Senja telah datang, matahari pun ikut terbenam. Langit yang mula nya cerah berubah menjadi hitam. Seorang gadis cantik tergeletak di atas pasir putih, tiada siapapun yang menemaninya. Hingga perlahan pemilik bulu mata lentik itu membuka matanya.
Ziya merasakan sakit pada kepalanya, seperti habis di tusuk ribuan jarum. Pening dan tak mampu mengingat apa yang menimpa nya. Gadis itu merasa sangat bingung, mengapa dia bisa berada di sana.
Di lihatnya kiri kanan tak ada satupun manusia yang tampak, membuat Ziya kebingungan.
"Di mana aku sekarang? Kenapa sangat sepi?" Gadis itu bertanya pada diri sendiri. Dia merasa sangat takut, karena tak ada seorang pun menemaninya di sana.
Tiba-tiba ingatan tentang teman-teman nya yang berteriak meminta tolong pun terlintas dalam benaknya. Gadis itu merasa sangat ketakutan sekarang. Dia memeluk dirinya sendiri.
"Ya ampun, apa mungkin aku pingsan dari tadi? Tapi, kenapa aku bisa sampai pingsan?"
Ziya melihat pakaiannya masih melekat pada tubuhnya. Gadis itu bersyukur dan segera beranjak pergi dari sana. Menuju ke penginapan nya untuk mencari keberadaan dosen dan teman-teman kampusnya.
Seekor Duyung jantan mengintip dari balik batu karang. Matanya memerah karena menangis, sesak hatinya harus berpisah dengan gadis yang memujinya dan memperlakukannya dengan baik. Andai saja dirinya manusia, pasti dengan senang hati menjadi kekasih selamanya Ziya.
Namun, apalah daya? Dirinya hanya seekor duyung malang yang kekuatannya tak seberapa. Juga dirinya selalu dianggap pembawa sial. Tak layak bersanding dengan Ziya — gadis cantik juga baik hati dari kalangan manusia.
"Maafkan aku, Ziya. Aku harus melakukan ini agar kamu tidak mencari ku lagi? Kalau sampai kamu tahu seperti apa aku sebenarnya, pasti kamu akan menyesal telah mengenal duyung pembawa sial seperti ku," gumam nya pelan.
Lagi dan lagi Zeo meneteskan mutiara putih. Dia memandangi punggung Ziya yang berjalan menjauh dari tempat mereka berciuman. Sesekali gadis itu menoleh ke belakang, karena merasa seseorang sedang menatapnya.
Dia mengusap tengkuknya yang tak gatal. Entah mengapa gadis itu tiba-tiba merinding. Namun, ada rasa sesak dalam hati saat meninggalkan tempat itu. Seperti ada sesuatu yang menyuruhnya untuk kembali.
"Apa ini? Kenapa tiba-tiba aku menangis? Hatiku sakit dan sedih?" Ziya bertanya pada dirinya sendiri saat air matanya keluar membasahi pipinya tanpa bisa ditahan.
Gadis itu menghentikan langkahnya. Dia luruh ke pasir pantai, memukul dadanya yang terasa sesak dan matanya tak bisa berhenti mengeluarkan cairan bening.
Hiks.
"Kenapa aku menangis? Sakit … hiks … rasanya sakit sekali. Ada apa ini? Kenapa sakitnya persis seperti saat mama meninggalkan ku dulu? Ahh … sakit. Hatiku sakit!"
Ziya menangis memukul dadanya yang terasa sesak. Gadis itu tidak tahu mengapa bisa seperti ini. Rasanya dia hanya ingin menangis menumpahkan segala rasa sesak dalam hati.
Tak hanya Ziya yang menangis, Zeo pun ikut sedih melihatnya. Sudah tak terhitung berapa banyak mutiara putih keluar dari pelupuk matanya. Duyung jantan itu melihat gadis yang ia cintai itu dari kejauhan.
Dapat di dengar gumaman Ziya menambah rasa sakit dalam hatinya.
"Maafkan aku, Ziya. Maafkan aku!" lirihnya pelan.
Tiba-tiba Zeo mendengar suara seseorang entah dari mana asalnya. Di lihatnya sekeliling tak ada siapapun di sana.
"Kau hanya akan menangis dan merengek seperti ini? Apa kau tidak ingin memperjuangkan nya? Ahh … kau benar-benar Duyung lemah."
Suaranya tampak menyeramkan membuat Zeo ketakutan. Terlebih lagi auranya sangat menyeramkan.
"Siapa kamu?" tanya Zeo melihat ke atas langit. Mengira sosok itu berasal dari kerajaan langit.
"Kau tak perlu bertanya siapa aku, karena sesungguhnya aku dekat denganmu. Kalau memang kau mencintai nya, kejar dia! Dapatkan cintanya. Bukan malah menangis dan merengek seperti betina!" desis suara mengerikan itu membuat Zeo tercenung.
Dia kembali menatap punggung Ziya yang bergetar karena menangis sesenggukan.
"Aku tidak bisa melanggar peraturan leluhur Duyung." Zeo berkata lirih teringat peraturan dari para leluhurnya yang tidak membolehkan jatuh cinta pada manusia. Karena kalau tidak, siap-siap menerima kutukan.
Suara itu tertawa kecil nyaris seperti suara monster tertawa.
"Ha ha … kau masih peduli peraturan leluhur, sedangkan mereka saja tidak peduli dengan nasib mu? Ingat baik-baik, apa ada peraturan dari leluhur yang menyuruh menyayangi Duyung lemah? Tidak, 'kan? Semakin lemah seekor duyung maka akan semakin banyak penderitaan yang di dapat karena di siksa oleh Duyung kuat!"
"Bila memang manusia itu mampu memberimu kebahagiaan, kejar dan dapatkan dia. Kau mencintainya, bukan?" tanya sosok itu membuat Zeo mengangguk kepalanya cepat.
Tentu saja dia mencintai Ziya, karena gadis itu memperlakukan nya sangat baik. Berbeda jauh dengan para kaum nya yang tak pernah menganggap nya ada. Walaupun ada, hanya untuk di siksa.
Mendengar perkataan sosok itu membuat Zeo berpikir dua kali untuk terus taat pada peraturan leluhur.
"Kalau kau mencintainya, maka kau harus berkorban untuk nya. Cinta butuh pengorbanan, kau layak mendapatkan cintanya. Kau layak bahagia bersamanya. Kebahagiaan adalah suatu hal yang tidak pernah kau dapatkan dari keluarga maupun kaum mu. Padahal kau sudah tinggal bersama mereka hampir 1 abad."
"Tapi, sadarlah! Saat kau bersama gadis manusia itu. Baru setengah hari, sudah berapa kali kamu tertawa dan tersenyum bersamanya."
Setiap kalimat yang di ucapkan oleh sosok itu mampu membuat Zeo merenung. Benar, apa yang di katakan oleh sosok itu. Selama ini dia tak pernah mendapatkan kebahagiaan dari kaum nya sendiri. Hanya ada kesengsaraan saja.
Tetapi, bersama Ziya! Baru setengah hari dia merasa sangat bahagia. Kebahagiaan yang mampu menghapus segala rasa sakit yang ada dalam hatinya.
Tunggu dulu! Mengapa dia merasa sosok itu tahu segala hal tentang nya.
"Kenapa kau tahu semua yang aku jalani selama ini? Siapa kau sebenarnya?" tanya Zeo heran.
Suara itu tersenyum misterius.
"Suatu saat nanti kau akan tahu siapa aku sebenarnya. Sudahlah! Hanya itu yang ingin aku katakan. Kejar gadis manusia itu dan dapatkan hatinya. Terkadang untuk meraih kebahagiaan butuh pengorbanan."
"Tapi, kalau aku melanggar peraturan leluhur, aku bisa di bunuh?!" teriak Zeo saat merasakan sosok itu hampir menghilang.
"Mereka tidak akan bisa membunuhmu."
Sosok misterius itu tersenyum penuh arti melihat sosok Zeo tampak merenungkan saran darinya.
"Tidak akan ada yang bisa membunuhmu kecuali, aku." Sosok misterius itu tersenyum lalu perlahan menutup matanya kembali untuk beristirahat.
"Apa aku harus melanggar peraturan leluhur?" tanyanya pada diri sendiri.
*
*
Langgar aja, Zeo 💪💪💪
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰😘
Salem Aneuk Nanggroe ❤️
mampir juga ke novel teman author 💋💋
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
siapa sosok misteri tu...jadi penasaran pulak....
2024-11-15
0
Yunerty Blessa
sedih kerana berpisah dengan Zeo 😭
2024-11-15
0
Yunerty Blessa
sedihnya si duyung.... semoga berjumpa kembali dan kalian berdua akan berjodoh...
2024-11-15
0