Maurin mengeringkan rambutnya yang basah menggunakan handuk. Semalam dirinya dan Bang Brigas sudah melakukannya.
"Abang mau mandi sekarang?" Tanya Maurin.
"Iya" Jawab Bang Brigas terdengar datar saja.
"Bang, apa semalam Maurin sangat mengecewakan?"
"Nggak" lagi-lagi Bang Brigas menjawabnya dengan datar saja padahal dalam hati Bang Brigas sedang berbunga-bunga, lega, penuh syukur dan haru. Bagaimana tidak, sang istri telah memberikan seluruh 'dirinya', tentu saja hatinya sangat bahagia.
"Maurin rasa, Abang marah sama Maurin"
Bang Brigas mendekati Maurin. Tetap ada rasa terima kasih yang sangat besar karena sang istri hingga detik ini masih mampu menjaga kesuciannya. "Terima kasih banyak untuk semua keikhlasan mu"
Maurin tersenyum kecil. "Sama-sama Bang"
Satu kecupan mendarat di kening Maurin kemudian ia berlalu menuju kamar mandi.
//
Nindy menggeliat dan melihat tangan Bang Ricky berada di atas perutnya. Seketika itu juga Nindy berjingkat kaget. "Ya Tuhan.. Abang tidur disini?????" Gumamnya sembari mengatur nafas. Ia menutup mulutnya tak berani bersuara.
'Tenaaang.. tetap tenaaang..!! Kamu nggak boleh gugup Nindyyy'
"Iihh.. tangan Abang berat amat. Makan apa sih?" Nindy kembali bergumam pelan.
Bang Ricky mengerjab, baru satu jam yang lalu dirinya tidur dan agaknya waktu itu masih terlalu singkat untuknya. Sudah waktunya sholat subuh dan ia harus segera bangun untuk melaksanakan kewajiban sebagai umatNya.
Ia melirik Nindy yang masih tidur pulas dalam dekapannya. Punggung jari Bang Ricky mengusap lembut pipi Nindy. "Maaf, kalau Abang kebablasan lagi. Kamu yang susah" Bang Ricky hendak mengecup kening Nindy tapi ia mengurungkan niatnya karena memahami kadar keimanan nya sendiri. Ia menarik diri dan perlahan menidurkan Nindy.
"Bangun dek.. sholat subuh..!!"
Layaknya orang baru bangun tidur, Nindy menggeliat dan melihat ekspresi wajah Bang Ricky yang datar saja. "Iya" jawabnya.
~
"Yaaa.. apa salahnya mandi 'tertib' seperti ini?" Kata Bang Ricky sambil mengisi bejana besar dari tanah liat untuk mandi . "Baca niatnya yang benar..!!!"
Nindy bersungut kesal karena seumur hidupnya tidak pernah mandi di tempat seperti ini.
Bang Ricky terkikik geli melihat kebingungan Nindy. Sebenarnya ibu sudah memiliki kamar mandi yang bagus di dalam rumah, hanya saja memang Bang Ricky memilih tempat mandi yang jaraknya agak menjauh di dalam kebun.
"Abang kesana saja..!!" Pinta Nindy.
"Lalu siapa yang akan menimba?"
"Nindy bisa" kata Nindy.
"Ini.. coba saja..!!"
Bang Ricky menyerahkan ember yang berada di sumur agar Nindy bisa menimba air.
~
"Baaang.. nggak kuaat..!!!"
Dengan tenang Bang Ricky berdiri dan memegang ember dengan satu tangan. Sebelah tangannya masih dengan santai menjepit rokok di sela jemarinya. "Makanya, kalau nggak bisa tuh nggak usah banyak gaya..!! Cepat mandi..!!"
"Masa mandinya hanya tertutup bilik bambu Bang?" Protes Nindy.
"Di sini hanya ada kamu sama Abang"
"Nggak aahh.. Nindy nggak mau mandi" Nindy berjalan hendak meninggalkan Bang Ricky tapi Bang Ricky segera melingkarkan sebelah tangannya di perut dan pinggang Nindy. "Kamu nggak ingat kemarin kita sudah berbuat apa? Kita belum melunturkan dosa dek. Masih kotor"
"Yang nakal sama Nindy khan Abang. Nindy nggak mau" jawab Nindy ketus.
"Kita melakukannya berdua. Bukan Abang saja."
"Pokoknya Nindy nggak mau mandi disini..!!" Tolak Nindy.
"Mandi saja. Pakai kain dari ibu tadi. Abang nggak lihat"
"Aaahh bohong, Abang pasti mau ngintip Nindy mandi." Celoteh Nindy sambil membuka kancing bajunya.
Refleks Bang Ricky berbalik badan. Ia gugup dan nafasnya tiba-tiba terasa sesak. "Apa bagusnya tinggi sejengkal sampai Abang harus ngintip kamu.. dada layar datar begitu"
Bang Ricky berjalan sedikit menjauh. Mulut, pikiran dan hati tidak sinkron. Sungguh perasaannya tidak tenang dan gelisah betapa sulitnya mengakui bahwa Nindy begitu menggoda naluri lelaki nya. Lekuk tubuh maha sempurna yang membuatnya gelap mata hingga batinnya sangat tersiksa.
Nindy melirik melihat dirinya sendiri. "Perasaan.. Nindy sangat seksi. Mata Abang saja yang rabun" ledek Nindy.
Bang Ricky memilih kembali menyulut rokok dan duduk di samping tempat Nindy mandi. Ia memejamkan mata mendengar suara gemericik air mengguyur tubuh Nindy. Pikirannya berkelana tak tentu arah. Rasa 'tidak puasnya' kemarin masih membayang.
'Abang ingin kamu siap melakukannya, tanpa paksaan dan kamu sadar bahwa dalam sebuah pernikahan ada ungkapan cinta dan kasih sayang yang harus diungkapkan bukan hanya dengan kata-kata.'
"Bang..!!"
"Dalem" jawab Bang Ricky merendahkan suaranya.
"Ada yang ngintiiip" bisik Nindy.
Seketika Bang Ricky berdiri dan hendak masuk ke dalam bilik.
"Aaaaaaaaaaahh.. Abaaaaaaaaaaanngg.." Nindy berjongkok merapatkan kain penutup tubuhnya.
"Aaaaseeeeeemm...!!!!!!!" Bang Ricky memejamkan mata lalu berbalik badan karena tidak sengaja melihat bukit indah yang tidak tertutup wadah milik Nindy.
"Kenapa Abang masuk??"
"Abang masuk gara-gara kamu juga. Mana yang ngintip????"
"Itu Bang, Nindy takut" tunjuk Nindy.
"Astagaaaaaa.. anak kucing aja kamu takut???"
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Iis Cah Solo
😂😂😂😂😂 akhirnya yg ngeliat bang ricky juga...nindy...nindy
2023-09-27
0
Puturidho Waseso
bagaimana klow kucing garong yg ngintip😁😁
2023-05-05
1
Any Anthong
rejeki y bang gara² anak kucing 😂
2022-12-08
1