"Jadi siapa yang mau bayar?" Tanya Pakde menggoda Nindy usai Bang Ricky dan Nindy menghabiskan nasi goreng.
"Saya nggak bawa uang pakde, tugas saya hanya bawa dia kesini. Nggak tanggung makan" jawab Bang Ricky dengan gaya kakunya.
Nindy yang memiliki harga diri tinggi pun angkat bicara. "Nindy juga nggak bawa uang. Biar Nindy bantu pakde cuci piring aja. Boleh nggak pakde??"
"Jangan Pakde. Selain nggak bersih, nanti malah piring pakde pecah semua." Kata Bang Ricky semakin menyudutkan Nindy. "Kalau begitu saya pamit dulu ya pakde..!!"
Pakde menyimpan senyumnya tak tega melihat wajah lugu Nindy. "Ibu bisa pulang..!! Saya nggak berani berurusan dengan Pak Ricky." Alasan pakde penjual nasi goreng.
"I_ya pakde. Terima kasih" Nindy sedikit gugup karena usia yang sangat muda tapi harus mendapatkan sapaan 'Ibu' dari Pakde.
Nindy pun berjalan lebih dulu saat Bang Ricky membuka jalan. Disana Bang Ricky meletakan selembar uang berwarna merah di gerobak pakde.
"Nggak usah Pak Ricky. Yang kemarin saja bapak belum terima kembalian"
Bang Ricky memberi kode agar pakde diam. "Nggak apa-apa" kemudian letnan senior itu berjalan meninggalkan pakde mengikuti langkah Nindy.
~
"Apa pakde marah?" Bisik Nindy.
Bang Ricky mengangguk. "Iya, marah sekali. Kenapa kamu nggak bawa uang??" Tegur Bang Ricky.
"Duuhh bagaimana nih om? Tadi terlihat baik-baik saja. Kenapa jadi marah"
"Ya masa memarahi perempuan??" Kata Bang Ricky.
"Iya.. om benar..!!"
"Harusnya di maki saja" sambung Bang Ricky yang langsung mendapatkan lirikan tajam dari Nindy.
Nindy pun mempercepat langkahnya karena malas berdekatan dengan Om Ricky.
Jalan menuju kesatriaan batalyon memang tidak terlalu terang hingga Nindy tidak melihat lubang di sepanjang jalan. "Awwwwhh.." Nindy terpekik karena kakinya terperosok.
"Kamu rabun ayam? Apa sulit sekali melihat lubang sebesar itu??" Tegur Bang Ricky kemudian menyentuh kaki Nindy.
Plaaakk..
Nindy menepak tangan Bang Ricky. "Jangan pegang Nindy..!!!"
"Kaki macam kerupuk rambak saja masih sombong kau" gerutu gemas Bang Ricky. "Rasakan itu, selamat menikmati malam.. Batalyon ini di samping hutan.. ada begal, grandong, kuntilanak. Ngesot saja kamu sana..!!!"
Bang Ricky berdiri kemudian berjalan meninggalkan Nindy.
"Oomm..!!"
Bang Ricky terus berjalan seakan tak mendengarnya.
"Om Rick..!!" Sapa Nindy sekali lagi.
"Kenapa??"
"Tolong Nindy..!!" Pinta Nindy dengan nada memelas.
Bang Ricky menyimpan senyumnya dalam gelap. "Tolong apa?" Katanya.
"Bantu Nindy berdiri..!!"
Bang Ricky berbalik arah. Ia berjalan menghampiri Nindy dan mengulurkan tangannya. Nindy pun meraihnya dan sekuatnya berdiri. Merasa Nindy kesulitan berjalan, Bang Ricky segera turun tangan dan tanpa banyak bicara segera menutup rapat paha Nindy lalu mengangkatnya. Refleks Nindy berpegangan kuat pada belakang leher Bang Ricky. Dalam temaram malam, kedua mata mereka saling bertemu pandang.
"Nanti Abang sama Ayah bisa marah" kata Nindy lirih.
"Saya yang tanggung jawab" jawab Bang Ricky.
~
"Mohon ijin Dan.. apa ada surat ijin untuk membawa putri panglima ke Mess perwira?" Tanya Petugas piket jaga kesatriaan yang lebih dekat masuk ke mess perwira, karena tadi Bang Ricky dan Nindy lewat pintu belakang.
"Ada, di bawa letda Ganesha"
"Tidak bisa Dan, keluar bersama putri panglima harus membawa surat ijin"
"Kaki Nindy sakit, saya harus segera membawanya ke mess. Kalian jangan sengaja mencari kesalahan saya..!!" Tegur Bang Ricky.
"Tidak bisa Dan..!!"
"Kamu jangan buat saya malu ya. Kalau Nindy sampai bangun.. saya apelkan kalian semua..!!!!" Ancam Bang Ricky mulai kesal.
Para anggota pun tak bisa berbuat apapun kecuali mengijinkan Lettu Ricky melewati penjagaan.
:
"Darimana kamu???" Bang Setha masih tegang mencari adiknya yang sempat raib entah kemana, lebih kesal lagi saat melihat Bang Ricky menggendong Nindy.
"Abang ajak makan." Jawab jujur Bang Ricky karena memang dirinya salah sudah membawa pergi adik perempuan orang.
Bang Setha terdiam sejenak. Ia pun terbangun karena memang tadi tidak sempat mengajak Nindy makan. "Terima kasih banyak Bang, tapi lain kali tolong bilang dulu..!!"
"Saya minta maaf Setha." merasa salah, Bang Ricky pun berbesar hati mengakui kesalahannya.
"Nindy adik perempuan kami satu-satunya. Semoga Abang tidak tersinggung" kata Bang Setha.
"Abang ngerti keadaannya"
Hati-hati sekali Bang Ricky merebahkan Nindy.
"Abang kembali ke kamar. Kamu jaga adikmu..!!" Pesan Bang Ricky yang sesekali masih menoleh ke arah Nindy. Kening Bang Setha berkerut melihat tindak tanduk Bang Ricky.
//
Bang Brigas meremas dadanya kuat. Sungguh batinnya terpukul meratapi kepergian Miranda. Wanita yang sangat ia cintai itu tega mengkhianati dirinya. Ia pun tak siapa pria yang telah menjadi penengah dalam kehidupan mereka.
"Astagfirullah Long.. kenapa kamu ini????? Perempuan jangan kamu pikir dalam sampai seperti ini..!!" Bang Ricky yang baru saja akan masuk ke kamarnya, tak sengaja Bang Ricky melihat Bang Brigas begitu down dan hancur.
"Aku menjaganya tiga tahun ini, tapi kenapa dia mengkhianati aku Bang. Sesakit inikah kesetiaan?? Kenapa harus ada kata jatuh cinta???"
"Cinta tidak pernah salah Long. Kita hanya belum tepat menitipkan cinta pada orang yang tepat" kata Bang Ricky. "Ambil hikmah dari setiap permasalahan hidupmu. Jangan tersinggung ya.. Jika saja takdirmu berjodoh dan menikah dengan Miranda.. bagaimana kamu akan menyikapi rumah tanggamu?"
Bang Brigas terdiam sejenak. Beban di hatinya terasa berkurang meskipun masih tersimpan rasa sakit yang begitu dalam.
"Biarkan gagal saat ini, asal jangan gagal menjadi imam rumah tangga. Tanggung jawab akhirat lebih berat Long..!! Kelak.. pundakmu ini sandaran belahan jiwamu" Bang Ricky menepuk pundak juniornya.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Erna Wati
suka klo mereka sprti ini,berantem aj lh trs,ha ha
2023-11-21
0
Okie Larasati
dalem syekalii bang rick
2022-12-03
2
🅶🆄🅲🅲🅸♌ᶥⁱᵒⁿ⚔️⃠
jgn lama² sedihnya ya bang brigas
2022-11-26
1