Kesedihan Sementara

Hendri benar-benar sangat murka, dia tidak mampu menahan rasa marah dan kecewa nya dengan perilaku anak kandungnya. Rasanya dia terlalu malu untuk mengakui Ziya sebagai anak kandungnya.

"Dasar p*lacur, keluar kau dari rumahku hari ini juga?! Jangan sampai saat aku pulang nanti kau masih ada di sini?!" bentak Hendri membuat Zeo mengepalkan tangan nya erat.

Dia maju selangkah ingin menghajar Hendri, namun Ziya lebih dulu memeluk lengan pria itu. Matanya terpejam beriringan dengan air mata yang keluar begitu saja.

"Jangan! Biarkan saja, tolong bawa aku keluar dari rumah ini sekarang juga. Tolong bawa aku pergi jauh."

Ziya berkata lirih dengan suara parau membuat Zeo menghentikan niatnya. Dia mampu merasakan emosi Ziya saat ini.

Sedih, marah, kecewa, putus asa bercampur menjadi satu perasaan. Gadis itu seolah ingin mati karena putus asa. Zeo merasakan sesak, dia tahu betul bagaimana perasaan Ziya saat ini.

Namun dia tak bisa berbuat banyak, karena saat ini gadis manusia yang sangat dia cintai memohon untuk membawa Ziya pergi.

"Ingat ini?! Seperti katamu tadi, dia bukan lagi putrimu. Bila kelak kau berada di penghujung hidupmu dan merindukan sosok putrimu, jangan harap aku membiarkan gadis ku ini pergi untuk menemui mu. Matilah kau dengan hina?!" umpat Zeo sungguh-sungguh.

Hendri merasakan sesak dalam hati kecilnya ketika mendengar ucapan Zeo. Nun dia segera menepis nya. Saat ini dia harus menolong istri juga anak tirinya.

"Cepat pergi dari sini?!" desis Hendri tanpa membalas perkataan Zeo. Dia membantu Melisa berdiri.

Medina berlari ke arah mereka dan membantu Melisa berjalan. Sedangkan Hendri beralih menggendong tubuh Adriana – ibu tiri Ziya.

Mereka berempat keluar dari rumah besar itu menuju rumah sakit meninggalkan Ziya bersama Zeo.

Gadis itu luruh ke lantai memukul dadanya yang terasa sesak. Hatinya terluka karena perkataan sang ayah, bibirnya berdarah karena ulah Melisa. Namun, sang ayah tidak memperdulikan lukanya.

"Hiks … sakit sekali?! Kenapa semuanya begini, Tuhan. Huwaa … papa, aku juga terluka. Bukan hanya batin ku saja, tapi fisik ku juga?!" teriak Ziya meluapkan kesakitan nya.

Zeo memeluk salah satu kakinya lalu memeluk erat tubuh Ziya. Gadis itu menyandarkan kepalanya di dada bidang Zeo. Menumpahkan segala rasa sesak yang ia rasakan.

"Sakit sekali, Zeo. Rasanya aku ingin mati saja!" ujar Ziya dengan suara parau membuat hati Zeo sakit bak di tusuk jarum.

"Jangan mati dulu, kamu harus bertahan hidup untuk bahagia bersamaku! Bila pun mati, Kita akan mati bersama-sama!" Zeo berkata dengan nada tegas berusaha menenangkan hati Ziya yang kacau.

"Maafkan aku! Karena ulahku kamu jadi di usir seperti ini!" Zeo berkata tulus membuat Ziya menggelengkan kepalanya.

"Jangan minta maaf, ini bukan salahmu! Malahan aku ingin berterima kasih padamu, karena kekacauan yang kamu buat tadi membuat aku sadar. Bahwa, aku tidak berharga bagi papa kandung ku sendiri. Kamu lihat tadi seperti apa dia tadi?! Sangat kasar padaku dan lembut pada anak tirinya."

"Aku bertahan tinggal di rumah ini dengan harapan papa ku bisa kembali menjadi baik suatu saat nanti. Sekarang aku sadar! Kalau harapan ku itu tidak akan menjadi nyata. Mulai saat ini juga aku akan berusaha tegar dan menerima kenyataan bahwa aku hidup sebatang kara!"

Ziya tersenyum getir berusahalah tegar di hadapan Zeo. Dia ingin menguatkan hatinya, luka yang diberikan oleh sang ayah ternyata terlalu dalam. Sehingga membuatnya sadar kalau untuk berjuang lagi, Ziya sudah tak mampu.

Harapannya sudah pupus.

"Jangan takut! Mulai saat ini kamu punya aku. Bagaimana kalau kamu menjadi kekasih ku selamanya? Tidak peduli matahari terbenam atau matahari terbit?" tawar Zeo serius membuat Ziya sedikit terhibur.

Gadis itu tertawa kecil dan mengangguk kepalanya cepat. Dia merasa nyaman saat bersama dengan Zeo. Tentu saja dia menerima pria itu sebagai kekasihnya.

"Tapi, kamu harus janji! Jangan coba-coba hapus ingatan ku lagi!" ujar Ziya serius menatap dalam bola mata biru muda Zeo.

Pria tampan itu menganggukkan kepalanya semangat membuat Ziya tersenyum. Dia pun mencium bibir Ziya dengan lembut.

Rasa sedih yang ada dalam hati Ziya tiba-tiba menghilang begitu saja tergantikan oleh rasa bahagia.

Ternyata Zeo mengubah emosi Ziya menjadi bahagia. Salah satu kekuatannya yaitu mampu menghapus kesedihan hati semua makhluk.

*

*

"Ha ha, perasaan cinta sudah hampir sempurna. Tinggal perasaan murka dan putus asa yang belum sempurna. Setelah itu aku bisa keluar dari tempat gelap ini!" tawa sosok itu sangat menyeramkan melihat rekaman Ziya dan Zeo berciuman.

*

*

Bersambung.

Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰 🥰

Salem aneuk Nanggroe Aceh ❤️🥰

Terpopuler

Comments

Yunerty Blessa

Yunerty Blessa

ingat tu kata² Zeo....

2024-11-15

0

Widi Widurai

Widi Widurai

marah putus asa krn ziya mati?

2023-01-02

0

Yunia Afida

Yunia Afida

makhluk nya kayak penguasa darat dan laut

2022-12-15

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!