Zeo sedang duduk di bebatuan tempat favorit nya untuk menyendiri. Tiba-tiba duyung jantan itu melihat dari jarak 2 KM ke depannya dan ternyata ada lima ekor hiu menyerang manusia yang sedang berenang dan bermain jetski.
Dia bisa merasakan aura hiu Neo – hewan penjaga milik ayahnya. Tentunya hiu tersebut kuat dan jahat pada lawannya. Kalau sang ayah tidak menghentikan nya, maka bisa-bisa manusia itu mati di makan hiu.
"Kenapa ayahanda menyerang manusia itu?" tanya nya pada diri sendiri.
Zeo pun menghubungkan telepati nya dengan Neo. Dia bertanya pada hiu buas itu.
"Mereka yang lebih dulu mencari gara-gara, Pangeran Zeo. Karena ulah mereka, kaum kura-kura hampir mati. Anda tidak bisa menghentikan saya, karena Anda bukan Tuan saya!" balas hu itu dengan suara mengerikan nya.
Zeo mengepalkan tangannya erat. Suara teriakan manusia itu sangat menganggu hati kecilnya yang entah mengapa merasa sangat sesak dan sakit.
"Ahh … tolong aku!"
"Siapapun tolong aku."
"Dora bersabarlah."
"Tolong! Tolong! Ada hiu?!
Jeritan dan teriakan para mahasiswa yang berada dalam air terdengar memilukan. Bala bantuan pun datang, para pemuda pantai Duyung setempat segera membantu para mahasiswa yang berada dalam air.
Senapan mereka miliki. Segera saja mereka naik kapal dan membawa pelampung untuk menolong tiga gadis satu pria yang sedang berenang.
Dor.
Dor.
Mereka menembak hiu-hiu itu. Anehnya hiu tersebut tak menjauh atau terluka. Padahal tembakan mereka tepat mengenai sasaran.
Neo tertawa menyeramkan dari dalam air. Tentu saja para manusia itu tak bisa melukai hiu-hiu nya yang telah ia beri kekuatan kebal.
"Dasar manusia hina. Andai saja kalian lebih kuat, maka aku sendiri yang akan melawan kalian," ujarnya pelan.
Lima pemuda pantai Duyung berhasil menyelamatkan para mahasiswa yang di serang oleh hiu.
"Cepat naik! Cepat-cepat … di belakang kalian ada hiu yang sedang mengejar."
"Ambil pelampung nya!"
Zeo menajamkan penglihatan nya. Dia bisa melihat satu ekor hiu sedang mengincar kaki gadis yang sedang berenang untuk berpegangan pada pelampung.
"Angin!" Zeo mengeluarkan kekuatan angin nya membuat hiu itu terbawa ke arus yang berlawanan.
Neo yang melihatnya pun menggeram kesal.
"Pangeran Zeo! Anda tidak berhak mencampuri urusan saya!" sentak Neo melalui telepati.
Namun, telepati itu tak sampai ke pada Zeo, melainkan pada sosok menyeramkan yang bersemayam dalam tubuh Zeo.
"Tapi, aku berhak."
Ahh.
Neo mengerang kesakitan. Sebuah kekuatan tak kasat mata menyerang organ tubuhnya.
Teriakan kesakitan nya mampu di dengar oleh Jionard.
"Neo ada apa?" tanya Jionard melalui telepati.
"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja," balas Neo lalu segera kembali ke tempat asalnya guna memulihkan kekuatan nya.
"Siapa dia?" tanda tanya besar dalam kepala Neo, siapa yang menyerang nya tadi.
Hiu suruhan Neo pun segera kembali ke dasar lautan. Sihir yang di gunakan oleh Neo menghilang.
Para mahasiswa yang terluka langsung di larikan ke rumah sakit terdekat. Luka mereka cukup parah.
*
*
"Du-duyung! Benar itu duyung, tidak salah lagi. Aku harus menghampiri nya untuk memastikan dengan mata kepala ku sendiri!"
Ziya berlari ke tempat jetski di sewa. Dia menyewa jet ski dan langsung mengemudikan nya menuju tempat Zeo berada.
Zeo merasakan kehadiran manusia dari arah belakang nya. Duyung jantan itu melebarkan matanya karena ada manusia yang menemukan nya untuk pertama kali.
"Manusia itu lagi! Gawat … dia melihat ku."
Zeo segera menceburkan dirinya ke air saat Ziya hampir tiba, jarak antara keduanya hanya sepuluh meter saja. Senyuman manis membingkai wajah Ziya karena berhasil menemukan Duyung.
"Ternyata benar apa yang aku pikirkan selama ini. Aku harus bisa berbicara dengannya dan berterima kasih karena sudah menolongku!"
Tanpa pikir panjang Ziya segera menceburkan diri ke dalam air. Tekad nya begitu kuat, dia yakin Zeo akan menolongnya lagi seperti kemarin.
Byur.
Zeo yang sedang berenang pun menoleh ke belakang dan melihat Ziya tenggelam. Duyung jantan itu mengumpat kesal karena Ziya begitu keras kepala.
"Dasar manusia bodoh. Sudah tahu tidak bisa berenang, tapi keras kepala," desis Zeo dengan nada kesal.
Hati kecilnya tak tega membiarkan Ziya tenggelam. Duyung jangan itu pun segera berenang menuju arah Ziya. Gadis itu tersenyum manis melihat Zeo berenang menuju ke arahnya.
"Ini bukan mimpi. Duyung itu benar-benar nyata," gumam Ziya dalam hati.
Zeo segera menarik pinggang Zara dan mencium gadis itu dalam air. Memberikan udara ke dalam mulut Ziya agar gadis itu selamat.
Zeo mampu merasakan emosi Ziya dan ternyata gadis itu sedang bahagia. Berbeda dengan emosi saat pertama kali dia bertemu dengan Ziya.
"Manusia ini, sepertinya dia sengaja mencari ku," gumamnya dalam hati lalu mengeluarkan cahaya dari tangannya lalu ia letakkan di kepala Zara.
"Maafkan aku karena menghapus ingatan mu tentang kejadian ini. Semuanya kulakukan demi kebaikanmu juga."
Ziya merasa kepalanya hangat. Dia membuka matanya dan melihat wajah Zeo dari arah dekat. Gadis itu melingkarkan kedua tangannya di leher Zeo dan memperdalam ciuman tersebut membuat Zeo membuka matanya dan menatap dalam bola mata Ziya.
"Kamu …"
*
*
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏
Mampir juga ke novel temen author 🌹🌹🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
Ziya nekad mencium Zeo si duyung 🤣🤣
2024-11-15
0
@𝕬𝖋⃟⃟⃟⃟🌺Idha
lah malah jadi ciuman ya 🤣🤣🤣🤣
2022-11-29
0
al-del
ziya dah ngebet bangt kaya nya
2022-11-28
1