Tak butuh waktu lama Ziya berhasil mendapatkan kontrakan sederhana dengan harga cukup terjangkau. Gadis itu merasa sangat bersyukur, karena mendapatkan harga murah dari ibu kos. Padahal itu semua karena ulah Zeo.
Zeo yang membuat hati ibu kos bahagia melihat Ziya. Seolah-olah Ziya adalah putrinya yang telah lama meninggal.
"Syukurlah ibu kos nya baik sekali. Dia memberi harga sangat murah untuk kita, biasanya kontrakan seperti ini harganya lumayan mahal."
Ziya tak bisa menahan senyumnya saat merapikan pakaiannya ke dalam lemari. Kos yang ia sewa seperti rumah, walau minimalis tapi bersih.
Zeo ikut bahagia melihat senyuman Ziya. Merasa gadis itu baik-baik saja, walau telah melewati banyak masalah hari ini.
Sadar kalau Zeo melihatnya sedari tadi membuat Ziya malu. Gadis itu menutup wajahnya salah tingkah di tatap terus oleh kekasihnya.
"Aaa … jangan pandangi aku terus, aku malu, Zeo."
Ziya merengek manja membuat Zeo tertawa kecil. Dia menyukai perasaan Ziya saat ini, malu-malu kucing, bahagia dan suka bersamanya.
"Kamu tahu, Ziya! Dulu aku mengira matahari terbit itu sangat indah. Tapi, saat aku melihat matahari terbenam itu lebih indah. Lalu, aku melihat bulan purnama dan ternyata purnama lebih indah dari matahari terbit atau matahari terbenam."
"Dan sekarang aku sadar. Bahwa, ada yang lebih indah daripada purnama maupun matahari. Yaitu kamu! Semua yang ada padamu sangatlah indah."
Zeo berkata jujur dan puitis. Selama ini dia sangat gemar menunggu matahari terbit dan matahari terbenam. Tetapi, setelah bertemu dengan Ziya. Semuanya berubah.
Sontak wajah gadis itu merona malu. Namun, dia tak mampu menutup rasa bahagianya. Dia segera memeluk erat tubuh Zeo.
"Kamu juga sangat indah. Baik saat kamu menjadi Duyung ataupun manusia!" balas Ziya memuji Zeo membuat pipi pria tampan itu bersemu merah.
Keduanya berpelukan sesaat. Ziya teringat kalau Zeo tak memiliki banyak pakaian. Hanya celana pendek yang ia pakai saat ini.
Segera gadis itu melepaskan pelukannya dan mengambil ponsel lalu membuka aplikasi online shop. Dia membeli beberapa pakaian kaos dan celana pria.
"Apa yang kamu pegang itu?" tanya Zeo polos menatap benda persegi panjang dalam genggaman Ziya.
"Oh, ini namanya ponsel. Alat untuk berkomunikasi dengan orang, bisa juga menjadi alat untuk mendapatkan uang!" jelas Ziya berharap Zeo mengerti.
Pria itu terdiam sejenak lalu kembali bertanya.
"Uang itu apa?" tanya Zeo lagi membuat Ziya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Uang itu sejenis alat tukar untuk mendapatkan barang yang kita inginkan," jawab Ziya lagi membuat Zeo menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu, aku juga punya uang." Zeo memasukkan tangannya menembus dadanya. Cahaya berwarna putih terpancar saat tangan Zeo masuk ke dalam dadanya.
Cahaya itu mampu menyilaukan mata Ziya. Gadis itu menyipitkan matanya dan saat cahaya itu hilang, matanya terbuka lebar ketika melihat perhiasan emas di atas telapak tangan Zeo.
"E-emas? Ini emas sungguhan. Dari mana kamu mendapatkan ini, Zeo?" Ziya bertanya dengan nada serius. Gadis itu menelan ludahnya kasar tak menyangka akan melihat emas sungguhan sebanyak ini.
"Aku mendapatkan nya dari gudang emas milik ayahanda. Di kerajaan Duyung, kami juga melakukan barter untuk mendapatkan barang yang kami inginkan. Bisa dengan emas atau batu permata!" jelas Zeo santai membuat Ziya tersenyum cerah.
Dia sangat menginginkan emas ini untuk dijual guna membeli rumah baru dan menyambung kehidupan nya. Namun, dia tidak berani mengatakannya pada Zeo, karena tak ingin membuat pria itu mengira dirinya matre.
Zeo yang paham dengan tatapan Ziya pun langsung meletakkan emas itu ke dalam pangkuan Ziya.
"Ini untukmu, bila kurang kamu bisa meminta lagi padaku. Masih banyak yang aku simpan dalam permata kehidupan ku," ujar Zeo tersenyum kecil membuat Ziya terkejut.
Gadis itu memandangi Zeo dengan tatapan berbinar. Dia merasa sangat bahagia, karena Zeo sangatlah peka.
"Apa kamu serius dengan apa yang kamu katakan tadi? Kamu memberikan ku emas sebanyak ini?" tanya Ziya lagi guna memastikan.
"Benar." Zeo menganggukkan kepalanya.
Ziya merasa sangat bahagia, saking bahagianya dia mencium bibir Zeo membuat pria itu bahagia dan melahap bibir Ziya dengan rakus.
Terlintas bayangan percintaan anak manusia di tepi pantai membuat Zeo ingin mempraktekkan nya pada Ziya. Tangannya sudah menjalar ke mana-mana membuat Ziya mengeluarkan suara merdunya.
Gadis itu mendorong dada bidang Zeo membuat pria itu menghentikan aksinya. Dia menatap dalam bola mata Ziya yang seperti tersiksa dengan hasrat. Sama seperti yang ia rasakan saat ini.
"Aku ingin melakukan nya setelah kita menikah," gumam Ziya pelan seraya membelai rahang tegas Zeo membuat pria itu paham.
"Baiklah, kita menikah besok," ujar Zeo polos membuat Ziya tersedak ludahnya.
*
*
*
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
kalau nikah jangan lupa undang saya ya....
2024-11-15
0
Yunerty Blessa
Ziya bisa kaya dan hidup senang selama bersama Zeo....
2024-11-15
0
Yunia Afida
otw kondangan ni
2022-12-15
0