Hari sudah mulai gelap. Awan putih yang tadinya menaungi makhluk hidup di bumi. Kini berganti dengan awan hitam pekat, tiada bintang yang menemani malam, karena telah didahului oleh hujan deras. Bahkan, purnama pun takkan tampak disebabkan hujan deras turun.
Seorang gadis cantik tidur terlentang di atas pasir putih. Perlahan pemilik bulu mata lentik itu terbuka, ketika merasakan tetesan air hujan mengenai wajahnya. Nyawanya yang belum terkumpul seolah-olah dipaksa untuk bersatu oleh keterkejutan nya. Dia melihat ke sekelilingnya dan ternyata dia selamat.
Selamat dari kematian.
Bagaimana bisa? Bukankah tadi dirinya sudah berada di ambang kematian. Dia tenggelam dalam air laut, karena ulah saudara tirinya.
"Ak-aku masih hidup? Hiks … aku masih hidup!" Ziya merasa tak percaya. Perasaan senang sekaligus bersyukur bercampur menjadi satu.
Dia meneteskan air matanya menandakan dirinya sangat bahagia. Tak mengapa tubuhnya basah diguyur hujan. Hal terpenting yang wajib ia syukuri adalah dia masih di beri nafas untuk melanjutkan hidupnya.
"Tapi, bagaimana bisa aku selamat yah? Dan kenapa aku bisa ada di sini?"
Ziya berusaha mengingat apa yang sudah terjadi sebelumnya. Siapa yang telah menyelamatkan dirinya? Ataukah ombak yang membawanya ke tepi pantai?
Mata Ziya terbuka lebar saat ingatannya samar-samar kembali. Dia mengingat sosok makhluk yang berenang mencoba menolong nya.
"Tidak mungkin? Mustahil. Makhluk itu cuma dongeng. Kalaupun ada mereka tidak akan mungkin menampakkan diri di hadapan manusia!"
Ziya meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang diingat nya itu salah. Tidak mungkin dirinya di tolong oleh sosok Duyung. Logikanya menolak akan hal itu.
"Tidak mungkin! Bisa jadi itu hanya halusinasiku saja karena seharian mendengar Pak Derrick cerita tentang Duyung! Itu hanya mitos."
"Aku selamat mungkin karena dibawa ombak ke tepian!"
Ziya terus berusaha menepis segala pikirannya yang mengatakan bahwa dirinya di selamatkan oleh seekor duyung. Walau hatinya berusaha percaya, namun logika nya menolak.
Tak sengaja Ziya melihat sisik ikan. Bentuknya lebih besar daripada sisik ikan yang pernah ia lihat. Lebih mengkilap dan indah warna nya.
"Sisik apa ini?" tanyanya pada diri sendiri.
Sepuluh menit Ziya berdebat dengan isi pikirannya sendiri. Dia pun beranjak kembali ke penginapan. Hari sudah malam dan hujan turun deras. Dia memasukkan sisik ikan itu ke dalam kantong celana jins nya.
"Lebih baik mulai sekarang aku menjauh dan tidak mencari gara-gara dengan Melisa. Karena dia sangat nekat! Bisa-bisa aku mati konyol nanti!"
Ziya berkata pada dirinya sendiri. Setelah dua belas menit berjalan kaki dari tempatnya berada tadi, akhirnya dia tiba di tempat penginapan.
Suasana sepi memenuhi pandangan nya. Tidak seorangpun yang berada di sana, sepertinya hari sudah malam dan dia sudah lama hilang.
Saat masuk ke dalam penginapan, tak sengaja dia berpapasan dengan Pak Derrick – Dosen yang memberikan materi tentang Duyung tempo hari.
"Eh, kamu dari mana saja Ziya? Dan kenapa tubuhmu basah kuyup?" tanya Pak Derrick terkejut.
Ziya menelan ludahnya kasar. Dia tidak tahu harus menjawab apa? Karena tak mungkin baginya menjelaskan yang sebenarnya, karena pasti dia akan diburu oleh Melisa juga teman-temannya.
"Eum … ta-tadi saya main hujan, Pak. He he iya mandi hujan!" bohong Ziya seraya tertawa kecil membuat Pak Derrick menghela nafas berat.
"Kamu ini! Seperti anak kecil saja. Kalau kamu sakit gimana ikut serta dalam permainan tim besok, huh?" tanya Pak Derrick dengan nada kesal membuat Ziya menggigit bibirnya.
"Maaf, Pak," cicit Ziya pelan.
"Ya sudah, lebih baik kamu masuk kamar, mandi dan tidur! Besok kita harus bangun pagi-pagi sekali untuk olahraga bersama!" tegas Pak Derrick membuat Ziya menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih, Pak."
Ziya dan Pak Derrick pun berjalan dengan arah yang berlawanan. Hingga Ziya berbalik dan memanggil pria dewasa itu.
"Pak," panggil Ziya membuat Pak Derrick menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap Ziya.
"Iya."
"Apa Duyung itu benar-benar ada? Maksud saya apakah mereka itu nyata dan masih hidup sampai saat ini?" tanya Zara serius melihat Pak Derrick dengan tatapan yang tak kalah serius.
"Bagi kita cerita tentang Duyung itu hanyalah mitos atau dongeng pengantar tidur anak-anak kecil. Tetapi, bagi leluhur kita, keberadaan mereka (Duyung) itu benar ada! Namun, saya sendiri tidak pernah melihat mereka ada!" jelas pria itu datar membuat Ziya manggut-manggut.
Gadis itu membungkuk sedikit kepalanya dan mengucapkan terima kasih pada pak Derrick.
"Terima kasih, Pak."
Keduanya pun kembali melangkah ke arah yang berbeda. Ziya mengernyitkan dahinya, dia teringat dengan sisik ikan dalam sakunya lalu mengambilnya. Kemudian Ziya berbalik ingin menunjukkan kepada sang dosen.
"Pak …"
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰😊
Salem Aneuk Nanggroe Aceh 🤩🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
simpan saja sisik ikan duyung tu Ziya...siapa tahu keberuntungan mu..
2024-11-15
0
Yunerty Blessa
sedih pulak
2024-11-15
0
Yunia Afida
semangat terus💪💪💪💪💪
2022-11-28
0