"Iya, Ibu dan Ayah hanya berharap kau bahagia. Nilai tidak penting, jika kau tidak bisa masuk ke Universitas bagus dalam negeri, maka kami akan membawa mu keluar negeri untuk bersekolah di jurusan favorit mu." ucap Ibu.
"Beri tahu aku lebih awal jika ingin pergi ke luar negeri, aku akan memutuskan mengambil IELTS atau TOEFL." ucap Ryan. Pasal nya dia tidak ingin beda universitas dengan Salsa, maka dari itu dia meminta Salsa untuk memberi tahu nya lebih dulu.
"Kau tau di karangan "Cita cita siang ini, apa yang ku tulis?" ketus Salsa pada Ryan.
"Apa." jawab Ryan singkat.
"Cita cita ku, adalah menjauh dari mu." ucap Salsa setengah kesal. Ayah dan Ibu pun hanya tertawa, melihat pertengkaran mereka berdua.
***
"Ryan, kemari lah." ucap Ibu sambil menggandeng tangan Ryan untuk masuk ke kamar nya. Karena mereka bertiga akan berdiskusi tentang Salsa, dan tanpa sepengetahuan Salsa.
"Kenapa?" tanya Ryan.
"Duduk dulu." ucap Ibu
Ryan pun akhir nya duduk di samping tempat tidur, dengan Ibu di sebelah nya dan Ayah duduk di sofa.
"Ryan. Sekarang sudah kelas 12 adalah tahun terpenting di masa sekolah. Sekarang prestasi akademik Kakak mu menurun, kau sebagai adik nya harus lebih peduli kepada nya dan lebih banyak membantu nya." ucap Ayah mencoba untuk membuat Ryan membantu Salsa belajar, karena Ryan pintar dalam pelajaran apa pun.
" Aku tau." jawab Ryan singkat
"Salsa ini memiliki gen yang bagus. Sejak kecil dia sangat lah cerdas, jika bukan karena..." ucapan Ibu terhenti karena dia tidak ingin membicarakan tentang masa lalu yang buruk.
Di mana orang tua Salsa mengalami kecelakaan dalam mobil dan meninggal, hanya Salsa yang selamat tapi dari kecelakaan itu Salsa jadi trauma untuk menaiki mobil.
"Bagaimana pun kau harus banyak membantu nya." ucap Ibu.
"Hemm." jawab Ryan singkat.
***
Ryan sedang rebahan di kamar nya, dia teringat oleh omongan Ayah nya tadi.
"Kakak mu karena kejadian di masa kecil, sampai sekarang masih ada trauma yang membekas di hati nya. Dan sehari hari, juga dia yang selalu menjaga mu."
Ryan pun mengambil ponsel nya dan melihat foto Salsa dengan keluarga nya waktu kecil.
***
Keesokan harinya.
Di sekolah Huiming lebih tepat nya di kelas 12-5.
" Hasil try out sudah keluar. Murid yang nama nya di sebut harap maju untuk mengambil kertas ujian." ucap Guru itu.
"Ryan Ren, nilai penuh." ucap Guru itu lagi. Di iringi tepuk tanya para murid. Ryan pun mulai maju ke depan mengambil kertas ujian. "Kamu mengerjakan ujian dengan baik." lanjut nya.
"Murid murid di bawah ini juga mengerjakan ujian dengan baik." kata Guru memberi tahu. Guru pun mulai menyebutkan nama nama murid, dari nilai paling tinggi hingga paling rendah.
"Semua sudah mendapat kertas ujian, kan?" tanya Guru pada murid nya.
Dan Salsa pun angkat tangan. "Guru, saya belum mendapatkan kertas ujian." ucap nya.
Guru pun datang menghampiri Salsa di meja nya.
"Guru harap kau tidak terlalu putus asa dan terus berusaha." ucap Guru itu menyerahkan kertas ujian milik Salsa.
Salsa pun melihat nilai ujian nya dengan mimik sedih. (Salsa Billa, 12-5, SMA Huiming 58 poin) itu lah nilai yang tertara di kertas ujian Salsa.
Teng teng
Bell istirahat pun berbunyi.
Salsa dan Arka sesang berjalan ntah ingin ke kantin atau kemana.
"Bagaimana kalau duduk sebentar?" ucap Arka ketika dia melihat ada tempat duduk di depan mereka.
Akhir nya mereka pun duduk bersampingan. Setelah duduk Salsa menghela nafas nya kasar.
"Aku tidak punya banyak teman, jadi tidak terlalu bisa menghibur orang." ucap Arka, karena dia bingung ingin menghibur Salsa seperti apa. Pasal nya Salsa teman pertama nya, dan dia tidak tega melihat Salsa yang sedang bersedih karena nilai nya.
"Aku tidak pantas di hibur." ucap Salsa.
Lalu mereka terdiam beberapa saat. Hingga Arka bersuara kembali.
"Waktu merasa sedih, mengapa tidak memikirkan seseorang yang lebih memprihatinkan dari mu. Mukin akan terasa lebih baik. Dalam psikologi ini di sebut membagi kecemasan." tutur Arka berusaha untuk menenangkan Salsa.
"Aku ini mungkin tidak mengenal orang yang lebih memprihatinkan dari ku." keluh Salsa.
"Aku." ucap Arka.
"kau? Jangan bercanda, nilai mu sangat bagus." ucap Salsa ragu dengan penuturan Arka. Bahwa dia orang yang lebih memprihatinkan dari nya.
"Aku sakit ketika aku masih sangat kecil, dokter berkata umur ku mungkin tidak panjang. Jadi hidup bagiku, asalkan bisa hidup sudah sangat indah dan sangat berarti." ucap Arka bercerita tentang diri nya.
"Aku... Aku tidak menyangka penyakit mu begitu parah." ucap Salsa sendu.
"Jadi, belajar hanya lah sebuah tahap, masih ada ke mungkinan yang tak terbatas di masa depan mu." tutur Arka memberi semangat. Salsa pun mengangguk kecil.
Drrrtt Drrrtt... Drrrtt Drrrtt...
Ponsel Salsa tiba tiba berdering menandakan ada yang sedang menghubungi nya.
(Si Adik Setan) itu lah nama yang tertara di layar ponsel Salsa. Salsa pun geram melihat nama penelpon ingin membanting ponsel nya, namun tidak jadi karena masih sayang. Mau beli pake apa kalo rusak, minta kaga enak jadi yah sudah dia tahan saja emosi nya.
Salsa tidak mengangkat telepon nya, karena tanpa bertanya pun dia tau apa yang adik nya ingin nya.
"Aku pergi dulu." pamit Salsa pada Arka. Meninggalkan Arka di bangku sendirian. "Dasar." gerutu Salsa yang masih terdengar oleh Arka.
***
Kelas 12-5
"Karangan setiap orang hampir sama. Salsa, kemari lah, baca lah cita cita mu yang unik pada kami semua." ucap Guru menyuruh Salsa.
Salsa terdiam beberapa detik, dia melihat ke arah Arka yang ada di samping nya. Arka pun mengangguk kecil, lalu Salsa berdiri dan mulai membaca karangan cita cita nya.
"Socrates berkata hal terindah di dunia tidak lain adalah berjuang demi cita cita. Membuka restoran ramah lingkungan adalah cita cita kecil yang ingin ku perjuangankan. Restoran ramah lingkungan berarti membangun sebuah restoran di depan sebuah sawah hijau. Memastikan bahan bahan masakan segar dan sehat. Aku akan merawat sawah setiap hari, memberi makan ayam dan memeras susu sapi, menanam tanaman hijau... " ucapan Salsa terhenti karena semua murid yang mendengar karang nya itu menertawakan nya.
"Guru, aku tidak ingin membaca nya lagi." ucap Salsa meminta izin untuk tidak melanjutkan nya lagi.
"Baik, duduk lah. Murid murid, apa yang sedang kalian tertawakan? Saya merasa karangan nya sangat bagus. Hal hal biasa seperti ini sebenar nya memiliki makna yang sangat besar." tegur Guru pada semua murid nya.
...Bersambung......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 24 Episodes
Comments