Arka pun mulai berjalan ke arah bangku kosong.
"Kalian tidak boleh lelah untuk belajar, bukan kah ini sudah tahun ketiga, kalau tidak berjuang keras sama dengan sia sia untuk apa kalian bersekolah. Untuk menyemangati kalian, mulai hari ini kelas kita akan duduk sesuai urutan nilai. Sekarang...." ucapan Guru terputus karena Silvi yang tiba tiba masuk ke kelas 12-5 itu.
"Diskriminasi, ini adalah diskriminasi terang terangan untuk murid yang bodoh." ucap Silvi.
"Siapa dia." bisik bisik para murid mulai terdengar.
"Aku pun tidak tau."
"Apa kah dia murid baru"
"Maybe"
"Nama mu Silviana, kan? Silahkan perkenalkan diri mu dulu." ucap Guru itu.
Bukan nya memperkenalkan diri, Silvi malah menulis nama nya di papan tulis.
"Silviana biasa di panggil Silvi." itu lah tulisan yang Silvi tulis di papan tulis.
"Aku percaya kalian akan cepat mengenalku. Karena kelebihan ku adalah, mempunyai wajah yang cantik." ucap Silvi yang terlalu pd nya melebihi langit ke tujuh. "Senang bisa berteman dengan kalian semua. Good good study, day day up (Belajar sebaik baik nya, agar terus meningkat setiap hari)." lanjut nya.
"Antar teman sekelas harus saling membantu, agar murid baru cepat beradaptasi dengan lingkungan kita. Sekarang aku mulai mengabsen." ucap Guru itu mulai mengabsen, namun tidak jadi karena penuturan Silvi.
"Karena harus saling membantu, maka harus membiarkan murid murid unggulan, duduk bersama murid yang nilai nya kurang bagus. Benar kan teman teman?" tanya Silvi memberi pendapat.
"Masuk akal juga,, setuju." ucap mereka yang ada di kelas seserempak, kecuali Salsa, Ryan, dan Arka.
"Ide mu sangat bagus juga, lalu menurut mu harus bagaimana?" tanya Guru itu pada Silvi.
"Saya rasa murid unggulan dan murid kurang pintar, ada banyak aspek. Bagaimana kalau murid unggulan duduk dengan murid yang kurang pintar, Pak?" tanya Silvi memberi penawaran.
"Bisa berfikir mandiri, pemikiran mu sangat bagus..." Guru belom selesai berbicara, namun sudah di potong duluan oleh suara Silvi.
"Guru, aku saran kan duduk bebas. Bagaimana?" tanya Silvi pada teman sekelas nya meminta pendapat mereka. Otak licik Silvi mulai jalan, pasti dia nyari kesempatan agar bisa duduk dengan Ryan.
Setuju
Setuju
Setuju
Itu lah pendapat para murid semua nya bilang setuju.
"Kalau begitu selanjut nya, adalah pilihan pertama kalian sebagai murid kelas 12. Untuk duduk bebas dengan pilihan kalian, kalian bebas memilih duduk dengan siapa saja." ucap Guru itu yang menyetujui pendapat Silvi.
"Bagaimana, kalian berdua siapa yang memilihku untuk duduk bersama? " ucap salah satu siswa kelas 12 bertanya pada teman nya.
"Selesai selesai pelajaran ini, kalian boleh mengubah posisi duduk kalian." ucap Guru itu lalu pergi keluar dari kelas 12.
"Teman teman, cepat bereskan barang barang kalian. Untuk barisan di depan siapa cepat dia dapat." instruksi ketua kelas memimpin teman teman nya.
Mereka pun mulai berlarian untuk keluar dari kelas 12, kecuali Salsa dan Ryan hanya mereka yang tersisa di kelas itu.
"Kesempatan menjadi teman semeja ku sangat lah berharga, aku berikan kau satu kesempatan untuk duduk bersama ku." ucap Ryan memberikan penawaran ke pada Salsa. "Jika kau..." belum selain berbicara ucapan Ryan terputus karena penuturan Salsa.
"Tidak perlu. Terima kasih. Tentang kau mencoret coret catatan ku itu pun, aku masih belum mempertikan nya dengan mu." tolak Salsa setengah menyindir. Pasal nya Ryan tidak merasa bersalah, setelah mencoret coret catatan milik Salsa.
"Try out nanti aku akan membantu mu." ucap Ryan berusaha agar Salsa, menerima penawaran nya dan mau duduk dengan nya.
"Tidak perlu, aku sudah ada orang yang akan mengajari ku nanti." tolak Salsa, dia kekeh tidak ingin menerima penawaran Ryan, apa lagi duduk dengan nya. Karena cita cita Salsa untuk menjauh dari Ryan, bukan dekat dengan nya satu atap pun dia sudah pusing masa harus satu meja juga.
Salsa pun berdiri untuk keluar dari kelas nya, namun di hadang oleh Ryan.
"Siapa?" tanya Ryan karena dia penasaran, oleh seseorang yang akan mengajari Salsa. "Kau benar benar tidak berencana untuk duduk sebangku dengan ku?" tanya Ryan lagi.
"Tidak peduli aku nanti akan duduk dengan siapa, yang terpenting aku tidak akan duduk dengan mu. Aku tidak cukup pantas untuk, murid pintar tingkat alam semesta seperti mu." ucap Silvi tegas.
Ryan pun menghela nafas nya panjang, mendengar penuturan Salsa yang tetap kekeh tidak ingin duduk dengan nya membuat ke sabaran Ryan habis. Padahal dia sudah berbaik hati memberi penawaran, bahkan memastikan jawaban Salsa siapa tau dia berubah pikiran. Namun, Ryan salah karena Salsa sangat sangat tidak ingin duduk dengan nya.
"Jika kau gagal lagi dalam ujian, kau harus tetap di kelas 12. Apa kah kau yakin, masih tidak ingin duduk dengan murid pintar seperti ku." ucap Ryan memberi penawaran lagi.
"Baik, kakak senior. Aku tidak perduli?" ucap Salsa santai. Lalu ia pergi meninggalkan Ryan seorang diri di dalam kelas nya. Ryan yang melihat ke pergian Salsa hanya bisa menahan emosi nya.
***
Teng teng teng
Kelas akan segera di mulai, namun kelas 12-5 masih pada berdiri di luar karena mereka akan duduk sesuai pilihan mereka. Jadi mereka masih mengantri untuk masuk ke kelas berpasang pasangan dengan teman satu bangku nya.
Ada siswi yang tiba tiba menghampiri Arka. "Mari kita duduk di bangku yang sama?" ucap nya memberi tawaran kepada Arka.
"Maaf." tolak Arka lembut, karena dia tidak bisa dekat dengan orang yang tidak dia kenal. Ntah lah mungkin karena dia sudah terbiasa tidak memiliki teman, karena penyakit nya itu yang mengharuskan dia bersekolah homescooling, dan baru menginjak SMA dia di boleh kan oleh orang tua nya untuk sekolah normal. Seperti orang orang pada umum nya.
Di saat Arka sedang terdiam, tiba tiba Salsa lewat di depan nya dan tersenyum tipis pada nya.
"Mulai sekarang aku satu meja dengan mu?" ucap Silvi yang berdiri di sebelah Ryan.
"Terserah." jawab Ryan singkat.
"Ryan Ren, semoga kita bisa berteman baik, mohon bimbingan nya." ucap Silvi dengan menghulurkan tangan nya, meminta berjabat tangan dengan Ryan. Namun, Ryan hanya diam saja tidak menanggapi nya, bahkan Ryan pun tiba tiba masuk kelas.
Salsa akhir nya memutuskan untuk duduk di meja paling belakang.
"Salsa, berapa harga yang kau minta untuk tentang Ryan?" tanya Dio yang tiba tiba duduk di bangku sebelah Salsa, dia teman sekelas Salsa bahkan bangku nya pun bersebrangan. Bukan duduk barel yah dia ke situ hanya menghampiri Salsa untuk membicarakan tentang
Ryan menatap tajam Dio karena mendengar penuturan nya. Dio yang ke takutan pun pergi kembali ke bangku nya.
...Bersambung... ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 24 Episodes
Comments