Panglima meminjam ruang Danyon dan memanggil Bang Ricky untuk masuk ke ruangan.
"Kamu tau putri saya salah dan bertindak tidak pantas, kenapa kamu lindungi??" Tegur Panglima.
"Siap.. sebab di ruangan itu hanya ada saya dan putri Panglima. Kesalahan bertindak.. adalah kesalahan laki-laki. Maka saya bertanggung jawab akan hal itu"
Panglima menyimpan senyum dalam hati. "Kamu ini.. salah ya salah. Tidak ada toleransi" jawab Panglima.
"Siap.. tidak apa-apa komandan. Kami sudah biasa mendapat tekanan batin, fisik dan mental tapi belum tentu putri Komandan sanggup jika terdengar berita simpang siur di luar sana"
"Baiklah kalau begitu. Terima kasih atas perlindungan mu untuk putri saya. Tapii.. bukan berarti karena saya panglima, kamu tidak membela dirimu?"
"Tidak panglima. Semua murni karena kesadaran saya"
...
"Nindy suka Bang Revan." Ucapnya saat berada di cafe tak jauh dari lokasi markas.
"Nggak usah cari masalah. Bang Revan mau menikah" kata Bang Brigas.
"Mau menikah Bang, bukannya sudah menikah" Nindy seakan tak peduli dengan perkataan Abangnya sendiri.
"Nggak baik merebut barang milik wanita lain. Apa kamu mau pacarmu di rebut orang?" Bang Setha ikut memberi pengertian.
Disana Bang Ricky hanya duduk diam sembari menghisap rokok favoritnya.
"Sepertinya di dunia ini hanya ada satu pria yang sifat baiknya seperti Bang Revan" jawab Nindy.
"Ini Bang Ricky juga baik kok dek."
"Idiiiihh.. siapa juga yang mau sama om-om. Nindy yang kece badai begini nggak mungkin naksir sama om-om" sergah Nindy.
"Saya sama si Revan masih seumuran. Malah tua Revan. Saya ini juga masih waras, nggak akan naksir sama bola bekel, ingusan, dandanan bocil begini kok mau di taksir om-om." Cerocos Bang Ricky pun tak kalah menohok. "Kece itu nggak mungkin ya, tapi kalau kamu pembawa badai.. itu sudah jelas"
Bang Brigas dan Bang Setha hanya bisa menyimpan senyum mendengar jawaban seniornya karena om kembar ini sudah hafal karakter seniornya di luar kepala.
"Apaaa?? begini ini juga Nindy pemenang juara satu gadis sampul" jawab Nindy tak terima.
"Iya sampul.. sampul hanyut"
Tak hentinya kedua pasang makhluk beda jenis ini terus berdebat.
Dalam hati kedua Abang Nindy juga menyimpan berbagai pertanyaan, tak biasanya Lettu Ricky mau menanggapi hal semacam ini apalagi dari seorang wanita dan parahnya.. Nindy adalah gadis yang usianya terpaut sembilan tahun di bawah Bang Ricky.
"Sudah, jangan ribut lagi..!!" Bang Setha memutus keributan antara Bang Ricky dan Nindy.
Saat itu Bang Brigas seketika berdiri setelah melihat info di ponselnya. Ia memegangi dadanya. Wajahnya nampak pias.
"Long.. kamu kenapa??"
"Miranda.. Mirandaaaa...!!!!!" Bang Brigas terlihat panik kemudian berlari menuju mobilnya.
"Heehh Kalong.. ada apa???" Tegur Bang Ricky.
"Tunanganku kecelakaan Bang." Kata Bang Brigas.
"Ya Allah, ya sudah ayo Abang antar. Kamu jangan bawa mobil. Pikiranmu nggak stabil..!!" Bang Ricky menyambar kunci mobil Bang Brigas.
"Nindy mau ikut Bang..!!" Nindy menyela ketiga pria di hadapannya.
"Kamu jangan ikut. Ini bukan karnaval" tolak Bang Setha.
"Nindy ikuut.." pinta Nindy mengekor di belakang punggung Bang Ricky.
"Sudah biar saja. Nanti Nindy sama Abang" kata Bang Ricky mengisyaratkan bahwa dirinya akan bertanggung jawab atas diri adik om kembar.
"Nindy nggak mau"
"Ikut saya atau kamu saya tinggal disini..!!" Ancam Bang Ricky sembari melepas jaketnya. "Pakai jaket saya..!!"
Mau tidak mau mereka semua berangkat dalam satu mobil milik Bang Brigas menuju ke rumah Miranda. Tunangan Bang Brigas.
:
Bang Brigas membuka pintu mobil dan secepatnya berlari ke dalam rumah Miranda diikuti Bang Setha di belakangnya.
Nindy pun membuka pintu mobil dan berniat menyusul kedua Abangnya tapi Bang Ricky mencekal tangan Nindy yang duduk di bangku depan bersamanya "Jangan kesana..!!"
"Nindy mau lihat tunangan Bang Brigas untuk terakhir kalinya" kata Nindy.
"Pakaianmu tidak sopan untuk melayat jenazah." Tegur Bang Ricky.
Nindy menunduk melihat rok mininya yang terlihat semakin mini. "Kenapa Om nggak bilang kalau seperti ini tidak pantas..!!" Protes Nindy.
"Eehh.. otak ayam.. anak luwak..!! Hal seperti ini butuh kesadaran diri, tidak perlu di ingatkan untuk bersikap apalagi soal sopan santun dan tata krama. Lalu menurutmu.. untuk apa saya beri jaket itu ke kamu??"
"Biar Om nggak tergoda tubuh indahku" jawab Nindy
"Eeeehh dengar baik-baik ya, mau kamu pakai baju jaring laba-laba sekalipun, naluri pria saya tidak akan tergoda. Apa yang bisa di banggakan dari kamu" ucap Bang Ricky berkoar sesumbar.
"Kalau nggak nafsu ya sudah, Om pikir Nindy suka sama laki-laki yang punya kumis tipis seperti parut kelapa??? Marah aja kerjanya." Nindy membuang jaket yang sejak tadi menutup tubuhnya ke arah Bang Ricky. "Nih jaketnya.. itu jaket apa ponco, besar banget..!!"
Bang Ricky memalingkan wajahnya kemudian melempar kembali jaketnya. "Pakai.. apa kau kira pahamu itu mulus." Nada suara Bang Ricky semakin meninggi. Tiba-tiba jantungnya berdebar dan berdesir kencang. Tangannya mencari bungkus rokoknya yang tiba-tiba raib entah kemana.
"Kemana sih aahh" gerutunya menutup rasa gelisahnya.
"Cari apa??"
"Rokok" jawab Bang Ricky singkat.
Tanpa di duga, Nindy menunduk. Refleks Bang Ricky mengangkat kedua tangannya menghindari Nindy yang menuju ke arahnya. "Mau apa kamu"
"Ambil rokok" kemudian Nindy meletakan bungkus rokok di paha Bang Ricky yang sempat terjatuh di bagian kopling.
Nindy mengangkat tubuhnya sembari menyibak rambut. Wanginya sungguh terasa menyentuh ujung kalbu membuat tubuh Bang Ricky menegang kaku.
"Oom.. om kenapa?"
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Haryani Ani
😂😂😂
2025-02-07
0
Tavia Dewi
seru banget
2023-11-28
0
Iis Cah Solo
om ricky sebenernya terpesona dek cuma malu2 meong..biasa laki2 jaga imed..😂😂😂
2023-09-26
0