Mobil yang dikendarai Jean berhenti tepat di depan sebuah hotel. Wanita itu turun dan menutup pintu mobilnya dengan kencang. Lalu berjalan masuk ke dalam dengan tergesa.
''Tuan anda mau turun atau tetap berada disini," tanya salah satu bodyguard.
"Aku akan masuk, tapi suruh beberapa orang untuk memeriksa Cctv yang ada di hotel ini,'' perintah Darren tegas. Ia turun dari mobil, kemudian merapikan jas nya dan berdeham pelan agar tidak terlihat sedang membuntuti seseroang.
"Ck! Kalau bukan karena aku bisa melihat jelas wajahnya, aku malas melakukan ini. Apalagi sekarang aku terlihat seperti penguntit," decaknya memaki dirinya sendiri.
Jean sudah berada di depan pintu kamar hotel. Ya, kamar dimana dulu pernah ia tiduri bersama dengan Edward. Pria yang sangat ia cintai.
Saat itu, Jean tengah mabuk. Karena takut kedua orangtuanya marah melihat keadaannya, Edward membawanya kemari.
Dan disini juga kekasihnya itu pernah memintanya untuk menyerahkan mahkota yang selama ini ia jaga. Namun Jean menolak dengan alasan akan memberikannya saat mereka menikah nanti.
Langkah Jean terhenti saat ingin masuk. Ia belum mempersiapkan hatinya untuk menerima sebuah kenyataan yang lebih dari apa yang di lihatnya di bandara tadi. Entah apa yang Edward lakukan di dalam sana bersama selingkuhannya.
''Kau pasti bisa Jean. Jangan menangis, kau bukan wanita lemah!'' ucapnya meyakinkan dirinya sendiri. Perlahan Jean membuka pintu itu, karena kebetulan ia memiliki kunci cadangannya.
''Ahh...Edward. Kau membuatmu gila," desaah wanita yang sudah berada di bawah kungkungan Edward. Pria itu berkali-kali memberikan kenikmatan yang tiada tara padanya.
''Yes Baby. Milikmu sangat sempit dan menelan semua milikku..." desisnya dengan nafas memburu.
"Berjanjilah setelah ini kau akan menikahi ku Ed," pinta wanita itu. Edward mengangguk, ia seakan sudah tak sanggup berkata-kata lagi. ''Kau yang pertama dan terakhir untukku Ed.''
''Ahh..aku tau sayang," Edward mengecup sekilas bibir wanita. "Kau milikku baby."
Mereka berdua melakukannya sampai mencapai kepuasan bersama. Tanpa tau kalau diluar sana ada sepasang mata yang mengawasinya.
Jean melepas cincin tunangan yang berada di jari manisnya dan membuangnya. Ingin sekali ia menjerit namun tertahan. Karena tidak mau terlihat bodoh dan menganggu sepasang kekasih yang sedang menikmati malam panas menjijikan itu.
*
*
*
Darren masih mengamati Jean dari kejauhan, dan tak lama ia melihat wanita itu melangkah keluar dari kamar hotel tersebut dengan raut wajah sedih dan muram. "Kenapa dia selalu menangis setiap kali aku melihatnya? Apa dia sedang dalam masalah?" ucapnya dalam hati.
"Dan kau, kenapa harus peduli padanya Darren. Bahkan dia bukan siapa-siapa mu," elaknya namun tetap saja hati dan pikirannya berlawanan dengan apa yang keluar dari bibirnya.
"Tunggu Nona! Bisakah kita bicara sebentar. Ada yang ingin aku tanyakan padamu."
Jean menghentikan langkah nya, lalu mengusap pipinya dan menoleh ke arah Darren. "Kau ingin bertanya apa Tuan?" jawabnya dengan senyuman tipis di bibirnya.
Deg!
Jantung Darren kembali berdetak kencang. Dan kali ini tidak seperti biasanya. Ada getaran-getaran aneh yang menggerogoti hatinya. Setelah menunggu lama akhirnya Ia kembali melihat jelas wajah seorang wanita yang begitu cantik dan mempesona di matanya.
"Hei Tuan, apa kau mendengar ku?" Jean melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Darren yang sekarang sudah memerah bak kepiting rebus.
"Oh maafkan aku. Aku hanya ingin menanyakan dimana toilet pria," jawabnya lirih, wajahnya menatap lantai. Biasanya Darren selalu menatap lawan jenisnya dengan mata melotot tajam dan juga tatapan mematikan. Tapi kali ini ia seakan mati kutu di hadapan Jean.
"Hah? Kau bilang apa, aku tidak mendengarnya?" tanya Jean kembali.
"T-tidak Nona, tidak jadi," kilah Darren dan berlalu.
Jean hanya menatap heran ke arahnya. "Dasar pria aneh," celetuknya menggelengkan kepala dan pergi dari sana.
"Pfthh!" terdengar suara seseorang yang menahan tawanya karena melihat tingkah Darren. Sejak tadi ia mengawasi apa yang Tuan nya itu lakukan. ''Sama sekali tidak ada kemajuan," ucapnya dengan nada mengejek.
''Kau! Kenapa ada disini hah?!'' tanya Darren datar. ''Dan apa arti senyuman mu itu, kau meledekku hum?!"
''Nggak tuan, saya mana berani meledek anda. Hanya saja anda kurang gercep," tegasnya.
''Cih! Jangan sok ikut campur urusan orang. Kau saja jomblo sampai sekarang!'' cibir Darren.
''Yaelah tuan, saya jomblo juga karena anda," Steve kembali menjawab ucapan Darren membuat pria itu semakin kesal.
''Apa kau bilang?!''
''Mampus aku keceplosan,'' batinnya. ''Nggak tuan saya nggak bilang apa-apa.'' elak Steve sedikit ketakutan.
"Gaji mu bulan ini ku potong separo!" tegasnya sebelum pergi meninggalkan Steve.
Mata Steve membola sempurna mendengar ucapan terakhir Darren dan kali ini Tuan nya terlihat tidak sedang bercanda. "Habislah sudah"
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Bu ning Bengkel
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/tadi setve disuru mengikuti itu wanita sekarang ngajinya mau dipotong ini salah siapanya......lanjut......
2024-06-04
0
Manggu Jimbau
🤣gaji kena potong steve 🤣👍💪
2023-04-15
0
Rahmawaty❣️
Gpp steve separo mh asal jgn setengh😂😂
2023-03-11
0