Salsa Pingsan

"Kenapa dengan kakak mu? Di dalam kelas, dia memaksa kan diri nya terjaga dan berlajar matematika mati matian. Apa kah dia di santet oleh Guru?" tanya Silvi ngawur pada Ryan.

"Tidak ada hubungan nya dengan ku." ucap Ryan datar.

"Kalau begitu, bisa kah kau menerima permintaan pertemanan ku? Jika kau terus tidak menerima permintaan pertemanan ku, aku sangat malu." ucap Silvi memelas. Ryan tak menggubris nya, setelah Silvi selesai ngomong Ryan langsung pergi meninggal kan Silvi begitu saja. Padahal makanan yang dia makan belum habis sama sekali.

Ryan pergi menuju stand orang jualan. Dia ingin membeli makanan untuk Salsa, karena tadi dia dengar dari Silvi kalo Salsa masih belajar otomatis Salsa belum makan siang. Walaupun di depan Salsa cuek bikin darting terus, tapi di belakang nya mah perhatian dia cuman ke gedean gengsi nya aja.

"Aku mau sayur itu." tunjuk Ryan pada sayur ke sukaan Salsa. "Dan paha ayam ini, pilih kan yang besar dan tolong bungkus kan. Terima kasih." lanjut nya.

"Baik." ucap pelayan itu.

Salsa kesal melihat Ryan pergi, dan sekarang dia malah memesan makanan. Pas Salsa nengok ke depan ternyata sudah ada cowok yang duduk di depan nya.

"Teman sekelas, aku..." belum selesai tuh cowok berbicara dia ucapan nya terhenti karena penuturan Silvi.

"Pergi lah." usir Silvi pada cowok itu.

"Ayo makan bersama." ucap cowok itu yang masih kekeh duduk di situ.

"Jangan.. " ucapan cowok itu terhenti lagi.

Brakk

"Pergi." ucap Silvi sembari menggebrak mega. Akhir nya cowok itu pun pergi.

Silvi menghela nafas nya dalam. "Aku tidak boleh marah. Hidup itu memang seperti sebuah drama, bisa di takdir kan bertemu baru beruntung. Kau terlihat jelek jika kau marah. Aku tidak boleh marah." ucap Silvi pada diri sendiri yang berusaha menahan amarah nya.

Brakk

Brakk

Brakk

Setelah menggebrak meja kantin berulang kali, Silvi pun terbangun dari tempat duduk nya.

"Membuat ku malu saja, sialan." geram Silvi entah pada Ryan atau cowok yang mengajak nya makan. Lalu Silvi pun pergi meninggal kan kantin

***

Kelas 12-5.

Di mana Salsa dan Arka sedang belajar masing masing.

"Pergi makan saja. Kau gampang gula darah rendah jika seperti ini. Ku dengar, nanti saat pelajaran olahraga wanita harus berlari 800 meter." ucap Arka mencoba agar Salsa makan, karena dia takut Salsa tidak makan lalu pingsan pas di pelajaran olahraga apa lagi di suruh lari.

"Tidak, aku akan pergi nanti, ini harus segera terpecah kan." tolak Salsa yang tetap ingin belajar.

"Apa kau benar benar tidak butuh bantuan?" tanya Arka.

"Jika soal turunan ini masih tidak bisa di pecah kan, aku akan mencari cara lagi di soal himpunan. Aku pasti bisa!" ucap Salsa yang tetep kekeh tidak ingin di bantu, padahal Arka sudah berulang kali menawar kan bantuan untuk belajar dengan nya.

Arka pun hanya bisa menepuk bahu Salsa untuk memberi nya semangat. Namun tanpa mereka sadari ada Ryan di belakang yang melihat interaksi mereka, tatapan mana Ryan sinis menatap ke arah tangan Arka yang sedang menepuk bahu Salsa.

Ryan yang terbawa emosi tidak jadi memberi kan makanan yang dia beli untuk Salsa, Ryan pun keluar dari kelas lagi tanpa sepengetahuan mereka. Sekarang Ryan berada di lapangan basket duduk sendiri, lalu dengan kesal dia memakan makanan yang dia beli untuk Salsa. Ryan pun melampias kan ke kesalan nya pada paha ayam, karena dari cara makan nya yang tidak seperti orang makan pada biasa nya.

Setelah paha ayam habis, dia yang masih kesal pun turun ke lapangan basket untuk bermain basket. Namun cara main nya terbilang kasar, mungkin dia melampias kan ke kesalan nya pada paha ayam kurang puas jadi berganti bermain basket.

"Kenapa?" tanya Kenzo yang tiba tiba datang, karena dia melihat dari ke jauhan ada yang aneh dengan cara bermain Ryan. "Emosional sekali. Kau ingin menggiring bola nya sampai ke dasar bumi?" lanjut nya.

Ryan tidak menggubris dia mengambil kasar bola basket yang sempat di rebut oleh Kenzo tadi.

Jam olahraga sudah di mulai.

Sekarang Salsa dan Silvi sedang berlari mengelilingi lapangan. Namun ada yang aneh dari Salsa, muka dia pucat seperti sedang menahan sakit. Apa karena tadi dia tidak makan siang jadi muka nya pucat.

"Apa kah adik mu tidak berencana menerima peemintaan pertemanan ku?" tanya Silvi pada Salsa di sela sela lari nya.

"Aku tidak tahu. Kau tanya dia saja sendiri." jawab Salsa.

"Jangan lupa pagi ini aku membantu mu menag dari serigala siang bolong. Kau harus membantu ku! Kakak itu bagai kan seorang Ibu." ucap Silvi memohon pada Salsa. Namun Salsa tidak menjawab karena dia merasa kan sakit di perut nya.

"Ada apa dengan mu?" tanya Silvi yang tiba tiba Salsa berjongkok menahan sakit.

"Aku... Sakit?" ucap Salsa dengan nada tercekat. Silvi pun berlari menghampiri Ryan, untuk membantu membawa Salsa ke UKS.

"Ryan, Ryan." teriak Silvi memanggil Ryan yang masih bermain basket.

"Kakak mu pingsan!" tutur Silvi setelah Ryan menoleh ke arah nya. Ryan yang mendengar penuturan Silvi pun langsung berlari menghampiri Salsa.

"Apa kah masih bisa berdiri?"

"Bisa berdiri tidak?"

"Kau tidak apa apa, kan?"

Pertanyaan pertanyaan yang keluar dari teman Salsa yang sedang mengerumuni nya. Ryan pun akhir nya sampai di hadapan Salsa, lalu ia langsung mengendong nya ala bridal style.

"Tidak enak badan masih saja memaksa kan diri. Tumbang dalam mempelajari buku latihan matematika, apa kah kau menunggu Guru memberi mu penghargaan murid terajin?" omel Ryan yang masih menggendong Salsa menuju UKS.

"Tidak ada masalah besar. Dia hanya gula darah rendah, di tambah lagi dia sedang datang bulan dan dia juga lari jarak jauh, sehingga baru ada reaksi sebesar ini." ucap Guru memberi tahu.

"Guru, lalu dengan kondisi nya ini apa kah perlu minum obat?" tanya Ryan yang khawatir pada kondisi Salsa.

"Tidak perlu. Tapi dia jangan ikut pelajaran olahraga lagi, lalu pulang dan istirahat saja dengan baik." jawab Guru yang jaga UKS.

"Kau pergi main basket saja. Pertanyaan mu banyak sekali, dasar tukang ikut campur." usir Salsa yang jengah mendengar pertanyaan Ryan.

"Dasar tidak tahu terima kasih." gerutu Ryan.

"Terima kasih Guru." lalu Ryan pergi dari ruang UKS.

"Pulang dan perbanyak istirahat, ya." ucap Guru pada Salsa.

"Terima kasih Guru." ucap Salsa lalu pergi dari UKS.

Di kira Ryan pergi lanjut bermain basket ternyata tidak, setelah Salsa pergi dia kembali ke ruang UKS menemui Guru. Guru yang melihat Ryan di balik pintu pun bertanya.

"Kenapa kau kemari lagi?" tanya Guru.

"Guru," panggil Ryan.

"Siswi itu sudah kembali ke kalas." ucap Guru memberi tahu.

"Itu... Apa kah Guru punya air gula mer...merah?" tanya Ryan gugup.

Guru tersenyum kecil. Lalu membuka laci dan mengambil gula merah, di serah kan nya kepada Ryan. "Kau lumayan pandai merawat teman sekelas juga." ucap nya.

"Terima kasih, Guru." ucap Ryan lalu pergi meninggal kan Guru di ruang UKS.

Salsa baru tiba di kelas nya, dia pun duduk di meja nya. Duduk dengan Arka yang memang dia tidak pernah ikut pelajaran olahraga.

"Kenapa kau kembali?" tanya Arka.

"Aku sedang tidak enak badan. Apa kau juga tidak ikut olahraga?" tanya balik Salsa.

Arka tersenyum kecil. "Aku sudah izin." jawab nya. Salsa hanya mengangguk kecil.

"Ternyata benar, tan A tan B tan C lebuh besar dari nol, menyebab kan segitiga menjadi segitiga lancip? Apa kah Ryan pernah memakan roti memori Doraemon?" gumam Salsa yang heran dengan otak Ryan yang pinter nya ampe tumpah tumpah.

"Gabung kan titik A dan D." ucap Arka memberi tahu.

"Hebat. Bagai mana kau melakukan nya? Hanya melihat sekilas sudah tahu cara memecah kan nya." ucap Salsa kagum.

"Kau sudah mendapat kan beberapa cara nya, hanya perlu lebih banyak belajar. Bagai mana kalau.. Aku membantu mu?" tanya Arka memberi penawaran.

Di sela sela obrolan mereka ternyata ada Ryan yang sedang menguping lewat dinding sekolah.

"Ini tidak terlalu baik, kan? Sudah kelas 12, waktu semua orang sangat padat aku tidak ingin merepot kan mu." jawab Salsa yang tidak enak kalau harus merepot kan Arka.

"Tidak apa apa, aku anggap saja sedang mengulang pelajaran. Lagi pula, aku juga tidak mengajari mu dengan gratis." ucap Arka.

"Hah," beo Salsa.

"Bagai mana jika di tukar dengan makan siang yang di buat oleh mu?" tawar Arka.

"Baik, kalau begitu kita sepakat." ucap Salsa.

...Bersambung... ...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!