Kehidupan Baru

Pagi hari, saat adzan subuh berkumandang, Zea pun terbangun dari tidurnya dan lepas mengambil air wudhu. Namun, sebelum dia melangkahkan kakinya ke dalam kamar, terlebih dahulu dia pergi ke kamar Steven untuk membangunkannya.

Ya, Steven memang berpesan padanya agar membangunkannya setiap pagi. Karena dirinya belum bisa memimpin salat, Steven memutuskan untuk salat sendirian.

"Kak, bangun, Kak. Sudah subuh," ujar Zea sambil mengetuk pintu kamar Steven.

Steven pun bangun dan membuka pintu kamar untuk memberitahu Zea bahwa dia sudah bangun.

Zea terkejut melihat wajah Steven yang pucat dan lemas. "Kak, kau kenapa?"

"Ah, tidak, ini karena aku begadang, hahaha." Steven terkekeh di tengah raut wajahnya yang lesu.

"Yang benar, Kak? Tapi kalau hanya bergadang tidak akan sepucat ini." Zea meneliti warna wajah Steven. Persis seperti orang yang sedang sakit parah.

"Iya, benar, aku hanya kurang tidur saja." Steven tersenyum meski itu belum dapat meyakinkan Zea bahwa dia baik-baik saja.

"Ke dokter saja, ya, Kak," ujarnya dengan tatapan khawatir.

"Tidak perlu, lagipula dengan melihatmu saja aku seperti sudah menemukan obat." Steven kembali tersenyum sambil menyentuh pipi Zea.

Zea yang belum sadar tidak mengelak sama sekali. Barulah ketika dia sadar, dia pun terkejut karena baru saja Steven menyentuh pipinya.

"Kakak yakin?"

"Iya, kalau kita harus mengobrol nanti aku salatnya habis, lho. Sekarang kembali ke kamarmu, ya. Oh ya, setelah salat, maukah kau mengajariku mengaji?"

"Ya, Kak, aku akan mengajarimu." Zea pun segera kembali ke kamarnya untuk melaksanakan salat subuh. Setelah itu, dia pun pergi ke kamar Steven untuk mengajari mengaji.

Untuk seseorang yang baru pertama kali belajar mengaji, Steven termasuk tipe yang mudah mengerti. Hal itu membuat Zea merasa senang karena setidaknya ilmunya bisa diserap dengan mudah oleh Steven.

Selesai mengaji, mereka pun sarapan bersama di ruang makan. Melihat menu makanan yang diambil Steven, Zea menjadi heran.

"Kak, kenapa hanya mengambil rebusan sayur saja? Masih banyak makanan lain yang belum Kakak ambil," ucap Zea sambil mengernyitkan dahinya.

"Oh, aku sedang menjalani diet. Jadi, aku hanya memakan makanan seperti ini." Steven tersenyum kecil. Mulai menyendokkan nasi dan menyuapkannya ke dalam mulut. Mengunyahnya secara hati-hati dan pelan-pelan.

"Diet?" Zea meneliti tubuh Steven yang nyatanya tidak gemuk. Bahkan menurutnya, Steven lebih kurus dibanding sebelumnya.

"Iya, diet. Karena aku merasakan semua jasku sudah sempit. Jadi, sudah saatnya aku menurunkan berat badan seperti dulu."

"Tapi, aku melihat tubuh kakak sudah kurus."

"Ya, itu kan hanya kelihatannya saja. Padahal, saat ini aku sedang memakai pakaian yang sedikit sempit."

Lagi-lagi Zea memerhatikan pakaian Steven yang hanya kaos dan celana panjang saja. Terlihat pakaian itu tidak sempit. Atau mungkin memang tubuhnya yang menipu? Begitu pikir Zea.

"Oh, tapi, diet itu tidak dianjurkan jika memberikan dampak yang buruk, Kak. Mungkin saja wajah pucat kakak karena diet ini." Zea masih saja membahas hal itu.

"Sudahlah, Zea, jika kau tidak diam, maka aku akan menciummu sekarang juga," ancam Steven.

Zea langsung menyuapkan makanan ke mulutnya segera. Ternyata dia benar-benar takut dengan ancaman Steven yang sebenarnya hanya bercanda saja.

"Tuan, ini saya bawakan obat..." Seorang pelayan yang sedang melangkah mendekat tiba-tiba berhenti saat Steven memelototi dirinya dengan tajam.

"Obat? Obat apa? Benar, kan, Kakak sakit?" Zea kembali menaruh curiga pada Steven. Yang tadinya rasa curiganya hilang, kini akhirnya datang lagi.

"Tidak, tidak usah, aku tidak mau minum obat diet lagi. Nanti aku diceramahi Zea," ucap Steven yang langsung membuat Zea membulatkan bibirnya.

"Oh, obat diet. Aduh, Kak, pasti obat diet inilah yang membuat Kakak sakit."

"Hahahaha, iya, benar, pasti karena obat ini. Makanya sana bawa pergi saja." Steven menyuruh sang pelayan untuk pergi membawa obat itu kembali.

Namun, Zea melihat di atas nampan tidak hanya ada satu obat, tapi bermacam-macam obat dengan bentuk dan warna yang berbeda.

"Kak, aku baru tahu kalau obat diet itu lebih dari satu. Kau beli dimana?" tanyanya penasaran.

"Oh, aku beli atas rekomendasi teman. Tapi, sepertinya sekarang aku merasakan dampaknya. Aku kesulitan tidur hingga harus begadang karena obat itu. Ya sudah, aku tidak akan mengkonsumsinya lagi."

"Oh, iya, benar, Kak, jangan dikonsumsi lagi, ya. Sayangi kesehatan Kakak." Zea kembali mengingatkan.

"Iya, Sayang." Steven lagi-lagi mengusap pipi Zea, mencuri kesempatan yang ada untuk membuat Zea terkejut.

"Maaf, aku tidak sengaja. Hanya saja, wajahmu terlalu cantik untuk hanya aku pandang." Steven tertawa kecil sambil kembali fokus ke makanannya.

Zea juga kembali fokus ke makanannya. Steven sekarang memang sangat berani padanya. Untung saja pria itu adalah suaminya jadi tidak masalah jika mereka bersentuhan.

Selesai sarapan, Steven langsung pergi ke kamar, katanya ingin melanjutkan tidur akibat begadang tadi malam.

"Lho, memangnya Kakak tidak kerja?" tanya Zea heran.

"Tidak, hari ini tidak ada jadwal penting, jadi aku akan mengambil cuti untuk tidur sepuasnya, hahaha." Dengan langkah pelan, Steven pun memasuki lift dan pergi ke kamarnya.

Zea merasa heran karena sepertinya dia melihat kaki Steven yang bergetar ketika akan memasuki lift.

Di dalam lift, Steven langsung terduduk lemas karena kakinya tak kuat menahan tubuhnya untuk berdiri. Keringat dingin bercucuran dari tubuhnya. Sekuat tenaga dia berusaha untuk menahan sakit saat ini sekarang mengaduk seluruh isi tubuhnya.

"Ahhh, sakit," ucapnya sambil memegangi dadanya dengan sekuat tenaga.

Saat lift terbuka, ada dua orang pengawal yang sudah menunggunya. Mereka memapahnya ke dalam kamar, lalu membaringkannya di atas ranjang.

Steven hanya bisa meringkas kesakitan merasakan perih di dadanya.

"Tuan, ini obatnya. Maafkan saya karena tadi melihat kondisi di sana," ucap salah seorang pelayan yang tadi membawa tanaman obat yang diakui Steven sebagai obat dietnya.

Steven langsung merampas obat itu dan meminumnya hingga air di dalam gelas hanya bersisa sedikit.

Dia pun berbaring di atas tempat tidur sambil terus menahan sakit. Dia begini karena jadwal minum obat yang terlambat sehingga menyebabkan kesakitan yang luar biasa.

Para pelayan dan pengawal pun langsung pergi dari kamar itu setelah dia menyuruhnya. Dia mencoba menutup matanya agar bisa beristirahat pagi itu. Dia memang bergadang, tapi bukan karena bekerja, melainkan merasakan sakit sepanjang malam.

Tak jauh darinya ada sebuah surat yang ada di dalam laci nakas. Di situ tertulis rumah sakit Harapan dengan nama Steven di dalamnya. Dan keterangan yang ada di sana, penyakit yang diderita adalah kanker paru-paru stadium akhir.

Terpopuler

Comments

babang Steven ternyata sakit parah🥺😭😭

2023-01-20

0

renita gunawan

renita gunawan

kasian banget dengan steven 😭😭.kenapa disaat steven berubah menjadi lebih baik,harus menderita penyakit yang akan merenggut nyawanya.seharusnya steven berkata jujur kepada zea tentang penyakitnya.paling g'steven bisa merasakan kasih sayang zea menemani dan merawat steven dengan tulus

2023-01-10

0

Ayas Waty

Ayas Waty

ya othor kenapa sekarang giliran Steven sakit parah malah kasihan pengennya zea mau mencintai n merawatnya dg ikhlas

2022-11-14

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!