Zeo berhasil menemukan rumah besar milik ayah Ziya dengan menggunakan Indera penciuman nya. Pria itu masuk dengan cara mengendap seperti pencuri. Tak lupa dia membuat sekuriti kompleks terlelap dengan kekuatan nya.
Pria itu tersenyum cerah ketika melihat ada kolam renang. Sudah seharian kulitnya tidak menyentuh air, hingga menyebabkan kulitnya kering dan kusam.
Segera saja Zeo menceburkan dirinya ke dalam air kolam dan berubah menjadi pangeran Duyung.
"Cuih, airnya pahit. Seperti bercampur dengan racun," gumam Zeo saat meminum air kolam sedikit.
"Tapi, kalau untuk mandi sepertinya tidak akan menjadi masalah." Zeo pun memutuskan untuk berenang guna mengembalikan kelembaban kulitnya.
Duyung Jantan itu merasa sangat bahagia juga segar.
Suara derap langkah kaki membuat Zeo menoleh ke arah pemilik langkah kaki. Mata pria itu berbinar saat melihat sosok gadis yang amat ia cintai.
Tak lain adalah Ziya. Gadis itu berdiri menatapnya dengan bola mata yang nyaris keluar dari kelopak matanya.
"Du-duyung," gumam Ziya terkejut dengan suara tertahan.
Kaki gadis itu gemetar hingga luruh ke lantai. Dia menutup mulutnya tak percaya karena melihat sosok Duyung nyata di hadapannya.
"Hai, Ziya!" sapa Zeo semangat seraya melambaikan tangannya menatap Ziya.
Mata gadis itu melebar tak percaya. Duyung itu mengenal dirinya bahkan tahu siapa namanya.
"Ka-kamu mengenalku?" tanya Ziya dengan suara bergetar. Dia memberanikan diri untuk tetap berada di hadapan Zeo.
Di rasanya tidak ada alarm bahaya. Nalurinya mengatakan semuanya akan baik-baik saja.
"Tentu saja aku mengenal mu … kamu adalah kekasihku." Zeo berkata dengan nada santai. Dia memilih naik ke permukaan lalu merubah wujudnya kembali menjadi manusia.
Nafas Ziya tercekat. Tak menyangka kalau Duyung bisa berubah menjadi manusia. Persis seperti di drama Korea pikir Ziya.
Biasanya Duyung itu perempuan. Namun, laki-laki pun ada ternyata.
"Ekor mu berubah menjadi kaki manusia. Bagaimana bisa itu terjadi?" tanya Ziya dengan suara terbata-bata membuat Zeo tertawa kecil.
Pria itu melangkah mendekati Ziya. Lalu memeluk salah satu kakinya. Pria itu mendekatkan wajahnya dengan wajah Ziya membuat gadis itu menahan nafasnya.
"Tentu saja bisa. Karena aku punya kekuatan." Zeo tersenyum manis, hingga matanya sipit.
Gleg.
Ziya menelan ludahnya kasar ketika melihat senyuman Zeo sangat menggoda. Di tambah wajah pria itu sangatlah tampan, ketampanan nya di luar nalar.
Jantung Ziya berdegup kencang. Gadis itu tidak tahu harus berkata apalagi. Mulutnya terkunci, ketika wajah Zeo begitu dekat dengan wajahnya.
"Bagaimana kamu bisa ada di sini? Dan sedang apa kamu di rumahku?" Ziya memberanikan diri untuk bertanya.
Gadis itu gugup karena di pandang lekat oleh pria setampan Zeo.
"Tentu saja mencari mu," balas Zeo tersenyum tulus membuat Ziya mengernyitkan dahinya.
Gadis cantik itu menatap Zeo dengan tatapan bingung. Dia tidak mengerti maksud ucapan pangeran Duyung ini.
"Apakah kita saling mengenal?" tanya Ziya lagi membuat Zeo mengangguk kepalanya.
"Iya, kamu kekasih ku."
Baru saja Ziya ingin membantah. Zeo segera menyentuh kening Ziya. Cahaya berwarna kuning keluar dari ujung jari telunjuk Zeo masuk ke dalam kening Ziya.
Gadis itu merasa kepalanya hangat. Seperti ada sesuatu yang masuk ke dalam kepalanya.
Tiba-tiba semua ingatan nya bersama dengan Zeo saat berada di pantai Duyung kembali begitu saja. Semuanya masuk ke dalam benak Ziya.
Gadis itu merasa sedikit nyeri di bagian kepalanya.
"Apa kamu mau menjadi kekasihku sampai matahari terbenam?"
"Ah … aku sangat bahagia."
"Zeo, kejar aku ayo kejar aku. Ha ha."
"Aa … Zeo, kamu curang!"
"Zeo aku lapar."
"Aku ingin ciuman lagi, Ziya. Mari kita ciuman."
Semua ingatan yang di ambil oleh Zeo kembali masuk ke dalam benak Ziya. Gadis cantik itu melebarkan matanya ketika mengingat semua itu.
Keringat dingin keluar dari tubuhnya. Wajahnya pucat pasi dan bibirnya mengering. Matanya berubah menjadi sayu. Dia menatap Zeo dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Zeo," lirih Ziya pelan lalu ambruk ke dalam pelukan pria itu. Zeo tersenyum kecil lalu mengecup bibir pucat Ziya.
Efek dari kembalinya ingatan membuat kepala Ziya sedikit sakit. Hingga gadis itu jatuh pingsan.
"Aku kembali, Ziya. Akan aku pastikan kali ini kita menjadi kekasih seumur hidup. Bukan hanya sampai matahari terbenam," bisik Zeo pelan di telinga Ziya.
Samar-samar gadis itu mendengar bisikan Zeo.
Pria itu menggendong Ziya apa bridal style. Dia mencium aroma tubuh Ziya guna mencari letak kamar gadis itu. Hingga dia berhasil menemukan nya, lalu masuk ke dalam kamar Ziya.
"Selamat istirahat, Ziya." Pria itu meletakkan tubuh Ziya atas ranjang.
Kemudian ia naik ke atas ranjang. Memilih tidur di sebelah Ziya. Dia memeluk erat pinggang gadis itu.
Mengalirkan kekuatan nya agar tubuh Ziya hangat dan lebih segar saat bangun nanti.
*
*
Matahari terbit dari ujung timur. Kicauan burung pun terdengar oleh setiap insan yang sudah terjaga. Sinar keemasan mentari pun masuk ke celah jendela kamar seorang gadis.
Alarm berbunyi membuat gadis itu memaksa diri untuk membuka kelopak matanya.
Dadanya terasa sesak. Diliriknya sebuah tangan melingkari perutnya.
"Tangan siapa ini?" gumamnya pada diri sendiri. Gadis itu membalikkan tubuhnya guna melihat wajah si pemilik tangan.
Degg.
"Zeo," pekik Ziya terkejut ketika melihat pria yang mencuri ciuman pertama nya berada di atas ranjang yang sama dengannya.
"Hemm … aku Zeo. Kekasih seumur hidup mu!" balas Zeo dengan suara serak dan seksi membuat Ziya menelan ludahnya kasar.
Tok tok tok.
Suara ketukan pintu terdengar keras. Seorang mengetuk nya dengan kasar seraya mengumpat Ziya.
"Hey, Babu. Cepat bangun kau dan siapkan sarapan untuk kami, Sialan. Keluar kau sebelum aku menendang mu keluar dari rumah ini?!" teriak Ibu tiri Ziya membuat wajah gadis itu panik.
Sedangkan raut wajah Zeo berubah masam dan dingin saat mendengar seseorang memanggil Ziya dengan kata-kata kasar.
"Siapa itu, Ziya?" tanay Zeo dengan suara dingin.
"Itu ibu tiri ku," balas Ziya panik takut ketahuan membawa laki-laki ke dalam kamarnya.
"Boleh aku membunuhnya?" tanya Zeo dengan nada suara yang amat dingin dan aura membunuh keluar dari tubuhnya.
Degg.
"A-apa?" Ziya bertanya dengan terbata-bata.
"Boleh aku membunuhnya?" ulang Zeo sekali lagi dengan serius membuat Ziya menelan ludahnya kasar.
*
*
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
bunuh saja Zeo...ada aku kesah 🤣🤣
2024-11-15
0
Yunerty Blessa
ciuman sudah menjadi candu buat Zeo...
2024-11-15
0
gaby
Zeo biasa berenang di laut asin skrg berenang di kolam kaporit😅😅
2024-08-18
0