Darren sudah berada di sebuah Club malam. Ia terpaksa pergi ke sana ditemani Steve dan beberapa anak buahnya untuk menjemput Clara.
"Bagaimana apa kau sudah menemukan dimana adikku?" Darren menarik keatas kedua lengan kemejanya sampai ke siku dan membuka sedikit dua kancing bagian atas karena merasa gerah.
Tubuh seksi dan sempurna di balik balutan kemeja itu sedikit terlihat bahkan sekarang Darren menjadi perhatian para pengunjung Club, terutama kaum wanita.
Banyak mata jalaang yang menatap ke arahnya. Ada juga yang hendak menghampirinya namun ditahan oleh para bodyguard agar tidak menyentuh Tuan nya.
"Singkirkan mereka semua yang ada disini, membuatku mual saja."
"Baik bos," jawab salah satu pengawal.
Steve menggeleng pelan. "Enak ya jadi orang tampan, mau kemanapun banyak yang nemplok. Beda sama aku yang remahan ini. Atau mungkin secuil nya dari ketampanan tuan Darren," gerutunya dalam hati.
"Steve cepat cari dia," kesal Darren yang sejak tadi melihat asisten nya melamun. "Kenapa kau malah bengong seperti orang bodoh disini."
Steve tersentak kaget. "Iya tuan ini saya juga sedang mencari Nona Clara," ujarnya dengan mata mengedar ke sana kemari.
Darren kembali berdecak. Bagaimana bisa disebut mencari, sedangkan sejak tadi Steve hanya celingak celinguk di belakang nya.
"Stupid!"
"Apa anda mengatakan sesuatu Tuan?" tanya Steve bingung.
"Lupakan!" ketus Darren saat kemudian matanya tertuju seseorang yang sangat di kenalnya. "Clara Alfred! Habislah kau malam ini."
Ya, Darren melihat Clara yang berdansa bersama seorang pria dan sedikit mabuk. Meski samar-samar tapi Darren tau kalau itu adalah adiknya.
"Beri pelajaran pada pria yang sudah berani membawa Clara datang ke tempat seperti ini," perintahnya tegas dan diangguki oleh anak buah nya.
"Lalu seret Clara ke mobil ku." Darren berjalan keluar dari tempat itu karena tidak tahan lagi dengan bau alkohol dan juga parfum milik para jalaang.
*
*
*
"Lepaskan aku Steve! Aku masih ingin berada disini," rengek Clara mencoba memberontak dan terus memukul punggung Steve yang sedang membopongnya paksa ala karung beras.
Steve tidak peduli dengan apa yang dilakukan Nona nya, yang terpenting sekarang adalah membawanya menemui Darren. Atau dia akan habis karena kemarahan bos nya yang sudah berada di ubun-ubun.
"Masuk!"
"K-kakak kenapa kau bisa tau kalau aku ada disini?"
"Masuk Clara Alfred!" ucapnya kembali dengan nada penuh penekanan.
"Mampus habislah aku," gumam Clara dalam hati.
Setengah jam perjalanan, mobil yang membawa mereka berhenti tepat di sebuah hotel yang tidak jauh dari sana. Darren sempat terdiam kenapa Steve malah membawanya kemari. Bukankah seharusnya pulang ke mansion?
"Turunlah sekarang Tuan, kamar 127 lantai tiga." celetuk Steve tanpa memberitahu apa maksud dari ucapan nya itu.
Darren mengernyit bingung.
"Apa Kakak sengaja memesan kamar untukku di sini?" tanya Clara dengan mata berbinar senang, wajahnya memerah karena mabuk namun masih sedikit sadar.
"Untuk apa? Kau akan di hukum karena sudah melanggar aturan ku," Darren menyeringai dan turun dari mobil sebelum itu ia berpesan pada Steve agar mengantar Clara pulang.
Dan di sinilah Darren berada, lantai tiga. Ia menuju ke kamar nomor 127. Langkah kaki nya terhenti saat melihat Boy. Asisten pribadi Jean, wanita yang sedang ia tunggu sejak tadi.
Ekhem!
Suara deheman Darren membuat Boy kaget dan menoleh ke asal suara. "Tuan Darren apa yang anda lakukan disini?" tanya nya gugup.
"Seharusnya aku yang bertanya pada mu. Apa yang sedang kau lakukan di depan pintu kamar orang hum?!" Darren kembali membalikan pertanyaan Boy. "Atau jangan-jangan kau sedang mengintip kekasihmu yang bercumbu dengan pria lain begitu?"
Darren tersenyum tipis tapi kemudian senyuman di bibirnya itu hilang saat melihat nomor kamar yang dikatakan oleh Steve ada di hadapannya. "Itu berarti yang ada di dalam sana...."
Darren melirik Boy dan mengangguk. Ia seakan tau apa yang akan di ucapkan oleh Pria dingin itu.
"Oh shiit!" umpatnya kesal. "Kenapa kau baru memberitahuku sekarang Boy!"
Boy menunduk menatap lantai, ia tau seperti apa Darren kalau sedang marah.
"Tuan tidak memberikan saya kesempatan untuk bicara jadi--"
"Cukup! Katakan dengan siapa wanitaku berada di dalam sana!" teriak Darren dengan nada membentak. Kali ini mungkin Edward akan menjadi sasaran empuk dan pelampiasan pria itu.
Brakk!
Anak buah Darren berhasil menghancurkan pintu kamar itu karena bosnya tidak sabaran jika harus menunggu kunci cadangan.
Dengan cepat Darren masuk dan melihat Jean yang pingsan sedangkan Edward berada di atas tubuhnya hendak mencumbu wanita itu.
Jika saja ia tidak datang tepat waktu mungkin saja Jean sudah di jelajahi oleh pria hidung belang itu.
"Jangan berani kau menyentuh wanitaku sedikitpun sialan!"
Edward menoleh ke asal suara. "Darren..."
...----------------...
Jangan lupa like nya ya kak...
Terima kasih...💕
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Bu ning Bengkel
waaaaaa\aaaalanjut tanbah sssseeeuuuurrrr4uuuu assssy....lanjut.......
2024-06-05
0
Missti Yani
pewwwww lanjutttt tambahhh seruuu
2023-05-14
0
Manggu Jimbau
bagus semangat 👍👍💪
2023-04-16
1