Khalied amat mengenal negeri tempat dia dilahirkan dan dibesarkan itu dengan sangat baik.Tempat itu benar-benar berbeda dan terasa sangat aneh bagi mereka berdua.
"Kita berada di mana ini, Khalied...? " tanya Zahra. Dia memandang ke sekelilingnya. Matanya awas memindai kalau - kalau ada seseorang atau sesuatu di sana.
"Entahlah, aku juga tidak tahu, Zahra. Tapi aku rasa mungkin saat ini kita sedang berada di dimensi ke empat alam dunia ini."
"Dimensi ke empat..? Tempat apakah itu, Khalied...? " tanya Zahra. Dia sebagai orang awam, manalah tahu akan keberadaan dimensi ke empat dalam dunia ini. Baginya dia hanya mengenal alam dunia ini yaitu bumi sebagai tempat dia berpijak dan langit biru yang menaungi cakrawala.
"Menurut Ki Anom guruku, dimensi ke empat adalah alam antara alam dunia dan alam kematian. Tempat para Roh orang yang mati penasaran dan juga segala kehidupan ghaib lainnya yang tersembunyi. " jelas Sang pangeran.
Mata cantik itu mengerjap tak percaya. Apa tadi yang baru di dengarnya? Tempat roh orang yang mati penasaran dan makhluk gaib. Oh,.. betapa mengerikan tempat ini, pikirnya.
"Mengerikan sekali...! " Zahra bergumam sambil bergidik. Ngeri berada dalam pikirannya saat membayangkan tentang wujud orang - orang yang mati karena penasaran. Dalam benaknya pastilah wujud mereka sangat menyeramkan. Belum lagi tentang keberadaan makhluk - makhluk gaib itu.
Sayangnya, Zahra tidak menyadari bahwa saat ini pun dia sedang berhadapan dengan salah satu makhluk gaib, yaitu jin. Karena sejatinya Pangeran Khalied adalah makhluk jin. Walaupun dia memiliki darah manusia yang mengalir di dalam tubuhnya. Darah itulah yang mencegah dia berlaku seperti monster.
"Wujud mereka tidak semua seperti yang ada dalam pikiranmu." kata Pangeran Khalied yang rupanya dapat menangkap jalan pikiran gadis itu. Aneh, dia bisa mendengar dan membaca pikiran Zahra. Padahal sewaktu berada di alam manusia, dia tak sekalipun bisa membaca isi hati dan pikiran gadis itu.
"Benarkah, itu Khalied. Lantas, siapa sebenarnya dirimu....? Mengapa kamu bisa mengetahui begitu banyak kejadian dan hal - hal yang ada di luar nalar manusia biasa. Kamu juga bisa tahu kalau saat ini kita sedang berada di dimensi ini? " tanya Zahra yang kini sudah mulai penasaran tentang identitas pemuda yang berdiri di hadapannya itu.
"Aku bukan siapa - siapa. Aku hanya kebetulan tahu berdasarkan apa yang aku pelajari dari guruku, dan juga pengalamanku. Aku pun tak banyak tahu tentang tempat ini. Karena sama seperti dirimu, aku juga baru pertama kali menginjakkan kaki di tempat ini." jawab Pangeran Khalied.
"Tapi aku takut sekali, Khalied. Aku ingin pulang. Bagaimana caranya kita kembali...?" tanya Zahra. Gadis itu mulai menangis. Dia sangat takut dan juga merindukan ibunya.
Pangeran Khalied memeluk Zahra. Mencoba menenangkan gadis itu dari ketakutan dan kecemasannya. Dirinya merasa iba kepada Zahra, karena ternyata misi mencari pedang mata Malaikat ini ikut melibatkan Zahra bersama dirinya. Namun, dia tak bisa mengatakan pada gadis itu tentang misi mencari pedang Mata Malaikat yang kini rupanya sudah mulai berjalan tanpa dia sadari. Yang bisa dia lakukan saat ini m hanya menenangkan Zahra, gadis itu dari rasa takut dan juga cemas.
"Jangan takut, percayalah aku akan selalu ada untuk melindungimu. Kita bersama akan mencari jalan keluar dari tempat ini.. " kata Pangeran Khalied.
Zahra mengangguk seraya menatap Pangeran Khalied. Dia percaya bahwa pemuda di depannya itu akan selalu melindunginya dan akan mengantarkan dirinya menuju jalan pulang.
Mereka akhirnya melanjutkan perjalanan menyusuri tempat itu. Tujuan mereka hanya satu. Mencari jalan keluar dari tempat itu.
Semakin jauh memasuki tempat itu, suasana semakin aneh.Mereka juga tak mengetahui apakah saat ini suasana siang hari atau malam hari. Sekeliling daerah itu hanya kegelapan saja adanya. Walaupun ada seberkas cahaya semburat yang entah berasal dari mana, menjadi satu-satunya penerangan di tempat itu saat ini.
Padahal, menurut perkiraan Pangeran itu, saat ini di alam dunia hari sudah siang. Karena sudah cukup lama mereka berada di tempat ini.
"Khalied, aku haus sekali. Di mana kita bisa menemukan air ...? " tanya Zahra pada Pangeran Khalied.
Pangeran Khalied memandang ke arah Zahra. Dia baru menyadari satu hal, Zahra manusia. Tentu punya rasa haus dan dahaga sama seperti dirinya. Walaupun dalam hal ini, mungkin saja selera mereka berbeda. Karena orientasi makan Pangeran Khalied jelas berbeda dengan Zahra yang manusia.
"Ini, minumlah." Pangeran Khalied meraih kantong air yang terletak di pinggangnya dan menyodorkannya kepada Zahra.
Zahra meminum air dari kantong air itu dengan penuh dahaga. Sungguh dirinya sangat haus dan juga.... lapar.
Zahra baru merasakan rasa lapar yang mendera saat ini. Dia baru ingat, bahwa perutnya belum pernah terisi makanan sejak kemarin. Zahra meringis sambil memegangi perutnya.
"Makanlah roti ini, itu lumayan untuk mengganjal rasa lapar di perutmu.. " Pangeran muda nan gagah berani itu kembali menyodorkan sepotong roti kepada Zahra yang langsung memakannya dengan lahap. Rasa lapar di perutnya membuat dia tak lagi bertanya asal muasal roti itu.
Sedang asyik - asyiknya makan, tanpa sengaja pandangan Zahra tertuju pada objek yang sejak tadi berdiri di belakang Pangeran Khalied. Benda apakah itu....? Bentuknya seperti.......,
"U...u...ularrr..!!!" Zahra berseru seraya telunjuknya mengarah ke belakang Pangeran Khalied.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 167 Episodes
Comments
Mr.VANO
makin seru
2023-06-14
0
Feisya Caca
wiiiiihhh makin seru kak aku bacanya🥰
2023-05-08
0
Berdo'a saja
dua manusia Dua jin
2023-02-01
0