Pagi menjelang. Terlihat sepasang manusia yang sedang tertidur dengan begitu mesranya sambil berpelukan. Jean yang merasa nyaman semakin membenamkan kepala nya di dada bidang Darren.
Sedangkan Darren tanpa sadar, menarik pinggang Jean dan memeluknya erat. Aroma wanitanya benar-benar membuatnya tidur nyenyak, setelah beberapa bulan terakhir ia tidak bisa istirahat dengan benar.
Jean mulai merasakan sesuatu yang aneh, benda keras menusuk-nusuk perutnya. Membuat wanita itu terganggu, ia reflek terbangun dan membuka matanya.
''Selamat pagi my sweety,'' sapa Darren dengan suara serak khas bangun tidur, menatap lekat bola mata Jean yang berkedip polos di depannya. Terlihat sangat cantik dan menggemaskan batinnya.
Di tambah lagi kini posisi mereka begitu intim. Darren yang tidak memakai apapun saat tidur membuat Jean melotot tajam dan mendorong tubuhnya agar menjauh.
''A-apa yang sedang kau lakukan disini?'' ucapnya terbata dan sedikit gugup. Ia memeriksa pakaiannya apakah masih berada di tempatnya atau tidak.
''Tenanglah, aku tidak melakukan apapun padamu,'' Darren mengusap pipi kanan Jean dan tersenyum. Memperlihatkan gigi putihnya dan lesung pipi di sebelah kanan.
Deg!
Jantung Jean tiba-tiba saja berdetak sangat kencang dari biasanya. Udara di sekitarnya juga mulai panas padahal saat ini pendingin udara masih menyala.
"Ada apa? Kau sakit?''
''Stop! Bukankah kau bilang tidak akan menyentuhku Darren! Kau mengingkari janjimu sendiri.''
Darren menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal dan melirik Jean malu. ''Maafkan aku, semalaman aku terus memandangi wajah mu, jadi tanpa sadar aku tertidur disini.''
'Apa? Memandang wajahku? Kurang kerjaan sekali pria mesum ini' umpatnya dalam hati.
''Lalu kenapa kau melepaskan pakaianmu? Apa jangan-jangan kau itu mencari kesempatan dalam kesempitan, iya kan!'' seru Jean memicingkan mata curiga.
Darren menghela nafas. Bagaimana bisa wanita yang ada di depannya ini menuduhnya berbuat macam-macam. Jelas sekali kalau dia berpakaian utuh.
Sebenarnya Darren ingin sekali memangsanya tadi malam. Apalagi selama mereka berada di ranjang yang sama, Jean berhasil membangunkan senjata tumpul miliknya. Hanya saja Ia berusaha menahan semua itu agar wanitanya tidak semakin membencinya.
"Apa aku begitu tampan, sampai kau tak berkedip melihatku?" Darren mengedipkan satu matanya, membuat Jean merasa geli dan beranjak menuju ke kamar mandi.
"Lepaskan Darren!" protesnya saat Darren menarik tangannya.
"Aku yang terlebih dahulu mandi, karena pagi ini ada pertemuan penting yang tidak bisa aku tinggal."
Setelah mengatakan itu, Darren masuk ke kamar mandi.
Jean kembali ingin menguji seberapa besar Darren tahan melihatnya. Dengan sengaja ia pun masuk dan melepas satu persatu pakaian yang menempel pada tubuhnya.
Jean berdiri melirik Darren sekilas yang juga sedang meliriknya kemudian melemparkan senyuman tipis, lalu masuk ke dalam bathub.
"Shiit!" gumam Darren memukul tembok yang ada di hadapannya.
Jadi kasihan sama Darren🤣.
*
*
*
Darren dan Steve sudah berada meja makan. Mereka menikmati sarpan pagi yang sudah di siapkan oleh pelayan.
"Steve apa kau sudah makan?"
"Sebenarnya saya belum makan apapun sejak tadi malam Nona, karena Tuan--" Steve tidak melanjutkan ucapannya karena kakinya sudah terlebih dahulu di injak oleh Darren.
"Apa kau sakit? Kemari lah, kita makan bersama."
Steve mengangguk dan duduk di samping kanan Darren. Sejak tadi pria itu menatap kesal ke arah asisten nya yang terus diperhatikan oleh Jean.
"Kau suka ayam Steve?"
"Ya Nona saya sangat suka."
"Suka dada atau paha?"
Byur!
Darren yang sedang minum tidak sengaja menyemburkan air ke wajah Steve. Jean yang melihat itu menahan tawanya mati-matian. Apalagi saat raut muka pria itu terlihat kesal.
"Tuan, kenapa malah disemburkan ke wajah saya, lihat basah semua sekarang."
"Salah siapa kau ada di depanku, sudah benar tadi kau berdiri," jawan Darren ketus.
"Kalau begini saya harus kembali ke apartemen mengganti kemeja saya yang basah," gerutu Steve yang terus di tatap oleh Darren dengan tatapan membunuh.
"Jam berapa acaranya akan di adakan."
"Delapan malam Tuan," jawab Steve yang sudah selesai mengganti kemeja dengan milik Darren.
"Jean, bersiaplah aku akan menjemputmu pukul lima sore."
Jean memutar bola mata malas menanggapi ajakan Darren dan pergi meninggalkan mereka berdua tanpa mengatakan apapun.
Darren tidak mempedulikan Jean yang terus mengacuhkannya. Dia akan terus berusaha mendapatkan hati wanitanya itu. Bagaimanapun caranya.
''Tuan, apa tidak sebaiknya kita kita mengatakan padanya sekarang,'' Steve mengendarai mobilnya menuju ke kantor.
Darren menghela nafas. ''Ini belum saatnya dia tahu tentang kebenarannya."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Bu ning Bengkel
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/.......lanjut.....nhakak terus......
.
.
2024-06-05
0
✯Fᴀᴋᴇ 𝐅✯ʰⁱᵃᵗᵘˢ
ngakak...🤣🤣🤣
2022-11-30
0
kholifah ifah
aduch Darren kau ini katanya g akan pegang2 lha kok main peyuk2an🤭
Enak ya Jean dipeyuk2 Darren sampai speechless gitu😁😁
mbok Yo Kondo nek seneng mben Darren Ndang sat set menikahi mu
2022-11-29
1