"Astaga apa yang anda lakukan malam-malam begini Tuan?!" pekik Steve yang kaget melihat dapur sudah berantakan seperti kapal pecah.
"Kau buta hum? Jelas sekali kalau aku sedang memasak," jawab Darren ketus melirik asisten pribadinya sekilas.
"Pufthh!" Steve menahan tawanya. "Memasak atau menghancurkan dapur?" celetuk Steve kembali dan kali ini membuat Darren geram.
"Keluar kalau kau hanya ingin berkomentar tidak jelas," usir Darren dengan nada membentak. Bukannya membantu, asisten pribadinya itu malah terkesan mengejek apa yang ia lakukan.
"Bukan begini cara menggoreng telur Tuan. Buang cangkangnya, masukan telurnya." Steve merebut spatula dari tangan Darren.
Sedangkan yang sejak tadi Darren lakukan adalah memasukan telur beserta cangkangnya dan mengaduknya.
"Iya aku tau!" seru Darren. "Tadi aku pura-pura saja untuk mengetes mu."
Steve menggeleng melihat tingkah menggemaskan Darren. Baru pertama Tuan nya berada di dapur dan memasak seperti ini. Saat Ibunya sakit pun, dia lebih memilih memesan makanan jadi daripada membuatkan nya.
Tuan nya benar-benar sudah menjadi budak cinta gumam Steve dalam hati.
Tapi Steve juga senang, karena akhirnya Darren menemukan tambatan hati. Seseorang yang bisa membuatnya berubah, tidak dingin dan ketus seperti biasanya.
"Ada sedikit masalah dengan bisnis kita yang berada di luar negeri Tuan."
"Ya aku tau, pasti ini ulahnya yang selalu mencari masalah denganku." Darren berdiri di samping Steve. "Kau harus terus mengawasinya, jangan sampai kecolongan seperti dulu."
Steve mengangguk. "Lalu bagaimana dengan Nona Jean."
"Maksudmu?"
"Jangan sampai Nona ikut terseret karena anda Tuan," lanjut Steve membuat Darren seketika tak bisa bicara apapun.
Ini juga salah satu alasan, kenapa Darren selalu posesif pada Clara dan menyembunyikan identitas aslinya.
"Sekarang berikan ini pada Nona Jean, dia pasti akan sangat senang karena anda yamg memasaknya sendiri," ucap Steve memberi semangat pada Darren.
Dengan percaya dirinya Darren membawa nampan yang berisi makanan itu ke dalam kamar.
Prang!
Darren terkejut saat membuka pintu kamar dan reflek menjatuhkan makan malam nya.
"A-apa yang kau lakukan Darren! Kenapa tidak mengetuk pintu dulu" pekik Jean yang kini polos tanpa sehelai benang. Ia melepas bathrobe nya karena baru saja selesai mandi.
"Maafkan aku," ucap Darren datar. Ia memejamkan mata dan menelan saliva nya berkali-kali. Pemandangan indah di yang baru saja ia lihat membuatnya sedikit panas dingin.
"Haish memalukan sekali!" batin Jean. Ia memungut bathrobe yang berada di lantai dan segera memakai nya lagi.
"Tetaplah di sana dan jangan bergerak," ucap Jean berjongkok lalu memungut pecahan gelas dan piring tersebut. Meski kepala nya masih terasa pusing.
Greb!
Darren yang tidak peduli dengan itu segera membopong Jean dan merebahkannya di atas ranjang.
"Kau masih belum pulih jadi biar aku yang akan melakukannya." lirihnya lembut.
"Tapi kakimu--" ucapan Jean berhenti ketika sebuah kecupan hangat mendarat di bibirnya. Matanya membola, namun anehnya dia diam saja meski tidak membalas lumaatan itu.
"Bagiku kau lebih berharga dari apapun."
Jean merasa ada debaran aneh di hatinya saat mendengar ucapan Darren. Tapi wanita itu tidak tau perasaan apa yang tiba-tiba mengganggunya.
"Aku akan membuatkan yang baru untukmu, tetaplah disini dan jangan bergerak sedikitpun," ancam Darren berlalu dari hadapan Jean.
"Hahhhh......" Jean meraup udara yang berada di sekelilingnya dan menghembuskan perlahan. "Aku bisa kena serangan jantung jika terus seperti ini," gumamnya beranjak dan memakai kembali pakaiannya.
"Mau kemana, bukankah aku sudah menyuruhmu untuk tetap diam dan jangan bergerak."
"Aku ingin pulang, Kakek pasti akan sangat khawatir."
"Jangan bermimpi kau akan keluar dari sini, karena itu tidak akan terjadi," ancam Darren. " Makanlah ini, setelah itu minum obatmu."
Jean terdiam. Ia mengingat kembali ucapan sang Kakek untuk memilih antara Darren dan Edward.
"Buka mulutmu atau aku akan mencium mu lagi."
Tanpa menunggu lama Jean segera membuka dan melahap habis semua makanan yang Darren siapkan.
''Sampai kapan kau akan mengurungku disini Darren, aku ingin bebas!''
''Sampai kau jatuh cinta padaku Jean.''
''Hanya dalam mimpimu,'' ucap Jean dengan meninggikan suaranya.
"Beri aku waktu selama 60hari."
Jean mengernyit bingung.
''Jika dalam waktu yang kuberikan kau tidak segera jatuh cinta padaku, aku akan melepaskan mu my sweety.''
Gila memang, ya pria yang ada dihadapannya sekarang memang gila.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Bu ning Bengkel
60 hr jadi 2 bln lama sekali haruus ya hanya 1 minggu saja biar cepat jatuh Cintanya darwerd begitu......lanjut.....
2024-06-05
0
Missti Yani
kelamaan 60 hari keberu my swety d ambil orang
2023-05-14
1
Angelbwi Angelbwi
kenapa 60 hari knp gk 65 hari aja😅😅😅
2023-02-20
2