Ziya menelan ludahnya kasar ketika Zeo meminta izin untuk membunuh ibu tirinya. Ingin sekali dia menjawab iya, namun lidahnya terlalu jelu. Tak berani melakukan apapun yang nantinya berakibat fatal. Sedikit banyak dia mengetahui dan pernah melihat kekuatan Zeo. Pria itu bisa merasakan emosi manusia dan bisa mengendalikan angin juga arus ombak.
Begitupula dengan Zeo, dia sendiri merasa bingung dengan dirinya. Mengapa tiba-tiba dia ingin membunuh ibu tiri Ziya? Pertanyaan itu keluar sendiri dari lisan nya.
Dia merasa tubuhnya lebih ringan di daratan dan kekuatan nya juga lebih hebat berkali-kali lipat.
Ada apa ini sebenarnya? Zeo tak mengerti dengan keadaan nya. Yang jelas saat ini dia ingin sekali membunuh.
"Boleh aku membunuhnya?" Zeo mengulangi pertanyaan nya membuat Ziya menelan ludahnya kasar.
Gedoran pintu semakin keras, ibu tiri Ziya sedari tadi sudah mengeluarkan sumpah serapah nya pada Ziya. Merasa kesal tentunya karena anak tirinya itu belum juga bangun dan menyiapkan sarapan untuk dirinya.
"Hey, Ziya. Anak pembawa sial, bangun kau?! Cepat buatkan kami sarapan?!" bentak ibu tiri Ziya dengan suara tinggi.
Tanpa menunggu jawaban Ziya, Zeo segera mengeluarkan kekuatan nya. Mata Zeo berubah menjadi hitam sepenuhnya membuat Ziya menutup mulutnya tak percaya dan ketakutan.
Sett.
Di luar pintu, tubuh ibu tiri Ziya tiba-tiba terhempas ke samping membentur jendela kaca besar, hingga pecah.
"Aaa?!" teriak Ibu Ziya saat tubuhnya terhempas ke samping membentur jendela kaca.
Pyarr.
Suara kaca pecah terdengar nyaring. Tubuh wanita tua itu tergeletak atas rerumputan. Dia masih sadar dan wajahnya memiliki luka gores. Wajahnya ketakutan dan pucat pasi, tak percaya dengan musibah yang terjadi padanya.
Melisa dan adiknya bernama Medina keluar dari kamarnya saat mendengar suara ibunya berteriak. Tidak ada ayah kandung Ziya di rumah, karena sedang Dinas di luar kota.
Mata kedua anak gadis itu melebar tak percaya melihat ibunya terhempas keluar rumah.
"Mama?!" teriak keduanya berlari menghampiri ibunya yang masih termangu di atas rerumputan.
Wanita tua itu terlalu shock, hingga perlahan matanya tertutup tak sadarkan diri.
Kembali lagi pada Ziya. Gadis itu bergetar ketakutan ketika melihat mata Zeo berubah menjadi warna hitam sepenuhnya. Sangat mengerikan untuknya.
"Zeo," lirih Ziya pelan menyadarkan pria tampan itu. Sontak saja mata pria itu berubah menjadi biru safir seperti semula. Dia menatap Ziya polos membuat gadis itu menghela nafas lega, karena Zeo sudah kembali seperti semula.
"Apa yang terjadi?" tanya Zeo polos tak mengerti apa-apa membuat Ziya bingung.
"Kamu tidak sadar dengan apa yang baru saja kamu lakukan?" Ziya bertanya pada Zeo serius membuat pria itu menggelengkan kepalanya polos.
"Tidak."
"Kamu …" belum sempat Ziya menjawab, pintunya kembali di gedor oleh Melisa.
"Ziya, buka pintunya! Mama terluka, Ziya," teriak Melisa dengan suara tinggi bercampur panik.
Sontak Ziya menepuk jidatnya. Dia tadinya mendengar suara jeritan ibu tirinya. Gadis itu segera turun dari ranjang guna melihat bagaimana keadaan ibu tirinya.
"Kamu mau ke mana?" tanya Zeo heran.
"Kamu tunggu di sini sebentar. Aku keluar dulu untuk melihat kekacauan apa yang telah kamu buat!" titah Ziya serius lalu keluar dari kamarnya.
Dia melihat Melisa sedang panik.
"Ada apa?" tanah Ziya penasaran.
"Mama ku terluka karena ulahmu, Sialan. Pasti kau 'kan yang membuat ibuku terluka parah?!" bentak Melisa menuduh Ziya membuat gadis itu mengernyitkan dahinya.
"Aku tidak mungkin melukai Mama! Kakak lihat sendiri aku baru saja bangun tidur dan keluar dari kamarku!" elak Ziya membuat Melisa mengepalkan tangan nya erat.
Plak.
Tamparan keras ia layangkan ke wajah Ziya membuat pipi gadis itu memar. Dia tidak menyangka kalau Melisa akan menampar nya.
"Dasar sialan! Anak pembawa sial, Mama ku ikut kena sial karena mu?!" tuduh Melisa kejam membuat Ziya meneteskan air matanya.
Gadis itu selalu sakit hati bila di panggil anak sial. Mengingatkan nya pada dan ayah yang selalu memanggilnya anak pembawa sial, karena ibunya meninggal demi menyelamatkan dirinya.
Zeo yang mengintip di balik dinding pun geram. Dia tidak suka melihat Ziya di sakiti oleh siapapun.
Mata Zeo berubah menjadi hitam kembali. Aura pembunuh keluar dari tubuhnya.
Bunuh dia.
Bunuh dia.
Mati … matilah.
Kata-kata memberikan itu keluar dalam benak Zeo. Saat Melisa menjambak rambut Ziya dengan sangat keras. Zeo segera bertindak.
"Akk … sakit, Kakak!" pekik Ziya saat rambutnya di jambak oleh Melisa. Dia berusaha melepaskan tangan kakak tirinya dari kepalanya.
"Dasar pembawa sial?!" bentak Melisa.
Wushh.
Zeo memberikan sedikit kekuatan nya pada Ziya untuk melawan. Gadis itu tiba-tiba dengan mudah melepaskan tangan Melisa dari rambutnya.
Tanpa sengaja Ziya mendorong tubuh Melisa ke belakang, membuat tubuh sang kakak tiri terbentur meja.
Bugh.
"Akk … sakit," lirih Melisa saat punggung nya terkena sudut meja. Zeo menunjuk ke arah guci kaca yang berada atas meja lalu ia jatuhkan ke bawah hingga tertimpa tangan lentik Melisa.
Pyarr.
"Akkk … tanganku?!" teriak Melisa keras menangis sesenggukan.
"Melisa?!" teriak seseorang membuat tubuh Ziya membeku.
"Pa-papa," gumam Ziya terkejut menutup mulutnya tak percaya.
Air matanya menetes begitu saja. Tubuhnya bergetar ketakutan, saat kata hitam itu menatap tajam dirinya.
"Kau benar-benar anak pembawa sial! Andai aku tahu kau tumbuh jahat seperti ini, sudah dari dulu ku bunuh kau?!" desis pria paruh baya itu bagaikan tikaman pedang ke ulu hati Ziya.
"Papa," lirih Ziya menangis sesenggukan. Dia ingin membela dirinya, namun lidahnya terlalu kelu. Nafasnya lebih dulu tercekat membuatnya tak mampu berkata-kata.
*
*
Mohon dukungan nya agar karya ini menang lomba 🥰🥺🌹
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰😘
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
kasian Ziya...ayah nya sendiri jahat sekali
2024-11-15
0
Yunerty Blessa
padan muka kau 😏
2024-11-15
0
Yunia Afida
kasihan ziya semua menganggap pembawa sial, bahkan ayahnya sendiri
2022-12-15
0