Mansion Alfred.
Pagi ini keluarga Alfred sedang menikmati sarapan pagi. Tidak ada sama sekali satu kata yang keluar dari bibir mereka kecuali dentingan sendok yang terdengar beradu dengan piring.
''Mom, Dad sejak kapan kalian kembali?''
Laura dan Bastian hanya diam tanpa menjawab ucapan putri kesayangan mereka tersebut. Hanya tatapan dingin dan datar tanpa kehangatan sama sekali.
"Please Mom, Dad jangan mendiamkan aku seperti ini. Aku minta maaf jika sudah membuat kalian kecewa,'' Clara kembali memohon dan kali ini dengan wajah memelas.
''Mom tidak yakin kalau memaafkan kamu itu bakalan buat kamu sadar Clara.'' ucap Bastian dengan sorot mata tajam. ''Kalau kamu masih mau menikmati fasilitas keluarga Alfred maka buang sifat burukmu yang selalu pergi ke bar dan memacari banyak pria.''
Clara tersedak dan minum. Ia juga menepuk-nepuk dada nya yang terasa sesak. ''Darimana kalian tau kalau aku sering pergi ke bar dan--''
''Steve!''
''What?!'' Clara memekik kaget. Selama ini bahkan Steve tidak ada disampingnya. Ia yakin kalau sudah menyuruh bodyguard nya untuk menyingkirkan anak buah Darren yang selalu mengikuti kemanapun dirinya pergi.
''Ayolah Mom, Dad. Aku juga butuh hiburan."
"Dengan cara menjijikan seperti itu? Kami tidak pernah mengajarimu menjadi brutal seperti ini sayang,'' Lauren mengusap lengan Clara mencoba menasehati nya dengan lembut agar dia tidak memberontak.
''Di Jerman aku terbiasa hidup bebas Mom. Ditambah lagi kalau aku tidak pergi bersama mereka, bisa dipastikan mereka akan menjauhiku.''
Memang benar, kehidupan di Jerman berbeda sekali dengan di Jakarta. Clara yang sudah berada di sana sejak berusia 19tahun tentu tau seperti luar dalam pergaulan disana.
"Mereka?''
Clara mengangguk. ''Teman-temanku yang berasal dari kalangan orang kaya dan terpandang.''
''Kalau begitu jauhi mereka. Untuk apa memiliki teman tapi malah menjerumuskan ke hal-hal yang tidak benar.'' Bastian menatap Clara serius. ''Satu lagi, ini bukan Jerman.''
Clara meletakkan sendok dan garpu nya. ''Yang terpenting aku tidak pernah melakukan sekss bebas. Dan aku bisa menjaga diri. Kalian tenang saja.'' ucapnya meninggalkan meja makan. Sedangkan kedua orangtuanya hanya bisa menghela nafas melihat kepergian putrinya.
''Sepertinya kita harus melakukan cara terakhir sayang.''
''Tapi honey, tunggu Darren menikah dulu.''
Lauren tersenyum ke arah Bastian. ''Tentu saja karena putra kita juga akan segera menikah.''
Bastian mengernyit bingung kemudian pasrah. Karena semua rencana yang disusun rapi oleh istrinya itu pasti akan berhasil.
*
*
*
''Dimana dia, kenapa sejak tadi belum turun,'' Darren terus menggerutu karena menunggu Jean yang belum menemuinya untuk sarapan pagi.
"Bukankah semalam anda tidur bersama Nona, apa belum berhasil pecah telor?"
"Pecah telor?"
"Ya tuan, kalau bahasa kerennya itu belah duren."
Darren tidak mempedulikan ucapan Steve dan beranjak menuju ke kamar, ia ingin melihat apa yang wanitanya lakukan di dalam sana.
Brugh!
"Arggh! Apa yang kau lakukan." seru Darren. Kau benar-benar gila Jean," umpat nya tertahan karena tiba-tiba tangan Jean menariknya, lalu menjatuhkannya ke lantai. Dengan posisi kini kepala sampai pipi Darren mencium lantai.
"Aku memang gila! Salah sendiri kau mengurung wanita gila sepertiku disini. Apa kau menyesal Tuan Mafia?" tanya Jean menjambak rambut Darren gemas, membuat pria itu mendongak menatap langit-langit.
Darren menyeringai tipis.
"Tidak sama sekali. Malah tingkah manis mu ini membuatku semakin tertarik dan penasaran. Aku jadi membayangkan, kau pasti sangat menggairahkan di atas ranjang..."
"What? Dasar pria mesum," Jean yang lengan berhasil dijatuhkan oleh Darren dan mereka berubah posisi.
Jean berada di bawah kungkungan Darren sekarang. "Lepaskan aku."
"Hanya dalam mimpimu." Darren melepaskan satu persatu kancing kemeja nya. Kedua kakinya mengunci paha Jean, sedangkan tangan kanan mencekal kedua pergelangan wanitanya di atas kepala.
"Ya! Kau mau apa."
"Sarapan pagi, aku lapar." bisik Darren lirih.
"Darren kumohon lepaskan!"
"Kenapa susah sekali membuatmu mencintaiku Jean. Apa aku ini kurang tampan di matamu?" Darren menarik dagu Jean agar menatapnya.
"Aku sudah memiliki kekasih, kau tau itu kan. Jadi biarkan aku kembali padanya."
"Dia bahkan sudah mengkhianatimu. Aku janji kalau kau mau menjadi wanitaku dan berada di sisiku sampai saatnya tiba nanti, aku tidak akan menyentuhmu,"
Cih! Omong kosong macam apa ini. Mana ada pria yang bisa menahan nafsu dan gairah nya saat tinggal bersama seorang wanita. Apalagi pria seperti Darren.
"Aku akan membuktikannya pada mu mulai saat ini, aku tidak akan menyentuhmu." Darren berdiri dan menjauhi Jean. "Jangan pernah mencoba untuk kabur dariku." ucapnya sebelum keluar dari kamar itu
"Dasar pemaksa! Bagaimana aku bisa keluar dari sini sekarang. Dia bahkan menyita ponsel dan mematikan sambungan telfon di tempat ini. Argh.....!" Jean mengacak-acak rambut frustasi.
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Bu ning Bengkel
wauuuhhhuu7kkk......lanjut......
2024-06-05
0
✌︎ᵇᵗ🦋Lyyy🌟ツ
Uhuk 🌚
2022-11-27
0
Heni Mulyani
lanjut semangat
2022-11-27
0