Bab. 10 Tumbal Darah perawan ( part 3 )

" Saksi apa.....? " tanya seseorang tiba-tiba.

Serentak semuanya menoleh dan langsung terdiam..

" BOS.. "

...----------------...

Kania berjalan sendiri menyusuri lorong rumah sakit dengan tergesa-gesa. Dia ingin cepat sampai di kosannya sebelum malam semakin larut. Dia takut jika pulang terlalu malam, kejadian seperti pada malam itu akan menimpanya kembali.

Malam ini, dia kembali pulang agak malam karena Kak Leti, perawat jaga yang bertugas menggantikan dirinya terlambat datang. Kak Leti harus mengantar anaknya ke rumah sakit, karena anaknya mendadak demam. Setelah menunggu selama dua jam, akhirnya kak Leti tiba di rumah sakit. Perawat yang berada satu tingkat di atasnya itu menyampaikan permintaan maaf dan sebagai gantinya, Kak Leti membawakan dirinya makan malam yang berupa nasi goreng lengkap dengan lauk pauk plus kerupuk.

Lumayan, pikir Kania. Maklum saja, perutnya sejak tadi sudah menjerit minta di isi.

" Kak Leti, tahu aja kalau aku lagi kelaparan." kata Kania sambil membuka bungkusan nasi goreng yang nampak sangat nikmat dan menggugah selera.

"Woss, jelas tahu, lah. Kita ini, sesama perawat. Sudah hapal dan tahu pasti bahwa disela - sela waktu kita ini, rasa lapar selalu luput dari perhatian kita, hahahaha.. " ujar Kak Leti sambil berjalan mengambil daftar kontrol dan mulai mengontrol pasien yang dia jaga.

Kania menghabiskan nasi goreng tersebut sampai ludes tak bersisa. Dia benar-benar lapar.

"Nona Kania...! " sapa seseorang. Kania menghentikan langkah. Di depannya, telah berdiri seorang lelaki yang berpakaian serba hitam.

"Tuan,... anda di sini..? "

Kania ingat, dia cowok itu yang tempo hari menyelamatkan dirinya dari gangguan begal yang berniat untuk mencelakai dirinya. Cowok itu juga yang mengobati cedera di kakinya karena mengalami patah tulang akibat jatuh terperosok ke dalam lubang galian yang cukup dalam.

Masih segar dalam ingatan Kania kejadian saat malam itu.

" Kania, kamu benaran mau pulang, yah? " tanya Alea pada Kania. Sahabat Kania itu memandangnya dengan tatapan khawatir. Hari ini Kania mendapat tugas jaga sore hingga malam. Sama seperti hari - hari kemarin. Perawat di rumah sakit ini mendapat tugas jaga yang terbagi dalam tiga shif. Kebetulan hari ini dia kebagian shif dua. Jadi dia mulai berjaga dari pukul 14.00 hingga pukul 22.00. Namun sekarang dia harus pulang karena Gita teman sekamarnya sedang sakit. Dia khawatir sekali dengan Gita, maka dari itu dia memutuskan untuk pulang ke kosan. Biasanya, dia akan menginap saja di rumah sakit, pagi baru pulang.

" Tapi, sekarang sudah pukul sepuluh, Kania. Terlalu berbahaya jika kamu pulang sendiri. Lagi pula, Farid kena tugas jaga pagi. Jika ada dia, aku tak perlu khawatir karena aku bisa meminta dia buat ngantar kamu. " omel Alea. Sahabatnya itu memang sayang sekali pada Kania.

" Tapi, kasian, Gita, Alea. Dia kan, lagi sakit." Alea menghela nafas. Dia pusing juga memikirkan Gita, tapi dia tak sampai hati juga membiarkan Kania pulang selarut. Terlalu berbahaya untuk seorang wanita.

" Sudah, kamu tak usah khawatir. Doakan saja aku selamat sampai di rumah, yah. " Kania mengedipkan matanya kepada Alea lalu berjalan menuju ke parkiran. ALea hanya bisa menatap cemas dan berdoa dalam hati untuk keselamatan sahabatnya itu.

Motor scoopy Kania melaju membelah malam yang gelap. Jalan dari rumah sakit menuju ke kosan tempat dia tinggal memang terbilang sepi. Di kiri kanan jalan adalah persawahan penduduk. Hanya ada beberapa rumah yang letaknya agak berjauhan. Selain itu, tempat ini minim penerangan. Lampu jalan di tempat ini banyak yang rusak dan kurang diperhatikan oleh pemerintah Daerah ini untuk segera di perbaiki. Padahal ini adalah sarana vital.

Motor Kania berbelok menyusuri jalan yang mengarah ke rumah kosnya. Jalan ini biasanya lumayan ramai oleh kendaraan. Tapi entah mengapa, malam ini sepi sekali. Sejak tadi, tak ada satu kendaraan pun yang melewati jalan ini.

Kania menambah kecepatan motornya karena ingin cepat sampai ke rumah. Perasaannya mulai tak enak. Ada rasa was - was yang sejak tadi menghinggapi dirinya. Tiba-tiba.....

Dua buah cahaya terang menyoroti dirinya dari arah depan. Ternyata itu adalah cahaya dari dua buah lampu sorot sepasang sepeda motor yang merapat sejajar. Kini kedua buah sepeda motor itu sudah berada di kiri kanan motornya. Penumpangnya masih - masing-masing dua orang. Mereka rupanya begal yang sering meresahkan masyarakat dan mencegat korban yang di tempat ini jika keadaan jalan sedang sepi seperti saat ini.

Kini para begal itu memaksa kendaraan yang ditumpangi Kania untuk berhenti. Bahkan salah seorang dari mereka mengacungkan senjata golok ke arah Kania dan mengancam gadis itu agar segera menghentikan laju sepeda motornya.

Dengan ketakutan, Kania akhirnya menepikan motornya di pinggir jalan. Dia masih berharap ada kendaraan yang lewat sehingga dia bisa selamat. Namun, rupanya doanya belum terkabul. Sampai beberapa saat lamanya, belum ada satupun kendaraan yang lewat.

" HEY, CEPAT SERAHKAN KUNCI MOTORNYA!! " bentak salah seorang dari mereka. Kania gemetar ketakutan namun dia bersikeras tak ingin menyerahkan kunci motornya.

Dua orang penumpang yang ada di belakang motor segera turun dan berjalan mendekati Kania. Kania semakin ketakutan.

" Mau apa, kalian? Jangan dekat! " bentaknya.

" SERAHKAN KUNCINYA! "bentak kedua orang tadi. Seseorang dari keduanya mengeluarkan sebilah golok yang di arahkan ke Kania.

" CEPAT!! Atau kamu mau kita habis juga, Yah!! " bentaknya sambil mengacungkan goloknya pada Kania.

Kania semakin ketakutan. " Tolong.... Tolong...... ada begal... Tolong...!! " Kania berteriak kencang sambil berusaha untuk kabur dari tempat itu.

" Hei, Cung. Dia kabur!! Cepat kejar dan rampas kunci motornya!! "

Keempatnya bergegas mengejar Kania yang terus lari tak tentu arah. Sampai di suatu tempat Kania terjatuh. Sebelah kakinya terperosok ke dalam lobang.

Kania menangis karena rasa sakit yang dia rasakan di kakinya dan juga rasa takut.

Keempat begal itu juga sampai di tempat Kania. Mereka serentak turun dan menghambat Kania.

" Hah, kena juga kamu akhirnya. Cepat serahkan kunci motornya. Sebelum kami habisi kamu di sini." bentak salah seorang dari mereka. Dia kemudian mencabut goloknya dan menodongkannya ke arah Kania.

Kania memejamkan matanya. Dia pasrah karena tak bisa lagi melawan. Kakinya terasa sakit sekali hingga sulit untuk digerakkan.

" Lepaskan gadis itu!!! " suara bentakan terdengar dari arah belakang. Membuat keempat begal itu serentak menoleh.

Seorang pemuda berdiri tak jauh dari sana. Tersenyum mengejek ke arah mereka.

" BANCI.. hanya berani mengeroyok perempuan yang sudah tak berdaya. Sini kalau berani, lawan aku! " tantangnya.

Keempat orang itu menjadi berang karena merasa diremehkan. Keempatnya langsung meringsek maju untuk menyerang pemuda tersebut secara bersamaan. Namun sebelum mereka berhasil mendaratkan serangan mereka, tiba-tiba saja keempatnya mundur bersamaan.

" Matanya.... matanya bersinar kuning kemerahan. Dia bukan manusia...! Kabur...!!! Cepat kabur, selamatkan diri kalian...!!! seru salah seorang dari mereka. Mereka kabur berpencar entah kemana meninggalkan motor mereka yang tergeletak begitu saja.

Sedangkan Kania hanya bisa bengong menyaksikan semua itu. Dia hanya bisa pasrah karena tak bisa bergerak lagi. Mungkin tulang kakinya ada yang patah atau retak karena rasanya sakit sekali jika digerakkan.

Pemuda itu kini sudah berada di hadapan Kania.

Kania memberanikan diri melihat ke arah pemuda itu. Pemuda yang telah menyelamatkan dirinya dari begal - begal yang berniat untuk mencelakai dirinya tadi.

Benar saja... mata pemuda itu berwarna kuning kemerahan. Mata itu berbentuk seperti mata kucing. Instingnya mengatakan bahwa pemuda di hadapannya itu bukanlah manusia! Mendadak ketakutannya yang tadi perlahan-lahan hilang, kini hadir kembali. Yah....Kania merasa sangat ketakutan. Lepas dari begal kini masuk dalam cengkraman makhluk Alien, pikirnya.

" Jangan takut, aku bukan makhluk Alien seperti yang ada dalam pikiranmu itu. Namaku Arkana. Siapa namamu, Nona?" tanya pemuda itu.

Mata Kania jadi membesar. Antara malu dan kaget. Dia tak menyangka pemuda itu bisa mengetahui apa yang ada di dalam pikirannya.

" Namaku Kania Wulandari. Kamu bisa memanggilku Kania. " jawab Kania.

" Baiklah nona Kania, aku mohon izinmu karena aku mau mengangkat tubuhmu dari lubang itu." tunjukknya ke arah lubang di kaki Kania.

Meski takut dan malu, Kania pun akhirnya pasrah dan mengangguk, memberi izin kepada pemuda itu untuk mengangkat tubuhnya yang tak berdaya karena tak bisa bergerak.

Dengan entengnya, pemuda itu mengangkat tubuh Kania dan meletakkannya di pinggir trotoar jalan.

" Permisi, sekali lagi aku mohon izin untuk melihat kakimu, Nona Kania!"

" Iya, silahkan, tuan Arkana! " katanya dengan gugup. Baru kali ini dia disentuh oleh lawan jenisnya. Meskipun dia seorang perawat yang merawat pasien laki-laki atau perempuan, tapi itu hanya sebatas profesionalitas saja.

" Hmm, tampaknya tulang kakimu patah, nona. Itu sebabnya kamu tak bisa menggerakkan kakimu. Mari sini, aku obati..! "

Selesai berkata demikian, pemuda itu meletakkan tangan kanannya di atas kaki Kania yang sakit. Tangan itu mengeluarkan cahaya putih kekuningan yang terasa hangat ketika menyentuh kulit kaki Kania.

" Sudah. Sekarang kakimu sudah sembuh seperti sedia kala. Kamu sudah bisa berjalan lagi sekarang. Ayo, cobalah untuk berdiri." perintah pemuda itu pada Kania.

Dengan ragu Kania berusaha bangun dan berdiri. Ajaib sekali..! Kakinya kini sudah tak sakit lagi dan dia bisa berdiri tegak kembali. Kania mencoba berjalan beberapa langkah. Benar - benar tak bisa dipercaya. Dia bisa berjalan dengan normal. Kania berseru gembira dan merasa sangat bersyukur sekali.

" Terima kasih, tuan Arkana...! " Kania berpaling namun pemuda itu sudah menghilang dari tempat itu.

" Tuan Arkana.... Tuan...! " serunya memanggil nama pemuda itu. Namun tak ada siapapun di sana.

" Cepat tinggalkan tempat ini, Nona Kania. Tempat ini berbahaya untukmu! "

Suara Arkana terdengar di telinga Kania seperti berbisik membuat gadis itu menjadi merinding.Dia pun bergegas pergi meninggalkan tempat itu menuju tempat di mana terakhir dia meninggalkan motor miliknya.

" Iya, aku ingin bertemu denganmu. Bolehkah...? " tanya Pangeran Arkana.

Kania menatap heran di arah Pangeran Arkana. "Menemuiku,... ada apa...? "

"Aku ingin berteman denganmu..." kata Pangeran itu, menatap penuh asa.

' Apa....oh, maksudnya tentu saja. Kita memang berteman..." kata Kania. Dia merasa canggung saat berhadapan dengan Pangeran Arkana.

Kania melirik ke arah Pangeran Arkana yang masih berdiri tegak di sebelah pilar. Lelaki itu sosoknya tinggi sekali dan gagah. Matanya..... berwarna seperti mata kucing dengan bintik kuning di tengah. Rambutnya dikuncir setengah hingga membuat wajahnya semakin tampan.

"Nona Kania, apakah kamu keberatan jika aku ingin mengajakmu jalan - jalan sekarang..? " tanya Pangeran Arkana.

" Hah, ja-jalan - jalan..? Malam malam begini...? "

Belum lagi hilang keterkejutan Kania atas tawaran Pangeran Arkana, lelaki itu sudah membawanya terbang melesat ke awan. Kania menjerit ketakutan sambil menutup mata. Ngeri dan takut jatuh dari ketinggian, membuat dia tanpa sadar memeluk erat Pangeran Arkana.

Beberapa saat kemudian, Pangeran Arkana menyuruhnya membuka mata.

"Bukalah matamu, kita sudah sampai! "

Kania membuka matanya. Mulutnya ternganga lebar. Dia berada di puncak sebuah menara yang tinggi sekali.

"Menara Eiffel...!!!?? " seru Kania.

Terpopuler

Comments

Mr.VANO

Mr.VANO

flash back,kirany di ulang,,,gak ad tandany,,,

2023-06-13

0

Feisya Caca

Feisya Caca

Arkana langsung cus teleportasi keliling dunia🤣🤣

2023-05-08

0

Berdo'a saja

Berdo'a saja

enak sekali yaa sekali hentak sampai dimenara Eiffel

2023-02-01

0

lihat semua
Episodes
1 Bab. 1 Pangeran Arkana
2 Bab. 2 Perjumpaan
3 Bab. 3 Penyerbuan Di Istana Bukit Malaikat
4 Bab. 4 Pandangan Mata Bathin Ki Anom
5 Bab. 5 Penglihatan Sang Pangeran
6 Bab. 6 Penglihatan Sang Pangeran ( Part 2 )
7 Bab. 7 Kisah Pedang Mata Malaikat
8 Bab. 8 Tumbal Darah Perawan ( Bagian 1 )
9 Bab. 9 Tumbal Darah Perawan ( Part 2 )
10 Bab. 10 Tumbal Darah perawan ( part 3 )
11 Bab. 11 Tumbal Darah Perawan (Part 4)
12 Bab. 12 Tumbal Darah Perawan ( Part 5)
13 Bab. 13 Tumbal Darah Perawan (Part 6)
14 Bab. 14 Tumbal Darah Perawan (Part 7)
15 Bab. 15 Tumbal Darah Perawan (Part 8)
16 Bab. 16 Tumbal Darah Perawan (Part 9)
17 Bab. 17 Dimensi ke Empat
18 Bab. 18 Nyi Ratu Blorong
19 Bab. 19 Zahra Menghilang
20 Bab. 20 Negeri di Negeri Tak Bertuan
21 Bab. 21 Negeri di Negeri tak Bertuan
22 Bab. 22 Dunia Cermin..
23 Bab. 23 Bertemu Zamura
24 Bab. 24 Makhluk Apakah Kamu..?
25 Bab. 25 Manusia Harimau
26 Bab. 26 Kutukan Lamma
27 Bab. 27 Ramalan Zaggart
28 Bab. 28 Buto Ijo (Part 1)
29 Bab. 29 Buto Ijo (Part 2)
30 Bab. 30 Buto Ijo ( Part 3 )
31 Bab. 31 Kejujuran Pangeran Khalied
32 Bab. 32 Roh Perawan Suci
33 Bab. 33 Roh Perawan Suci ( Part 2 )
34 Bab. 34 Roh Perawan Suci ( Part 3)
35 Bab. 35 Makhluk dari Neraka
36 Bab. 36 Kebinasaan Iblish pohon
37 Bab. 37 Cemburu...
38 Bab. 38 Gunung Hantu dan Gunung Siluman
39 Bab. 39 Perangkap Kalla
40 Bab. 40 Perangkap Kalla ( Part 2)
41 Bab. 41 Kristal Arwah
42 Bab. 42 Pertemuan Lima Bintang
43 Bab. 43 Makhluk Panghisap Darah
44 Bab. 44 Pertarungan dengan Nagini
45 Bab. 45
46 Bab. 46 Pertarungan dengan Nagini ( part 3)
47 Bab. 47 Pertarungan Dengan Nagini (Part 4)
48 Bab. 48 Aku Bahagia Bersamamu
49 Bab. 49 Kehilangan
50 Bab. 50
51 Bab. 51 Trubuks
52 Bab. 52 Ifrit
53 Bab. 53 Godaan
54 Bab. 54 Kita bagai langit dan Bumi
55 Bab. 55 Kapal Pengangkut Jiwa
56 Bab 56
57 Bab. 52 Kapal Pengangkut Jiwa ( Part 3 )
58 Bab. 58
59 Bab. 59
60 Bab. 60
61 Bab. 61
62 bab. 62 Bluma...
63 Bab. 63 Bluma ( Part 2 )
64 Bab. 64 Bluma ( Part 4)
65 Bab. 65 Kembalinya Nagini
66 Bab. 66
67 Bab. 67 Pedang Mata Malaikat
68 Bab. 68 Kembali ke Alam Dunia.
69 Bab. 69 Pulang.....
70 Bab. 70 Pulang ( Part 2 )
71 Bab. 71 Batu Lima Bintang
72 Bab. 72 Batu Lima Bintang ( Part 2 )
73 Bab. 73 Pintu Ke alam Dunia.
74 Bab. 74 Pertemuan Kembali
75 Bab. 75 Permintaan Sang Ayah
76 Bab. 76
77 Bab. 77
78 Bab. 78 Waktu yang Terhenti
79 Bab. 79
80 Bab. 80 Penghuni Hutan Alas Roban
81 Bab. 81
82 Bab. 82 Tumbal Berdarah
83 Bab. 83
84 Bab. 84 Serangan Gelap
85 Bab. 85 Talak
86 Bab. 86
87 Bab. 87
88 Bab. 88 Kematian Ki Bawut
89 Bab. 89
90 Bab. 90 Nayyara
91 Bab. 91 Kuntilanak
92 Bab. 92 Kuntilanak (Part 2 )
93 Bab. 93 Hilangnya Kania
94 Bab. 94 Pencarian Kania
95 Bab. 95
96 Bab. 96
97 Bab. 97 Pertarungan Berdarah
98 Bab. 98 Pertarungan Berdarah ( part 2 )
99 Bab. 99 Pertarungan Berdarah
100 Bab. 100 Kematian Iblis Merah
101 Bab. 101 Pertarungan Besar ( Part 1)
102 Bab. 102 Pertarungan Besar ( Part 2 )
103 Bab. 103 Pertarungan Besar ( Part 3)
104 Bab. 104 Waktu Yang Terhenti
105 Bab. 105 Waktu Yang Terhenti ( Part 2 )
106 Bab. 106 Menemukan Cinta Yang Hilang.
107 Bab. 107 Menemukan Cinta Yang Hilang.
108 Bab. 108 Pertemuan Kembali
109 BAB. 109
110 Bab. 110
111 Bab. 111 Andai waktu bisa Kembali
112 Bab. 112
113 Bab. 113 GUNDERUWO
114 Bab. 114
115 Bab. 115
116 Bab. 116 Janji Pangeran Arkana
117 Bab. 117 Perjanjian Keramat
118 Bab. 118 Perjanjian Keramat ( Part 2 )
119 Bab. 119 Kerasukan
120 Bab. 120 Akhir Untuk Bahar
121 Bab. 121 Ajakan Kencan ( Edisi Pangeran Khalied)
122 Bab. 122
123 Bab. 123 Mencintai Pangeran Khalied
124 Bab. 124 Kisah Putri Humaira
125 Bab. 125 Kisah Putri Humaira ( Part 2)
126 Bab. 126 Kisah Balqis
127 Bab. 127 Kisah Balqis ( Part 2 )
128 Bab. 128 Kisah Balqis ( Part 3 )
129 Bab. 129 Cintai Aku, Zyftar
130 Bab. 130 Hukuman
131 Bab. 131 Pernikahan
132 Bab. 132 Keberatan Pangeran Sa'if
133 Bab. 133 Kisah Zyftar, Jin Bermata Merah.
134 Bab. 134 Pangeran Kuda Putih
135 Bab. 135 Keluarga Kecil
136 Bab. 136 Kisah Di Awal Pagi
137 Bab. 137 Bertemu Mei Fang di Dunia Nyata.
138 Bab. 138 Kecemburuan Zahra...
139 Bab. 139 Menikahlah Dengan ku Zahra..
140 Bab. 140 Permohonan Pangeran Khalied
141 Bab. 141
142 Bab. 142 Karma Yang Tertinggal
143 Bab. 143 Karma Yang Tertinggal
144 Bab. 144 Batu Giok Setan
145 Bab. 145 Melamar Zahra
146 Bab. 146 Acara Lamaran
147 Bab. 147 Pangeran Serigala
148 Bab. 148
149 Bab. 149 Tanda Bakti Pangeran Fatan
150 Bab. 150 Putri Meizh Vs Pangeran Fatan.
151 Bab. 151 Pangeran Serigala Vs Naga Lembu Amur
152 Bab. 152
153 Bab. 153 Prahara Bulan Berdarah
154 Bab. 154 Penyerbuan Kawanan Serigala
155 Bab. 155 Kedatangan Musuh Lama
156 Bab. 156 Kematian Rawing
157 Bab. 157 Jangan Mandi Senja
158 Bab. 158 Kerajaan Alas Amarta.
159 Bab. 159 Kerajaan Alas Amarta
160 Bab. 160 Ayo kita Pulang..!
161 Bab. 161 Menikah
162 Bab. 162 MP
163 Bab. 163 MP ( episode 2)
164 Bab. 164 Panggilan Pangeran Arkana
165 Bab. 165 Bangunlah dari Mimpi Burukmu
166 Bab. 166 Sate Padang
167 Bab.167 Pedang dan Cinta
Episodes

Updated 167 Episodes

1
Bab. 1 Pangeran Arkana
2
Bab. 2 Perjumpaan
3
Bab. 3 Penyerbuan Di Istana Bukit Malaikat
4
Bab. 4 Pandangan Mata Bathin Ki Anom
5
Bab. 5 Penglihatan Sang Pangeran
6
Bab. 6 Penglihatan Sang Pangeran ( Part 2 )
7
Bab. 7 Kisah Pedang Mata Malaikat
8
Bab. 8 Tumbal Darah Perawan ( Bagian 1 )
9
Bab. 9 Tumbal Darah Perawan ( Part 2 )
10
Bab. 10 Tumbal Darah perawan ( part 3 )
11
Bab. 11 Tumbal Darah Perawan (Part 4)
12
Bab. 12 Tumbal Darah Perawan ( Part 5)
13
Bab. 13 Tumbal Darah Perawan (Part 6)
14
Bab. 14 Tumbal Darah Perawan (Part 7)
15
Bab. 15 Tumbal Darah Perawan (Part 8)
16
Bab. 16 Tumbal Darah Perawan (Part 9)
17
Bab. 17 Dimensi ke Empat
18
Bab. 18 Nyi Ratu Blorong
19
Bab. 19 Zahra Menghilang
20
Bab. 20 Negeri di Negeri Tak Bertuan
21
Bab. 21 Negeri di Negeri tak Bertuan
22
Bab. 22 Dunia Cermin..
23
Bab. 23 Bertemu Zamura
24
Bab. 24 Makhluk Apakah Kamu..?
25
Bab. 25 Manusia Harimau
26
Bab. 26 Kutukan Lamma
27
Bab. 27 Ramalan Zaggart
28
Bab. 28 Buto Ijo (Part 1)
29
Bab. 29 Buto Ijo (Part 2)
30
Bab. 30 Buto Ijo ( Part 3 )
31
Bab. 31 Kejujuran Pangeran Khalied
32
Bab. 32 Roh Perawan Suci
33
Bab. 33 Roh Perawan Suci ( Part 2 )
34
Bab. 34 Roh Perawan Suci ( Part 3)
35
Bab. 35 Makhluk dari Neraka
36
Bab. 36 Kebinasaan Iblish pohon
37
Bab. 37 Cemburu...
38
Bab. 38 Gunung Hantu dan Gunung Siluman
39
Bab. 39 Perangkap Kalla
40
Bab. 40 Perangkap Kalla ( Part 2)
41
Bab. 41 Kristal Arwah
42
Bab. 42 Pertemuan Lima Bintang
43
Bab. 43 Makhluk Panghisap Darah
44
Bab. 44 Pertarungan dengan Nagini
45
Bab. 45
46
Bab. 46 Pertarungan dengan Nagini ( part 3)
47
Bab. 47 Pertarungan Dengan Nagini (Part 4)
48
Bab. 48 Aku Bahagia Bersamamu
49
Bab. 49 Kehilangan
50
Bab. 50
51
Bab. 51 Trubuks
52
Bab. 52 Ifrit
53
Bab. 53 Godaan
54
Bab. 54 Kita bagai langit dan Bumi
55
Bab. 55 Kapal Pengangkut Jiwa
56
Bab 56
57
Bab. 52 Kapal Pengangkut Jiwa ( Part 3 )
58
Bab. 58
59
Bab. 59
60
Bab. 60
61
Bab. 61
62
bab. 62 Bluma...
63
Bab. 63 Bluma ( Part 2 )
64
Bab. 64 Bluma ( Part 4)
65
Bab. 65 Kembalinya Nagini
66
Bab. 66
67
Bab. 67 Pedang Mata Malaikat
68
Bab. 68 Kembali ke Alam Dunia.
69
Bab. 69 Pulang.....
70
Bab. 70 Pulang ( Part 2 )
71
Bab. 71 Batu Lima Bintang
72
Bab. 72 Batu Lima Bintang ( Part 2 )
73
Bab. 73 Pintu Ke alam Dunia.
74
Bab. 74 Pertemuan Kembali
75
Bab. 75 Permintaan Sang Ayah
76
Bab. 76
77
Bab. 77
78
Bab. 78 Waktu yang Terhenti
79
Bab. 79
80
Bab. 80 Penghuni Hutan Alas Roban
81
Bab. 81
82
Bab. 82 Tumbal Berdarah
83
Bab. 83
84
Bab. 84 Serangan Gelap
85
Bab. 85 Talak
86
Bab. 86
87
Bab. 87
88
Bab. 88 Kematian Ki Bawut
89
Bab. 89
90
Bab. 90 Nayyara
91
Bab. 91 Kuntilanak
92
Bab. 92 Kuntilanak (Part 2 )
93
Bab. 93 Hilangnya Kania
94
Bab. 94 Pencarian Kania
95
Bab. 95
96
Bab. 96
97
Bab. 97 Pertarungan Berdarah
98
Bab. 98 Pertarungan Berdarah ( part 2 )
99
Bab. 99 Pertarungan Berdarah
100
Bab. 100 Kematian Iblis Merah
101
Bab. 101 Pertarungan Besar ( Part 1)
102
Bab. 102 Pertarungan Besar ( Part 2 )
103
Bab. 103 Pertarungan Besar ( Part 3)
104
Bab. 104 Waktu Yang Terhenti
105
Bab. 105 Waktu Yang Terhenti ( Part 2 )
106
Bab. 106 Menemukan Cinta Yang Hilang.
107
Bab. 107 Menemukan Cinta Yang Hilang.
108
Bab. 108 Pertemuan Kembali
109
BAB. 109
110
Bab. 110
111
Bab. 111 Andai waktu bisa Kembali
112
Bab. 112
113
Bab. 113 GUNDERUWO
114
Bab. 114
115
Bab. 115
116
Bab. 116 Janji Pangeran Arkana
117
Bab. 117 Perjanjian Keramat
118
Bab. 118 Perjanjian Keramat ( Part 2 )
119
Bab. 119 Kerasukan
120
Bab. 120 Akhir Untuk Bahar
121
Bab. 121 Ajakan Kencan ( Edisi Pangeran Khalied)
122
Bab. 122
123
Bab. 123 Mencintai Pangeran Khalied
124
Bab. 124 Kisah Putri Humaira
125
Bab. 125 Kisah Putri Humaira ( Part 2)
126
Bab. 126 Kisah Balqis
127
Bab. 127 Kisah Balqis ( Part 2 )
128
Bab. 128 Kisah Balqis ( Part 3 )
129
Bab. 129 Cintai Aku, Zyftar
130
Bab. 130 Hukuman
131
Bab. 131 Pernikahan
132
Bab. 132 Keberatan Pangeran Sa'if
133
Bab. 133 Kisah Zyftar, Jin Bermata Merah.
134
Bab. 134 Pangeran Kuda Putih
135
Bab. 135 Keluarga Kecil
136
Bab. 136 Kisah Di Awal Pagi
137
Bab. 137 Bertemu Mei Fang di Dunia Nyata.
138
Bab. 138 Kecemburuan Zahra...
139
Bab. 139 Menikahlah Dengan ku Zahra..
140
Bab. 140 Permohonan Pangeran Khalied
141
Bab. 141
142
Bab. 142 Karma Yang Tertinggal
143
Bab. 143 Karma Yang Tertinggal
144
Bab. 144 Batu Giok Setan
145
Bab. 145 Melamar Zahra
146
Bab. 146 Acara Lamaran
147
Bab. 147 Pangeran Serigala
148
Bab. 148
149
Bab. 149 Tanda Bakti Pangeran Fatan
150
Bab. 150 Putri Meizh Vs Pangeran Fatan.
151
Bab. 151 Pangeran Serigala Vs Naga Lembu Amur
152
Bab. 152
153
Bab. 153 Prahara Bulan Berdarah
154
Bab. 154 Penyerbuan Kawanan Serigala
155
Bab. 155 Kedatangan Musuh Lama
156
Bab. 156 Kematian Rawing
157
Bab. 157 Jangan Mandi Senja
158
Bab. 158 Kerajaan Alas Amarta.
159
Bab. 159 Kerajaan Alas Amarta
160
Bab. 160 Ayo kita Pulang..!
161
Bab. 161 Menikah
162
Bab. 162 MP
163
Bab. 163 MP ( episode 2)
164
Bab. 164 Panggilan Pangeran Arkana
165
Bab. 165 Bangunlah dari Mimpi Burukmu
166
Bab. 166 Sate Padang
167
Bab.167 Pedang dan Cinta

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!