Misteri terungkap

Satu minggu kemudian. Suasana pesantren mendadak heboh karena kedatangan beberapa mobil polisi.

Jelas hal ini membuat Ustazah Hilma terkejut. Memangnya apa yang terjadi dengan pesantren itu sehingga pihak kepolisian sampai datang.

"Maaf, Pak, ada yang bisa kami bantu?" tanya Ustazah Hilma.

"Kami ingin bertemu dengan saudara Queenzea," ucap kepala polisi.

"Zea?" Ustazah Hilma mengernyitkan dahinya. Ia pun menoleh ke arah Zea yang kini datang mendekat. Mereka berada di tengah lapangan. Santri dan santriwati tetap terpisah meski mereka sedang berada di sana.

"Saya Queenzea, Pak," sahut Zea menghadap.

"Apa yang Zea lakukan? Apa dia dulunya seorang buronan?" tanya Rianti dengan nada sedikit keras agar semua orang mendengarnya.

Semua langsung menatap Zea dengan takut. Mereka perlahan mundur dari posisi saat ini yang kebetulan ada di belakang Zea.

"Saudara Zea, kami telah menyelidiki laporan Anda. Dan benar saja, bukti yang Anda berikan ternyata benar. Beberapa hari lalu, anak buah saya yang menyamar sebagai tukang bersih kebun telah menyelidiki pohon, lukisan, serta buku novel itu," jelas pak polisi.

"Apa? Zea, kenapa kamu menyuruh kepolisian menyelidiki sesuatu di sini?" Ustazah Hilma terlihat heran campur takut.

Zea menghadap Ustazah Hilma. Ia memegang kedua tangan Zea sambil menatap dengan mata berkaca-kaca.

"Umi, Mbak Aisyah tidak bunuh diri. Dia dibunuh."

Seketika, semua penghuni pesantren pun terkejut setengah mati. Tak terkecuali Syahil yang tidak tahu kalau Zea telah menemukan pelakunya bahkan menyuruh pihak kepolisian menyamar untuk menyelidiki langsung di TKP.

"A-apa? Jadi Aisyah dibunuh?" Ustazah Hilma menutup mulut dengan kedua tangannya. Ia benar-benar tidak menyangka putri kebanggaannya ternyata korban pembunuhan dan fitnah keji.

"Iya, Umi. Selama berada di kamar Mbak Aisyah, saya terus menyelidiki semua bukti yang saya kumpulkan. Dari bekas luka di pohon, lukisan, tali di gudang, dan buku-buku Novel Mbak Aisyah."

"Lalu, siapa pelakunya, Nak?" tanya Ustazah Hilma dengan suara bergetar.

"Yang satu sudah pergi, dan yang satunya masih ada di sini, Umi." Zea menatap serius.

"Apa? Siapa?"

"Sebentar lagi dia akan datang." Zea menoleh ke arah kanan. Reflek, semua penghuni pesantren pun menoleh dan terkejut melihat dua orang polisi sedang berjalan dengan seseorang yang sangat mereka kenali. Dialah Lastri yang sedang diborgol.

Ternyata, saat polisi datang, beberapa diantaranya langsung menangkap Lastri yang sedang berada di dapur.

"Apa? Lastri? Lastri yang sudah melakukan semua ini?!" Ustazah Hilma tak percaya dengan apa yang ia lihat. Lastri merupakan orang kepercayaannya sejak ia masuk ke dalam pesantren ini.

Ustazah Hilma mendatangi Lastri dan memegangi kedua bahunya. "Lastri, kenapa kamu melakukan ini? Apa salah Aisyah? Kenapa kamu begitu tega! Padahal saya yang membantu kamu saat kamu menggelandang di jalanan setelah keluar dari penjara karena kasus pencurian yang kamu lakukan untuk makan. Apa salah saya, Las?" Mengguncang kedua bahu Lastri dengan kencang.

Lastri hanya menunduk diam.

"Katakan, Las!" Ustazah Hilma semakin mengguncang tubuh Lastri dan kini tangisannya semakin keras.

"Umi, tenanglah." Zea mencoba menenangkan Ustazah Hilma. Dibantu oleh Syahil, akhirnya Ustazah Hilma mau melepaskan Lastri.

"Zea, kamu bilang ada satu lagi, siapa, Nak?" tanya Ustazah Hilma. Ia baru ingat bahwa tadi Zea mengatakan ada dua tersangka di sini.

"Satu lagi adalah Sari, Umi, teman sekamar Mbak Lastri."

"Apa? Sari? Padahal Aisyah sangat menyayanginya, Zea." Ustazah Hilma semakin terluka mendengar ucapan Zea.

"Apa motifnya?" tanya Syahil.

"Sebenarnya, di buku Novel Mbak Aisyah, aku menemukan huruf-huruf yang dihitami oleh spidol. Aku menyatukan huruf itu dan tersusunlah kata Fahri. Aku yakin, Fahri adalah orang yang disukai Mbak Aisyah."

"Apa? Fahri suaminya Sari?" Syahil menatap tidak percaya, begitu juga dengan Ustazah Hilma.

"Ya, dulu Mbak Aisyah dan Fahri saling menyukai, tapi mereka berbicara lewat surat. Dan surat itu aku temukan di balik lukisan Mbak Aisyah. Dalam surat itu, Fahri mengatakan bahwa dia dijodohkan dengan Sari. Namun, karena Fahri sangat mencintai Aisyah, maka, dia menolak perjodohan itu."

"Lalu?" Syahil semakin penasaran.

"Sepertinya surat itu ditemukan oleh Sari dan dia pun marah. Dia langsung membunuh Mbak Aisyah malam itu juga. Dia mengajak Mbak Aisyah ke belakang tempat dimana pohon itu berada. Mereka duduk berdua, lalu, saat Mbak Aisyah dan Sari masih berbicara, tiba-tiba Lastri yang berada di belakang mereka langsung mengalungkan tali ke leher Mbak Aisyah yang sudah ditautkan ke pohon. Setelah itu, dia dan Sari langsung menarik tali itu hingga Mbak Aisyah tergantung di atas. Mbak Aisyah sempat memberontak hingga membuat tali itu bergeser dan menyebabkan luka besar di pohon itu. Dan setelah Mbak Aisyah tidak bernyawa, mereka pun mengikat tali ke pohon dan meninggalkan tempat itu. Surat peninggalan Mbak Aisyah adalah hasil tulisan tangannya yang dibuat sedemikian rupa sehingga mirip dengan tulisan Mbak Aisyah. Dan tali yang aku minta saat itu, terdapat sidik jadi Sari. Dia sudah lebih dulu ditahan pihak kepolisian setelah polisi melakukan penyelidikan padanya. Fahri juga langsung menalaknya. Dan Lastri, dia membantu Sari karena dia ingin menempati posisi Aisyah. Dia ingin menjadi satu-satunya orang yang disayangi Umi, dan dia juga berharap menjadi istrimu. Oh ya, berita bunuh diri Mbak Aisyah yang dulu sempat tersebar luas, juga ulah dari mereka."

Setelah Zea menjelaskan panjang lebar, barulah semua menjadi masuk akal. Lastri pun segera dibawa ke kantor polisi guna mempertanggung jawabkan perbuatannya.

Tak hanya Lastri, Zea, Syahil, dan Ustazah Hilma juga ikut ke sana untuk menjadi saksi.

Di sana, Ustazah Hilma hampir saja menampar Sari jika tidak dihalangi oleh Zea dan Syahil.

Setelah memberikan keterangan, mereka pun bermaksud pulang. Namun, baru saja akan memasuki mobil, tiba-tiba saja ada yang memanggil Zea.

Zea lantas menoleh dan terkejut melihat siapa yang datang.

"Umi, Syahil, pergilah duluan, saya akan menyusul."

Ustazah Hilma dan Syahil pun mengangguk. Namun, terlihat Syahil terus saja memerhatikan pria yang memanggil Zea tadi. Pria itu sangat tampan dan berpakaian rapi. Ada sedikit rasa tidak suka saat Syahil melihat Zea bersama orang lain.

Zea dan pria yang ternyata adalah Steven pun duduk di sebuah cafe.

"Zea, aku pikir tadi itu bukan kamu. Aku hampir tidak percaya bisa bertemu denganmu lagi. Dan lihatlah penampilan mu sekarang, kamu sangat berbeda." Steven terus mengembangkan senyuman di wajahnya.

"Maaf, Kak, kalau bisa, tolong rahasiakan ini dari siapapun, terutama keluarga ku."

"Kenapa? Apa kamu tidak tahu perusahaan papamu berada di ambang kehancuran setelah kamu pergi. Banyak rekan bisnis membatalkan kerja sama karena tidak ada orang yang sehebat dirimu saat bekerja."

"Apa? Perusahaan Papa hampir bangkrut? Kak, bukankah kamu akan menikah dengan Kak Nara? Tolonglah perusahaan Papa, Kak." Zea menatap serius pada Steven.

"Zea, aku bisa saja menolong perusahaan papamu, tapi tentu ada syaratnya," ucap Steven.

"Syarat apa, Kak? Kalau kamu meminta ku kembali ke rumah, maaf, Kak, aku tidak bisa. Aku sudah betah di tempat ku sekarang."

"Bukan, bukan itu. Kamu bisa saja tetap di tempat mu, tapi, menikahlah denganku. Aku akan melindungi mu dari keluarga mu. Kalau kau mau, kita akan tinggal di dekat tempat tinggal mu sekarang." Steven berusaha memegang tangan Zea. Namun Zea langsung menghindar.

"Maaf, Kak, aku tidak bisa. Kamu akan menikah dengan kakakku. Lagipula, jika kamu menikahiku, maka anggapan orang-orang tentangku yang merebutmu akan semakin membuat ku hancur."

"Bukankah kamu memang menyukai ku dan melakukan semua itu?" Steven mengernyitkan dahinya.

"Tidak, Kak. Itu tidak benar. Kak Nara memang berusaha menyingkirkan ku dengan cara memfitnah ku agar seluruh dunia membenci ku."

"Oh, jadi benar? Kamu difitnah Nara?" Steven mengangguk mengerti.

"Kak, ku mohon, jangan katakan ini pada siapapun. Setidaknya jangan buat Kak Nara semakin membenciku. Dia akan menghancurkan ku lebih parah lagi nantinya."

"Ini yang membuat aku semakin tertarik padamu. Sejak malam itu, aku selalu terbayang-bayang akan dirimu. Aku bahkan sering memimpikan mu. Aku selalu berharap bahwa Nara itu adalah kamu. Aku mencintaimu, Zea." Steven menatap serius.

"Tidak, Kak, maafkan aku. Tapi tolong lupakan perasaan mu padaku. Aku harap ini pertemuan terakhir kita."

Zea pun pergi dari hadapan Steven. Namun, baru beberapa langkah, Steven mengeluarkan sebuah kalimat yang membawa Zea berhenti.

"Kalau begitu, kau akan melihat keluargamu hancur saat aku memutuskan hubungan ku dengan Nara. Apa kau tega melihat mereka menggelandang di jalanan?"

Zea menarik nafas panjang lalu mengeluarkannya perlahan. Ia pun menoleh dan tersenyum. "Aku yakin, Allah akan menolong ku, juga keluarga ku."

Setelah mengatakan hal itu, Zea pun melanjutkan langkahnya.

Steven hanya bisa menatap Zea dengan datar. Namun, setelah beberapa saat, terpancar sebuah senyuman licik dari wajahnya. Ia berhasil meletakkan alat pelacak di baju Zea saat berusaha memegang tangannya. "Aku akan mengejar mu meski aku harus menghancurkan hidupmu. Kamu harus menjadi milik ku, Zea, harus!"

Terpopuler

Comments

renita gunawan

renita gunawan

waaahh...sepertinya benih-benih cinta mulai tumbuh dihati syahil.sepertinya steven terobsesi dengan zea.jangan sampai steven nanti menghancurkan pesantren yang ditinggali oleh zea

2023-01-10

1

Ayas Waty

Ayas Waty

semoga pak kyai cepat sembuh.... tenang zea kan ada ustadz Syahil yg akan membantu mu

2022-11-14

0

Mulianti Mulianti

Mulianti Mulianti

alhamdulillah,,, semoga aby aisyah segerah sembuh dri koma. dan utk steven semoga kamu segera taubat.

2022-11-10

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!