Langit mulai menghitam padahal hari masih sangat 'pagi'.
"Berhenti sebentar Bang, kaki Nindy sakit..!!"
"Kalau kita berhenti, nanti semakin lama kita sampai di rumah..!!!!" Kata Bang Ricky.
"Tapi Nindy sudah nggak kuat lagi Bang"
Bang Ricky melihat raut wajah Nindy yang memang sudah kelelahan. Bagaimana pun juga Bang Ricky tetap tidak tega. "Ya sudah, kita istirahat dulu. Kamu duduk disana..!!"
Dengan cepat Bang Ricky memangkas beberapa dahan dan ranting kemudian tak lupa dengan daun untuk membuat atap sederhana.
Nindy melirik Bang Ricky yang sedang sibuk dengan kegiatannya. Lama semakin lama hatinya terusik, matanya memandang sosok pria yang kini sudah menjadi suaminya itu. Hingga rintik hujan mulai turun dan menyadarkan dirinya dari lamunan 'indah'.
"Cepat masuk kesini. Nanti bajumu basah..!!" Kata Bang Ricky.
Nindy masuk dan menuruti pinta Bang Ricky. Di dalam tenda alam itu cukup luas. Nindy merasa nyaman dan langsung merebahkan dirinya yang lelah.
Tak lama Bang Ricky menyusul masuk dan melihat Nindy merebahkan diri di sana. Semalam.. ia meminta tolong pada ibunya untuk membelikan beberapa pakaian karena saat datang, Nindy hanya menggunakan kebaya mengunjungi sang ibu. "Tutup kakimu..!!"
"Kenapa? Abang takut tergoda??" Ledek Nindy semakin berani.
"Apa salah kalau suami mu yang tergoda??" Jawab Bang Ricky.
Seketika Nindy bangkit, duduk menutup kaki dan menyimpangkan kedua tangan di depan dada. "Maksud Abang, Abang mau cium Nindy??"
"Kamu takut?? Bukankah hal wajar kalau seorang suami mendekati istrinya" Dengan sengaja Bang Ricky mendekati Nindy. Istrinya itu terlihat gemetar ketakutan.
"Nggak lah, Abang mau di mana??" Tantang Nindy??"
"Disini saja..!!" Bang Ricky tersenyum licik menyeringai menyambut tantangan Nindy. Dengan cepat Bang Ricky kembali merebahkan tubuh Nindy. "Abang tau kamu belum bisa, jadi jangan buat Abang lepas kendali..!!"
"Nin_dy.. bisa" jawab Nindy terbata namun masih berusaha bertahan dengan angkuhnya.
Perlahan Bang Ricky memberikan Nindy satu kecupan hangat di kening dan Nindy pun menjadi sangat gugup, matanya terus memperhatikan raut wajah Bang Ricky. Air matanya tumpah ruah.
"Kenapa nangis?"
"Nindy.. pernah di lecehkan" ucap jujur Nindy. Entah kenapa dirinya berani mengungkapkan masa lalu terburuknya pada Bang Ricky.
"Itu hanya masa lalu. Tidak penting bagi Abang. Suamimu bukan malaikat yang berhak menghakimi masa lalu" jawab Bang Ricky.
"Bisakah kita tidak ke Borneo?" Pinta Nindy.
"Ada apa disana?"
"Bang Irwan.. ada disana..!!" Jawab Nindy.
"Sertu Irwanto.. dia anggota yang dapat kesempatan mendapatkan pendidikan di Korea??" Tanya Bang Ricky.
"Iya Bang, Nindy nggak mau bertemu dia. Nindy takut..!!" Nindy mulai histeris dan ketakutan.
"Betapa pun sulitnya, kau harus melawannya..!!!! Dengan Abang saja kamu berani bertengkar, kenapa dengan dia kamu tidak berani????"
"Ituuuuuu.........!!!!"
"Sudahlah, jangan pikirkan hal yang tidak penting..!!" kata Bang Ricky sengaja menutup ketegangan. Istirahatlah dan pejamkan mata, kamu sudah lelah"
//
Bang Brigas masuk ke dalam kamar setelah sejak kemarin dirinya sama sekali belum menemui Maurin.
"Bang.. Abang pulang?" Sapa Maurin.
"Iya, maaf.. Abang sibuk dengan kegiatan. Nanti kamu ikut tinggal sama Abang di rumdis tempat dinas yang baru saja ya. Nggak mungkin khan hanya satu Minggu saja kita disini?" Kata Bang Brigas.
"Iya Bang.. nggak apa-apa"
"Tapi Bang, surat nikah dan penunjukan istri belum jadi. Apa nggak apa-apa kalau Maurin ikut?" Tanya Maurin.
"Itu urusan Abang. Kamu nggak usah ikut mikir. Selama kamu menjadi istri Abang. Kemana pun Abang pergi.. kamu harus ikut..!!" Ucap tegas Bang Brigas.
Maurin mengangguk mendengar ucap Bang Brigas.
'Kenapa Maurin tidak melawan. Seharusnya dia marah kalau aku tidak memperhatikan dirinya. Apa cinta memang membutakan segalanya??'
"Abang mau makan?" Tanya Maurin masih bersikap lembut pada Bang Brigas.
"Nanti saja. Abang masih kenyang"
"Kalau begitu Abang istirahat saja. Maurin mau masak dulu"
Kening Bang Brigas berkerut sebab yang ia tau, Maurin tidak bisa memasak. "Memangnya kamu bisa masak?"
"Nggak" jawab Maurin singkat padat dan jelas.
"Terus buat apa kamu masaaak???"
"Ya masak buat Abang" Maurin memasang wajah tanpa dosa.
"Kamu mau masak apa?"
"Mie instan" jawab Maurin dengan keyakinan dan kepercayaan yang kuat.
"Kita makan saja di luar. Sekalian beli beberapa barang untuk di bawa ke Kalimantan..!!" Ajak Bang Brigas.
"Oohh kalau begitu Maurin mau ganti baju dulu..!!"
//
Bang Ricky melihat Nindy tertidur dalam gubug kecil. Entah sudah berapa banyak batang rokok yang sudah di hisap Bang Ricky namun semua itu belum bisa menenangkan batinnya.
'Manusia macam apa yang sudah membuatmu sampai seperti ini dek?? Abang tidak akan pernah mengampuni dia.'
Tak ingin batinnya terusik melihat Nindy. Bang Ricky melepas pakaian lalu menutup paha Nindy yang memilih menggunakan hot pant.
"Abang menikahi mu dengan banyak alasan dek. Mudah-mudahan Allah meridhoi segala niat baik dan menjadi rumah tangga kita adem, ayem, langgeng selamanya."
Setelah menghabiskan rokoknya, Bang Ricky merebahkan diri di samping Nindy.
...
Hujan masih saja turun dengan lebatnya. Petir pun menyambar. Nindy yang ketakutan sampai meringkuk bersembunyi di dada bidang Bang Ricky.
"Ada apa?" Tanya Bang Ricky dengan suara khas orang baru bangun tidur.
"Nindy takut"
Bang Ricky sedikit beralih mendekap Nindy. Perlahan tangan itu mengusap punggung Nindy perlahan. "Tidurlah, ada Abang. Atau kamu lapar?"
"Nggak, Nindy hanya nggak mau sendirian"
"Abang nggak akan pergi kemana-mana..!!" Entah menyadari atau tidak, Bang Ricky mendaratkan satu kecupan di kening Nindy.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Pricecilia Doom
so sweet banget nindy
2023-12-26
0
Tavia Dewi
romantis
2023-11-28
0
Iis Cah Solo
sosweeetttt..😊😊😊
2023-09-27
0