Part 16

...Wellcome back...

...Jangan lupa vote dan comen...

...Happy reading all...

******

"Halo sayang, kamu ada di mana?" Nanda tercekat memdengar perempuan tersebut memanggil Vino dengan sebutan sayang.

"Kamu siapa?" tanya Nanda kepada orang yang berada di seberang sanan.

"Loh kamu siapa? Gue pacarnya Vino." Nanda terkejut mendengar pernyataan orang tersebut yang mengaku-ngaku sebagai pacarnya Vino.

"Aku istrinya."

Setelah mengucapkan itu kepada pelakor tersebut, Handpone Vino yang ia letakan di telinga pun diambil seseorang dari belakang dengan kasar.

Nanda menoleh lalu membalikan badannya ke belakang untuk mengetahui siapa yang merebut hendpone tersebut dari tangan nya. Yang Nanda lihat di situ hanyalah ada Vino, Nanda menunduk ke bawah saat ia melihat kilatan marah yang jelas tergambar di wajah indah laki-laki itu.

"Siapa yamg suruh kamu ngangkat ponsel aku," ujar Vino ketus. Nanda sungguh tidak percaya dengan keadaan yang sekarang karena semenjak pria itu menyatakan perasaannya ia tidak pernah seketus dan mengintimidasi Nanda seperti hari ini. Nanda bak melihat sosok yang berbeda dari Vino.

"Siapa Lira?" Nanda balik bertanya kepada Vino tanpa menjawab pertanyaan laki-laki itu.

Vino menjadi geram dan emosi saat pertanyaan yang ia ajukan kepada istirnya ini tidak dijawab, dan malahan Nanda balik bertanya kepada dirinya.

Vino menatap tajam bola mata Nanda dengan pandangan yang dapat mengalahkan lawan sebelum bertanding saking tajamnya pandangan tersebut. Ia menyeringai dan mendekat kearah Namda dan mencengkram dagu Nanda kasar, seraya mengangkat dagu tersebut untuk dapat mematap istrinya yang lebih tinggi dari Nanda.

"Aku nanya siapa yang suruh ngangkat telpon aku? Ternyata kamu sudah berani kepadaku ya, Nanda."

"Vin, bukan aku bermaksud untuk mengangkat telpon itu tapi aku liat nama Lira jadi aku angkat," ujar Nanda dengan mata yang berkaca-kaca saat ia melihat Vino yang seperti iblis, "siapa Lira?"

"Kenapa kamu pengen tau, apa kamu cemburu?"

"Vin jawab aku, siapa Lira Vin?" tanya Nanda lirih dan berharap Vino akan luluh dengan perminta maafanya yang ia ajukan.

Nanda semakin terisak saat Vino dengan kasarnya mencengkram dagu Nanda kuat hingga meninggalkan bekas merah di dagu Nanda. Vino menyeringai saat ia melihat Nanda yang ketakutan kepada dirinya.

"Kamu pengen tau jawabannya?" aju Vino dengan senyum maut yang mematikan lawan bicara.

Nanda mengangguk kalau ia sangat ingin sekali mengetahui siapa itu Lira. Nanda dalam hatinya sangat berharap jikalau Lira adalah bukan pacar Vino yang seperti perempuan itu bicarakan melalui telpon tadi.

"Kamu yakin sanggup mendengarnya?" Nanda yang mendengar pertanyaan dari Vino langsung terdiam. Apakah ia sanggup mendengar apa jawaban Vino nantinya yang bisa saja menyakiti hati Nanda.

Nanda saat ini dalam masa sulit, pikirannya selalu bertengakar dengan hatinya sendiri. Nanda akhirnya pun mengangguk lemah, ia siap dengan apa yang terjadi selanjutnya kedepan yang ia juga belum ketahui, apakah itu menyakiti hati Nanda atau tidak.

"Dia pacar aku." Air mata Nanda tidak bisa di bendung lagi mendengar ujaran yang sangat menyakitkan dari mulut Vino.

Ia menggelengkan kepala kalau semua yang Vino ucapakan tadi adalah bohong belaka yang dikarang-karang Vino untuk mengerjai dirinya.

"Ini semua bohong kan Vin? Hiks hiks." Nanda menggoncang-goncangkan badan Vino berharap laki-laki itu mau menjawab pertanyaan nya dan membenarkan apa yang ia katakan tadi, "Vin jawab aku."

Vino menyentakan tangan Nanda yang berada di bajunya dengan kasar sehingga Nanda melenguh kesakitan. Nanda sugguh tidak percaya dengan semua ini, kenapa begitu teganya Vino kepada dirinya yang telah begitu tulus mencintai laki-laki itu, namun apa ternyata suaminya itu tidak pernah mencintai dirinya dan tega-tegnya pula ia berselingkuh di belakang Nanda.

"Kenapa Vin, kenapa Vin kamu tega mengkhianati kepercayaan aku?" Nanda menghapus air mata yang jatuh di pipinya dengan kasar.

"Kaya kamu tidak mengkhianati aku saja."

"Maksud kamu?" tanya Nanda bingun dengan ucapan yang barusan Vino lontarkan.

"Pakai nanya lagi, apa kamu tidak menyadari kalau sikap kamu yang telah berani membawa pulang laki-laki lain ke rumah aku adalah sikap yang telah berkhianat."

"Vin, itu tidak sama lagi ceritanya, kalu Raga itu ia nolong aku di jalan dan mau ngantarkan aku pulang kerumah ini."

"Udah berani ya kamu belain laki-laki lain di depan muka aku sendiri." Vino menggeram marah mendengar jawaban Nanda yang berhasil membuat hatinya panas karena Nanda semenjak dekat dengan Raga lebih berani melawannya.

"Dan kamu udah berani pacaran di belakang aku," balas Nanda dengan tak kalah pedasnya dengan ucapan Vino tadi.

Amarah yang sudah memuncak sedari tadi tak dapat lagi Vino tahan. Ia menampar wajah Nanda denga keras sehingga menghasilakan sebuah bunyi yang keras di penjuru dapur. Orang-orang yang berda di sana menunduk takut melihat tuan mereka yang sedang bertengkar.

Sudah sangat jarang sekali majikan mereka yang bertengkar hebat seperti ini.

Nanda menatap benci kearah Vino yang sudah kembali ke sikap asalnya yang seperti dulu. Pria yang sangat kasar dan kejam.

Nanda memegang bekas gambaran dari tangan Vino, sungguh tidak bisa di bendung lagi jikalau sangat sakit di hati nya atas perlakuan Vino yang tidak berperikemanusiaan.

"Kamu jahat Vin, aku tidak pernah menyangka kamu akan seperti ini." Setelah mengatakan itu Nanda langsung meninggalkan Vino dengan wajah tenangnya, menuju ke arah kamar yang berada di lantai atas.

"Terserah kamu mau bilang aku apa, aku gak akan pernah lagi mau liat muka kamu di sini."

Nanda yang mulanya yang ingin meninggalkan Vino, masuk ke dalam kamar dengan sebuah harapan Vino akan memanggil dirinya untuk meminta maaf.

Nanda memberhentikan langkahnya yang mulai agak jauh dari Vino. Ia sanagt berharap mendengar ucapan maaf dari mulut laki-laki itu, tapi ia malah mendapatkan sebuah ucapan yang sangat menyakitkan hati Nanda. Ia diusir dari rumah.

Nanda melanjutkan langkahnya kembali dengan deraian air mata yang terus berjatuhan. Sungguh hatinya saat ini sangat sakit, tidak bisa lagi hatinya untuk menerima segala perkataan Vino selanjutnya.

"Kita akan cerai."

Nanda tidak perduli lagi dengan perkataan Vino yang sanagt menyakitkan hatinya, yang terpenting saat ini adalah anak yang sedang berda di dalam kandunganya yang kuarang lebih tiga bulan lagi akan lahir ke dunia ini.

Sesampainya di depan pintu kamar, Nanda berdiam sejanak tidak melanjutkan kegiatannya yaitu membuka  pintu kamar, ia menarik napas dalam dan memgang knop pintu dan membuka pintu tersebut dan seraya melangkah kan kaki kedalam.

Nanda tidak sanggup lagi dengan sikap Vino yang sebegitunya dengan dia yang selalu menjadi bahan kekejaman dari laki-laki itu.

Nanda mengambil seluruh baju bajunya yang berada si dalam lemari pakaian yang telah di susun rapi oleh pembantunya.

Nanda berniat akan pergi jauh dari sini dan berjanji tidak akan kembali sebelum Vino memohon maafnya dengan dia, Nanda juga tidak tau ia harus pergi kemana yang terpenting jauh dari laki-laki yang telah menorehkan luka dalam di hati Nanda.

*******

Tbc

Terpopuler

Comments

Andi Asrah

Andi Asrah

lanjut

2022-11-24

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!