Flashback Bang Ricky.
"Saya sanggup."
"Kamu jangan sesumbar Rick. Putri saya bahkan belum mendapatkan haidnya secara teratur di usia ke tujuh belas tahun. Dia masih anak-anak. Ibarat kata dia tidak pantas mendampingi kamu dengan profesi dan kedewasaan mu..!!" Kata Ayah Wira.
Bang Ricky memejamkan mata sesaat. Namun sekuat tenaga ia meyakinkan batinnya. "Pernah saya terluka menjalani hidup saya, hingga terpuruk dan benar-benar terjatuh. Namun setelah saya pasrah mengadu pada sepertiga malam, saya menemukan Nindy yang menggetarkan hati saya. Maaf Panglima, dengan lancang saya berani menyimpan rasa untuk putri seorang Panglima"
"Tapi menjalani hidup seperti ini tidak mudah le. Banyak halangan yang akan kamu hadapi. Hatimu akan terus sakit karena Nindy akan menyusahkan mu saja..!!" Ayah Wira mencoba jujur memberi pengertian pada Bang Ricky.
"Saya siap dengan resiko apapun yang akan terjadi." Jawab Bang Ricky.
"Kamu menekan dan memaksa saya?? Saya hanya punya satu putri dan saya tidak akan bisa menerima jika putri saya terluka"
"Jika sempat saya melakukan tindak kekerasan fisik ataupun mental yang mengakibatkan kondisi istri saya tertekan.. panglima bisa menuntut saya secara hukum sipil dan saya akan menerima hukum dan sanksi militer yang berlaku, atau jika Panglima masih tidak berkenan, silakan Panglima turun tangan untuk diri saya, termasuk menghilangkan nyawa saya..!!" Bang Ricky begitu tegas tanpa takut.
Ketiga Abang Nindy saling melirik mendengar ucap Bang Ricky.
"Baiklah, saya terima niat baikmu..!! Tapi semua juga tergantung tiga Abang Nindy."
Flashback Bang Ricky off.
***
Pagi hari Nindy terbangun. Wangi khas pedesaan menyeruakan kesejukan menekan indera penciuman Nindy. Ada bau yang amat sangat jarang ia temui di kota membuatnya ingin mendekatinya.
Nindy berjalan meraba bilik bambu. Rasa pusing dan melayang masih menghinggapi tubuhnya. Rasa pegal di badan pun belum juga hilang. Ia terus memperhatikan bentuk rumah tua khas jaman kompeni membuatnya sedikit takut.
"Sudah enakan badanmu?" Tanya Bang Ricky.
"Ini dimana Om?"
"Ya di desa" jawab Bang Ricky.
Nindy yang kesal segera keluar rumah karena malas berdebat dengan Bang Ricky. Saat Nindy di luar rumah, ia melihat hamparan hutan dan disisinya ada ladang lumayan luas.
"Sudah bangun ndhuk?" Tanya seorang ibu.
Nindy menoleh dan refleks membantu ibu tersebut menurunkan keranjang sayur berukuran besar di punggung.
"Ya ampun.. kenapa ibu mengangkatnya sendiri? Kemana anak ibu?" Sekuat tenaga Nindy memanggul keranjang tersebut karena tenaganya juga belum pulih benar.
"Anak ibu tinggal di kota"
"Anak ibu ada berapa? Kenapa ibu tidak ikut dengan anak ibu saja?"
Ibu tersebut tersenyum. "Ibu yang tidak mau, meskipun anak ibu memaksa. Kehidupan di kota tidak cocok dengan ibu. Di desa banyak sahabat ibu dan ibu merasa sangat nyaman."
"Dek.. masuk..!! Kamu masih baru adaptasi disini, jangan sampai kamu pingsan. Saya nggak mau angkat..!!" Tegur Bang Ricky.
"Ricky.... Kenapa kasar begitu?? Istrimu pasti takut" Ibu balik menegur Bang Ricky.
Nindy ternganga antara sadar dan tidak sudah menjadi istri seorang Lettu Ricky, lebih terkejut lagi saat tau ibu tersebut adalah mertuanya.
"Dia mau di maki juga bakalan bawel, nggak ada takutnya sama suami" jawab Bang Ricky.
"Sudahlah jangan buat istrimu sedih..!!"
...
Nindy melihat sambal dan sayuran rebus beserta ikan asin di atas meja. Jika sang ayah dulu sangat menyukainya, kini dirinya melihat langsung Bang Ricky yang sangat menyukainya.
"Cepat makan..!!" Bang Ricky menyuap nasi untuk Nindy dan ternyata istri Lettu Ricky itu sangat menyukainya. "Enak nggak??" Tanya Bang Ricky.
"Enak Om" jawabnya.
Ibu Bang Ricky berkerut karena Nindy memanggil 'Om' untuk menyapa pria tersebut. "Nindy nggak panggil Mas?" Tegur ibu Bang Ricky.
"Aahh.. Ehmm.. Anuu Bu......."
"Dia belum biasa Bu. Biar saja. Mau panggil Pak kah, Om kah, sesuka hati dia saja" jawab Bang Ricky.
Ibu tersenyum lalu membelai rambut Nindy. Makan yang banyak. Nanti Mas Ricky ajak main ke hutan..!!" Kata ibu mengajarkan panggilan sederhana untuk menyapa 'suami' Nindy.
"Iya Bu" belum sempat bibir Nindy tertutup, Bang Ricky sudah menyuap lagi nasi, ikan asin dan sambal ke mulut Nindy.
...
Baru dua menit Bang Ricky dan Nindy berjalan, Nindy sudah menghentikan langkahnya. "Masih jauh ya Om?? Eehh.. Bang" untuk pertama kalinya Nindy menyapa Bang Ricky dengan sapaan lain namun bukan seperti yang ibu Bang Ricky ajarkan.
"Baru sebentar berjalan, panas saja belum"
"Nindy capek..!!" Nindy mengeluh dan merengek tak ingin berjalan lagi.
"Kamu ini kalau jalan di mall saja kuat, giliran jalan di alam yang indah begini malah nggak kuat. Makanya kalau pagi tuh olahraga biar badannya kuat, nggak seperti tahu kukus" ledek Bang Ricky.
Nindy melirik Bang Ricky, kejengkelannya kembali muncul setiap kali pria itu meledeknya. Nindy pun meneruskan langkahnya.
bruuuugghh..
"Aawwhh.." Nindy terpekik karena kakinya tersangkut akar pohon.
"Manusia berjalan itu pakai mata dan kaki, bukan mata kaki saja..!! Akar sebesar ini tidak kamu lihat, sebenarnya kamu mikir apa????" Tegur Bang Ricky.
"Bisa nggak sih Abang nggak sedikit ngomel, sedikit marah, sedikit bentak, bicara sama Nindy baik-baik khan bisa, setiap kali Abang ngomong dan marah panjang lebar, apa Abang nggak tau kalau perempuan itu suka dengan kelembutan??? Abang kasar sekali. Nindy nggak suka"
"Terus ini yang marah, ngomel panjang lebar siapa?? Angin ribut???" Tegur Bang Ricky. "Ayo jalan lagi..!! Jangan sampai Abang lupa kalau lagi bawa perempuan"
"Teruuuss.. Abang pikir Nindy apa???" Gerutu Nindy.
"Astagfirullah..!!!"
Ctsss..
Bang Ricky menyentil kening Nindy. "Cerewet sekali ***** senapan angin ini" gumam Bang Ricky.
Nindy baru saja membuka mulutnya..
"Jangan banyak bicara.. ini hutan. Kalau kamu cari ribut.. penunggu nya bisa marah" kata Bang Ricky.
"Baang.. disini ada hantu??"
"Setan kepala hitam.. mengincar tubuhmu..!!!!!"
"Abaaaanngg.. Nindy takuuuutt..!!!!"
"Makanya cepat jalan..!!!!" Bang Ricky sedikit membentak Nindy.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Pricecilia Doom
keren bang Ricky
2023-12-26
0
Iis Cah Solo
akalan..akalan bang ricky 😂😂😂😂
2023-09-27
0
Qaisaa Nazarudin
Wkwkwk umur 17 tahun,belum mendapat haid yg teratur??!Anak2 dr umur 12 tahun udah pms aja,tetatur lg tiap bulannya sampai sekarang..😂😂
2023-05-08
1