Darimana?

Kini Ustazah Hilma dan Zea sedang duduk berhadapan di dalam sebuah ruangan kecil. Mereka duduk di atas sofa dengan dua cangkir teh di hadapan mereka masing-masing.

"Umi, darimana Umi tahu kalau saya,,,"

"Namamu Queenzea. Kamu memiliki saudara kembar bernama Queenara yang dengan tega memfitnah mu dan membuatmu dibenci oleh semua orang."

Zea semakin terkejut dengan ucapan Ustazah Hilma.

"Umi, apa Umi menonton siaran langsung pertunangan saudara kembar ku?" tanya Zea sambil menatap ragu.

"Tidak, saya tidak suka menyia-nyiakan waktu untuk menonton televisi. Jika saya mau, saya hanya menonton siaran pengajian dan dakwah saja." Ustazah Hilma tersenyum lembut.

Zea semakin bingung saja. Jika Ustazah Hilma tidak menonton televisi, lalu, darimana dia tahu?

"Zea, sejak kamu datang ke sini, saya langsung mencari tahu siapa kamu. Tadinya saya khawatir bahwa kamu kabur dari rumah dan tidak mau cerita. Tapi, ternyata masalah yang kamu hadapi ternyata seperti itu." Akhirnya Ustazah Hilma menjelaskan.

"Maafkan saya, Umi. Saya tidak bermaksud berbohong. Saya hanya tidak ingin keberadaan saya diketahui oleh orang-orang yang masih mencari saya."

"Jika kamu benar, untuk apa takut? Ada Allah yang akan selalu melindungi mu."

"Bukan itu, Umi. Hanya saja, saya sudah betah di sini. Saya seperti menemukan tempat ternyaman di sini. Saya tidak ingin kembali ke kehidupan saya sebelumnya." Zea menatap penuh harap.

"Apa kamu tidak rindu pada orang tuamu?"

"Tentu saja saya rindu, Umi, tapi mereka sudah membenci saya."

"Tidak ada orang tua yang membenci anaknya."

"Seperti kata Umi, jika Allah selalu melindungi saya, maka Allah juga yang akan membuka dan memperlihatkan kebenaran pada mereka."

"Kamu anak yang sangat baik." Ustazah Hilma mengusap pipi Zea dengan lembut.

"Dulunya saya adalah gadis yang sangat kejam, Umi. Saya telah membuat puluhan orang kehilangan mata pencaharian dan tempat tinggal. Rasanya pujian Umi tidak pantas untuk saya."

"Lalu, apa kamu ingin melihat dirimu yang dulu?"

Zea menggeleng.

"Karena itu Umi mengatakan bahwa kamu gadis yang baik. Saya tahu kamu sudah membantu pengemis di warung depan."

Lagi-lagi Zea terkejut karena Ustazah Hilma tahu mengenai hal yang baru saja ia lakukan.

"Umi seperti detektif saja." Zea tersenyum simpul.

"Kalau begitu kamu yang menjadi targetnya." Ustazah Hilma memegang tangan Zea dengan lembut.

"Ternyata Umi bisa diajak bercanda." Zea tersenyum lebar. Memperlihatkan deretan gigi-giginya yang putih.

"Kamu sama seperti Aisyah. Suka menyembunyikan sesuatu. Kamu juga sangat ceria." Kini Ustazah Hilma memegang kembali pipi Zea lalu menitihkan air matanya.

"Apa Umi sedang merindukan Mbak Aisyah?"

"Tentu, setiap orang tua pasti merindukan anaknya." Ustazah Hilma menyeka sudut matanya.

Zea tersenyum, lalu memegang tangan Ustazah Hilma.

"Jika saja meninggalnya Aisyah bukan karena bunuh diri, tentu saya tidak akan sesedih ini." Kembali menitihkan air matanya.

Zea terdiam sejenak. Ingatannya kembali pada saat ia memerhatikan pohon tempat Aisyah gantung diri.

"Maaf, Umi, memangnya, seperti apa keseharian Mbak Aisyah dulu?"

"Asiyah itu anak yang sangat baik. Dia berprestasi dan menjadi kebanggaan Abinya. Dia tidak pernah terlihat sedih ataupun murung. Dia selalu saja ceria. Sampai kami tidak menyangka dia akan mengambil jalan pintas saat punya masalah berat."

Zea hanya mampu terdiam. Hatinya mengatakan bahwa ini bukanlah kasus bunuh diri, melainkan kasus seperti pembunuhan yang direkayasa sedemikian rupa agar terlihat seperti bunuh diri.

"Umi jangan bersedih." Zea mengusap punggung tangan Ustazah Hilma.

"Maaf, ya, saya jadi curhat sama kamu." Ustazah Hilma kembali mengusap air matanya.

"Tidak masalah, Umi. Oh ya, apakah saya boleh pindah kamar, Umi?" tanya Zea.

"Pindah kamar? Kenapa?" Ustazah Hilma terlihat heran. "Apa kamu punya masalah dengan Lastri?"

"Tidak, Umi. Semua baik-baik saja. Tapi, saya ingin sekali sendirian di kamar. Maaf, Umi jika permintaan saya sedikit merepotkan."

"Ada satu kamar kosong, ada di sebelah kanan ruangan ini, tapi itu adalah kamar Aisyah. Setiap tiga hari sekali selalu dibersihkan. Apa kamu mau?"

"Saya mau, Umi." Zea mengangguk.

"Apa kamu yakin. Begitu banyak penghuni di pesantren ini yang bahkan tidak berani lewat dari kamar itu. Hanya Umi dan Mbak Lastri saja yang berani melintas dan memasukinya."

"Saya yakin, Umi."

"Ya sudah, kemasi baju-baju kamu dan pindahlah ke sana. Ini kunci kamarnya. Tapi Umi minta, kamu jangan rubah tatanan di dalam kamar itu. Karena tatanan kamar itu Abi Aisyah yang membuatnya. Umi berharap ketika Abi sembuh, dia bisa pergi ke kamar Aisyah untuk melepas rindu."

"Baik, Umi. Kalau begitu saya permisi, Assalamualaikum." Zea pun pergi setelah mencium punggung tangan Ustazah Hilma.

Ia pun kembali ke kamarnya dan mengemas semua pakaiannya ke dalam kotak besar. Bertepatan saat itu juga, Lastri baru saja memasuki kamar mereka.

"Lho, Zea mau kemana?" tanya Lastri sambil memerhatikan kotak besar tempat barang-barang Zea.

"Aku mau pindah kamar, Mbak."

"Lho, kok pindah? Kamu nggak suka ya sekamar sama Mbak? Atau karena Mbak sering ngorok?"

"Nggak, Mbak, bukan itu. Aku pindah kamar karena pengen nenangin diri aja."

"Emang kamu pindah kemana? Kamar santriwati kan nggak ada yang cuma 1 ranjang."

"Ke kamar Mbak Aisyah, Mbak."

"Hah! Yang bener kamu! Kok bisa? Emang kamu udah izin sama Umi?"

"Udah, Mbak, makanya aku langsung beberes."

"Emm, emang kamu nggak takut?"

"Takut apa, Mbak?"

"Beberapa santriwati pernah denger suara tangisan di dalam kamar itu. Waktu Mbak bersih-bersih pun pernah beberapa kali kayak ada yang manggil terus buluk kuduk Mbak merinding." Lastri menggetarkan tubuhnya.

"Mbak, kalau kita takut, maka kita akan merasakan hal-hal mistis yang sebenarnya hanya halusinasi kita aja. Aku nggak takut, kok, Mbak." Zea mencoba meyakinkan.

"Perasaan kemarin kamu agak merinding waktu Mbak kasih lihat baju Aisyah yang kamu kira bekas dipakai."

"Itukan dulu, Mbak, sekarang aku udah nggak takut."

"Ya udah, tapi kamu kalau nggak betah balik lagi, ya. Mbak jadi nggak ada temen ngobrol lagi." Lastri menunduk sedih.

"Iya, Mbak jangan sedih dong." Zea mengusap punggung Lastri dengan lembut.

Lastri mengangguk dan tersenyum.

Setelah itu, Zea pun segera pergi ke kamar Aisyah. Kamar itu berdiri sendiri. Tidak menyatu dengan bangunan lainnya.

Begitu memasuki kamar tersebut, Zea merasakan hawa yang sangat sejuk. Kamar itu dilengkapi pendingin ruangan dan ranjang yang empuk. Lemarinya sangat bagus, dan ada sebuah kursi dan meja serta buku-buku milik Aisyah.

"Akhirnya rencana ku berhasil. Aku menginginkan kamar sendiri agar Umi menawarkan kamar ini. Dengan begitu, aku akan menyelidiki kasus meninggalnya Mbak Aisyah. Semoga, jika firasatku benar, ini akan menyembuhkan luka hati Umi dan Kiayi Abdullah." Zea tersenyum senang.

Rupanya ini memang rencananya sejak awal. Jika ia ingin menyelidiki, maka ia harus pergi ke kamar Aisyah untuk mencari petunjuk.

Setelah ia meletakkan semua pakaian di lemari, ia pun beralih ke beberapa tumpukan buku di atas meja Aisyah.

Ia melihat buku-buku itu adalah buku islami. Ada kisah nabi, tuntunan sholat, dan yang menarik perhatian Zea adalah novel-novel bertema islami.

Ada lima novel yang semuanya memiliki pembatas buku.

"Sepertinya dia tidak membaca semua novel ini hingga tuntas. Apa dia bosan di pertengahan cerita?" gumam Zea sambil membolak-balikkan lembaran demi lembaran halaman novel tersebut.

Namun, saat tengah membolak-balikkan lembaran dalam buku itu, Zea tersenyum sambil menatap bagian halaman yang diberikan pembatas buku.

"Ternyata aku benar, ada misteri dan kisah cinta di sini."

Terpopuler

Comments

Siti Titin

Siti Titin

inilah yg kusuka dari karya mbak yenita.. selalu ada misteri dalam cerita2nya... semangat thor...😘

2023-02-24

0

renita gunawan

renita gunawan

ayo, zea.semangat.kamu pasti bisa menemukan petunjuk tentang kematian aisyah

2023-01-10

1

Ayas Waty

Ayas Waty

apakah kasus Aisyah ada hubungan nya dengan Rianti

2022-11-14

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!