Pertemuan Pertama

Tiga ribu tahun berlalu pasca pertempuran iblis dan Dewa lautan. Sejak saat itu para Duyung sudah mulai menyembunyikan jati diri dari jangkau manusia. Mereka tinggal di kedalaman lautan Pantai Duyung. Sampai saat ini tidak ada satupun manusia yang berhasil menemukan tempat mereka.

Dikarenakan barier pelindung yang di buat oleh Dewa lautan. Semua itu dilakukan, karena sifat manusia tak jauh beda dari iblis. Penuh hasrat dan ambisi untuk menguasai dunia. Dewa lautan tidak ingin ras Duyung di basmi hanya demi hasrat duniawi para manusia.

Namun, sisi gelap ras duyung adalah hukum rimba yang berlaku. Di mana yang lemah akan ditindas oleh yang kuat. Lalu yang lemah akan menindas Duyung yang paling lemah.

Tak peduli pangkat dan jabatan. Karena kelemahan merupakan lambang kesialan.

Saat ini para Duyung di dasar lautan sedang belajar memanggil hewan penjaga mereka. Setiap Duyung saat berumur 50 tahun harus memiliki hewan penjaga masing-masing. Guna melindungi mereka kelak dari musuh.

Pangeran ke-3 dari Pantai Siluman mendapatkan Hewan penjaga Hiu.

Pangeran ke-5 dari Pantai Duyung mendapatkan Hewan penjaga buaya putih.

"Yeah! Akhirnya aku punya hewan peliharaan!"

"Uhuyy … aku dapat buaya putih."

Para raja yang hadir di sana merasa senang dan bangga pada putra mereka. Terkecuali Raja Jionard – Pantai Duyung. Dia menatap tajam putarnya bernama Zeo — Pangeran ke-3 yang sudah berumur 79 tahun, tetapi sampai sekarang belum bisa memanggil hewan penjaganya.

Zeo mengepalkan tangan erat, Duyung Jantan itu merasa sangat gugup. Setiap satu dekade dia pasti mengikuti upacara pemanggilan hewan penjaga. Namun, sudah berkali-kali ia coba tak kunjung ia dapatkan hewan penjaga.

"Zeo majulah! Masuk ke dalam gelembung hitam, lalu kerahkan semua tenaga dan kekuatan mu untuk memanggil hewan penjaga mu!" tegas master sihir .

Bisik-bisik para duyung pun terdengar oleh telinga Zeo. Banyak dari mereka menghujat dan menghina Zeo, karena sudah beranjak dewasa, namun belum memiliki hewan penjaga.

'Oh Dewi Fortuna tolonglah aku,' batin Zeo berdoa.

Dia segera berenang ke dalam gelembung hitam. Zeo merasakan kesakitan di bagian pelipis nya. Tepat di bagian tato naga bertanduk.

"Ahh … kenapa kepala ku selalu sakit setiap kali aku ingin memanggil hewan penjaga?" tanyanya seraya memegang pelipisnya.

Samar-samar Zeo mendengar suara makhluk mengaum. Suara itu berasal dari dalam kepalanya.

Tak tahan akan rasa sakit itu membuat Zeo segera keluar dari gelembung hitam. Setelah berhasil keluar, rasa sakit itu langsung hilang.

"Hey, lihatlah! Dia tidak berhasil memanggil hewan penjaganya!"

"Lagi dan lagi dia gagal."

"Ahh … Dewi Fortuna memang sangat adil dalam memberi peran bagi para duyung. Lihatlah dia! Dia selalu gagal dalam ujian, kalau saja bukan karena jabatannya sebagai seorang pangeran. Pasti dia akan mati dibunuh oleh duyung yang lebih kuat darinya!"

"Ha ha, kau benar."

Zeo menundukkan wajahnya tak berani memandangi para duyung yang hadir untuk menonton. Dia telah mempermalukan kerajaan Duyung untuk kesekian kalinya.

Raja jionard yang merupakan ayah dari Zeo pun merasa sangat malu. Di antara 17 anaknya, hanya Zeo yang tak bisa memanggil hewan penjaga.

Pangeran pertama dari kerajaan Duyung pun tertawa melihatnya. Dia melemparkan bola es ke arah Zeo.

"Dasar lemah!" teriak pangeran pertama. Melihat hal itu para saudara Zeo pun langsung berlomba-lomba menyerang Zeo dengan bola-bola sihir mereka.

Tidak ada yang menegur dan melarang. Seolah saat ini mereka sedang melihat pertunjukan menarik. Tak sedikit orang yang ikut tertawa melihat Zeo terluka.

Kepala Zeo terpental ke samping, aroma anyir tercium oleh indera penciuman. Cairan berwarna merah kehitaman keluar dari pelipisnya. Anehnya darah tersebut sama sekali tidak bercampur dengan air.

Darah Seo masih menempel di pelipisnya dan perlahan terhisap oleh tato naga di pelipisnya. Tanpa ia sadari tato berwarna hitam itu berubah menjadi merah.

Hanya satu ekor duyung tua yang memperhatikan hal itu. Matanya menyipit dan lama kelamaan melebar seperti orang yang sedang terkejut.

'Tidak mungkin," gumamnya pelan.

"Lucky, apa kau merasakan nya juga?" tanya duyung tua itu pada hewan penjaganya menggunakan telepati.

"Iya, aku juga merasakan kehadirannya! Tidak salah lagi, hawa ini adalah milik Na–akkk!" Hewan penjaganya yang bernama lucky itu tiba-tiba merasa kesakitan.

Ular putih itu segera mengecilkan tubuhnya dan melingkar di lengan duyung tua itu.

"Kau kenapa?" tanyanya penasaran pada sang ular.

"Lebih baik kita pergi dari sini sekarang dan jangan pernah berbuat jahat pada anak itu! Atau kau dan aku akan celaka?!" ajak lucky panik membuat pria tua itu segera pergi dari sana.

Zeo memilih pergi dari sana. Hatinya dipenuhi amarah. Dia mengumpat takdir hidupnya mengapa harus dilahirkan bila hanya menjadi bahan ejekan dan bullyan dari kaum nya.

"Aku benci mereka semua!" desis Zeo berenang menuju permukaan laut ; tempat dirinya duduk merenung sekarang diri.

Namun, saat hampir tiba di permukaan, Zeo melihat sosok gadis manusia tenggelam. Bergegas tanpa pikir panjang ia menolong gadis itu.

Zeo memeluk pinggang Ziya lalu meletakkan tangan kanannya di dada Ziya. Dia mengalirkan sihirnya untuk mengeluarkan air laut yang masuk ke dalam paru-paru Ziya.

"Ternyata dia juga menderita. Sama sepertiku," gumam Zeo pelan saat merasakan emosi Ziya.

*

*

Bersambung.

Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak.

Salem Aneuk Nanggroe Aceh 🥰🥰😊

Terpopuler

Comments

Yunerty Blessa

Yunerty Blessa

semoga berjodoh

2024-11-15

0

Yunerty Blessa

Yunerty Blessa

mungkin penjaga Zeo adalah Ziya...

2024-11-15

0

@𝕬𝖋⃟⃟⃟⃟🌺Idha

@𝕬𝖋⃟⃟⃟⃟🌺Idha

wah berjodoh nih

2022-11-27

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!