Mencoba

Pagi hari, Zea yang baru saja selesai melaksanakan sholat subuh berjamaah di masjid langsung pergi ke kamarnya.

Bangun pagi bukanlah hal yang sulit bagi Zea. Saat masih bekerja dulu, ia selalu bangun pagi-pagi sekali, namun untuk olahraga, bukan melaksanakan sholat subuh.

Ia heran melihat Lastri yang tidak terlalu sibuk menyiapkan sarapan pagi. Karena biasanya, Lastri pasti sudah kerepotan.

"Mbak, kok tumben nggak langsung ke dapur?" tanya Zea.

"Mbak udah masak dini hari tadi," sahut Lastri.

"Hah? Masak? Kok cepet banget, Mbak?" Zea terlihat heran.

"Kan penghuni persantren lagi puasa. Tadi udah sahur sama-sama."

"Puasa? Kan ini bukan bulan ramadhan."

"Puasa itu nggak harus dilakukan hanya saat Ramadhan saja. Puasa Senin Kamis contohnya."

"Puasa Senin Kamis?" Zea mengernyitkan dahinya.

"Puasa sunnah menurut ajaran Islam merupakan salah satu bagian ibadah sunnah yang dilakukan untuk mendapatkan cinta atau kasih sayang Allah SWT. Salah satu puasa sunnah yang dikenal dalam ajaran islam yaitu puasa senin kamis." Lastri menjelaskan.

Zea hanya terdiam mendengar ucapan Lastri.

"Kamu mau ikut puasa, nggak? Nanti hari Kamis biar Mbak bangunin sahur," ujar Lastri.

"Aku takut nggak tahan, Mbak. Soalnya nggak pernah," ucap Zea malu.

"Nggak apa-apa, kamu bayangkan aja kalau kamu lagi diet, seperti itu rasanya. Dan lama kelamaan, pasti kamu akan terbiasa."

"Ya udah, Mbak, Kamis nanti aku bangunin sahur, ya," ucap Zea bersemangat.

****

Pada hari Kamis.

"Zea, bangun, ayo sahur," ucap Lastri sambil mengguncang tubuh Zea perlahan.

Zea terbangun dan langsung bangkit dari tidurnya. Ia pun memasuh mukanya terlebih dahulu, lalu pergi ke ruang makan. Di sana, sudah banyak santriwati berkumpul di meja makan. Sedangkan para santri berada di ruangan lain karena memang semua fasilitas untuk santri dan santriwati dipisahkan.

"Assalamualaikum, Ustazah," sapa Zea pada Ustazah Hilma. Ia kali ini mengingat pesan untuk mengucap salam ketika bertemu.

"Waalaikumsalam, Zea. Ayo sahur bersama," ajak Ustazah Hilma dengan ramah.

Zea langsung menarik kursinya. Ia pun ikut makan sahur dengan menu seadanya. Maklum saja, Lastri bekerja sendiri, sedangkan dirinya tidak ikut membantu. Padahal ingin sekali ia menyumbangkan tenaganya. Karena uang untuk membayar pun tidak ada.

Mereka pun langsung sahur bersama. Sepanjang makan, Zea tidak mendengar seorang pun berbicara. Ia melihat semua berfokus pada makanannya.

Setelah selesai bersantap sahur, Zea pun diajari niat untuk berpuasa Sunnah.

Lastri mengambil sisa nasi dan lauk. Sementara piring kotor dikumpulkan oleh tukang cuci piring di sini.

Zea ikut membantu hingga seseorang datang dan juga ikut membantu.

"Eh, Rianti, nggak usah, mending kamu balik ke kamar aja," cegah Lastri saat melihat Rianti ikut membantunya.

"Nggak apa-apa, Mbak, kasihan Mbak Lastri kerja sendirian."

Lastri menoleh ke arah Zea yang tengah ikut membantu. Apa dia tidak melihat Zea? Begitu pikir Lastri.

Setelah semua diangkat, kini mereka melap meja makan dengan serbet. Lastri menggunakan kesempatan itu untuk menyapu lantai, sementara dua gadis cantik masih melap meja makan.

"Mbak usia berapa?" tanya Rianti to the point.

"Dua puluh empat tahun," sahut Zea.

"Oh, berarti sudah tua. Kalau saya berumur dua puluh satu dua tahun. Sudah lulus kuliah dengan nilai bagus. Saya di sini karena orang tua saya ingin agar saya belajar ilmu agama agar kelak tidak menyusahkan orang lain."

Zea mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Rianti.

"Selamat, ya," sahut Zea.

"Terima kasih, Mbak. Saya sudah biasa mendengar pujian di sini, jadi bagi saya itu biasa saja."

'Ada apa dengannya? Apa dia punya masalah padaku?' batin Zea. Ia terus melap meja tanpa membalas ucapan Rianti.

"Saya dengar dulu Mbak ditemukan terdampar di sungai dengan pakaian terbuka, ya? Kok bisa, Mbak? Mau coba bunuh diri karena habis diputusin, ya?"

Zea terkejut dengan ucapan Rianti. Ia jadi teringat akan kejadian buruk yang menimpanya malam itu.

"Maaf, itu privasi saya."

"Mbak nggak malu waktu ditemukan pakai baju terbuka? Terus tinggal di sini gratis, dan pakai gamis baru punya almarhumah Mbak Aisyah?"

Zea hanya diam, ia tidak ingin membalas ucapan Rianti yang sepertinya ingin memojokkannya.

"Udahlah, Mbak, jujur aja? Mbak ini siapa? Buronan kah? Maling? Atau wanita malam yang mencoba kabur dari mucikari?" bisik Rianti.

Zea mengepal erat tangannya. Emosinya sudah tak tertahan lagi. Ia menatap Rianti dengan tatapan sangat tajam.

"Dengar, ya, gadis bermulut tajam. Aku di sini untuk belajar ilmu agama. Apapun masa laluku, bukanlah urusanmu. Sebaiknya kamu urusi saja hidupmu sendiri. Apa kamu tidak punya pekerjaan sehingga mengurusi hidupku? Apa yang kamu cari? Apa hidupmu membosankan sehingga kamu begitu tertarik dengan hidupku?"

"Jangan emosi, dong. Kayak yang aku tuduhkan benar. Atau jangan-jangan memang iya, ya?"

Melihat obrolan yang semakin tidak berguna, Zea hanya memilih diam. Ia langsung menghampiri Lastri dan membantunya menyapu lantai.

"Kenapa? Udah kena sama dia?" tanya Lastri.

"Kalau Mbak tau dia kayak gitu, kenapa nggak bilang sama aku tadi? Nyebelin banget," gerutu Zea.

"Ini puasa pertama mu. Jangan kotori hatimu dengan kemarahan. Ingat, puasa bukan hanya sekadar menahan haus dan lapar. Puasa juga tentang belajar menahan amarah. Banyak-banyak beristighfar," ujar Lastri.

"Astaghfirullahalazim." Zea menghela nafas pelan.

Setelah semua beres, Zea dan Lastri pun pergi ke masjid setelah mendengar adzan subuh berkumandang untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah.

*****

Siang harinya.

"Zea, kok tiduran? Kamu sakit?" tanya Lastri yang kini menghampiri Zea yang sedang tergeletak lemas dengan wajah pucat.

"Mbak, buka puasa masih lama nggak?" tanya Zea dengan wajah lemah.

Lastri langsung tergelak mendengar ucapannya.

"Ya ampun, Zea, daripada kamu tiduran gini, mending kamu ikut dengerin pengajian sana."

"Emang kalau dengerin pengajian, waktunya bakalan cepat berlalu, ya, Mbak?"

"Udah, mending kamu ke aula sana, Ustaz ganteng lagi ceramah," bisik Lastri.

"Ustaz ganteng? Di sini kan banyak Ustaz, Mbak."

"Aduh, ya Ustaz Syahil, dong. Ustaz yang lain kan umurnya udah banyak, yang seger dipandang cuma Ustaz Syahil." Lastri cekikikan sendiri.

Zea hanya geleng-geleng kepala melihatnya. Ia pun bergegas ke aula tempat Syahil memberikan ceramah. Namun, saat melewati gerbang, matanya menangkap sebuah pemandangan yang sangat mengejutkan.

Dua orang pengemis bersama seorang bocah usia lima tahun sedang mengemis di depan pondok pesantren itu.

"Ya Allah, bukankah itu Bapak yang dulu pernah aku usir dari desa?" Zea menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

Ia mendekati kedua pengemis itu untuk lebih memastikan. Dan benar saja, para pengemis itu adalah orang yang dulu ia usir.

Zea segera menemui satpam dan meminta dibukakan pintu gerbang.

Dengan cepat setelah pintu dibuka, Zea menghampiri para pengemis itu.

"Pak, Bu," ucap Zea dengan wajah tegang dan suara bergetar.

Para pengemis itu langsung menoleh dan terlihat bingung. Jelas saja, mungkin mereka tidak mengenali penampilan Zea yang tertutup hijab.

Terpopuler

Comments

renita gunawan

renita gunawan

syukurlah.akhirnya zea mendapatkan hidayah dan diberikan kesempatan untuk bertobat

2023-01-10

1

Ayas Waty

Ayas Waty

Alhamdulillah kamu masih diberikan kesempatan untuk bertobat zea

2022-11-14

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!