Satu jam yang sebelumnya.
Seorang wanita dengan manik mata berwarna coklat dan berkulit putih khas asia, terlihat sedang duduk menunggu kedatangan sang tunangan yang baru saja pulang dari luar negeri.
Wajahnya merona, senyuman pun sejak tadi tak lepas dari sudut bibirnya. "Semoga dia menyukai hadiah ku," gumam Jean pelan.
Jean wanita berusia 25 tahun yang memiliki postur tubuh ideal di atas rata-rata. Karirnya yang cemerlang dan kehidupannya percintaan yang berjalan mulus. Bagaimana tidak, Edward pria yang selama ini menjadi sahabatnya menyatakan cinta dan melamarnya.
Jean pernah menolak, namun Edward terus meyakinkannya kalau dia serius dan tidak akan pernah membuatnya kecewa. Bahkan pria itu dengan gentle melamarnya di depan kedua orang tua Jean.
Sesekali ia menatap ke arah ponsel karena sejak tadi Edward belum juga menghubunginya, padahal hampir tiga puluh menit ia berada di sana menunggu seperti orang bodoh.
"Nona, sebaiknya kita pergi saja. Mungkin pesawat Tuan mengalami delay," ucap Boy asisten Jean yang sejak tadi berdiri di belakangnya. Ia tidak tega melihat wajah Nona nya yang terlihat kelelahan.
Pasalnya, selesai meeting Jean langsung menuju bandara tanpa mempedulikan apakah dia sudah makan ataukah belum. "Sebentar lagi, aku yakin Edward akan segera datang," jawabnya yakin. Padahal ia sendiri tau, kalau pesawat yang dinaiki tunangannya sudah mendarat satu jam yang lalu.
"Belikan aku satu cup matcha latte tanpa gula Boy," perintahnya pada pria dengan penampilan santai tersebut. Ia meminta sang asisten memakai pakaian seperti itu agar semua orang yang berada di sana tidak curiga.
"Baik Nona," jawabnya tegas. "Ada lagi yang anda butuhkan," tanya Boy sebelum melangkah pergi dari sana.
"Maksudmu apa Boy?" Jean mengeryit bingung melihat Boy yang tiba-tiba tersenyum tipis padanya. Tidak biasanya asisten dengan wajah datar dan dingin itu menampakan senyuman.
"Mungkin anda butuh bahu untuk bersandar Nona," ucapnya kembali dengan nada datar.
Jean berdeham pelan dan melirik tajam ke arah Boy yang sudah lebih dulu kabur karena takut Nona nya mengamuk seperti macan kelaparan. Niatnya hanya bercanda tapi malah dianggap serius olehnya.
Jean mencoba menghubungi ponsel Edward, namun pria itu tak kunjung mengangkatnya. Hingga ia memutuskan untuk mencari keberadaan sang kekasih siapa tau ada di sekitar sana.
Dan benar saja, tidak jauh dari tempatnya berdiri, ia melihat sesosok pria yang amat dikenali membelakangi nya. Pria itu terlihat sedang fokus berbincang dengan seseorang via ponsel.
"Edward...'' gumamnya lirih dan mendekat ke arahnya. Namun langkah kakinya terhenti saat melihat seroang wanita memeluk tunangannya dengan begitu mesra.
Deg!
Jean merasa ada sesuatu yang menusuk hatinya, entah perasaan apa. Ia mengurungkan niatnya untuk menemui Edward dan sedikit bersembunyi dari mereka berdua.
"Sayang kenapa lama sekali, aku menunggumu sejak tadi," ucap wanita itu dengan manja.
"Maafkan aku honey, pesawat ku tidak datang tepat waktu jadi terpaksa aku--"
Cup!
Wanita itu dengan berani mencium bibir Edward. "Aku merindukan mu Ed, sangat merindukanmu," ia kembali mendaratkan ciuman nya dan kali ini dibalas dengan lumaatan oleh Edward.
Mereka berdua dengan tidak tau malu melakukan itu di tempat umum dan dihadapan Jean yang jelas-jelas adalah tunangannya.
"Dasar bajingaan!" umpatnya dalam hati. Ingin sekali Jean mendekat dan menampar wajah mereka berdua, tapi sayangnya ia bukan wanita seperti itu.
Meski Jean sudah berusaha mati-matian untuk menahan air matanya agar tidak jatuh, tetap saja butiran bening itu menetes perlahan dari sana.
"Ahh...Ed hentikan kita ada di tempat umum," desis wanita yang berada di pelukan Edward.
"Kalau begitu kita pergi saja dari sini."
"Bagaimana dengan tunangan mu yang bodoh itu?! Dia pasti masih ada disini,"
"Lupakan dia, toh selama kami pacaran dan bahkan hampir menikah dia sama sekali tidak mau ku sentuh," ucap Edward mengusap lembut pipi wanitanya dan mengajaknya pergi dari sana.
Jean mengepalkan tangannya erat. Ia merenungi nasibnya untuk sesaat, namun pikiran nya kembali waras. Ia mengusap air mata nya dan mengikuti Edward.
Brugh!
Tanpa sengaja ia menabrak lengan seroang pria. "Maaf tuan, maafkan aku," ucap nya berlari menjauh. Terlihat sekilas wajahnya yang sembab karena menangis.
"Tunggu! Wajah nya aku bisa melihatnya?!" tanya pria itu pada dirinya sendiri. "Shiit! Aku harus mengejar dan mendapatkan nya."
*
*
*
Jean masuk ke dalam mobilnya dan mengikuti taksi yang membawa Edward dan juga selingkuhannya itu.
"Oh god! Bagaimana bisa aku menerima lamaran pria menjijikan itu. Dasar mata keranjaang. Jadi selama ini dia berniat menikahi ku karena menginginkan tubuhku saja?!" umpat Jean memukul stir nya berkali-kali. "Lihat saja nanti aku akan membalas perbuatan kalian berdua."
Sedangkan tanpa Jean sadari, di belakangnya ada beberapa mobil yang terus mengikutinya. "Apa wanita itu tidak bisa menyetir!" geram Darren yang melihat Jean mengendarai mobil seperti orang mabuk. Semua benda yang ada di samping kanan, kiri ditabrak olehnya.
"Sinting!"
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Bu ning Bengkel
jeen harus kuat....semangat thooort ....lanjut.....
2024-06-04
1
Zarin Mayresa
semangat thor lanjut
2024-01-08
0
Erna Wati
dh 3x tabrak
2023-10-26
0