Zahra menoleh ke arah datangnya suara. Tampak olehnya, pemuda yang menolongnya beberapa hari yang lalu kini telah berdiri beberapa meter jaraknya di belakang tubuhnya.
" Khalied...?! "
"Eh, maksudnya tuan Khalied... "
Pangeran Khalied menghampiri Zahra yang masih berdiri terpaku menatapnya.
"Sedang memikirkan aku..? " tanya Pangeran Khalied. Tatapan matanya menghujam langsung ke manik mata Zahra.
Zahra menjadi gugup dan salah tingkah. Jantungnya berdegup kencang. "Oh Tuhan... bagaimana mungkin cowok ini bisa tahu, kalau aku sedang memikirkan dirinya? " tanya Zahra dalam hati.
" Tak usah kau pikirkan bagaimana aku bisa tahu bahwa kamu sedang memikirkan diriku. Yang ingin ku tanyakan, ada apa? " tanya Pangeran Khalied lagi.
Ada kegusaran dalam diri pangeran muda itu karena tak bisa menebak isi hati wanita di depannya.
Padahal seperti halnya ayah dan neneknya, Pangeran Khalied selalu bisa membaca isi hati dan pikiran lawan bicaranya. Namun, dengan Zahra adalah pengecualian.
Tadi, dia hanya kebetulan saja menebak isi hati gadis di depannya itu karena melihat Zahra yang sebentar - sebentar menoleh ke belakang.
Dan ternyata, meskipun gadis itu tidak menjawabnya, namun dari sikap dan sorot matanya, dia bisa melihat bahwa gadis itu sedang memikirkan keberadaan dirinya.
Zahra semakin gugup. Kepalang basah dirinya ketahuan sedang memikirkan pemuda di depannya, akhirnya gadis cantik berwajah sendu itu akhirnya menjawab.
" Tidak ada, aku hanya ingin berterima kasih kepadamu, tuan... "
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu...! " potong Pangeran Khalied cepat dengan intonasi suara yang sedikit meninggi. Dia menjadi semakin gusar. Yang terjadi kemudian adalah mata pemuda itu menyala merah dan taringnya menjadi semakin panjang.
Tenggorokan Zahra seperti tercekik. Untuk sesaat nyali Zahra menjadi ciut. Benar dugaannya, bahwa pemuda ini bukanlah pemuda biasa. Bisa jadi, dia juga bukan manusia biasa. Kakinya seakan di selimuti balok es, membeku.
Tapi kemudian, sebuah keyakinan dalam dirinya timbul, bahwa apapun wujud pemuda itu, dia tak akan mungkin melukai Zahra apalagi membunuhnya.
Karena andai saja dia berniat untuk melukai Zahra, maka sudah sejak beberapa hari yang lalu hal itu dia lakukan. Karena amatlah mudah bagi pemuda itu mengalahkan anak buah si Codet, maka hal yang sama berlaku juga untuk dirinya.
"Maafkan, aku. Aku tak bisa mengontrol diriku. Tak perlu memanggilku tuan, cukup Khalied saja.." suara Pangeran Khalied berubah menjadi lunak saat Pangeran muda itu menyadari akan perubahan raut wajah Zahra. 'Pasti dia sangat ketakutan saat melihatku tadi...!' kata Pangeran Khalied dalam hati.
Zahra terdiam, lalu kemudian berucap. "Aku mau mengucapkan terima kasih padamu, Kak. Berkat pil yang kakak berikan untuk ibuku, kini keadaan ibuku sudah kembali sehat seperti sedia kala."
Pangeran Khalied tercengang. Panggilan 'kakak' yang ditujukan Gadis itu untuk dirinya, membuat Pangeran Khalied merasa berbeda. Ada bunga - bunga di hatinya. Seketika, matanya yang berwarna merah berubah warna menjadi kuning.
Kini mata pangeran tampan itu makin bersinar-bersinar di tengah-tengah kegelapan malam.
" Ah, itu. Hal kecil seperti itu tidak usah terlalu dibuat besar. Alhamdulillah, kalau Ibumu sudah kembali sehat. Aku ikut senang... " kata Pangeran Khalied sambil tersipu malu. Baru kali ini ada seorang anak manusia yang mengucapkan terima kasih kepadanya.
Zahra ikut tersenyum seraya menatap Pangeran Khalied.
"Kak, matamu bisa berubah warna menjadi kuning. Ajaib sekali...! Baru kali ini aku melihat orang yang matanya bisa berganti warna." tunjuk Zahra pada Pangeran Khalied.
"Itu karena hatiku sedang senang atau pun bahagia." jawabnya.
Pangeran Khalied dan Zahra lalu berjalan beriringan menyusuri jalan menuju ke rumah Zahra.
"Lucu sekali, kakak ini. Warna matanya dipengaruhi oleh suasana hatinya. Apa kak Khalied itu sejenis mutan...?" tanya Zahra.
Dia teringat cerita di film yang pernah dia lihat tentang mutan. Makhluk yang memiliki kekuatan melebihi manusia biasa. Salah satu pemeran mutan wanitanya memiliki mata yang bisa berubah menjadi bermacam warna sesuai di warna tubuhnya.
"Jadi kalau warna mata kakak hitam. Artinya apa, Kak? " tanya Zahra.
" Itu adalah kematian bagi yang melihatnya." kata Pangeran Khalied. Zahra bergidik mendengarnya.
"Mata bangsa kami umumnya berwarna seperti mata kucing dengan bintik terang di tengah. Namun jika warna mata kami berubah hitam semua, itu artinya kami berada pada puncaknya amarah, sehingga amatlah berbahaya bagi kalian untuk mendekat."
"Bangsa kami...? Apakah maksudnya.. bangsa kakak dan bangsaku berbeda? Apakah kakak berasal dari negara lain?" tanya Zahra dengan polosnya.
Pangeran Khalied tersenyum mendengar pertanyaan Zahra.
"Bukan itu yang kumaksud, bangsa kami adalah bangsa... "
"Zahra.....! "
Zahra menoleh dan mendapati ibunya sudah berdiri di depannya. Ternyata dia sudah sampai di depan rumahnya. Saat Zahra menoleh ke samping, Pangeran Khalied sudah tak ada lagi di sebelahnya.
"Kamu bicara dengan siapa tadi..?" tanya Ibu Suri, ibunya Zahra.
"Ibu kok tahu, aku sedang berbicara dengan seseorang...? "
" Ibu mendengar suara kamu yang sedang bercakap-cakap dengan seseorang. Ibu pikir ada tamu, jadi Ibu keluar untuk melihat. Tapi.. ibu lihat kamu sendiri saja. Apa tamunya sudah pulang...? " tanya ibunya lagi.
" Iya, tamunya sudah pulang... " jawab Zahra. 'Aneh, kak Khalied cepat sekali jalannya. Aku sampai tak lihat dia pergi.. ' kata Zahra dalam hati.
Sementara itu, di markas si Codet. Beberapa orang anak buah si Codet terlihat sedang berkumpul di sana. Termasuk kelima pemuda yang beberapa hari yang lalu berniat hendak memperkosa Zahra. Mereka sedang menunggu kedatangan bos mereka. Siapa lagi kalau bukan si Codet.
"Gila, gue masih kebayang sama kejadian beberapa hari yang lalu. Sampai detik ini, gue jadi takut kalo pergi keluar rumah sendirian, apalagi pada malam hari. Ngeeri gue.. " kata seseorang yang di wajahnya terdapat bekas luka pada temannya yang berambut gondrong.
"Muke lo aja yang seram, Bon. Tapi hatimu hello kitty. Masa, begitu saja takut.. " celetuk temannya yang lain pada orang yang dipanggil Bono itu.
"Aah, Bang Jun. Abang kagak ngalamin yang kite - kite alamin. Coba kalo abang yang di sana. Abang juga bakalan mati berdiri... " tukas Bono. Keempat temannya yang lain mengangguk mengiyakan.
"Alaah, cemen. Bilang aja lo semua takut... " ejek lelaki yang dipanggil Bang Jun itu.
"Serah, Abang, dah. Yang jelas, kite - kite semua sudah ngalamin, melihat dengan mata kepala sendiri. Ada manusia yang bisa berubah menjadi makhluk yang menyeramkan. Dia bisa terbang dan memiliki taring yang panjang. Seperti vampir - vampir yang ada di film itu.. " jelas pemuda yang berambut gondrong.
"Ah, elo pade kebanyakan nonton film hantu. Mana ada zaman sekarang makhluk seperti itu. Yang begitu cuma ada di film - film saja. Jangan - jangan lo semua pada ngarang cerite.." kata Bang Jun lagi.
" Kita kagak ngarang, Bang. Ini nyata. Kalo abang masih tak percaya juga, kita semua ini yang jadi saksinya.. " kata Agus. Pemuda yang berbadan kurus ceking.
" Saksi apa.....? " tanya seseorang tiba-tiba.
Serentak semuanya menoleh dan langsung terdiam..
" BOS.. "
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 167 Episodes
Comments
Feisya Caca
ketagihan banget ceritanya kak 💓
2023-05-08
0
Berdo'a saja
mau komen apa yaa
2023-02-01
0
nor hidayah
Hahahahah...comel sekali bidalan..hati hello kitty..
2022-12-28
1