Asap hitam itu kini menutupi tubuh keduanya. Secara perlahan-lahan tubuh keduanya terseret ke dalam sebuah pusaran. Kedua makhluk yang berbeda asal itu terus saja terseret masuk ke dalam sebuah pusaran angin yang berputar kencang dan terus melemparkan tubuh mereka ke sebuah tempat.
"Dimana ini...? " kata Kania begitu asap hitam itu sudah menghilang.
" Dimensi ke empat, dimensi alpa... "
...----------------...
Sementara itu, jauh di atas puncak bukit Malaikat, sesosok bayangan terlihat sedang berdiri kokoh memandang ke arah luar gerbang istana yang tertutup rapat. Dari atas, terlihat bala tentara Raja Iblis Baal yang masih terus berusaha untuk masuk ke dalam istana yang kini sudah di masih terkunci dan terlindung oleh pagar ghaib yang tak bisa di tembus oleh para tentara itu.
"Aku harus secepatnya menemukan pedang mata malaikat, karena keadaan sudah semakin genting. Tapi Ki Anom belum menemukan tanda - tanda keberadaan pedang itu dan juga pintu gerbang dimensi ke empat yang beberapa waktu lalu sempat tertutup dan menghilang... " dia berguman sendiri.
" Pangeran Khalied, rupanya ananda di sini. Aku mencari - cari dirimu !" seru Sang bunda yang tak lain adalah ratu Asmi.
Pangeran gagah dan tampan itu menoleh dan tampak olehnya bundanya sudah berdiri di belakangnya. Segera Pangeran Khalied meraih tangan bundanya menciumnya dengan takjim sebagai tanda bakti.
"Ada apa gerangan...? Kenapa ibunda datang mencariku..? " tanya Pangeran Khalied.
" Tidak ada. Aku hanya merindukan anak lelakiku yang tampan. Akhir - akhir ini, kamu suka sekali menghilang dari istana." sindir sang Bunda.
Ada senyum yang menggantung di sudut bibir wanita yang masih saja tampak cantik dan awet muda itu saat menatap sang Putra yang kini sudah beranjak dewasa.
" Hemm, Ananda hanya sedang ada urusan sedikit..." jawab Pangeran Khalied sambil tersenyum memeluk ibunya.
"Mengapa Bunda terlihat risau. Apakah bunda ratu sedang memikirkan apa yang dilihat dalam ayahanda dalam pandangan mata bathin Ki Anom.? " tanyanya Pangeran Khalied.
Asmi tersenyum menerima perilaku manis putranya yang satu ini. Sejak kecil, Pangeran Khalied selalu dapat membaca semua keinginan dirinya dan selalu saja berusaha untuk melindungi dirinya.
Bahkan saat Azyziel hendak kembali menculik dirinya, Pangeran Khalied kecil mati - matian menyelamatkan dirinya dari cengkraman jin yang satu itu.
"Rupanya Bunda tak pernah bisa menyembunyikan apapun darimu, Pangeran Khalied...? " ujar Asmi.
"Bunda jangan terlalu merisaukan semua itu. Apa yang akan terjadi, jika memang takdir Allah berkehendak, tak ada yang bisa mencegahnya. Sunatullah adalah Qada atas suratan hidup makhluknya. Kita hanya bisa berikhtiar, selebihnya Allah yang menentukan." kata Pangeran Khalied bijak. Asmi tersenyum mendengar ucapan putra bungsunya itu. Rupanya, ada yang tidak dia sadari bahwa kini pemikiran putranya sudah jauh lebih dewasa dari sebelumnya. Apa yang terjadi...?
" Pangeran Khalied, jawab bunda dengan jujur, apakah kamu sedang jatuh cinta...?"
Pangeran Khalied mengurai pelukannya dan menatap wajah ibunya. "Dari mana bunda mengetahui kalau Ananda sedang jatuh cinta..? Apakah sangat jelas terlihat..?"
Asmi tak dapat menahan tawa. "Hahaha, benar dugaanku, ternyata putraku sedang jatuh cinta... "
Wajah Pangeran Khalied memerah seperti tomat. Dia merasa sangat malu. Ternyata ibunya tahu kalau saat ini pangeran Khalied sedang jatuh cinta.
" Apakah aku mengenalnya...? Apakah Putri Hafizah atau Putri Rasyifa ...? " tanya Sang ibu. Dua nama terakhir adalah dua gadis dari golongan bangsa jin, anak dari Panglima Basyar dan Raja Jin penguasa laut Utara, Raja Zagar.
"Tidak keduanya. Mereka hanya temanku. " jawab Pangeran Khalied.
" Lantas, dengan siapa, wahai anakku..?" tanya Asmi penasaran..
" Bunda, aku tak bisa menjawabnya sekarang karena saat ini, aku tidak sedang menjalin hubungan dengan gadis jin manapun di negeri ini, bunda..." kata Pangeran Khalied kepada ibunya.
Asmi terdiam mendengar ucapan Putra. Katanya sedang jatuh cinta, tapi mengaku tidak mempunyai hubungan dengan gadis manapun di negeri ini. Bagaimana bisa.....
Asmi berpikir sejenak. Otaknya berusaha keras mencerna arti kata ucapan Putranya.
" Bunda Ratu tak usah risau memikirkan perkataan ananda. Ananda saat ini sedang tidak memiliki seorangpun kekasih... " kata Pangeran Khalied.
Namun, bukannya berhenti, Asmi semakin berpikir keras.
Tiba-tiba...
" Bunda tahu sekarang, apakah benar semua seperti yang bunda pikirkan...? tanya Asmi sambil menatap tajam bola mata milik Pangeran Khalied yang sangat mirip dengan ayahnya.
"Bundaku memang yang terbaik... " kata Pangeran Khalied.
" Manusia....? "
"Dia sama seperti bunda, ras manusia." jawab Pangeran Khalied.
"Apakah kamu mencintainya, Pangeran Khalied....?" tanya Sang bunda.
" Hemm, ananda tak tahu apa itu cinta. Tapi ananda merasa takut jika dia jauh dari ananda. Ananda selalu ingin melindungi dirinya. Dia begitu lembut dan juga lugu. Wajahnya selalu berseri - seri dan bercahaya." kata Pangeran Khalied sambil membayangkan wajah lembut Zahra.
Tiba-tiba, mata Pangeran Khalied berubah menjadi merah. Taring - taringnya seketika memanjang keluar.
" Bunda, aku harus pergi. 'Dia' dalam bahaya... "
Pangeran Khalied mencium tangan Asmi dan kemudian melesat pergi menghilang dari pandangan Asmi dalam sekejap mata.
" Dia...? Maksudnya dia....? "
Mulut Asmi terbuka lebar saat menyadari bahwa yang dimaksud dengan 'dia' adalah kekasih manusia dari putranya.
...----------------...
Suasana malam di Kampung Salak yang sunyi di pinggiran kota malam itu berubah mencekam ketika segerombolan preman mendatangi sebuah rumah kecil di pinggiran kali yang dihuni oleh dua orang manusia yang sedang terlelap dalam mimpi.
Dengan paksa mereka menerobos masuk ke dalam rumah dengan cara mendobrak pintu yang hanya terbuat dari triplek bekas itu.
Mpok Suri, ibunya Zahra langsung terbangun begitu mendengar suara gaduh yang berasal dari depan rumahnya. Dia pun segera membangunkan Zahra yang tengah pulas tertidur.
Berdua, mereka segera keluar kamar untuk melihat apa yang terjadi.
" Siapa kalian...!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 167 Episodes
Comments
Oktavia
ini ceritanya gmn ya ? bukannya asmi wafat ya
2023-06-25
2
Mr.VANO
masuk rmh org seenakny,,,,sdh kyk kambing ajah itu maling
2023-06-14
0
Berdo'a saja
waah para mencari tumbal tuh kayaknya
2023-02-01
0