"Ada urusan apa kamu dengan istri saya??" Bang Ricky menegur Bang Irwanto.
"Siap.. Ijin.. tidak ada Danki" jawab Bang Irwanto.
"Tidak ada yang bisa kamu tutupi dari saya." Bang Ricky mendekati Bang Irwanto kemudian menarik kerah seragam lorengnya.
"Siap salah Danki..!!"
"Sekarang ini Nindy sudah bersama saya, Nindy istri saya dan dia adalah tanggung jawab saya. Berani kamu mendekati Nindy.. berarti kamu akan berurusan dengan saya..!!" Ucap tegas Bang Ricky penuh dengan ancaman.
"Siap.. tidak berani komandan..!!!!" Sertu Irwanto berusaha menjaga jarak dengan Bang Ricky. Ia tau betul Dankinya itu sedang berusaha menahan amarah karena saat ini mereka berdua sedang memakai seragam lengkap.
:
"Sampai kapan kamu hidup dalam bayang ketakutan??"
Nindy masih terdiam seribu bahasa.
"Katakan, tumpahkan perasaanmu sampai hatimu puas..!!"
"Bang Irwanto pasti pukul Nindy..!!"
"Nggak akan ada satupun orang yang berani berbuat kurang ajar seperti itu. Abang sendiri yang akan turun tangan..!!" Kata Bang Ricky menguatkan hati Nindy.
Nindy memeluk Bang Ricky, tangisnya begitu sedih dan menggenggam erat kaos di depan dada Bang Ricky. "Nindy bukan pelakor, Nindy nggak tau kalau Bang Irwanto sudah punya istri. Keluarganya menghujat Nindy, tapi Bang Irwan terus menjejali Nindy dengan obat itu dan memeras uang Nindy. Padahal Abang tau sendiri, berapa uang pelajar.. apalagi Nindy di negeri orang"
Ulu hati Bang Ricky terasa nyeri mendengar penderitaan istrinya selama ini. "Bagaimana caramu bertahan hidup?"
"Nindy kerja part time di toko swalayan dan Nindy juga merancang perhiasan dari manik-manik yang Nindy jual online." Jawab Nindy.
"Apa itu cukup??"
"Nggak cukup, harga obatnya mahal sekali. Nindy pernah nggak makan dan hanya minum sama menelan obat itu. Nindy mau lepas dari barang itu Bang, Nindy lelah sekali berurusan dengan Bang Irwan" ucapnya sembari menangis.
"Ada Abang yang akan selalu menjagamu. Abang hanya minta sama kamu, nurut sama Abang..!!" Pinta Bang Ricky dan Nindy mengangguk menyanggupi.
//
Siang ini Bang Brigas mengajak Maurin bertandang ke kompi markas yang di pimpin Lettu Ricky. Tak lupa Bang Ganesha juga ikut mendompleng kakaknya itu.
"Abaaaang..!!!!!" Sapa Bang Ganesha yang bahkan belum memarkir mobil yang di kemudikannya
Bang Ricky menoleh mendengar suara khas cempreng yang sudah pasti jelas siapa pemiliknya. "Tumben, ada apa abang-abang mu kesini dek?" Tanya Bang Ricky saat memapah langkah Nindy.
~
"Maaf Bang, soalnya Nindy lemas banget. Saya kira hamil" Bang Brigas tersipu sendiri mengira Nindy sedang hamil.
"Heehh Kalong.. yang benar aja lu, kapan saya adu banteng sama adikmu. Kita nikah di hari yang sama. Maurin kali yang hamil"
"Saya kira Baaaang.. ya mungkin saja Abang sempat khilaf terus nggak sengaja" jawab Bang Brigas.
"Dalam kamus saya nggak ada kata nggak sengaja. Kalau kangen ya hajar saja tanpa ampun." Bang Ricky mengucapkan kata gemas sengaja untuk mengalihkan perhatian Bang Brigas dan Bang Ganesha. "Ayo ke rumah saya..!!" Ajak Bang Ricky.
:
Para pria berbincang di teras sedangkan Maurin dan Nindy memilih bercengkerama di ruang tengah sambil menonton drakor dan menikmati cireng, tahu gejrot dan es boba hasil memalak para suami yang tiba-tiba menodong jalan-jalan ke kota.
"Baru kali ini saya melihat Abang tidak bisa menolak permohonan yang tidak penting dari Nindy." Tegur Bang Ganesha.
"Makanya cepat nikah biar tau rasanya. Setinggi apapun pangkat kita, kalau sudah berhadapan dengan istri, kepala suku di rumah. Selesai lah riwayat mu"
Bang Brigas terdiam sejenak mengingat kejadian sesaat tadi.
Flashback Bang Brigas on.
"Ayo pulang..!!" Bang Ricky mengulurkan tangannya mengajak Nindy untuk pulang.
"Nggak mau" jawab Nindy menekuk wajahnya yang terlihat masih lemas.
"Kok nggak mau, kamu harus banyak istirahat..!!" Kata Bang Ricky.
"Abang belum ajak Nindy jalan-jalan lho..!!" Nindy pun mencolek lengan Maurin bahkan menginjak jempol kaki kakak iparnya itu.
"I_ya Bang, Maurin mau jalan-jalan ke kota" ucap lantang Maurin lebih berani dari biasanya padahal Bang Brigas.
"Beli apa?" Tanya Bang Brigas.
"Besok saja ya..!!" Bujuk Bang Ricky.
"Kita beli sendiri yuk mbak..!!" Nindy sengaja menarik tangan Maurin.
"Dek, tadi Abang bilang apa??" Bang Ricky mengingatkan istrinya.
"Nurut sama Abang" jawab Nindy melemah membuat kedua Abangnya ternganga.
"Ayo Abang belikan. Kamu mau apa?"
"Kalau tau akhirnya Abang bakalan setuju, kenapa nggak dari tadi saja Abang bilang 'ayooo' " protes Nindy.
"Jangan ribut saja seperti burung beo..!!! Mau Abang antar nggak nih?"
"Ya sudah ayoo..!!" Nindy pun berjalan mendahului Bang Ricky.
Flashback Bang Brigas off.
"Nindy tanganmu kenapa???" Tanya Maurin melihat pergelangan tangan Nindy memar seperti bekas remasan.
Nindy tersenyum saja dan bersikap biasa seolah tak terjadi apapun. "Tadi kejepit pintu mbak" jawabnya.
Maurin melebarkan senyumnya dengan rasa heran.
...
"Bang, Nindy dan Bang Ricky menikah dengan proses pacaran atau.. seperti kita?"
"Kenapa kamu tanya begitu?"
"Maurin melihat pergelangan tangan Nindy memar seperti di remas" jawab Maurin.
Kening Bang Brigas berkerut mendengar nya. "Kamu yakin????"
"Yakin Bang, Maurin khan sekolah bidan"
"Besok Abang lihat" Bang Brigas mengarahkan Maurin agar merebahkan diri bersamanya. Bibir Bang Brigas mengecup hangat bibir Maurin lalu melepas kancing baju istrinya.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Tavia Dewi
candu y bang,,minta Mulu😁
2023-11-28
0
Erma Puspita
kenapa kelakuan irwanto dibiarkan aja.. harus ada tindakan kan sudah menyebabkan orang lain trauma...
2022-12-11
2
Okie Larasati
belum cinta tapi udah bikin candu ya Bang Bri
2022-12-03
4