Bunuh Dia

Perlahan Zeo melepaskan ciuman nya, pemuda itu menatap lembut wajah pujaan hatinya. Di hapusnya jejak air mata yang membasahi pipi Ziya membuat gadis itu tersenyum manis. Dia merasa sangat senang, entah mengapa hatinya begitu lega tanpa ada rasa sedih lagi.

"Apa yang kamu lakukan padaku? Kenapa aku tidak merasa sedih sedikitpun? Padahal tadi aku merasa hancur dan putus asa!" Ziya bertanya pada Zeo. Gadis itu merasa sangat penasaran.

Biasanya dia bisa menangis dan bersedih berhari-hari setelah di marahi dan di hina oleh ayahnya. Namun sekarang berbeda, seolah rasa sakit itu tak pernah ia rasakan.

"Aku menghapus rasa sedihmu! Sekarang, kamu tidak akan tersiksa lagi dengan rasa sesak yang membelenggu kebahagiaan mu! Mulai saat ini, aku akan membuat ku bahagia. Tidak akan aku biarkan siapapun menyakitimu," ujar Zeo penuh keyakinan.

Pria itu mengusap pipi gadisnya, dia merasa sangat senang karena telah berhasil mendapatkan cinta Ziya. Dia berjanji akan menjaga gadisnya agar tak di lukai oleh siapapun.

Mendengar perkataan kekasihnya membuat Ziya merona. Gadis itu memeluk erat tubuh kekar Zeo. Keduanya pun meresapi hangatnya pelukan tersebut. Hingga beberapa saat setelah nya, Ziya segera mengajak Zeo untuk membereskan semua pakaiannya.

"Kita akan ke mana?" tanya Zeo di sela-sela membantu Ziya memasukkan pakaiannya ke dalam koper.

"Kita tinggal di kontrakan sederhana saja untuk sementara waktu. Soalnya uangku pas-pasan, nanti kalau dagangan online ku banyak laku, baru kita cari kontrakan yang lebih nyaman untuk di tempati!" jelas Ziya berharap Zeo tak keberatan.

Pria tampan itu mengangguk kepalanya cepat. Walau dia tidak tahu maksud perkataan Ziya tentang 'Dagangan Online' dia tidak banyak bertanya. Emosi Ziya saat ini sedang labil dan gadis itu ingin diam tanpa banyak berbicara.

Setelah selesai mengemas barang, keduanya pun segera pergi dari rumah mewah milik ayah kandung Ziya. Gadis itu memandang penuh arti rumah mewah milik sang ayah kandung.

"Aku pergi, Papa. Semoga Papa bahagia bersama dengan istri baru dan anak tirimu. Seperti yang Papa katakan, hubungan kita telah berakhir. Aku bukan lagi putrimu dan Papa bukan lagi papa ku," gumam Ziya pelan tanpa sadar meneteskan air matanya.

Lalu dia segera berbalik melangkah jauh dari pekarangan rumah. Zeo melirik dari samping wajah sendu Ziya. Di genggam tangan gadisnya lalu ia alirkan kekuatan nya agar Ziya merasa lapang dada.

"Terima kasih," gumam Ziya pelan tersenyum manis.

*

*

Di dalam lautan, Kerajaan Duyung.

Seekor duyung jantan duduk di singgasana nya. Dia mengepalkan tangannya erat, trisula yang ia genggam di tangan kiri mengeluarkan cahaya putih. 

Dia baru saja mendapatkan laporan dari putra sulungnya jikalau anak pembawa sialnya telah pergi meninggalkan lautan dan memutuskan untuk hidup di daratan.

"Lalu, apa yang harus kita lakukan ayahanda?" tanya pangeran pertama — kakak Zeo.

"Rio?!" panggil Jionard dengan suara baritone nya membuat seekor duyung jantan bertubuh kekar dan berwajah sangar keluar dari tempatnya.

"Hamba, Yang mulia!" Duyung itu membungkuk badannya lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada sebagai bentuk penghormatan pada raja.

"Aku tugaskan kau untuk pergi ke daratan lalu jemput paksa pangeran Zeo. Bawa dia ke lautan untuk menghadap ku, kalau dia melawan, bunuh saja dia!" titahnya dengan nada tegas tak ingin di bantah.

Kakak pertama Zeo terkejut mendengarnya, dia tidak menyangka sang ayah dengan tega menyuruh salah satu jenderal terkuat nya untuk membunuh Zeo.

"Mohon maaf Ayahanda, ananda pikir untuk membunuh pangeran Zeo itu terlalu kejam! Bagaimana kalau pangeran Zeo di asingkan ke laut lain saja?" Pangeran pertama menyela. Dia tidak menyukai Zeo karena terlalu lemah, namun bukan berarti dia tega membunuh Zeo. Walau kerap kali dia membully adiknya itu.

Wajah Jionard berubah datar. Dia memandangi putra pertamanya dengan tatapan dingin.

"Dia pantas mendapatkan nya, karena telah melanggar peraturan yang di buat oleh leluhur!" balas Jionard dengan suara yang amat dingin dan menusuk.

"Tapi, Ayahanda …"

"Aku tidak butuh pendapatmu pangeran Leo! Sekarang kembalilah ke tempatmu!" tegas Jionard tak ingin di bantah.

Leo pun menghela nafas berat. Dia memberikan penghormatan untuk Jionard, lalu memilih pergi dari aula. Tadinya dia hanya berniat melaporkan kepergian Zeo, karena bosan sebab tidak ada duyung yang bisa ia siksa untuk menjadi pelampiasan nya.

Leo pangeran pertama yang tentunya merupakan putra mahkota kerajaan Duyung. Banyak sekali harapan dan tuntutan untuk menjadi sempurna orang-orang padanya. Hingga membuat Leo stress lalu memilih untuk melampiaskan nya pada Zeo.

Sebab adiknya itu tidak kuat seperti adik-adiknya yang lain, sehingga orang-orang tidak menuntutnya harus menjadi sempurna.

Walau setiap kali setelah menyiksa Zeo, dia selalu merasa menyesal.

"Aku harap kau baik-baik saja, Zeo," gumamnya pelan.

Reo segera pergi ke daratan setelah mendapatkan titah dari sang raja. Tubuhnya telanjang bulat membuat seorang nelayan yang melihatnya merasa heran sekaligus terkejut.

"Tuan, mengapa Anda tel*njang? Bukankah sebelum ke sini, Anda sudah membaca peraturannya terlebih dahulu. Bahwa di larang untuk telanjang dan memakai bikini di pantai ini?" tanya nelayan itu dengan nada sopan membuat Rio terdiam.

Pria tampan itu menatap datar nelayan tersebut.

Lalu …

"Tuan, akk … uhuk uhuk." 

Tangan Rio menembus jantung hingga badan nelayan tersebut. Sang nelayan mengeluarkan darah melalui mulutnya, matanya melotot melihat Rio di hadapannya. 

Rio tersenyum kejam seperti psikopat melihat darah menyembur keluar dari mulut sang nelayan.

"Dasar manusia hina," desisnya pelan lalu menarik kembali tangannya tak lupa mengeluarkan jantung nelayan itu.

Sang nelayan ambruk ke pasir pantai dengan darah mengucur deras dari dada dan mulutnya. Dia sudah tak bernyawa lagi.

Rio memiringkan kepalanya menatap jantung manusia di tangannya lalu menoleh ke arah laut.

"Jacob," gumam nya lalu melempar jantung itu menggunakan kekuatan nya  ke tengah lautan. 

Brr.

Seekor lumba-lumba raksasa melompat dari dalam air lalu melahap jantung manusia itu dan kembali ke dalam air. Mungkin para manusia yang melihat lumba-lumba raksasa berwarna hitam pekat itu akan merasa senang.

Notabene nya lumba-lumba tidak berbahaya dan ikan paling ramah bagi manusia. Berbeda dengan lumba-lumba raksasa itu, dia sangat ganas dan jahat.

Rio tersenyum senang lalu berbalik kembali berjalan dengan langkah tegap. Tubuh polosnya tiba-tiba terlapisi oleh pakaian casual.

"Sudah lama aku tidak menjadi manusia. Akan sangat menyenangkan bila aku membuat kekacauan sedikit," gumamnya pelan seraya menyeringai kejam.

*

*

Bersambung.

Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰😘

Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🥰

Terpopuler

Comments

Yunerty Blessa

Yunerty Blessa

Rio ni niat berbuat jahat

2024-11-15

0

Yunia Afida

Yunia Afida

kayaknya dia bakal jadi musuh zeo deh, tar kekuatan didalam diri zeo muncul

2022-12-15

0

Leerienna

Leerienna

ternyata mahkluk bawah laut juga ada yang psikopat juga

2022-12-06

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!