"Apa Abang masih belum bisa menerima pernikahan kita?" Tanya Maurin.
"Semua sudah terjadi. Kita jalani saja..!!" Jawab Bang Brigas.
"Maurin minta maaf ya Bang........"
"Sudahlah.. jangan mengulang pembicaraan yang tidak penting. Kita sudah menikah ya sudah di jalani saja. Tidak bisa di pungkiri itulah kenyataannya." Suara Bang Brigas sedikit menyentil perasaan Maurin. "Maaf, Abang bukan pria yang baik untuk kamu..!!"
"Jika memang Abang tidak bisa mencintai Maurin.. Silakan Abang menikahi perempuan lain. Maurin ikhlas, tapi bolehkah Maurin meminta satu hal?"
"Apa?"
"Berikan Maurin seorang anak agar bisa menjadi teman Maurin di rumah..!!"
'Astagfirullah hal adzim.. kenapa Maurin bicara seperti ini. Aku memang belum bisa mencintai Maurin, tapi tidak pernah terbersit sedikit pun dalam hatiku untuk menduakan dia apalagi sampai menikahi wanita lain.'
"Apalagi?" Bang Brigas menahan perasaannya seakan ingin menguji Maurin.
"Itu saja Bang" jawab Maurin.
"Kamu siap menjadi yang 'kedua'?? Abang akan selalu mencintai yang 'pertama' " kata Bang Brigas.
"Nggak apa-apa Bang. Asal Abang bahagia, Maurin siap"
"Baiklah, Abang harap kamu tidak akan menangis dan menyadari ucapanmu ini.. sebab tidak mudah menjadi yang kedua. Kamu harus lebih banyak ikhlas dan mengalah." Bang Brigas kembali menghabiskan makanannya.
Maurin menunduk dan mengangguk menahan tangis.
'Ya Allah, tolong buka pintu hatiku untuk dia. Kenapa aku tidak bisa mencintai Maurin. Kenapa hanya bayang Miranda yang memenuhi hatiku, padahal aku tau dia sudah menyakiti hatiku terlalu dalam'.
//
Bang Ricky beralih menindih dan mendekatkan wajahnya mengecup sekilas bibir manis Nindy. Meski dalam ketakutan yang teramat sangat, namun Nindy tak menolak kilas kecupan itu, lamat Nindy membalas kecup manis yang ia berikan. Balasan kecup yang jauh dari kata profesional dan pintar. Tangan Bang Ricky mengangkat dan mengunci kedua tangan Nindy di atas kepala istri kecilnya. Ia pun kembali mengecup bibir Nindy lebih dalam.
"Kalau begini terus jelas aku tidak kuat. Bagaimana nih'
Bang Ricky mencoba menjauhkan tangannya dari tubuh Nindy, tapi respon tubuhnya tidak mampu menolak rasa. De*ahnya semakin kuat menuntut pelepasan. Ia pun mencoba menjauh, menarik tubuh dan melepas kecupannya.
Duaaaaarrrrr..
"Aaaaahh.. Abaaang..!!!!!!!" Petir kuat menyambar sekitar membuat Nindy menarik dan memeluk tubuh Bang Ricky.
"Deekk.. sebentar, jangan begini posisi nya..!!"
Sekali lagi terdengar suara petir menyambar.
"Nggak mau, Nindy takut..!!"
"Aseeeemm.. piye iki???" Gumam Bang Ricky pelan.
"Baaang.. pulang yuk..!! Nindy takuut"
"Pulang kemana? Masih hujan deras. Disini dulu saja sama Abang...!!" Bujuk Bang Ricky, suaranya begitu lembut membelai rambut Nindy. "Abang angetin mau nggak??" Bisik Bang Ricky.
"Caranya bagaimana Bang?"
Tangan lincah itu menaikan kaos Nindy lalu menurunkan celana Nindy kemudian dengan dirinya.
"Abaaaanngg.. Nindy nggak mau begini." Nindy berusaha berontak tapi Bang Ricky seakan tak mendengarnya. "Abaaaaaanngg...!!"
Bang Ricky tak sanggup lagi menahan perasaan. Ia mengarahkan 'senjata perangnya' yang sudah siap tempur di tengah paha Nindy. Perlahan ia mengatur diri agar Nindy tidak terkejut. Nindy yang terus bergerak membuat ubun-ubun nya memanas. Hatinya bimbang dalam dilema. Kepalanya sudah pening, akhirnya dengan sangat terpaksa.. ia sedikit menekan tubuhnya, terasa amat sangat berat hingga ia merasa seakan memecahkan sesuatu.
"Aaaaaaaaaaahh........."
Kaget dengan suara Nindy, Bang Ricky segera membungkam dengan bibirnya, tapi...
"Egghhh.. hhh" jelas sekali Bang Ricky baru setengah jalan namun miliknya sudah tumpah membasahi Nindy. Kesal ia rasakan sampai menghantam sisi kosong di samping Nindy. Ia pun menyadari kekhilafannya. Mau bagaimana lagi. Sejak tadi ia memendam hasrat yang menekan perasaan hingga sedikit saja sentuhan dari Nindy membuatnya melepas '***** panas' berbahaya.
Nindy mendorong dada Bang Ricky sekuatnya. "Sakiiiit Abaaaang..!!!!"
Seketika Bang Ricky tersentak kaget. Bibirnya terasa bungkam apalagi Nindy memukulinya membuatnya mati kutu.
"Abang jahaaaat..!!!!!" Nindy memegangi perut bawahnya.
"Mana yang sakit?" Tanya Bang Ricky hati-hati. Ia segera menyalakan senter dari ponselnya.
Mata Bang Ricky melotot, bibirnya ternganga ada noda bercak pada paha Nindy juga pada dirinya. "Astagfirullah.." Seketika Bang Ricky memeluk Nindy dengan erat. "Abang minta maaf. Abang sungguh minta maaf..!!!" Bang Ricky segera meminta Nindy untuk kembali memakai pakaiannya.
:
Hujan berhenti. Bang Ricky membawa tas di bagian dada lalu menggendong Nindy yang masih menangis karena ulahnya. Sungguh dirinya pun masih syok dan bertanya-tanya dalam hati karena ternyata Nindy masih perawan.
"Bang Irwan pegang-pegang Nindy seperti Abang." Kata Nindy mulai terbuka dan mengakui.
"Pegangnya itu seperti apa? Di buka atau tidak?" Tanya Bang Ricky penuh selidik.
"Hampir, tapi Nindy nggak mau. Karena belum menikah. Bang Irwan marah terus pegang-pegang badan Nindy dan Nindy berontak."
"Apa mungkin karena kamu berontak, jadi Irwan memberimu obat itu?" Bang Ricky menarik kesimpulannya?"
Nindy mengangguk. "Iya"
"Lantas bagaimana kamu bisa bertemu dengan dia?"
"Saat itu Ayah menitipkan makanan Indonesia untuk Nindy sama Bang Irwan. Mulai saat itu kami berkenalan dan pacaran. Awalnya Bang Irwan sangat baik. Tapi lama kelamaan sifat Bang Irwan berubah. Tak jarang dia memukul Nindy"
"B******n, banci kaleng" gumam Bang Ricky.
"Kita jangan ke Borneo ya Bang..!! Nindy takut" berkali-kali Nindy meminta hal itu pada Bang Ricky.
"Kamu istri siapa??"
"Istri Lettu Ricky" jawab Nindy pelan.
"Ya sudah.. kamu ingat itu..!! Nyonya Nindy Ricky..!!!!" Ucap tegas Bang Ricky.
Tak lama Nindy tertidur di bahu Bang Ricky. Senyum letnan Ricky mengembang. "Capek ya dek? Sabar ya.. sebentar lagi sampai. Terima kasih banyak untuk hari ini..!!"
Bang Ricky menarik nafas. Belum sampai dirinya pecah telur. Nindy sudah harus ngambek, tapi ia pun harus menelan kecewanya lebih dulu. Biarkan telur itu retak sekarang dan Nindy sendiri yang akan memintanya, meminta haknya sebagai istri sah Letnan Ricky.
"Sabaarr Ric.. Sabaaaaarr..!!" Ucapnya pelan menenangkan batinnya sendiri.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
titiek
kirain Nindy hamil. rupanya di grepeh2 dan dikasih obat terlarang
2024-10-29
0
titiek
Astaghfirullah
2024-10-29
0
Pricecilia Doom
Abang Ricky the best 👍
2023-12-26
0