" Saksi apa.....? " tanya seseorang tiba-tiba.
Serentak semuanya menoleh dan langsung terdiam..
" BOS.. "
...----------------...
Kania berjalan sendiri menyusuri lorong rumah sakit dengan tergesa-gesa. Dia ingin cepat sampai di kosannya sebelum malam semakin larut. Dia takut jika pulang terlalu malam, kejadian seperti pada malam itu akan menimpanya kembali.
Malam ini, dia kembali pulang agak malam karena Kak Leti, perawat jaga yang bertugas menggantikan dirinya terlambat datang. Kak Leti harus mengantar anaknya ke rumah sakit, karena anaknya mendadak demam. Setelah menunggu selama dua jam, akhirnya kak Leti tiba di rumah sakit. Perawat yang berada satu tingkat di atasnya itu menyampaikan permintaan maaf dan sebagai gantinya, Kak Leti membawakan dirinya makan malam yang berupa nasi goreng lengkap dengan lauk pauk plus kerupuk.
Lumayan, pikir Kania. Maklum saja, perutnya sejak tadi sudah menjerit minta di isi.
" Kak Leti, tahu aja kalau aku lagi kelaparan." kata Kania sambil membuka bungkusan nasi goreng yang nampak sangat nikmat dan menggugah selera.
"Woss, jelas tahu, lah. Kita ini, sesama perawat. Sudah hapal dan tahu pasti bahwa disela - sela waktu kita ini, rasa lapar selalu luput dari perhatian kita, hahahaha.. " ujar Kak Leti sambil berjalan mengambil daftar kontrol dan mulai mengontrol pasien yang dia jaga.
Kania menghabiskan nasi goreng tersebut sampai ludes tak bersisa. Dia benar-benar lapar.
"Nona Kania...! " sapa seseorang. Kania menghentikan langkah. Di depannya, telah berdiri seorang lelaki yang berpakaian serba hitam.
"Tuan,... anda di sini..? "
Kania ingat, dia cowok itu yang tempo hari menyelamatkan dirinya dari gangguan begal yang berniat untuk mencelakai dirinya. Cowok itu juga yang mengobati cedera di kakinya karena mengalami patah tulang akibat jatuh terperosok ke dalam lubang galian yang cukup dalam.
Masih segar dalam ingatan Kania kejadian saat malam itu.
" Kania, kamu benaran mau pulang, yah? " tanya Alea pada Kania. Sahabat Kania itu memandangnya dengan tatapan khawatir. Hari ini Kania mendapat tugas jaga sore hingga malam. Sama seperti hari - hari kemarin. Perawat di rumah sakit ini mendapat tugas jaga yang terbagi dalam tiga shif. Kebetulan hari ini dia kebagian shif dua. Jadi dia mulai berjaga dari pukul 14.00 hingga pukul 22.00. Namun sekarang dia harus pulang karena Gita teman sekamarnya sedang sakit. Dia khawatir sekali dengan Gita, maka dari itu dia memutuskan untuk pulang ke kosan. Biasanya, dia akan menginap saja di rumah sakit, pagi baru pulang.
" Tapi, sekarang sudah pukul sepuluh, Kania. Terlalu berbahaya jika kamu pulang sendiri. Lagi pula, Farid kena tugas jaga pagi. Jika ada dia, aku tak perlu khawatir karena aku bisa meminta dia buat ngantar kamu. " omel Alea. Sahabatnya itu memang sayang sekali pada Kania.
" Tapi, kasian, Gita, Alea. Dia kan, lagi sakit." Alea menghela nafas. Dia pusing juga memikirkan Gita, tapi dia tak sampai hati juga membiarkan Kania pulang selarut. Terlalu berbahaya untuk seorang wanita.
" Sudah, kamu tak usah khawatir. Doakan saja aku selamat sampai di rumah, yah. " Kania mengedipkan matanya kepada Alea lalu berjalan menuju ke parkiran. ALea hanya bisa menatap cemas dan berdoa dalam hati untuk keselamatan sahabatnya itu.
Motor scoopy Kania melaju membelah malam yang gelap. Jalan dari rumah sakit menuju ke kosan tempat dia tinggal memang terbilang sepi. Di kiri kanan jalan adalah persawahan penduduk. Hanya ada beberapa rumah yang letaknya agak berjauhan. Selain itu, tempat ini minim penerangan. Lampu jalan di tempat ini banyak yang rusak dan kurang diperhatikan oleh pemerintah Daerah ini untuk segera di perbaiki. Padahal ini adalah sarana vital.
Motor Kania berbelok menyusuri jalan yang mengarah ke rumah kosnya. Jalan ini biasanya lumayan ramai oleh kendaraan. Tapi entah mengapa, malam ini sepi sekali. Sejak tadi, tak ada satu kendaraan pun yang melewati jalan ini.
Kania menambah kecepatan motornya karena ingin cepat sampai ke rumah. Perasaannya mulai tak enak. Ada rasa was - was yang sejak tadi menghinggapi dirinya. Tiba-tiba.....
Dua buah cahaya terang menyoroti dirinya dari arah depan. Ternyata itu adalah cahaya dari dua buah lampu sorot sepasang sepeda motor yang merapat sejajar. Kini kedua buah sepeda motor itu sudah berada di kiri kanan motornya. Penumpangnya masih - masing-masing dua orang. Mereka rupanya begal yang sering meresahkan masyarakat dan mencegat korban yang di tempat ini jika keadaan jalan sedang sepi seperti saat ini.
Kini para begal itu memaksa kendaraan yang ditumpangi Kania untuk berhenti. Bahkan salah seorang dari mereka mengacungkan senjata golok ke arah Kania dan mengancam gadis itu agar segera menghentikan laju sepeda motornya.
Dengan ketakutan, Kania akhirnya menepikan motornya di pinggir jalan. Dia masih berharap ada kendaraan yang lewat sehingga dia bisa selamat. Namun, rupanya doanya belum terkabul. Sampai beberapa saat lamanya, belum ada satupun kendaraan yang lewat.
" HEY, CEPAT SERAHKAN KUNCI MOTORNYA!! " bentak salah seorang dari mereka. Kania gemetar ketakutan namun dia bersikeras tak ingin menyerahkan kunci motornya.
Dua orang penumpang yang ada di belakang motor segera turun dan berjalan mendekati Kania. Kania semakin ketakutan.
" Mau apa, kalian? Jangan dekat! " bentaknya.
" SERAHKAN KUNCINYA! "bentak kedua orang tadi. Seseorang dari keduanya mengeluarkan sebilah golok yang di arahkan ke Kania.
" CEPAT!! Atau kamu mau kita habis juga, Yah!! " bentaknya sambil mengacungkan goloknya pada Kania.
Kania semakin ketakutan. " Tolong.... Tolong...... ada begal... Tolong...!! " Kania berteriak kencang sambil berusaha untuk kabur dari tempat itu.
" Hei, Cung. Dia kabur!! Cepat kejar dan rampas kunci motornya!! "
Keempatnya bergegas mengejar Kania yang terus lari tak tentu arah. Sampai di suatu tempat Kania terjatuh. Sebelah kakinya terperosok ke dalam lobang.
Kania menangis karena rasa sakit yang dia rasakan di kakinya dan juga rasa takut.
Keempat begal itu juga sampai di tempat Kania. Mereka serentak turun dan menghambat Kania.
" Hah, kena juga kamu akhirnya. Cepat serahkan kunci motornya. Sebelum kami habisi kamu di sini." bentak salah seorang dari mereka. Dia kemudian mencabut goloknya dan menodongkannya ke arah Kania.
Kania memejamkan matanya. Dia pasrah karena tak bisa lagi melawan. Kakinya terasa sakit sekali hingga sulit untuk digerakkan.
" Lepaskan gadis itu!!! " suara bentakan terdengar dari arah belakang. Membuat keempat begal itu serentak menoleh.
Seorang pemuda berdiri tak jauh dari sana. Tersenyum mengejek ke arah mereka.
" BANCI.. hanya berani mengeroyok perempuan yang sudah tak berdaya. Sini kalau berani, lawan aku! " tantangnya.
Keempat orang itu menjadi berang karena merasa diremehkan. Keempatnya langsung meringsek maju untuk menyerang pemuda tersebut secara bersamaan. Namun sebelum mereka berhasil mendaratkan serangan mereka, tiba-tiba saja keempatnya mundur bersamaan.
" Matanya.... matanya bersinar kuning kemerahan. Dia bukan manusia...! Kabur...!!! Cepat kabur, selamatkan diri kalian...!!! seru salah seorang dari mereka. Mereka kabur berpencar entah kemana meninggalkan motor mereka yang tergeletak begitu saja.
Sedangkan Kania hanya bisa bengong menyaksikan semua itu. Dia hanya bisa pasrah karena tak bisa bergerak lagi. Mungkin tulang kakinya ada yang patah atau retak karena rasanya sakit sekali jika digerakkan.
Pemuda itu kini sudah berada di hadapan Kania.
Kania memberanikan diri melihat ke arah pemuda itu. Pemuda yang telah menyelamatkan dirinya dari begal - begal yang berniat untuk mencelakai dirinya tadi.
Benar saja... mata pemuda itu berwarna kuning kemerahan. Mata itu berbentuk seperti mata kucing. Instingnya mengatakan bahwa pemuda di hadapannya itu bukanlah manusia! Mendadak ketakutannya yang tadi perlahan-lahan hilang, kini hadir kembali. Yah....Kania merasa sangat ketakutan. Lepas dari begal kini masuk dalam cengkraman makhluk Alien, pikirnya.
" Jangan takut, aku bukan makhluk Alien seperti yang ada dalam pikiranmu itu. Namaku Arkana. Siapa namamu, Nona?" tanya pemuda itu.
Mata Kania jadi membesar. Antara malu dan kaget. Dia tak menyangka pemuda itu bisa mengetahui apa yang ada di dalam pikirannya.
" Namaku Kania Wulandari. Kamu bisa memanggilku Kania. " jawab Kania.
" Baiklah nona Kania, aku mohon izinmu karena aku mau mengangkat tubuhmu dari lubang itu." tunjukknya ke arah lubang di kaki Kania.
Meski takut dan malu, Kania pun akhirnya pasrah dan mengangguk, memberi izin kepada pemuda itu untuk mengangkat tubuhnya yang tak berdaya karena tak bisa bergerak.
Dengan entengnya, pemuda itu mengangkat tubuh Kania dan meletakkannya di pinggir trotoar jalan.
" Permisi, sekali lagi aku mohon izin untuk melihat kakimu, Nona Kania!"
" Iya, silahkan, tuan Arkana! " katanya dengan gugup. Baru kali ini dia disentuh oleh lawan jenisnya. Meskipun dia seorang perawat yang merawat pasien laki-laki atau perempuan, tapi itu hanya sebatas profesionalitas saja.
" Hmm, tampaknya tulang kakimu patah, nona. Itu sebabnya kamu tak bisa menggerakkan kakimu. Mari sini, aku obati..! "
Selesai berkata demikian, pemuda itu meletakkan tangan kanannya di atas kaki Kania yang sakit. Tangan itu mengeluarkan cahaya putih kekuningan yang terasa hangat ketika menyentuh kulit kaki Kania.
" Sudah. Sekarang kakimu sudah sembuh seperti sedia kala. Kamu sudah bisa berjalan lagi sekarang. Ayo, cobalah untuk berdiri." perintah pemuda itu pada Kania.
Dengan ragu Kania berusaha bangun dan berdiri. Ajaib sekali..! Kakinya kini sudah tak sakit lagi dan dia bisa berdiri tegak kembali. Kania mencoba berjalan beberapa langkah. Benar - benar tak bisa dipercaya. Dia bisa berjalan dengan normal. Kania berseru gembira dan merasa sangat bersyukur sekali.
" Terima kasih, tuan Arkana...! " Kania berpaling namun pemuda itu sudah menghilang dari tempat itu.
" Tuan Arkana.... Tuan...! " serunya memanggil nama pemuda itu. Namun tak ada siapapun di sana.
" Cepat tinggalkan tempat ini, Nona Kania. Tempat ini berbahaya untukmu! "
Suara Arkana terdengar di telinga Kania seperti berbisik membuat gadis itu menjadi merinding.Dia pun bergegas pergi meninggalkan tempat itu menuju tempat di mana terakhir dia meninggalkan motor miliknya.
" Iya, aku ingin bertemu denganmu. Bolehkah...? " tanya Pangeran Arkana.
Kania menatap heran di arah Pangeran Arkana. "Menemuiku,... ada apa...? "
"Aku ingin berteman denganmu..." kata Pangeran itu, menatap penuh asa.
' Apa....oh, maksudnya tentu saja. Kita memang berteman..." kata Kania. Dia merasa canggung saat berhadapan dengan Pangeran Arkana.
Kania melirik ke arah Pangeran Arkana yang masih berdiri tegak di sebelah pilar. Lelaki itu sosoknya tinggi sekali dan gagah. Matanya..... berwarna seperti mata kucing dengan bintik kuning di tengah. Rambutnya dikuncir setengah hingga membuat wajahnya semakin tampan.
"Nona Kania, apakah kamu keberatan jika aku ingin mengajakmu jalan - jalan sekarang..? " tanya Pangeran Arkana.
" Hah, ja-jalan - jalan..? Malam malam begini...? "
Belum lagi hilang keterkejutan Kania atas tawaran Pangeran Arkana, lelaki itu sudah membawanya terbang melesat ke awan. Kania menjerit ketakutan sambil menutup mata. Ngeri dan takut jatuh dari ketinggian, membuat dia tanpa sadar memeluk erat Pangeran Arkana.
Beberapa saat kemudian, Pangeran Arkana menyuruhnya membuka mata.
"Bukalah matamu, kita sudah sampai! "
Kania membuka matanya. Mulutnya ternganga lebar. Dia berada di puncak sebuah menara yang tinggi sekali.
"Menara Eiffel...!!!?? " seru Kania.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 167 Episodes
Comments
Mr.VANO
flash back,kirany di ulang,,,gak ad tandany,,,
2023-06-13
0
Feisya Caca
Arkana langsung cus teleportasi keliling dunia🤣🤣
2023-05-08
0
Berdo'a saja
enak sekali yaa sekali hentak sampai dimenara Eiffel
2023-02-01
0