Pertandingan Basket

Salsa saat ini berada di kamar nya, sedang sibuk membuat poster dukungan. Lalu dia mencari pensil warna. Lalu secara tidak sengaja, dia melihat lembaran kertas di meja belajar nya.

"Ini bukan kah cara penyelesaian soal, yang aku inginkan?" tanya nya pada diri sendiri. "Di tulis dengan sangat jelas, baik hati juga dia." ucap nya. Setelah dia mengamati soal itu dengan jelas, akhir nya dia tau siapa pelaku yang menulis nya.

Setelah tau siapa pelaku nya. Ia pun lanjut membuat poster dukungan nya itu hingga selesai. Lalu di liatnya poster itu, terpampang lah nama Ryan di poster itu.

Karna takut pertandingan basket sudah di mulai'i. Ia pun segera berbegas menuju lapangan basket, untuk menonton pertandingan adik angkat nya.

***

LAPANGAN BASKET

Dimana sorak sorak suara mulai meneriaki nama Ryan

"Ryan, semangat. Ryan, semangat."

"Kenzo, semangat. Kenzo semangat."

Begitu lah suara sorakan para penonton, secara bergantian. Oh yah jadi, Ryan sama Kenzo itu satu tim yah guys.

"Kenzo, Kenzo, semangat."

"Semangat."

"Ryan, semangat."

"Sini." ucap Kenzo di tengah permainan basket.

Setelah beberapa menit pertandingan di mulai, Salsa pun mulai datang ke pertandingan.

"Semangat. Semangat." ucap para menonton.

"Terlambat sebentar seharus nya tidak apa apa, kan?" ucap Salsa pada diri nya sendiri. Pasal nya dia memiliki kelas tambahan. Mukin dia akan telat, jika dateng ke kelas tambahan setelah nonton pertandingan.

"Ya Tuhan, semoga orang itu tidak mencari masalah dengan ku." ucap Salsa dalam hati. Pasal nya Guru kelas tambahan nya lumayan killer.

Setelah Salsa terdiam, merenung karena mimikirkan kelas tambahan. Akhir nya dia menuju tribun, untuk mencari tempat duduk yang masih kosong.

"Kakak kelas, apakah kau adalah Kaka nya Ryan?" tanya salah satu penonton.

"Kakak dari Ryan?" tanya penonton yang di sebelah nya.

"Kakak kelas, cepat, cepat di makan."

"Ryan memakai sepatu nomor berapa?"

"Ah iya iya," jawab Salsa yang tadi sempat terdiam karena di cecar oleh penonton. Lebih tepat nya penggemar nya Ryan.

"Tolong beri tahu aku." pinta penonton itu.

"Aku ada urusan mendadak. Aku pergi dulu." alibi Salsa untuk menghindari fans adik nya itu.

Awal nya Salsa mau pergi. Namun baru berdiri dia sudah di tarik oleh fans nya Ryan, akhir nya dia kembali terduduk lagi.

"Kakak kelas jangan pergi dulu."

"Ayolah beri tahu kamu."

"Ok ok, aku hanya akan menjawab satu pertanyaan saja." final Salsa.

"Oke, satu. Tidak apa."

"Sepatu Ryan, nomor 43." jawab Salsa.

Di sisi lain, masih di lapangan basket. Namun di sisi tempat duduk yang bersebrangan. Dimana disitu ada Arkana, yang sedang menonton pertandingan basket.

"Kau bantu aku tanyakan" ucap penonton di belakang Arka, berbicara dengan penonton yang di depan nya.

"Oke." ucap penonton yang di sebelah Arka.

"Permisi apa kah kau murid sekolah ini?" tanya penonton yang di sebelah Arka.

"Boleh kenalan, tidak?" tanya nya lagi.

"Tidak." jawab Arka sambil menggeser tempat duduk nya.

"Bagaimana, bagaimana?" tanya penonton yang di belakang tadi.

"_"

Kita balik lagi ke tempat nya Salsa. Di tempat Salsa duduk, kedatangan perempuan yang sedang berdiri. Bernama Silvinana. Di susul oleh cowok di belakang nya.

"Aku sudah pergi ke enam toko teh susu." ucap cowok itu berbicara dengan Silvi.

Nah guys, jadi cowok yang nyusul Silvi. Yang suka sama Silvi yah, ntah berapa banyak cowok yang suka dengan nya. Sampe sampe dia nyuruh cowok untuk membelikan dia teh susu, tuh cowok pun mau mau aja.

"Baru bisa membeli teh susu yang kau suka." ucap nya lagi.

"Aku sudak tak mau lagi. Untuk mu saja." jawab Silvi.

"Dia kenapa datang?" tanya salah satu fans Ryan kepada temen nya. Saat dia mengetahui Silvi tiba tiba datang.

"Siapa?" tanya Salsa yang kebetulan mendengar, obrolan fans Ryan yang di sebelah nya.

"Lagi lagi ganti pasangan."

"Penakluk pria memang berbeda."

"Memang." ucap fans Ryan yang di belakang Salsa. Yang masih membicarakan Silvi.

"Apa dia sangat terkenal?" tanya Salsa, kepada fans Ryan.

"Siviana." jawb nya.

"Benar, gadis bermasalah yang terkenal. Lihat pengikut yang ada di samping nya. Aku beri tau pada kalian, dia memanggil semua orang dengan satu panggilan. "Hei kau." Silvi memanggil semua orang seperti itu." jawab nya lagi.

"Siapa dia?" tanya Silvi kepada Rizky, cowok yang tadi mengikuti nya. Sambil melirikan mata nya ke arah Salsa.

"Tidak pernah melihat nya." jawab Rizky.

"Dia cukup terkenal yah." ucap Silvi.

"Bagaimana dia bisa di bandingkan dengan mu." kata Rizky.

Balik ke pertandingan basket. Dimana penonton mulai heboh, karena Ryan mencetak poin memasukan bola ke ring. Akhir nya tim Ryan pemenang nya.

Salsa yang bangga dengan adik, nya secara tiba tiba berdiri dari duduk nya. Namun secara tidak sengaja poster yang dia pegang jatuh, lalu di kasih poster dari penonton. Alahasil poster yang bertulis kan nama Ryan itu terbengkalai di bawah lantai.

"Terima kasih." ucap nya kepada penonton yang memberi kan dia poster. Lalu dia melihat poster, itu dan ternyata.

"Kenzo Falentino." ucap Salsa pelan.

'Sejak kapan, aku mulai memperhatikan Kenzo? Seharus nya dari saat itu.' lanjut nya dalam hati.

Flasback On

Dimana Salsa sedang berdiri, di pinggir lapangan basket. Tidak tau dari mana arah nya, bola basket itu hampir mengenai kepala nya. Kalau tidak di cegah oleh Kenzo.

' Dia adalah lelaki pertama.'

' Yang begitu lembut pada ku.'

'Senyuman nya,, dalam sekejap menerangi masa muda ku' ucap Salsa dalam hati.

"Kau tidak apa apa kan?" tanya Kenzo pada Salsa yang hanya diem mematung.

"Ah iya aku tidak apa apa." jawab Salsa setelah dia sadar lamunan nya.

Flasback Off

Salsa tiba tiba mengambil ponsel nya, untuk memotret Kenzo secara diam diam.

Salsa yang lagi sibuk memperhatikan Kenzo. Tiba tiba Silvi datang menghampiri nya.

"Bagaimana seseorang menilai ketampanan?" ucap Silvi tidak jelas arah pembicaraan nya.

'Jangan jangan wanita yang di tolak Ryan. Menggunakan ku untuk melampiaskan emosi nya.' ucap Salsa dalam hati.

Karena dia sangka Silvi ada lah cewek yang telah di tolak oleh adik nya. Karena dia tau, adik nya selalu menolak pernyataan cinta setiap cewek. Yah walaupun Silvi belom termasuk.

Salsa pun terbangun, untuk berhadapan langsung dengan Silvi.

"Perempuan yang menyukai Ryan, sangat lah banyak. Jika kau di tolak, jangan sakit hati." ucap Salsa, dan Silvi pun hanya menganga mendengar penuturan Salsa. Karena dia tidak mengerti, apa yang di maksud kan oleh penurunan Salsa.

"Apa yang kay katakan?" ucap Silvi dengan nada ketus.

"Maksud ku Ryan bukan hanya menolak ku. Dia menolak semua orang, tidak perduli siapa pun akan dia tolak. Jadi kau jangan terlalu sakit hati. Kau sangat lah cantik, dan kau harus percaya diri" ucap Salsa. Jadi si Salsa masih ngiranya, Silvi orang yang di tolak oleh Ryan yah guys.

"Hah. Aku, di tolak? Siapa yang menolak ku?" tanya Silvi tidak habis pikir dengan otak Salsa yang berbicara dengan nya.

"Bukan kah begitu?" ucao Salsa bingung.

"Apa mata mu buta, mana mungkin aku di tolak." ucap Silvi dengan nada sedikit meninggi.

Semua orang yang mendengar nya, langsung menoleh an pandangan nya terhadap Salsa dan Silvi. Termasuk Ryan. Ryan yang mendengar Salsa di bentak, dia pun langsung menghampiri Salsa tanpa melihat Silvi.

"Ryan."

"Ryan."

"Ryan." sorakan para penggemar Ryan.

"Kenapa?" tanya Ryan kepada Salsa.

"Ini karena diri mu.." ucapan Salsa pun terputus, karena suara tepukan tangan Silvi ke pundak Ryan yang sedang membelakangi nya.

"Tidak ada urusan nya dengan mu. Cepat,," ucap Silvi terhenti karena Ryan tiba tiba menoleh ke arah nya. Dia pun hanya terdiam karena terpesona dengan ketampanan Ryan.

Jadi Ryan itu orang nya tinggi ada lah 185 cm, kulit nya putih, alisnya tebal, bibir nya tipis ke pink pink an gitu apa lagi kalo ngelirik seseorang tatapan mata nya sangat tajam. Gimana Silvi yang notabe nya pecinta cogan gak terpesona coba.

Ryan pun kembali menoleh ke arah Salsa. "Ada masalah apa. Katakan lah pada ku?" tanya Ryan

"Ini terhadap pacar ku. Maksud ku wanita pujaan ku. Cepat meminta maaf." ucap Rizky yang tidak terima, perempuan yang di sukai nya di hina. Karena di tolak oleh Ryan padahal sebenarnya tidak sama sekali. Eh ralat maksudnya belom di tolak. Karena bentar lagi Silvi bakal tergila gila oleh Ryan.

"Kebetulan hari ini banyak guru yang dateng, kalau mau membuat keributan besar, akan gue temani sampai selesai." ucap Ryan karena tidak terima di suruh meminta maaf.

"Keren sekali benar benar keren." ucap salah satu penggemar Ryan.

"Jangan kira gue takut pada lo." jawab Rizky.

"Kau,, kita pergi saja." ucap Silvi mengajak Rizky untuk pergi.

"Lihat tidak keren sekali." ucap penggemar Ryan.

"Kita masih akan bertemu." ucap Silvi terhadap Ryan sebelom dia menglangkah pergi, meninggalkan lapangan.

"Tidak terluka, kan?" tanya Ryan dingin kepada Salsa. Secara tiba tiba dia mengusap rambut Salsa, namun keburu Salsa tepis.

"Singkir kan tangan mu, keringat mu bisa nempel di kepala ku." ucap Salsa.

"Apa kau sudah keramas?" tanya Ryan kesal. Karena tangan nya yang di tepis oleh Salsa.

Sebelum Ryan beranjak pergi, tanpa sengaja dia melihat poster yang bertulilan namanya, tergeletak di lantai.

"Jelek sekali." ucap Ryan ketika dia melihat poster buatan Salsa.

"Jelek dari mana." ucap Salsa kesal.

"Keren sekali. Pahlawan lelaki, penyelamat kaka nya." ucap penggemar Ryan.

"Keren sekali."

Setelah beberapa menit beristirahat, pertandingan basket pun mulai di lanjut kan kembali.

.

.

.

...Bersambung.... ...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!